Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.
Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.
Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.
Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB—25
Keesokan pagi nya. Zelie berdiri di depan gedung apartemen yang terlihat menjulang tinggi. The Lily. Nama gedung apartemen itu, tempat tinggal pria brengsek yang telah mengkhianati nya.
Pantas saja akhir-akhir ini pria itu sering hilang bahkan tidak pernah lagi mengabarinya — ternyata pria brengsek itu sudah mempunyai lubang lainnya.
Zelie menatap bagian atas apartemen itu, berkacak pinggang lalu berdecak, "Setan... bajingan. Dia kira aku akan menangis gitu, lalu mengemis-ngemis karena di duakan. Never... dan itu enggak akan terjadi. Sialan!!!"
Zelie memaki sepuas hatinya, sampai-sampai wajah nya memerah karena paparan sinar matahari bersamaan dengan api kemarahannya.
Saat Zelie mendongak bahkan masih dengan makiannya, dia tidak sadar jika sedang menghalangi jalan seorang yang sedang sibuk berbicara dengan seseorang lainnya.
Hingga suara gedebuk berserta erangan dan makian yang semakin lancar membuat pria yang sedang mengelus dada nya tersentak.
"Ahhh... sialan... Anjing! Lo... kalo jalan itu lihat-lihat, jangan asal main tabrak aja," teriak Zelie marah, ia meringis saat merasakan lututnya sakit.
"Maaf, maaf Nona. Tuan saya tidak sengaja. Mari saya bantu," imbuh pria tinggi berkaca mata dengan cepat berjongkok hendak membantu Zelie.
"Jangan menyentuh saya sembarangan," ucap Zelie dingin, sambil berusaha bangun sendiri dari lantai, ia meringis saat merasakan lutut nya mulai perih.
Pria berkaca mata itu menghentikan gerakan tangannya, lalu ikut bangkit seraya memundurkan langkahnya. Sedangkan pria yang baru saja menabraknya hanya menatap dengan datar, wajah nya terlihat menahan amarah saat di maki seorang gadis yang tidak ia kenal, bahkan meneriaki nya di depan orang yang berlalu lalang.
Tatapan Zelie kepada pria yang baru saja menabraknya tadi menjadi tajam, ia tidak suka kepada seseorang yang berbuat salah namun tidak meminta maaf bahkan hanya menatap dengan acuh tak acuh, dari atas saat ia tadi masih terjerembab di lantai.
"Anda seperti orang yang merasa tidak bersalah yah, Pak. Setelah mendorong seorang gadis hingga jatuh tersungkur, lalu Anda juga tidak perduli, sekali pun hanya untuk membantu nya bangun."
Zelie menunjuk-nunjuk wajah pria datar itu dengan penuh amarah, ia seperti menemukan tempat nya bisa menyalurkan semua emosi yang ia tahan dari semalam.
Sedang kan pria itu mendengus, sembari menurun kan telunjuk tangan yang teracung kepada nya, "Anda seperti orang yang tersakiti. Padahal Anda yang bersalah, berdiri di depan jalan orang yang ingin lewat. Lalu dengan lancang berteriak, memaki, bahkan menunjuk dengan tidak sopan seperti ini, I B U."
Pria itu menekan kan kata terahir nya dengan sebutan 'Ibu' lalu melepaskan jari yang dia pegang tadi, dia bahkan mengusap tangan nya yang baru saja menyentuh jari gadis pemarah itu — sehingga sikap dan kata penekanan terakhir pria itu membuat Zelie terperangah tidak percaya.
"Kau..." Zelie mengeram tidak terima, namun mencoba mengatur emosi nya, saat melihat orang-orang yang memperhatikannya.
Pria itu menyeringai, "Anda seperti nya sudah mengetahui letak kesalahan tersendiri."
Pria berkaca mata tadi terlihat menghela napas panjang, lalu menatap kearah pria yang masih adu mulut dengan seorang perempuan.
"Tuan, kita harus secepat nya pergi. Mr Rexsa sudah menunggu kita." Pria berkaca mata itu kembali menatap kearah gadis yang masih menatap tuan nya dengan penuh emosi, "Nona, maaf soal tadi. Tuan saya tidak melihat anda di depan. Dan jika anda merasa terluka, saya akan bertanggung jawab mengantar anda sampai kerumah sakit untuk berobat."
Sedangkan pria blasteran korea yang berbuat salah itu hanya mendengus dingin, lalu mulai hendak melangkah kaki nya pergi, namun kembali ditahan dengan tangan Zelie.
"Saya tidak perlu tanggung jawab anda. Karena anda tidak bersalah, tapi saya perlu membalas perbuatan seseorang yang merasa paling benar," kata Zelie tajam, seraya tangan nya dengan cepat bergerak menjambak rambut klimis yang tertata rapi itu.
Pria itu menggeram tertahan seraya mencoba melepaskan tangan kecil itu yang meremas rambutnya dengan kencang.
Kembali pria berkaca mata itu syok dan ternganga ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena menurutnya itu lucu, dia belum pernah melihat tuan nya di aniaya oleh seorang perempuan.
"Hei... Anda ini bar-bar sekali!" seru pria blasteran korea itu, namun tidak bisa lepas, sehingga dengan lancang memegang pinggang Zelie lalu mengangkat nya agar selaras dengan kepala nya yang tadi tertarik kebawah.
"Sialan... sialan... Rasakan ini. Pria bajingan seperti kalian memang cocok di jambak seperti ini," teriak Zelie dengan kedua tangannya yang masih bertengger di kepala pria datar tadi.
Pria itu meringis, lalu mengeratkan pelukan, merasa tidak bisa membebaskan kepala nya dari tangan kecil namun erat saat menjambak nya, ia dengan kesadaran penuh menggigit dada gadis itu yang memang sejajar dengan kepalanya.
"Aaa... Bajingan! Lepaskan ..." teriak Zelie yang langsung melepaskan tangan nya dari rambut pria itu, lalu kembali dengan memukul punggung lebar itu.
Sedangkan pria berkaca mata itu sedari tadi selalu mendapat kan serangan jantung yang tiba-tiba, ia terlalu syok dengan balasan tuan nya, yang menurut nya terlalu berani.
"Wahhh... pemandangan yang langka," gumam pria berkaca mata sambil membenarkan kaca mata nya yang melorot.
Akhir nya pria blasteran korea itu melepaskan Zelie menurunkan dari gendongan tadi dengan keras. Lalu menatap gadis itu dengan marah, ia merapikan rambutnya yang berantakan,
"Kekanakan." ucapan tajam itu kembali menyulut emosi Zelie yang sempat reda karena malu.
Namun Zelie diam dengan tatapan menyala sambil mengatur napas nya akibat emosi, ia bahkan masih memegang dada nya yang terasa nyut-nyutan.
Melihat itu, pria blasteran korea itu dengan cepat membuang muka, ia menjadi jijik dengan kelakuan nya tadi.
Acara diam-diam itu, membuat pria berkaca mata menelengkan kepalanya menatap kearah kedua manusia yang berlainan jenis itu.
Sedangkan satpam yang mendengar keributan tadi dengan cepat berlari kearah tempatnya keramaian itu, "Tuan,"
Namun dia justru menunduk saat pandangan nya berlabuh ke arah pria yang masih berdiri dengan tegak bahkan wajahnya masih datar seperti sebelum nya.
Pria tinggi sekitar 188, dengan rambut yang sudah berantakan itu mengangkat tangan nya — sehingga menghentikan sapaan satpam yang masih berdiri di sebelah Zelie.
"Saya tidak akan bertanggung jawab tentang masalah tadi. Karena menurut saya, itulah cara untuk mempertahankan bentuk kekerasan yang sudah anda lakukan kepada saya."
Pria blasteran korea itu menunjukkan arah dada Zelie yang masih dia tutup dengan tangan.
"Itu hanya alasan anda. Jelas-jelas anda sengaja untuk bisa berbuat hal mesum kepada saya." Zelie kembali berteriak, "itu pelecehan. Padahal anda bisa meminta tolong kepada pria kaca mata itu," tunjuk nya ke arah pria berkaca mata yang hanya bisa menggaruk kepalanya.
"Saya enggak mau tau. Anda harus...."
——
——
Bersambung...