NovelToon NovelToon
Qalbu Yang Terlupa

Qalbu Yang Terlupa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi
Popularitas:26
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Mimpi Bersama

#

Kalung itu hangat di genggaman Mahira.

Ia duduk di tepi tempat tidurnya—jam menunjukkan pukul 11 malam. Kalung Zarvan—kalung yang ia temukan di reruntuhan tadi siang—tergeletak di telapak tangannya. Batu zamrud itu berkilauan tertimpa cahaya lampu kamar.

"Apa yang terjadi kalau aku pakai ini?" bisiknya pada diri sendiri.

Pertanyaan bodoh. Tapi rasa penasaran lebih kuat dari akal sehat.

Dengan tangan gemetar, Mahira mengalungkannya ke leher. Logam dingin menyentuh kulitnya—dan tiba-tiba dunia berputar.

Mahira jatuh ke tempat tidur. Matanya terasa berat. Sangat berat. Ia mencoba melawan—tapi kesadaran perlahan menghilang.

***

*Taman istana di senja hari.*

*Aisyara berdiri di paviliun—tempat favoritnya untuk menyendiri. Angin sepoi membawa aroma melati dan tanah basah sehabis hujan. Langit berwarna jingga keemasan.*

*"Putri."*

*Suara itu membuat jantungnya berdebar. Aisyara menoleh—dan di sana berdiri Pangeran Zarvan. Masih dengan jubah sutra biru gelap. Rambut hitamnya sedikit berantakan tertimpa angin. Matanya—mata madu itu—menatap Aisyara dengan kelembutan yang membuat dadanya sesak.*

*"Pangeran Zarvan." Aisyara menunduk hormat. "Hamba tidak tahu Pangeran ada di sini."*

*"Maaf kalau mengagetkan." Zarvan melangkah lebih dekat—tapi tetap menjaga jarak sopan. "Aku... aku ingin bicara denganmu. Berdua saja. Tanpa protokol istana yang melelahkan."*

*Aisyara tersenyum tipis. "Tanpa protokol? Ayahanda Sultan akan marah kalau tahu."*

*"Maka kita tidak akan beritahu beliau." Zarvan membalas senyumnya—senyum yang membuat sudut matanya berkerut. "Lagipula, dalam dua bulan lagi kita akan menikah. Bukankah sudah waktunya kita saling mengenal?"*

*Dua bulan lagi.*

*Pernikahan yang sudah diatur sejak mereka berdua masih kecil. Pernikahan politik untuk memperkuat aliansi dua kerajaan. Aisyara sudah pasrah dengan takdirnya—menikah dengan pria yang tidak ia kenal, hidup di istana asing, jadi ratu yang baik.*

*Tapi sekarang... sekarang ia melihat Zarvan bukan sebagai stranger lagi.*

*"Boleh aku duduk?" tanya Zarvan, menunjuk bantal sutra di seberang Aisyara.*

*"Silakan, Pangeran."*

*Mereka duduk berhadapan—canggung pada awalnya. Tidak ada yang bicara. Hanya suara gemericik air mancur dan kicau burung di kejauhan.*

*"Apa Putri takut?" Zarvan memecah keheningan.*

*"Takut akan apa?"*

*"Pernikahan kita. Pindah ke kerajaan utara. Hidup dengan orang yang..." ia ragu, "...yang mungkin tidak Putri cintai."*

*Aisyara menatap tangannya sendiri yang terlipat di pangkuan. Pertanyaan yang jujur. Terlalu jujur.*

*"Hamba... hamba sudah diajarkan untuk menerima takdir," jawabnya pelan. "Cinta bisa tumbuh seiring waktu. Atau begitulah yang Ibu hamba selalu katakan."*

*"Tapi Putri inginnya bagaimana?"*

*Aisyara mendongak—dan tatapan mereka bertemu. Mata Zarvan penuh dengan... ketulusan. Kepedulian. Tidak ada arogansi pangeran yang biasa ia lihat di pesta istana.*

*"Hamba..." suaranya hampir berbisik, "hamba ingin... diperlakukan sebagai partner. Bukan hanya permaisuri. Hamba ingin didengar. Dihormati. Dan kalau mungkin..." ia berhenti, pipinya memanas, "...dicintai."*

*Keheningan sesaat.*

*Lalu Zarvan tersenyum—senyum yang begitu hangat hingga membuat dada Aisyara penuh.*

*"Itu yang aku harapkan juga," ucapnya. "Aku tidak ingin pernikahan politik yang dingin. Aku ingin... aku ingin kita membangun sesuatu yang nyata. Bersama."*

*"Pangeran serius?"*

*"Sangat serius." Zarvan mengulurkan tangannya—gesture yang berani untuk standar istana. "Bolehkah aku memegang tanganmu? Hanya sekali. Sebagai janji."*

*Aisyara menatap tangan itu. Tangan besar dengan jari-jari panjang. Tangan yang kuat tapi juga terlihat lembut.*

*Perlahan, ia meletakkan tangannya di telapak Zarvan.*

*Dan saat kulit mereka bersentuhan—*

*—dunia meledak.*

*Aisyara melihat kilasan: Zarvan tersenyum padanya di altar pernikahan. Zarvan memegang bayinya yang baru lahir. Zarvan menua bersamanya dengan cinta yang tidak pernah pudar.*

*Masa depan yang seharusnya mereka miliki.*

*"Kamu merasakannya juga?" bisik Zarvan, matanya melebar. "Visi itu?"*

*"Aku... aku lihat kita. Bersama. Selamanya."*

*"Itu bukan hanya visi." Zarvan menggenggam tangannya lebih erat. "Itu takdir kita. Aku yakin."*

*Aisyara merasakan air mata mengalir—entah kenapa. "Tapi kenapa... kenapa aku juga melihat kegelapan? Melihat darah?"*

*Wajah Zarvan berubah serius. "Aku juga melihatnya. Tapi aku tidak akan biarkan itu terjadi. Aku akan melindungimu. Apapun yang terjadi."*

*"Janji?"*

*"Dengan nyawaku."*

***

*Scene berubah.*

*Malam. Istana dalam kegelapan. Aisyara berlari—napasnya tercekat, kakinya tersandung gaun panjangnya tapi ia tidak peduli.*

*"ZARVAN!" teriaknya. "ZARVAN, DIMANA KAMU?!"*

*Ia sampai di taman—taman di mana mereka pernah berbicara tentang masa depan. Tapi sekarang taman itu penuh darah.*

*Dan di tengahnya—*

*Zarvan tergeletak. Luka tusuk di dadanya. Darah mengalir—terlalu banyak darah. Matanya terbuka tapi redup.*

*"TIDAK!" Aisyara jatuh berlutut di sampingnya. Tangannya menekan luka itu—berusaha menghentikan pendarahan yang tidak mungkin dihentikan. "Jangan tinggalkan aku! Kumohon!"*

*"Aisyara..." suaranya lemah. Nyaris tidak terdengar. "Maafkan... aku..."*

*"Jangan minta maaf! Kamu harus bertahan! Kita... kita akan menikah minggu depan, ingat? Kamu janji akan jadi suami yang baik. Kamu janji—"*

*"Aku... mencintaimu." Zarvan mengangkat tangannya—gemetar—menyentuh pipi Aisyara yang basah air mata. "Sejak... hari pertama."*

*"Aku juga mencintaimu," bisik Aisyara. "Aku mencintaimu. Please, jangan pergi—"*

*Tapi tangan Zarvan jatuh.*

*Matanya tertutup.*

*Dan napasnya berhenti.*

*"TIDAK! ZARVAN! BANGUN! KUMOHON, BANGUN!"*

*Aisyara mengguncang tubuh tak bernyawa itu—tapi sia-sia. Ia memeluknya erat, menangis hingga tidak ada lagi air mata yang keluar.*

*"Ini salahku," bisiknya di antara isak. "Ini semua salahku."*

*"Benar."*

*Suara dingin itu membuat Aisyara mendongak. Khalil berdiri di sana—pisau berdarah di tangannya. Matanya kosong. Tidak ada penyesalan.*

*"Ini salahmu," lanjut Khalil. "Kalau kamu menerima cintaku, dia tidak perlu mati."*

*"KAMU MONSTER!" Aisyara berteriak. "Kamu bunuh orang tak berdosa—"*

*"Orang tak berdosa? Dia merebut apa yang seharusnya jadi milikku!" Khalil melangkah lebih dekat. "Tapi tidak apa. Sekarang kalian berdua akan bersama. Di alam lain."*

*Ia mengangkat pisau—*

*"Tunggu." Aisyara berdiri. Air matanya sudah kering. Digantikan oleh tatapan kosong yang lebih menakutkan dari apapun. "Bunuh aku. Tapi dengan satu syarat."*

*"Kamu tidak punya hak untuk negotiate—"*

*"Aku kutuk kamu." Suara Aisyara berubah—bergema dengan kekuatan yang bukan dari dunianya. "Aku kutuk jiwa kita bertiga untuk terikat selamanya. Kita akan bereinkarnasi. Terus-menerus. Hingga kebenaran terungkap. Hingga cinta yang tertunda terpenuhi. Dan kamu—" ia menunjuk Khalil, "—kamu akan merasakan penyesalan yang sama berulang kali. Hingga kamu belajar arti cinta sejati."*

*"Apa—"*

*"DAN KUTUKAN INI TIDAK AKAN PUTUS HINGGA DARAH DITEBUS DENGAN PENGAMPUNAN!"*

*Cahaya meledak dari tubuh Aisyara—*

***

Mahira terbangun dengan teriakan.

Ia duduk dengan napas terengah-engah. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Air mata mengalir tanpa henti.

"Aisyara..." bisiknya. "Aku... aku Aisyara."

Pintu kamarnya terbuka dengan keras. Raesha masuk dengan panik.

"Mahira?! Kenapa teriak—" ia melihat adiknya menangis. "Mahira, apa yang terjadi?"

"Aku lihat semuanya." Mahira memeluk kakaknya erat. "Aku lihat gimana Zarvan mati. Gimana Aisyara ngelakuin kutukan. Dan... dan aku merasakan cinta mereka, Kak. Cinta yang begitu kuat tapi tidak pernah sempat mereka nikmati."

Raesha mengusap punggung adiknya dengan lembut. "Sudah. Kamu aman sekarang."

"Tapi aku tidak aman!" Mahira menarik diri, menatap kakaknya dengan mata merah. "Kutukan itu nyata. Dan kalau aku nggak bisa putuskan, semuanya akan terulang. Zarvan akan mati lagi. Dan aku... aku nggak akan bisa menyelamatkannya."

"Kamu akan bisa. Kita akan cari cara—"

"ADA APA?!"

Suara ayahnya dari luar. Irfash masuk ke kamar dengan Syafira di belakangnya—keduanya dengan wajah khawatir.

"Mahira, kenapa teriak-teriak tengah malam?" tanya Irfash.

Mahira tidak bisa menjawab. Ia hanya menatap orang tuanya dengan tatapan kosong—masih terjebak di antara mimpi dan kenyataan.

"Dia mimpi buruk, Pa," Raesha membela. "Stress gara-gara project merger."

Tapi Syafira tidak percaya. Ibu itu melangkah lebih dekat, menatap leher Mahira—dan matanya melebar melihat kalung zamrud di sana.

"Kamu... kamu pakai kalung itu?" bisiknya.

Mahira menyentuh kalung di lehernya. "Ini... ini kalung yang—"

"Lepaskan." Suara Syafira keras. "Sekarang."

"Mama—"

"LEPASKAN, MAHIRA!"

Mahira tersentak. Ia belum pernah melihat ibunya semarah ini. Dengan tangan gemetar, ia melepas kalung itu dan memberikannya ke Syafira.

Wanita itu memegang kalung itu seperti benda berbahaya. "Dari mana kamu dapat ini?"

"Dari... dari pemakaman tua di Condet."

Syafira menutup mulutnya. Air mata mengalir di pipinya. "Ya Allah... ini kalung Pangeran Zarvan. Ini... ini tidak mungkin. Harusnya ini terkubur bersama dia—"

"Mama tahu?" Raesha berdiri. "Mama tahu tentang Aisyara dan Zarvan?"

Keheningan mencekam.

Irfash menatap istrinya dengan mata terbelalak. "Syafira... apa maksudnya ini?"

Dan Syafira—ibu yang selama ini tenang dan bijaksana—jatuh berlutut sambil menangis.

"Aku harus cerita," bisiknya. "Aku harus cerita semuanya. Sebelum terlambat."

---

**BERSAMBUNG KE BAB 11**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!