Luka.
Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.
Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.
Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.
Luka adalah bukti.
Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.
Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.
Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.
*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keterikatan buruk
Telah berlalu dua hari sejak kejadian pentas seni kemarin. Namun, seisi kelas Bagas mengulang pembahasan yang sama.
Perkara penyusup itu pun tak ada kejelasan sama sekali. Hanya ada beberapa dugaan-dugaan saja di sana-sini.
Bagas yang mendengarnya, tak ikut-ikutan. Ia satu-satunya orang yang meninggalkan kelas saat mereka masih berkutat dengan hal yang sama terus-menerus.
Mending aku pulang saja.
Ia berjalan seperti biasanya. Menghindari tatapan dan kerumunan orang-orang. Langkahnya menjadi pelan saat mendekati pejalan kaki lain.
Sosoknya yang mencolok itu, tak bisa luput dari pandangan Renata. Saat ia memandangi punggung lelaki itu, tiba-tiba saja ia terngiang soal dirinya dan sensasi bolu yang pernah lidahnya rasa; memberikannya ide untuk bertanya padanya.
Ia mempercepat langkah, mendadak berjalan tepat di samping lelaki itu,
"Eh Bagas." ucapnya cukup untuk mengagetkan.
Bola matanya melebar sesaat. Sebelum akhirnya menyahut,
"E-eh kakak." ucapnya tergagap karena tak biasanya ia disapa di tengah jalan pulang.
"Kamu pernah buat donat?" tanya Renata membuka obrolan.
"Pernah."
"Nah kebetulan sekali, aku boleh bertanya soal itu?"
Sebelum jawaban keluar dari mulut lelaki itu, ia langsung menyambarnya lagi,
"Tapi sebentar. Kamu mau langsung pulang atau pergi ke suatu tempat?"
Muncul kekhawatiran dalam diri Renata kalau pertanyaan tiba-tibanya itu mengganggunya.
"Tidak kemana-mana. Aku hanya akan pulang."
"Tidak nongkrong dulu atau pergi ke suatu tempat dengan teman-temanmu?'
"Tidak. Aku jarang nongkrong bersama mereka di jam ini soalnya mereka sibuk dengan ekskulnya masing-masing."
"Kalau kamu pulang, berarti kamu tidak ekskul seperti mereka dong?"
"Betul."
"Kenapa tidak ikut?"
"Karena aku ..."
Bagas bingung harus menjawab apa. Ia khawatir dihujani pertanyaan yang sangat sulit ia jawab.
Ia sebenarnya tahu kalau orang-orang pasti menganggapnya cocok masuk ke ekskul manapun. Terlebih yang bergelut dalam bidang olahraga karena tinggi badannya yang di atas rata-rata orang pada umumnya.
Yang membuatnya kesulitan adalah alasan yang ia utarakan biasanya sulit diterima akal. Bahkan tak jarang ditertawakan saking anehnya.
"... tidak terlalu suka olahraga." kilahnya.
Itulah jawaban yang paling masuk akal yang bisa ia berikan.
"Aku paham sih. Olahraga memang tidak menjanjikan karir yang stabil."
Jawaban barusan berhasil membuat Bagas terheran. Tidak biasanya alasan sembarang yang ia utarakan diterima begitu saja.
"Tapi, kamu pintar membuat pastri 'kan? Kalau kamu memang punya impian yang berhubungan dengan itu, kurasa memperdalam pengetahuan tentang pastri lebih baik."
"Sayangnya aku tidak punya impian apa-apa yang berhubungan soal itu."
"Lalu kenapa kamu bisa membuat pastri? Bukannya karena kamu suka?"
"Tidak, aku hanya punya pengalaman soal itu saja, bukan karena aku suka. Bahkan bisa dibilang ..."
Bagas mengangkat pandangannya ke atas. Menatapi cakrawala jauh dengan tatapan kosong.
"... pastri malah mendekatkanku dengan kenangan buruk."
Ritme langkah mereka yang selaras, tiba-tiba saja berubah. Renata mendadak terdiam untuk sesaat. Menatapi lelaki yang berada dua langkah di depannya.
"Ngomong-ngomong, tadi kakak bilang mau menanyakan sesuatu? Mau tanya soal apa, Kak?"
Bola mata Renata berputar. Setelah mendengar kalimatnya barusan, membuat hatinya berat untuk sekadar memuaskan hasrat ingin tahunya.
"Tanya saja, Kak. Tidak apa-apa." ucap Bagas menegaskan.
Meski rasa ragu tak bisa ia pungkiri, Renata sudah terlanjur berucap di awal. Sudah tidak ada jalan kembali. Kakinya pun melanjutkan langkahnya kembali.
"S-sebenarnya belakangan ini aku mencoba membuat donat sendiri. Tapi hasilnya selalu tidak layak makan. Apa ada saran agar hasilnya bisa lebih baik?"
"Sebelum itu, aku ingin tahu hasilnya seperti apa. Apa teksturnya keras? Atau rasanya tidak enak?"
"Yang pertama teksturnya keras, lalu yang kedua, lembut, tapi di dalamnya belum matang."
Bagas mencubit dagu. Ia memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi atas skenario barusan.
"Mungkin saja masalahnya ada di suhunya atau di adonannya."
"Entahlah, aku cuma ikut seperti yang ada dalam tutorial."
"Sebenarnya banyak faktor, tapi aku akan tahu salahnya di mana kalau melihatnya langsung."
"Aku sudah buang hasilnya kemarin."
"Bagaimana kalau kakak membuatnya lagi, lalu aku langsung mencicipinya saja? Menurutku itu cara paling mudah."
Renata juga merasa itu jalan terbaik. Namun, ia merasa tak enak jika menyetujuinya begitu saja, ia tidak ingin merepotkan lelaki itu lebih jauh. Terlebih sejak ia mendengar kalau Bagas memiliki keterikatan buruk dengan pastri.
Di sisi lain, menolak kebaikannya pun terasa salah. Ia terjerembab di antara persimpangan yang membingungkan dalam pikirannya sendiri.
"Ya walaupun aku tidak bisa dibilang pintar membuatnya, tapi setidaknya aku bisa sedikit membantu. Bagaimana? Mau mencoba membuatnya di rumahku? Bahan-bahan dasarnya bisa kita beli sekarang."
"Sekarang?"
"Iya, sekarang. Kakak tidak ada acara 'kan?"
Lagi-lagi Renata akan sangat merasa bersalah jika menyetujui tawarannya tanpa pikir panjang. Ia kembali memutar otak. Mencari solusi tepat yang tak merepotkan lelaki itu lebih jauh.
"Bagaimana kalau membuatnya di rumahku saja?" tawar Renata.
Tidak ada cara lain yang terpikirkan olehnya selain itu.
"Tidak masalah."
"Kalau begitu, kita beli bahannya dulu."
Bagas mengangguk sebagai sahutan.
Mereka mampir ke kios terdekat lalu membeli beberapa bahan yang dibutuhkan. Mereka berjalan sembari sesekali mengobrol singkat. Sampai pada sebuah rumah setelah hampir setengah jam berjalan.
Bangunan yang terletak di ujung gang buntu yang menjorok ke dalam, tidak besar, namun tidak terbilang kecil juga.
Renata membuka kunci yang menggembok pagar. Masuk ke dalam melewati taman sepetak yang langsung terhubung oleh teras.
Renata membuka pintu rumahnya lalu mempersilakan Bagas yang sedari tadi membuntutinya.
Dua orang anak berlari. Namun, berhenti mendadak di tengah jalan. Keduanya menatap sosok orang yang ada di belakang kakaknya intens.
Langkah mereka mundur selangkah. Sejurus kemudian bersembunyi di balik dinding terdekat dengan tatapan yang masih belum berubah haluan.
Kali ini mata mereka berdua memicing bersamaan.
Renata terheran dengan yang terjadi. Kemudian ia tersadar kalau dari kecil mereka tidak pernah melihat orang selain tante Lala dan dirinya.
Kehadiran Bagas pasti membuat mereka waspada. Terlebih baru pertama kali mereka bertemu.
"Gea, Gio, kalian tenang saja, kak Bagas ini teman kakak. Dia tidak jahat kok."
Gea memiringkan kepalanya. Sementara Gio menurunkan alisnya. Renata sadar kalau kata-katanya belum cukup untuk menghilangkan ketakutan mereka,
"Dia mau membuat donat untuk kalian." bujuk Renata.
"Kak Bagas bisa membuatnya?" tanya Gea.
"Iya, bahkan enak sekali tahu!"
"Kalau begitu, aku mau yang rasa cokelat."
"Bisa. Gio mau yang rasa apa? Keju?" timpal Bagas.
Gio mengangguk singkat.
Bagas yang paham. Mencoba menunjukkan gestur ramah. Ia menundukkan kepala, tersenyum cerah kepada mereka.
"Cokelat sama keju ya? Baik, kakak buatkan ya?"
Mereka mengangguk hampir bersamaan.
"Nah sekarang kalian mandi dulu. Nanti kalau sudah matang, kalian akan kakak panggil, ok?" Renata menyuruh mereka karena tahu mereka pasti akan menghambat prosesnya.
"Oke, kak." sahut mereka kembali.
Mereka berdua pun berlari. Tante Lala yang melihat sedari tadi menatap Bagas sumringah sebelum akhirnya ia mengejar mereka berdua.
"Maafkan mereka ya? Mereka pasti kaget melihat seseorang kemari karena sudah lama rumah ini tidak dimasukin orang selain aku dan Tante Lala."
"Oh pantas saja respon mereka seperti itu."
"Selain itu, aku juga melarang mereka keluar dari rumah karena pergaulan di sini juga tidak baik."
"Lalu bagaimana mereka sekolah?"
"Mereka homeschooling."
Bagas mengangkat alisnya sesaat, lalu mengangguk pertanda paham.