NovelToon NovelToon
Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Duda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CMK#35

“Mau beli popcorn gak?” Tanya Kelan pada ketiga wanita itu.

Mereka mengangguk.

“Aku yang bayar, soalnya udah janji mau traktir mereka malam ini,” ujar Ayunda.

“Oke, kali ini kamu yang jadi bos.”

Ayunda tertawa.

Mereka menonton film horor yang sedang ramai dan hits saat itu. Ayunda yang memang tidak takut pada film hantu, nampak biasa saja. Berbeda dengan kedua temen nya yang sedikit-sedikit teriak. Beruntung bukan hanya mereka yang begitu, jadi tidak menarik perhatian orang-orang.

Sesuai janji, ayunda juga mengajak mereka makan setelah usah menonton.

“Malam minggu nanti ada rencana lagi kah? Kalau tidak, biar aku yang jadi bos nya.”

Mela dan Sri saling melirik kegirangan.

“Gimana, Yunda?”

“Aku sih oke. Ayo aja.”

“Yeaaay, malam minggu kita pergi lagi, tapi ke mana?” Tanya Sri.

“Terserah kalian, aku ikut aja.” Ujar Kelan.

Ponsel ayunda berbunyi.

“Halo, Kak.”

“Lagi apa?”

“Makan di luar sama temen kamar. Ada apa? Kakak lagi di mana sekarang? Udah makan belum?”

“Hmm. Udah.”

“Oh, syukurlah. Aku tadi habis nonton, terus makan.”

“Oke, have fun ya.”

“Ada Kelan juga.”

“Kelan? Dia teman sekamar juga?” Ledek Alex.

“Hahaha, bukan. Dia jadi supir kami hari ini. Lumayan ngirit ongkos.”

“Kalau butuh uang, katakan saja. Aku akan memberikannya.”

“Hmm? Oh, nggak. Bukan itu maksdunya. Aku cuma becanda kak. Itu cuma jokes aja.”

“Oke, berkabar kalau sudah puang.”

“Siap, komandan.”

Ayunda tertawa kecil sembari mengembalikan ponsel ke tempat semula.

“Bang Alex?”

“He-em. Lucu banget ya bapak-bapak, masa aku bilang ikut kamu biar ngirit ongkos, malah mau dikasih duit. Padahal kan becanda aja. Lagian ongkos ke sini pake taksi online berapa sih.”

“Gak masuk jokes kota di dia sih. Orang dingin kayak gitu, diajak becanda.”

“Kalian ngomongin siapa?” Tanya Mela.

“Kakak aku itu loh,”

“Oh, kakak yang ganteng itu.”

Ayunda mengangguk. “Ternyata dia sodara an sama Kelan.”

“Serius?” Tanya Sri.

“Iya, seriusan.”

“Dunia ini sempit banget ternyata ya,” ujar Mela.

Mereka kembali melanjutkan makan malamnya sambil bercerita banyak hal.

“Habis ini mau ke mana lagi? Masih ada waktu nggak ya?”

“Tenang, aku udah ijin sama ketua asrama kalau kita ada tugas. Aku bawa buku malah.”

Ayunda dan Mela saling menatap kagum pada Sri.

“Gimana kalau kita—“

“Kelan.”

Suara perempuan yang baru saja menghampiri membuat mereka menoleh secara bersamaan.

“Eh, Silvia?” Sapa Ayunda. Wanita itu melirik sekilas dengan senyuman seadanya.

“Kelan, sedang kumpul sama teman ya?”

“Iya, tante. Kalian sedang …”

“Kami makan malam tadi di atas. Sayang banget ya kamu gak bisa ikut datang.”

“Iya, Mami. Kelan tadi habis ngerjain tugas sama temen-temen nya.”

Kelan tersenyum ragu mendengar ucapan Silvia yang jelas berbohong.

“Kalau begitu kami permisi,” ujar bapak-bapak yang bersama Silvia.

“Pih, aku di sini. Aku mau ikut gabung soalnya mereka juga temen aku.”

“Oh, oke. Kelan, nanti tolong anterin Silvia ya, tapi jangan malem-malem.”

“Siap, tante.”

“Kalau begitu kami permisi ya semuanya.”

“Iya, tante.” Mereka menjawab kompak sambil berdiri.

Hening.

Suasana yang awalnya begitu ceria, kini tiba-tiba sunyi.

“Kamu kenapa bohong? Kalian gak ngerjain tugas kan? Ini ada popocorn. Habis nonton?” Tanya Silvia seperti sedang menginterogasi.

“Iya, tadi kami habis nonton. Film nya seru banget. Serem tapi lebih ke sedih sih ceritanya.”

“Tumben kamu mau nonton di tempat kayak gini,” ujar Silvia mengabaikan penjelasan Ayunda. Dia bahkan tidak melirik sedikitpun.

Hal itu menyebabkan ayunda merasa tidak enak dan agak sedikit sedih. Mela dan Sri hanya bisa saling menatap sekilas.

“Biasanya kami kalau nonton di bisoskop IMAX atau vip.”

“Oh, gitu. Aku malah gak tau bioskop IMAX dan vip tuh kayak gimana.”

Silvia tersenyum seperti orang merendahkan. Manis tapi tidak terlihat tulus.

“Kenapa gak minta Kelan ngajakin ke sana, malah milih di sini. Jangan nanggung kalau dikasih sesuatu tuh minta yang mahal sekalian.”

“Aku ditraktir Ayunda,” jawab Kelan.

“Oh, kirain kamu yang bayarin. Kalau aku sih gak mau bayarin cowok.”

“Tadinya memang cuma kami bertiga kok. Gak ada dia di rencana kita, aku aja kaget kenapa dia bisa ikut. Ya masa ayunda bayarin kita berdua doang terus Kelan bayar sendiri.”

“Oh, kalian dibayarin juga ya?” Tanya nya mengejek.

“Iya, karena ayunda lagi bahagia. Makanya dia berjanji bayarin kita nonton dan makan.”

Silvia menganggukkan kepalanya dengan mulut terbuka membulat.

“Tau gak, kita udah berencana mau pergi pekan depan. Berempat. Bener nih kata dia, berhubung Kelan yang bayarin, kita minta aja ke tempat yang mahal. Ayo, Kelan. Kamu mau ajak kita ke mana?” Tanya Sri sengaja membuat Silvia kesal.

“Ke Bali, mau?”

Sri dan Mela bersorak gembira. Mereka bertepuk tangan sambil memuji Kelan.

Silvia yang sudah sangat kesal mencoba untuk bersikap tenang agar tidak menjadi pusat perhatian.

“Yunda, tadi di kelas si Agung ngomong apa? Keliatan nya dia ngajak kamu bicara berdua di luar. Dia nembak kamu ya?”

Ayunda yang sedang menyedot minuman, langsung batuk.

“Bukan, dia gak nembak aku kok.” Ayunda terbata.

“Terus?”

“Ada lah pokoknya. Dia minta tolong sesuatu dan bagi dia ini rahasia.”

“Cieeee, rahasia apa nih? Dia juga baik banget ya sama kamu. Suka bantuin ngerjain tugas juga.”

“Iya, agung emang baik banget ke semua anak di kelas kita.”

Kelan sadar pembicaraan Silvia mulai memojokkan dan seolah mencari celah untuk menjatuhkan Ayunda.

“Vi, mau pulang? Ayo aku antar.”

“Kok buru-buru? Terus ini teman kamu gimana pulangnya? Masa ditinggal. Udah gak apa-apa, lagian aku juga gak sibuk. Masih bisa di sini sebentar lagi.”

“Aku udah minta tolong Bang Alex buat jemput dia.”

“Hah, kak Alex? Ih Kelan, kenapa? Kita bisa balik pake taksi online kok.”

“Dia udah di jalan. Ayo, Vi.”

Kelan pergi begitu saja meninggalkan meja. Silvia segera bangkit dari kursi lalu mengejar Kelan dengan lari kecil karena Kelan sudah jauh di depan.

“Eh, cewek itu kenapa sih? Sebel banget aku sama omongan dia.”

“Bener, Mel. Sombong banget dih.”

“Aku rasa dia cemburu sama Kelan karena pergi bareng kita.”

“Iya tapi kan kita gak ngapa-ngapain. Kelan juga gak bayarin kita, gak ada dalam rencana kita.”

“Sri, yang namanya orang cemburu itu akan kehilangan akalnya. Pemikiran dia akan tertutup dan yang lebih dominan itu ya hatinya, perasaan dia. Makanya ucapan dan perbuatan nya suka diluar nalar dan kewajaran orang biasa.”

“Kenapa cemburu, kita kan gak ngapa-ngapain.”

Ayunda tersenyum. “Kamu gak akan tahu kalau tidak merasakan nya sendiri.”

“Makanya aku males pacaran tuh kayak gini. Ribet.”

“Ayo, kak Alex sudah menunggu di luar.”

1
Sit Tiii
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!