Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Sandal Butut di Lantai Marmer
Lantai marmer di selasar High Tower itu terasa seperti es yang baru saja dikeluarkan dari lemari pendingin. Nayara melangkah pelan, membiarkan kaki telanjangnya menyentuh permukaan putih yang berkilau angkuh. Ia tidak berani menapak kuat. Di tangan kanannya, sebuah wadah air hangat uapnya menipis, sementara jemari kirinya tenggelam di balik saku daster kusam, meraba butiran tasbih kayu yang permukaannya sudah halus dimakan usia.
"Berhenti di situ," sebuah suara tajam memecah keheningan koridor yang sunyi.
Nayara mematung. Ia mengenali suara itu. Bi Inah, kepala pelayan senior yang selalu menatapnya seolah-olah Nayara adalah noda minyak di atas kain sutra. Wanita paruh baya itu berdiri dengan tangan bersedekap, matanya menghunus ke arah kaki Nayara.
"Mau apa lagi kamu ke dapur? Air hangat?" Bi Inah mendengus, langkahnya mendekat dengan suara sepatu pantofel yang berdentum keras. "Rumah ini punya pemanas otomatis di setiap kamar mandi, tapi kamu malah sibuk mondar-mandir seperti di panti asuhan."
Nayara menunduk, menatap bayangan dirinya di lantai yang begitu bening. "Untuk sholawat dan wudu, Bi. Saya lebih nyaman begini."
"Nyaman katamu?" Bi Inah tertawa sumir, nada suaranya merendahkan. "Kamu itu sekarang istri Tuan Arkananta. Tapi kelakuanmu masih saja seperti rakyat jelata dari pinggiran desa. Kamu tahu kenapa Nyonya Besar tidak sudi melihat wajahmu pagi ini? Karena bau pakaianmu itu."
Bi Inah mengendus udara dengan ekspresi jijik. "Bau melati murah. Benar-benar merusak aroma parfum ruangan yang harganya jutaan rupiah ini. Dan apa itu di kakimu?"
Nayara menarik kaki kanannya sedikit ke belakang. Ia mengenakan sandal karet biru yang sudah menipis di bagian tumitnya. Sandal itu adalah pemberian terakhir dari Mang Asep sebelum ia dibawa ke gedung tinggi ini.
"Sandal saya, Bi."
"Itu sampah," Bi Inah membungkuk secepat kilat, merampas satu sisi sandal Nayara dengan kasar hingga gadis itu nyaris kehilangan keseimbangan. "Di rumah ini, tidak ada tempat untuk barang rongsokan. Kamu mau mempermalukan Tuan Arkan di depan kolega politiknya jika mereka melihat ini?"
"Tolong kembalikan, Bi. Itu pemberian dari orang tua saya di panti," suara Nayara pelan, namun ada getaran yang ia tahan sekuat tenaga.
Di tempat lain, beberapa lantai di atas mereka, Arkananta sedang duduk di balik meja kerja jati yang berat. Jemarinya yang panjang sedang merapikan jam tangan perak di pergelangan tangannya. Detik jam itu terasa lambat, seolah waktu sedang menyeret beban yang tak terlihat.
Tiba-tiba, Arkan tersedak. Paru-parunya mendadak kosong, seolah ada tangan raksasa yang meremas ulu hatinya tanpa peringatan. Ia mencengkeram pinggiran meja, wajahnya memucat seketika. Ada rasa panas yang merambat di telapak kakinya, sebuah sensasi terbakar yang tidak masuk akal karena ruangan itu ber-AC dingin.
Rasa sakit ini... milik siapa? batin Arkan.
Ia memejamkan mata, giginya terkatup rapat hingga rahangnya menonjol. Setiap kali dada itu sesak, bayangan Nayara selalu melintas. Ia tahu ini bukan penyakit medis. Ini adalah luka yang berbagi ruang di antara mereka.
Kembali di koridor bawah, Bi Inah melempar sandal karet itu ke dalam kantong plastik hitam yang dibawa oleh pelayan lain di belakangnya. "Buang ini ke tempat pembakaran sampah. Sekarang!"
"Jangan, Bi! Saya mohon," Nayara melangkah maju, tangannya gemetar.
"Dengar, gadis panti," Bi Inah menunjuk tepat ke wajah Nayara. "Keberadaanmu di sini saja sudah menjadi kutukan bagi karier Tuan Arkan. Jangan menambah beban dengan membawa sampah-sampah desa ini ke dalam High Tower. Kalau kamu ingin sholawat, lakukan dengan kaki telanjang di atas es ini. Biar kamu sadar di mana tempatmu sebenarnya."
Nayara terdiam. Ia merasakan kuku jarinya menusuk telapak tangannya sendiri di dalam saku daster. Ia tidak menangis. Matanya hanya menatap kosong ke arah kantong plastik yang dibawa pergi. Di dalam sakunya, ia merasakan butiran tasbih kayu itu bergetar, atau mungkin tangannya yang bergetar terlalu hebat.
"Apa yang terjadi di sini?"
Suara berat dan dingin itu membuat Bi Inah tersentak dan segera memutar tubuh dengan wajah yang berubah manis dalam sekejap. Arkananta berdiri di ujung selasar, satu tangannya mencengkeram ulu hati, sementara mata tajamnya menatap pemandangan di depannya.
"Tuan Arkan... Ah, ini, saya hanya sedang menertibkan aturan rumah," Bi Inah membungkuk hormat.
Arkan tidak menatap pelayan itu. Matanya terkunci pada kaki telanjang Nayara yang memucat karena kedinginan marmer. Rasa perih di kakinya sendiri kini berubah menjadi nyeri yang tajam.
"Di mana alas kakinya?" Arkan bertanya, suaranya rendah namun mengandung ancaman yang nyata.
"Itu... sandalnya sudah rusak dan tidak layak, Tuan. Saya hanya ingin menggantinya dengan yang lebih baik, sesuai perintah Nyonya Besar untuk menjaga citra rumah," Bi Inah menjawab dengan gugup.
Arkan melangkah mendekat. Setiap langkahnya terasa berat karena dadanya masih terasa seperti dihantam batu besar. Ia berdiri tepat di depan Nayara. Gadis itu tidak mendongak, hanya menatap ujung sepatu kulit Arkan yang mengkilap.
"Nayara," panggil Arkan.
Nayara tetap diam. Ia hanya mempererat genggamannya pada tasbih di dalam saku. Ia tahu, di balik tembok ini, suaminya adalah seorang underdog yang ditekan oleh ambisi ibunya sendiri. Ia tidak ingin menambah kerumitan itu.
"Tatap aku," perintah Arkan lagi.
Nayara perlahan mengangkat wajahnya. Matanya bening, namun di dalamnya ada martabat yang tidak hancur meski ia dihina. Arkan bisa merasakan denyut jantung Nayara yang cepat, seolah jantung itu berdegup di dalam rongga dadanya sendiri.
"Siapa yang membuangnya?" tanya Arkan, matanya beralih ke Bi Inah.
"Saya hanya menjalankan tugas, Tuan—"
"Aku bertanya, siapa yang membuangnya?" nada suara Arkan naik satu oktav, dingin dan mematikan.
"Saya, Tuan," Bi Inah tertunduk dalam, keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Arkan menarik napas panjang, mencoba meredakan sesak yang masih mengimpit paru-parunya. "Ambil kembali. Sekarang juga. Jangan biarkan satu butir debu pun mengotori sandal itu sebelum sampai kembali ke tangan istriku."
"Tapi Tuan, Nyonya Besar bilang—"
"Di rumah ini, aku adalah tuanmu. Lakukan!"
Bi Inah lari terbirit-birit mengejar pelayan yang membawa plastik sampah tadi. Suasana koridor kembali sunyi, menyisakan Arkan dan Nayara dalam jarak yang sangat dekat. Arkan bisa mencium bau melati dari daster Nayara, bau yang sangat asing di High Tower, namun entah mengapa terasa seperti oase di tengah gurun yang gersang.
"Kenapa diam saja saat dia merampasnya? Kamu gemetar, Nayara. Di sini, setiap inci marmer akan mencoba membekukan jiwamu jika kamu tidak melawan," tanya Arkan, suaranya melunak namun tetap tegas.
Nayara melepaskan genggaman pada tasbihnya. "Dia benar, Arkan. Sandal itu memang tidak pantas untuk lantai ini. Tapi sandal itu pantas untuk kenangan saya."
"Hidupmu tidak ditentukan oleh benda itu, Nayara. Tapi tidak ada yang boleh mengambil apa pun darimu tanpa izinku." Arkan mengulurkan tangan, hendak menyentuh bahu Nayara, namun ia menghentikannya di udara.
Ada jarak yang sengaja Nayara ciptakan. Sebuah dinding martabat yang membuat Arkan merasa bahwa meski ia adalah suaminya, ia belum benar-benar memiliki jiwa gadis ini.
"Kamu gemetar," Arkan memperhatikan jemari Nayara.
"Lantainya dingin," jawab Nayara singkat.
Arkan melepaskan jas abu-abu mahal yang ia kenakan, lalu tanpa ragu menjatuhkannya ke lantai marmer yang dingin, tepat di depan kaki Nayara.
"Injak itu. Jangan biarkan kakimu menyentuh marmer lagi sampai sandalmu kembali."
Nayara tertegun. "Ini jas mahal, Arkan. Jangan gila."
"Injak, Nayara. Atau aku akan berdiri di sini menahan sesak napas karena kakimu kedinginan."
Nayara menatap mata Arkan. Ia melihat kesungguhan yang menyakitkan di sana. Dengan ragu, ia melangkahkan kaki telanjangnya ke atas kain sutra jas tersebut. Kehangatan sisa tubuh Arkan merambat ke telapak kakinya, dan di saat yang sama, Arkan mengembuskan napas lega. Sesak di dadanya menghilang seketika.
"Terima kasih," bisik Nayara hampir tak terdengar.
"Jangan pernah diam lagi," Arkan mendekat, suaranya nyaris seperti bisikan di telinga Nayara. "Aku tidak bisa melindungimu jika kamu memilih untuk hancur dalam diam. Luka itu... aku merasakannya juga."
Nayara mendongak, bibirnya bergetar. "Anda benar-benar merasakannya?"
Arkan hanya menunjuk ulu hatinya sendiri sebagai jawaban.
Nayara tertegun melihat Arkan yang masih berdiri mematung di depannya. Pria itu tampak lebih rapuh dari yang biasa ia tunjukkan di depan podium politik, seolah beban High Tower benar-benar sedang melumat tulang belulangnya. Nayara menarik kaki dari jas mahal itu saat Bi Inah kembali dengan napas tersengal, membawa sepasang sandal karet biru yang kini tampak lebih kusam karena terkena debu kantong sampah.
"Ini, Tuan. Sudah saya ambil kembali," ucap Bi Inah dengan kepala tertunduk dalam. Tangannya gemetar saat menyodorkan benda itu.
Arkan tidak menyentuhnya. Ia hanya memberi isyarat dengan dagu agar pelayan itu meletakkannya di lantai. "Bersihkan dulu. Aku tidak ingin ada kotoran sampah di kaki istriku."
"Baik, Tuan. Maafkan saya," Bi Inah segera mengeluarkan sapu tangan, mengelap sandal karet itu dengan gerakan cepat dan penuh ketakutan. Setelah dirasa bersih, ia meletakkannya dengan posisi rapi di hadapan Nayara.
Nayara segera menyarungkan kakinya ke dalam sandal itu. Seketika, rasa dingin marmer yang menusuk tadi berganti dengan tekstur karet yang akrab. Di saat yang sama, rahang Arkan yang tadinya mengeras mulai melunak. Tekanan tumpul di ulu hatinya perlahan menguap, menyisakan rasa lelah yang luar biasa.
"Kembali ke kamarmu, Nayara. Siapkan dirimu untuk makan malam keluarga nanti," Arkan memungut jasnya yang sudah kotor karena diinjak, lalu menyampirkannya di lengan tanpa peduli pada noda yang membekas.
"Terima kasih, Arkan," suara Nayara terdengar lebih stabil sekarang. "Tapi jas itu... biar saya yang mencucinya."
"Tidak perlu. Biar urusan laundry yang menangani," Arkan berbalik, hendak melangkah pergi, namun langkahnya terhenti saat Nayara memanggil namanya sekali lagi.
"Arkan."
Pria itu menoleh.
"Kenapa kamu melakukan ini? Ibu pasti akan marah jika tahu kamu membela sandal butut ini."
Arkan menatap tasbih kayu yang mengintip dari saku daster Nayara. Ia teringat bagaimana jantungnya hampir berhenti berdetak saat sandal itu dilempar tadi. "Ibu tidak perlu tahu segalanya. Dan aku tidak membela sandalnya, aku membela sisa napas yang kuterima pagi ini."
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Arkan melangkah pergi menuju lift pribadi. Nayara menatap punggung suaminya hingga pintu besi itu tertutup rapat. Di koridor yang kini kembali sunyi, ia mengeluarkan tasbih kayunya. Ada satu retakan halus di butiran ketiga, nyaris tak terlihat, namun terasa tajam saat ujung jemarinya meraba.
Nayara memejamkan mata, bibirnya mulai bergerak tanpa suara, melafalkan sholawat yang menjadi benteng terakhirnya. Bau melati dari bajunya kini terasa lebih kuat, seolah sedang bertarung melawan kedinginan High Tower yang kembali mencoba merayap masuk.
Di dalam lift, Arkan menatap pantulan dirinya di cermin perak. Tangannya meraba jam tangan di pergelangan kiri. Jarumnya kembali berdetak normal, seirama dengan denyut nadinya yang mulai stabil. Ia tahu, kejadian pagi ini hanyalah permulaan. High Tower tidak akan pernah membiarkan sesuatu yang murni seperti Nayara bernapas lega di tempat yang penuh dengan kepalsuan.
Arkan merogoh ponselnya, menghubungi Bayu dengan suara dingin. "Bayu, siapkan laporan intelijen tentang pengadaan logistik panti asuhan Cahaya Sauh. Pastikan tidak ada satu pun orang High Council yang menyentuh jalur distribusinya."
"Siap, Tuan. Ada masalah?" suara Bayu terdengar waspada di seberang sana.
"Hanya memastikan martabat tetap tegak di tempat yang seharusnya," jawab Arkan pendek sebelum memutus sambungan.
Ia tahu, malam ini di meja makan akan menjadi medan perang yang berbeda. Nyonya Besar tidak akan tinggal diam melihat otoritasnya ditentang melalui sepasang sandal butut. Namun bagi Arkan, rasa sakit di ulu hatinya tadi telah mengajarkan satu hal: melindungi Nayara bukan lagi sekadar kewajiban kontrak, melainkan cara agar ia sendiri tetap bisa bertahan hidup.
Nayara kembali ke kamarnya, meletakkan wadah air hangat yang kini sudah mendingin di atas meja rias yang mewah namun terasa asing. Ia duduk di pinggir ranjang, menatap sandal birunya yang kini terlihat sangat kontras di atas karpet beludru. Ia tahu, panti asuhan dan dunia marmer ini adalah dua kutub yang mustahil bersatu. Namun, di tengah keterasingan itu, ia merasakan satu hal yang belum pernah ia duga sebelumnya.
Ada sebuah ikatan yang lebih kuat dari sekadar janji pernikahan. Sebuah luka yang berbagi, yang membuat Arkananta—sang politisi dingin yang ditakuti—bisa bertekuk lutut hanya karena kakinya kedinginan. Nayara mengeratkan genggamannya pada tasbih retak itu, mempersiapkan batinnya untuk badai yang pasti akan datang saat jam makan malam berdentang.