"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
"Pagi!" sapa Leana muncul dengan pakaian kampus yang sangat minim, rok mini kotak-kotak dan crop top yang memamerkan pusarnya. Ia duduk di meja makan dengan wajah datar, sementara matanya sibuk pada ponsel.
Jimmy melirik penampilan gadis itu sekilas sekilas, rahangnya seketika mengeras melihat betapa pendeknya rok yang Leana kenakan, namun Jimmy menahan diri. Ia meletakkan piring di depan Leana.
Di atas nasi goreng itu, ada beberapa udang besar yang kulitnya sudah dikupas bersih oleh Jimmy.
"Makanlah. Aku tahu kau malas mengupas udang," ucap Jimmy.
Leana tertegun sejenak. Ia menatap udang-udang yang bersih itu. Jimmy selalu tahu hal-hal kecil tentangnya, tahu bahwa ia benci tangan yang kotor karena kulit udang.
Perhatian kecil itu sempat menyentuh hatinya, tapi ingatan tentang penolakan semalam kembali menghantam.
"Pria tua impoten," batin Leana sinis. Ia menggeser piring itu menjauh dengan ujung telunjuknya. "Aku tidak lapar."
Jimmy berhenti mengunyah. Ia menatap Leana dengan mata elangnya yang tajam.
"Jangan kekanak-kanakan, Lea. Kau punya jadwal kuliah pagi ini."
"Bukan urusanmu, Mr. Guard. Lagipula, untuk apa memberi perhatian pada anak kecil sepertiku? Bukankah tugasmu hanya menjagaku agar tidak mati? Bukan memastikan perutku kenyang." sahut Leana tanpa menoleh.
"Jangan memancingku pagi-pagi begini, Lea!"
"Memancing apa? Aku bahkan tidak menyentuhmu," Leana bangkit berdiri, menyampirkan tas kecilnya di bahu. "Oh ya, aku akan pulang telat. Ada janji dengan beberapa teman pria. Yang sehat dan tentu saja, tidak impoten."
Jimmy mengepalkan tangan di bawah meja, berusaha mati-matian untuk tidak menarik Leana ke dalam pelukannya dan membungkam bibir tajam gadis itu. Ia harus tetap bersikap dingin agar gadis ini tidak merasa menang.
"Aku akan pergi ke luar kota selama dua hari. Ada urusan bisnis yang harus aku selesaikan dengan beberapa kolega," ucap Jimmy.
Leana sempat terdiam. Dua hari? Tanpa Jimmy? Ada rasa hampa yang mendadak menyerang, namun ia menutupinya dengan tawa hambar.
"Baguslah. Aku bisa bernapas lega tanpa bayang-bayangmu," sahut Leana.
"Aku sudah menempatkan empat pengawal di depan unit ini dan dua mobil untuk mengikutimu ke kampus. Jangan coba-coba melarikan diri dari mereka," tambah Jimmy.
Leana memutar bola matanya seraya melangkah menuju pintu. "Pasang saja satu batalyon kalau kau mau. Aku tetap tidak peduli."
Tepat saat Leana melewati Jimmy, pria itu tiba-tiba berdiri dan mencekal pergelangan tangannya. Tenaganya yang kuat, cukup untuk membuat Leana berhenti.
"Dua hari, Leana. Jangan membuatku harus pulang lebih cepat hanya untuk menyeretmu keluar dari klub malam," bisik Jimmy di dekat telinga Leana. Aroma maskulin Jimmy yang segar seolah menghipnotis Leana untuk sesaat.
Leana menepis tangan Jimmy dengan kasar. "Jangan terlalu percaya diri. Mungkin saat kau pulang nanti, aku sudah menemukan pengganti yang jauh lebih menyenangkan daripada pengawal kaku sepertimu."
Leana melenggang pergi, meninggalkan Jimmy yang berdiri mematung di ruang makan. Begitu pintu tertutup, Jimmy meninju permukaan meja makan hingga piring-piring bergetar.
"Sialan kau, Leana Frederick," geram Jimmy dengan napas memburu. "Kau benar-benar ingin melihat bagaimana seorang pria tua ini bisa menghancurkan hidupmu, hum?"
*
*
Venesia di malam hari tampak begitu tenang dengan aliran kanal yang memikat. Jimmy duduk di kelilingi koleganya, mencoba fokus pada lembaran kontrak di depannya.
Namun, ponsel di atas meja terus bergetar tanpa henti.
Jimmy akhirnya meraih ponsel itu. Sebuah pesan masuk dari anak buahnya.
[Sir, Nona Leana di klub malam dan dia tidak sendirian]
Jimmy menggeser layar. Rahangnya mengeras seketika melihat beberapa foto yang memperlihatkan Leana tampak begitu liar. Dalam waktu tiga jam, gadis itu terlihat berganti-ganti teman pria dan tertawa lepas di bawah lampu disko.
Hingga pada foto terakhir, Jimmy berhenti bernapas sejenak.
Rian, model pria dari malam itu kini kembali, tangannya dengan berani melingkar erat di pinggang ramping Leana, sementara Leana menyandarkan kepalanya di bahu pria itu sambil memegang gelas koktail.
"Jimmy? Ada masalah?" tanya salah satu kolega dari Italia, melihat ekspresi Jimmy yang mendadak berubah seperti predator.
"Bukan apa-apa. Hanya tikus kecil yang sedang mencari perhatian," jawab Jimmy meletakkan ponselnya dengan layar terbalik setelah membalas pesan pada anak buahnya.
Jimmy tahu Leana sedang memancingnya. Dia ingin Jimmy membatalkan pertemuan ini dan terbang kembali ke Milan untuk menyeretnya pulang.
"Anda tidak akan pulang, Sir?" tanya asisten Jimmy yang berdiri di belakangnya lewat bisikan. "Tangan pria itu sudah berada di area sensitif nona."
"Biarkan saja dia bermain. Dia ingin aku menjadi penyelamatnya? Sayangnya tidak malam ini. Aku ingin tahu sejauh mana dia bisa menjual harga dirinya hanya demi memancingku."
Jimmy kembali menyesap wine-nya, matanya menatap kanal Venesia yang gelap. Di balik ketenangannya, ia sedang menghitung mundur. Jimmy tidak akan pulang sekarang, tapi ia bersumpah, saat ia kembali nanti, Leana tidak akan bisa berjalan keluar dari kamar selama seminggu penuh.
"Habiskan minuman kalian," ucap Jimmy pada koleganya dengan senyum misterius. "Malam ini kita selesaikan bisnis ini. Aku punya urusan keluarga yang harus ku bereskan dengan sangat kasar saat kembali."
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁