"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 20
Sirine mobil ambulance memecah hujan yang sepenuhnya belum reda. Lampu merah biru memantul dijalanan basah, membuat malam terasa semakin semrawut.
Indira duduk di sisi ranjang dorong, tangannya mengenggam erat ujung seprai, tubuhnya ikut terguncang tiap kali kendaraan itu melewati jalanan berlubang.
Raka duduk di sebrang, mengamati keadaan tuannya, lalu berpindah ke ekspresi Indira yang begitu tegang, begitu khawatir tapi entah kenapa gadis itu malah berusaha kuat untuk menyembunyikan nya. Raka menggeleng kecil, tidak terlalu paham konflik apa yang terjadi di antara mereka, tapi yang ia tahu perempuan ini adalah istri dari tuannya, dan memastikan dia tetap aman adalah tugasnya.
Raka bisa melihat dress cream Indira yang sampai tunik itu transparan, bahkan kancing bagian depannya terbuka satu. Indira juga terlihat sangat ketakutan, preman- preman itu-- yang dihabisi oleh tuannya sendirian. Dari sini Raka sudah menebak apa yang sudah dilalui oleh mereka.
"Ini, pakailah nyonya. " Raka memberikan jas hitamnya, setidaknya membantu menutupi area yang seharusnya tidak boleh ia lihat. Indira menyadari bajunya transparan, ia juga baru saja hampir mendapatkan pele*cehan jika saja Seno tidak datang tepat waktu itu.
Dengan bibir gemetar karena air hujan, Indira menerima jas dari pria itu dan segera memakainya. "terimakasih, " ujar Indira tulus.
Raka mengangguk, sambil membetulkan kacamata nya. "sudah seharusnya nyonya. "
Mereka kembali fokus ke perjalanan. Indira melihat Seno, pria itu berbaring tak bergerak. Wajahnya pucat, bibirnya pecah disatu sudut, perban kasar melingkari kepalanya yang masih berlumuran darah kering. Napasnya berat, tidak teratur.
Indira menelan ludah, kasar. Ia seharusnya membenci pria ini, bukankah begitu? ia tahu betul itu. Ia punya cukup alasan-- lebih dari cukup-- untuk membiarkan Seno tergeletak sendirian, untuk tidak ikut, untuk tidak peduli.
Namun kenyataannya, ia ada di sini.
Tangannya gemetar saat menyentuh punggung tangan Seno sekilas. Hanya untuk memastikan pria itu masih hangat, dan detak jantung nya sendiri terasa terlalu keras di telinganya.
"Bertahanlah, " gumam Indira pelan, nyaris tak terdengar diantara suara sirine. Ia tidak tahu kepada siapa kata- kata itu di tunjukkan. Kepada Seno atau kepada diri nya sendiri.
...----------------...
"Persiapkan ruang VVIP tuan dan dokter pribadi, kami akan sampai sebentar lagi, saya ingin semuanya sudah siap begitu kami sampai. "
Raka sepertinya menelpon orangnya di telepon, Indira hanya mendengarkan. Ketika ia bertanya kenapa mereka tidak ke rumah sakit terdekat saja, barulah ia menemukan jawabannya.
"Tuan memiliki banyak musuh, itu sebabnya tempat ia dirawat harus lah rahasia dan tidak terjangkau oleh luar. Tuan Seno memiliki ruang UGD dan dokter bedah pribadi nya sendiri. "
Barulah Indira mengerti, bahwa kehidupan pria ini sangat keras. Gemerlap kehidupan nya yang dilihat oleh orang lain selama ini ternyata harus dibayar dengan keselamatan nya sendiri.
Tanpa sengaja dirinya melamun hingga tidak sadar sirine akhirnya meredup ketika ambulance berbelok masuk ke gerbang besi tinggi berwarna hitam. Lampu-lampu taman menyala redup, cukup untuk menampakkan bangunan besar bergaya klasik modern yang berdiri angkuh di balik pagar. Tidak ada papan nama rumah sakit. Tidak ada tanda-tanda tempat umum. Terlalu sunyi untuk ukuran fasilitas medis.
Ambulance kemudian berhenti dan pintu belakang dibuka dengan cepat.
Beberapa pria berseragam hitam sudah menunggu. Gerakan mereka rapi, nyaris tanpa suara, seolah malam ini hanyalah rutinitas lain. Ranjang dorong diturunkan dengan cekatan.
Indira ikut turun, langkahnya goyah. Jas Raka masih membungkus tubuhnya, hangat tapi juga berat, seperti pengingat bahwa ia belum sepenuhnya aman, belum sepenuhnya keluar dari kekacauan tadi malam.
“Bu, silakan ikut kami,” ucap seorang perawat wanita, suaranya tenang tapi tegas.
Indira mengangguk, namun matanya tak lepas dari Seno.
Pria itu dipindahkan dengan cepat. Lampu-lampu lorong menyala putih terang, terlalu kontras dengan hujan dan darah yang masih terbayang di kepalanya. Bau antiseptik menyergap hidungnya, membuat perutnya terasa melilit.
“Raka,” panggil Indira tanpa sadar.
Raka menoleh. “Ya nyonya?”
“Dia… dia akan baik-baik saja, kan?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Tanpa logika. Tanpa perhitungan. Seolah Raka adalah satu-satunya orang di tempat ini yang bisa memberinya jaminan.
Raka terdiam sesaat. Pandangannya lurus ke depan, mengikuti ranjang dorong tuannya. “Tuan Seno keras kepala,” ujarnya akhirnya. “Orang seperti beliau… sulit mati.”
Itu bukan jawaban yang meyakinkan. Tapi entah kenapa, dada Indira sedikit mengendur.
Pintu ruang operasi tertutup dengan bunyi mendesing pelan.
Indira berdiri terpaku di depan pintu itu, kedua tangannya terkatup tanpa sadar. Kepalanya tertunduk, matanya terpejam rapat.
Ia tidak pernah pandai berdoa. Kata-kata sering kali tersangkut di tenggorokan. Tapi malam itu, entah bagaimana, doa mengalir begitu saja.
Tolong selamatkan dia.
Bayangan-bayangan bermunculan di benaknya--tatapan dingin Seno, kata-kata tajam yang pernah ia lemparkan, sikap acuh yang berkali-kali melukai. Semua itu bercampur dengan satu adegan yang sama, berulang-ulang : Seno berdiri di tengah hujan, tubuhnya dihantam pukulan demi pukulan, tapi matanya tak lepas dari Indira.
Kenapa justru dia yang kaudoakan? suara kecil di kepalanya mengejek.
Indira menarik napas panjang. Ia tidak punya jawaban.
Yang ia tahu, ia tidak ingin Seno mati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disisi lain, Windya pulang ke panti dengan wajah kusut dan langkah keras. Payungnya ditaruh sembarangan. Bu Dewi yang sedang melipat pakaian langsung menoleh.
“Kamu kenapa?” tanya wanita tua itu pelan.
Bu Dewi adalah pengurus panti asuhan ini, salah satu dari yayasan milik keluarga Barata, tempat tinggal Windya yang sebenarnya.
“Kenapa?” Windya tertawa pendek. “jangan tanya aku kenapa. Ini semua karena kak Seno! "
Bu Dewi berdiri, menghampiri. “tuan muda? ada apa lagi kamu dengan nya? "
Windya mendengus, matanya memerah. “Dia sekarang udah engga mendengarkan ku, bu! apa- apa Indira,semuanya tentang wanita itu!”
Windya mencak- mencak sendiri, mengamuk seperti orang kerasukan.
Bu Dewi menarik napas. “Windya, mungkin memang sudah waktunya kamu berhenti--”
“Berhenti?” Windya menatap tajam. “Berhenti apa?”
“Mengejar sesuatu yang bukan untukmu.”
Kalimat itu membuat Windya meledak.
“Ibu tahu apa?! Aku ini dari kecil sudah dipersiapkan! Kakek Seno yang mau aku jadi menantunya!”
“Tuan Abraham sudah tidak ada,” jawab Bu Dewi lemah. “Dan hidup tidak berjalan sesuai rencana masa lalu.”
Windya tertawa sinis. “Ibu tahu apa hah? Seno sendiri yang menjanjikan pernikahan untuk ku! aku ini akan menjadi menantu keluarga Barata, bu! "
Bu Dewi menggeleng miris. "Windya, ibu takut kamu jadi gila. "
Windya kembali meradang. "Gila apa sih bu? udah ah, percuma juga pulang kesini yang ada bikin aki tambah muak! " Ia melengos, alih-alih pergi justru berbelok ke kamarnya. "Aku akan tinggal di mansion Barata suatu hari nanti, dan itu karena aku pantas! " teriaknya, entah pada siapa. Dan bu Dewi hanya menggeleng kan kepala pasrah, atas kelakuan anak asuhnya yang satu itu.
*****
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah