NovelToon NovelToon
MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEJUTAN UNTUK ADNAN.

Sore itu, suasana di vila terasa lebih tenang dari biasanya. Dion yang berada di Jakarta sempat mengirimkan pesan singkat kepada Nayla, memberitahukan bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Adnan yang ketiga puluh dua. Nayla yang mendengar kabar itu langsung melompat kegirangan. Ia segera menyusun rencana rahasia bersama Adiva untuk memberikan kejutan yang tidak akan dilupakan oleh si "Pak Es" itu.

"By, saya dan Adiva mau jalan-jalan cari kerang di ujung pantai sana ya! ByBy di vila saja, jangan nakal dan jangan coba-coba lari maraton pakai kursi roda!" seru Nayla sambil memakai topi pantainya yang super lebar.

Adnan melirik dari balik tabletnya. Ia tahu anak buahnya sudah bersiaga di setiap sudut area tersebut untuk menjaga keamanan. "Ya sudah, pergi sana. Jangan pulang terlalu lama, dan pastikan Adiva pakai tabir surya agar kulitnya tidak terbakar."

"Siap, Bos Besar! Ayo Adiva, kita kerjakan misi rahasia kita!" Nayla mengedipkan mata pada Adiva, dan gadis kecil itu pun ikut tertawa riang sambil melambai pada Ayahnya.

Setelah mendapatkan izin, Nayla tidak benar-benar mencari kerang. Ia langsung menuju ke area privat di tepi pantai yang sudah ia sewa. Dengan bantuan petugas restoran hotel, Nayla menata sebuah meja makan malam yang sangat cantik. Ia memesan lampu-lampu gantung kecil, hiasan bunga, dan tentu saja menu sate padang spesial yang ia minta khusus agar suaminya senang.

Setelah memastikan semuanya sempurna, Nayla kembali ke vila. Ia melihat Adnan masih di posisi yang sama. Nayla segera memandikan Adiva dan mengganti baju anak itu dengan gaun putih yang cantik. Ia sendiri memakai gamis santai namun elegan yang membuatnya terlihat lebih dewasa dari biasanya.

"ByBy, ayo mandi! Kita mau keluar makan malam, tidak boleh protes!" Nayla menarik tangan Adnan dengan paksa.

"Nayla, saya malas keluar. Kaki saya gatal dan duduk di kursi roda itu melelahkan. Kita makan di sini saja," tolak Adnan dengan wajah datar.

"Nggak bisa! Pokoknya harus ikut! Ini perintah Istri, dan Byby tadi sudah janji mau nurut kalau saya yang urus. Ayo cepat, atau saya seret kursi roda ini sampai ke laut!" ancam Nayla sambil berkacak pinggang.

Adnan menghela napas panjang. Menghadapi keras kepalanya Nayla sama saja dengan melawan arus tsunami. Akhirnya ia pasrah dan membiarkan Nayla membantunya bersiap-siap. Adnan memakai kemeja biru muda yang membuat wajah tampannya terlihat segar meski ia nampak sedikit cemberut karena dipaksa keluar.

Nayla mendorong kursi roda Adnan menyusuri jalan setapak kayu menuju pantai. Saat jarak mereka tinggal beberapa meter dari lokasi kejutan, Nayla tiba-tiba berhenti dan berdiri di depan Adnan.

"ByBy, tutup matanya sekarang! Jangan curang ya!" Nayla menggunakan kain syalnya untuk menutup mata Adnan dengan erat.

"Nayla, ini konyol. Kita bukan anak TK yang sedang main petak umpet," keluh Adnan.

"Diam saja! Ini namanya estetika kejutan, Pak Es! Ayo, pegangan yang kuat!" Nayla kembali mendorong kursi roda itu perlahan.

Sesampainya di titik tengah meja makan yang indah itu, Nayla baru saja hendak membuka penutup mata Adnan. Namun ia melihat sebuah pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Di sana, tepat di depan meja yang sudah ia siapkan susah payah, berdiri Bella Shofie dengan gaun merah yang sangat berani. Bella sedang memegang sebuket bunga lili besar dan berpose seolah-olah dialah yang menyiapkan semua ini.

"Selamat ulang tahun, Sayangku Adnan," ucap Bella dengan suara yang dibuat selembut mungkin saat ia mendengar suara kursi roda mendekat.

Nayla mematung. Matanya melotot tajam. "Heh! Mbak Kurang Bahan! Ngapain Mbak di situ?!" teriak Nayla spontan.

Mendengar teriakan istrinya yang penuh amarah, Adnan langsung membuka penutup matanya sendiri. Ia terkejut bukan main melihat suasana romantis di depannya, namun lebih terkejut lagi saat melihat Bella berdiri di sana sambil tersenyum manis ke arahnya.

"Nayla? Jadi kamu sengaja membawa saya ke sini untuk menyerahkan saya pada wanita ini?" tanya Adnan dengan nada dingin, ia salah paham mengira Nayla sedang menjebaknya.

"Apa?! Enak saja! Saya yang siapkan ini semua, Pak! Saya yang sewa meja, saya yang pesan lampu, bahkan saya yang berdebat sama koki restoran gara-gara sate padang! Bapak pikir saya mau jadi mak comblang wanita kurang bahan ini?" Nayla berteriak kesal sambil menunjuk-nunjuk dadanya sendiri.

Bella berjalan mendekati Adnan, mengabaikan keberadaan Nayla. "Adnan, jangan dengarkan anak kecil ini. Dia mungkin hanya membantu teknis saja. Tapi bunga ini, dan semua suasana ini, aku yang khusus menyiapkannya untuk merayakan kembalinya cinta kita."

Bella menyodorkan buket bunga itu ke arah Adnan dengan wajah memohon. Namun, sebelum tangan Adnan sempat menyentuhnya, Nayla sudah lebih dulu bergerak secepat kilat. Ia merampas buket bunga itu dari tangan Bella dengan kasar.

"Bunga lili? Pak Adnan itu alergi serbuk bunga lili kalau Mbak mau tahu! Mbak mau bikin suami saya bersin-bersin sampai pingsan ya?!" bentak Nayla.

Tanpa ragu, Nayla melemparkan bunga itu ke atas pasir dan langsung menginjak-injaknya dengan kaki kets-nya sampai hancur tak berbentuk. Bella berteriak histeris melihat bunganya diperlakukan seperti itu.

"Kamu! Dasar anak kampung tidak punya tata krama! Itu bunga mahal!" teriak Bella sambil menunjuk wajah Nayla.

"Bodo amat mahal! Emangnya gue pikirin! Mbak itu yang tidak punya tata krama! Ini pesta saya siapkan, untuk suami saya, dan pakai uang saku suami saya yang saya pakai buat sewa ini! Mbak itu cuma parasit yang nyasar di pesta orang!" Nayla berkacak pinggang dengan sangat berani.

Adnan yang melihat kejadian itu hanya bisa terdiam dengan alis terangkat. Rasa kesalnya tadi seketika hilang apalagi saat Nayla mengatakan 'suami saya' rasa kesal itu berganti dengan rasa geli yang luar biasa. Ia melihat istrinya yang bertubuh mungil itu sedang bertransformasi menjadi macan yang sangat protektif.

"ByBy! Kenapa diam saja? Lihat nih, mantan Biby mau mencuri hasil kerja keras saya! Bapak mau saya tendang dia ke laut atau Bapak sendiri yang suruh dia pergi?!" tanya Nayla sambil menoleh ke arah Adnan dengan mata berkilat.

Bella kembali mencoba menarik simpati Adnan. "Adnan, lihat betapa kasarnya istrimu. Dia memperlakukanku seperti sampah. Kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih anggun, bukan preman berbaju gamis seperti dia."

Adnan menatap Bella dengan tatapan datar, lalu ia meraih tangan Nayla dan menggenggamnya erat. "Bella, bagi saya, kejujuran dan keberanian istri saya jauh lebih berharga daripada keanggunan palsu yang kamu tawarkan. Dan satu lagi, Nayla benar. Saya memang tidak suka bunga lili."

Wajah Bella menjadi pucat pasi. Ia merasa sangat dipermalukan di depan umum. Apalagi beberapa petugas restoran mulai berdatangan karena mendengar keributan.

"Pergi sekarang, Bella. Sebelum istri saya benar-benar mempraktikkan jurus silatnya padamu. Saya tidak bisa menjamin keselamatanmu kalau dia sudah marah," tambah Adnan dengan nada mengancam.

Nayla menjulurkan lidahnya ke arah Bella. "Dengar itu? Hus! Pergi sana! Cari pulau lain buat gatal-gatal, jangan di sini!"

Bella menghentakkan kakinya dengan kesal dan pergi meninggalkan area tersebut dengan wajah merah padam. Setelah Bella menjauh, Nayla langsung duduk di atas pasir sambil merengut. Suasana romantis yang ia impikan kini sedikit ternoda.

"Kamu kenapa Nay? Kok malah duduk disitu?" tanya Adnan dengan lembut.

"ByBy jahat! Gara-gara bapak punya mantan nggak tahu malu begitu, pesta yang saya siapkan jadi berantakan," keluh Nayla sambil memanyunkan bibirnya.

Adnan terkekeh pelan. Ia menarik tangan Nayla agar berdiri dan duduk di kursi di depannya. "Nayla, ini adalah kejutan ulang tahun terbaik yang pernah saya dapatkan. Melihatmu cemburu sampai menginjak-injak bunga itu jauh lebih menghibur daripada makan malam mewah mana pun."

"Bapak senang ya lihat saya marah?" tanya Nayla sinis.

"Saya senang karena itu artinya kamu peduli pada saya. Terima kasih, Nay. Terimakasih karena telah menyiapkan pesta ulang tahun untuk saya, dan terima kasih sudah menjadi kado paling ajaib dalam hidup saya," ucap Adnan tulus.

Adiva yang sejak tadi menonton dengan tenang akhirnya mendekat dan memberikan sebuah kartu ucapan buatan tangan. "Papa... Happy birthday,"

Adnan langsung mengambil kartu tersebut, lalu ia pun memberikan kecupan ke pipi Adiva, "Terimakasih sayang,"

Nayla pun kembali tersenyum. Ia segera membuka tudung saji dan aroma sate padang langsung menyeruak. "Ya sudah! Ayo makan! Biby harus makan yang banyak supaya cepat sembuh dan bisa jalan lagi, biar kalau ada mantan genit lagi, bapak bisa lari sendiri!"

Malam itu, di bawah cahaya lampu temaram dan suara ombak, mereka bertiga menikmati makan malam dengan penuh tawa. Ketengilan Nayla tidak hilang, ia berkali-kali menjahili Adnan dengan menyuapkan potongan daging yang besar. Adnan merasa bahwa meski kakinya masih sakit, hatinya terasa sangat utuh.

Namun di kegelapan dermaga, Bella Shofie sedang menelepon seseorang dengan tangan gemetar. "Aku gagal mendekati Adnan malam ini. Istrinya itu benar-benar gila. Kalian harus segera melakukan rencana cadangan. Aku ingin gadis itu lenyap secepatnya!"

Bahaya kembali mengancam di tengah kebahagiaan mereka. Apakah Nayla siap menghadapi serangan yang lebih terencana dari Bella dan sekutunya?

1
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒃𝒊𝒌𝒊𝒏 𝒏𝒈𝒂𝒌𝒂𝒌 𝑨𝒅𝒏𝒂𝒏 😂😂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒂𝒚𝒂𝒉𝒏𝒚𝒂 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒌𝒐𝒌 𝒈𝒂𝒌 𝒅𝒊 𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂𝒊𝒏 𝒍𝒈 𝒕𝒉𝒐𝒓 😏😏 𝒈𝒂𝒌 𝒂𝒅𝒂 𝒂𝒅𝒆𝒈𝒂𝒏 𝒍𝒈 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒌𝒆𝒕𝒆𝒎𝒖 𝒂𝒚𝒂𝒉𝒏𝒚𝒂 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒄𝒆𝒓𝒊𝒂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒅𝒆𝒔𝒂 𝒂𝒎𝒂𝒏 𝒋𝒅𝒏𝒚𝒂 😅😅
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒋𝒏𝒈𝒏 𝒍𝒅𝒓 𝒂𝒏 𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝑨𝒅𝒏𝒂𝒏 𝒌𝒍 𝒆𝒏𝒈𝒈𝒂𝒌 𝒎𝒂𝒖 𝒏𝒂𝒏𝒕𝒊 𝒂𝒅𝒂 𝒑𝒆𝒍𝒂𝒌𝒐𝒓 𝒚𝒈 𝒈𝒐𝒅𝒂 𝑨𝒅𝒏𝒂𝒏😉😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒃𝒖 𝑫𝒂𝒓𝒎𝒊 𝒌𝒆 𝒕𝒊𝒎𝒃𝒂𝒏 𝒓𝒆𝒛𝒆𝒌𝒊 𝒏𝒐𝒎𝒑𝒍𝒐𝒌 𝒏𝒊𝒉 👍👍
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒈𝒂𝒌 𝒃𝒆𝒃𝒂𝒔 𝒍𝒈 𝒚𝒂 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒓𝒆𝒛𝒆𝒌𝒊 𝒏𝒐𝒎𝒑𝒍𝒐𝒌 𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒃𝒖 𝑺𝒊𝒕𝒊 𝒚𝒂 𝒘𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒋𝒂𝒏𝒕𝒖𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒓𝒏𝒂 𝒌𝒆𝒅𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈" 𝒃𝒆𝒓𝒑𝒆𝒏𝒈𝒂𝒓𝒖𝒉 😅😅
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒌𝒊𝒏 𝒌𝒍 𝒂𝒏𝒂𝒌 𝒚𝒈 𝒅𝒊 𝒌𝒂𝒏𝒅𝒖𝒏𝒈 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒌𝒆𝒎𝒃𝒂𝒓 𝒕𝒉𝒐𝒓 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒃𝒆𝒓𝒖𝒏𝒕𝒖𝒏𝒈𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑫𝒊𝒐𝒏 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒉𝒓𝒔 𝒃𝒆𝒍𝒂𝒋𝒂𝒓 𝒕𝒆𝒓𝒃𝒖𝒌𝒂 𝒑𝒅 𝑭𝒂𝒓𝒂𝒉 𝒂𝒈𝒂𝒓 𝑭𝒂𝒓𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒅𝒊 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂𝒊 𝒅𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒉𝒂𝒓𝒈𝒂𝒊 😉😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒘𝒆𝒆𝒕𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒍 𝒅𝒊 𝒅𝒖𝒏𝒊𝒂 𝒏𝒚𝒂𝒕𝒂 𝒂𝒅𝒂 𝒚𝒈 𝒌𝒂𝒚𝒂𝒌 𝑨𝒅𝒏𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒏𝒕𝒖 𝒓𝒂𝒌𝒚𝒂𝒕 𝒌𝒆𝒄𝒊𝒍 𝒕𝒂𝒏𝒑𝒂 𝒑𝒂𝒎𝒓𝒊𝒉 𝒑𝒂𝒔𝒕𝒊 𝒃𝒏𝒚𝒌 𝒌𝒆𝒍𝒖𝒂𝒓𝒈𝒂 𝒎𝒊𝒔𝒌𝒊𝒏 𝒚𝒈 𝒕𝒆𝒓𝒃𝒂𝒏𝒕𝒖 😉😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒎𝒐𝒅𝒖𝒔 𝑨𝒅𝒏𝒂𝒏 𝒃𝒏𝒚𝒌 😅😅
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑨𝒅𝒏𝒂𝒏 𝒕𝒂𝒎𝒃𝒂𝒉 𝒃𝒖𝒄𝒊𝒏 𝒂𝒃𝒊𝒔 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑨𝒅𝒊𝒗𝒂 𝒈𝒆𝒎𝒆𝒔𝒊𝒏 𝒅𝒆𝒉 😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒎𝒂𝒌𝒂𝒏𝒚𝒂 𝑨𝒅𝒏𝒂𝒏 𝒋𝒏𝒈𝒏 𝒕𝒆𝒓𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒏𝒈𝒆𝒌𝒂𝒏𝒈
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒂𝒚𝒂𝒌 𝒊𝒏𝒔𝒑𝒆𝒌𝒕𝒖𝒓 𝒍𝒂𝒅𝒖𝒔𝒊𝒏𝒈 𝒚𝒂 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 😅😅
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒋𝒊𝒘𝒂 𝒔𝒐𝒔𝒊𝒂𝒍 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒕𝒊𝒏𝒈𝒈𝒊 👍👍👏👏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒚𝒖𝒌𝒖𝒓𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒅𝒉 𝒌𝒆𝒕𝒂𝒏𝒈𝒌𝒆𝒑
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!