NovelToon NovelToon
Perfect Partner

Perfect Partner

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Karir / Duniahiburan / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Romansa
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: nowitsrain

Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.

Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.

Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Quality Time

"Apa kau sebegitu tidak sabarnya ingin membawaku kembali ke kamarmu, Andy?"

"What? Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu." Andy menyanggah cepat.

Sena melipat kedua tangan di depan dada, tersenyum meledek. "Ooooo..." godanya, menelengkan kepala. "Jadi kau butuh quality time denganku, ya?"

"Man," Andy menghela napas panjang. Dia naik ke kasur, menumpuk beberapa bantal untuk dijadikan sandaran punggung. "Memangnya tidak boleh? Aku sudah bertahun-tahun tidak bertemu denganmu, apa salah kalau sekarang aku ingin menghabiskan waktu bersama?"

"Boleh. Tentu boleh. Aku justru senang karena kau mau meluangkan waktumu yang berharga itu, untuk bertemu denganku."

Andy menaikkan sebelah alisnya saat mendengar Sena tertawa setelah selesai berbicara. Tatapannya mengikuti pergerakan gadis itu, mengawalnya sampai menyusul ke atas kasur dan bersandar di tumpukan bantal yang lain.

"Tidakkah kau penasaran, apa yang akan kita lakukan sekarang seandainya masih tinggal di Kanada?" tanya Andy.

Sena mengangguk, turut membayangkan bagaimana kehidupan mereka jika tidak pernah pergi meninggalkan Vancouver. Dia membayangkan mereka tumbuh bersama lebih lama, melewati masa remaja menuju dewasa dengan bonding yang lebih kuat. Mereka akan berbagi beban pikiran, tangis, tawa, dan juga cinta, seperti yang telah mereka lakukan sejak masih kanak-kanak.

"Kita mungkin akan lebih banyak menghabiskan waktu di peternakan," kata Sena.

Mata Andy langsung berbinar setelah mendengar Sena menyebut kata itu. "Oh, aku rindu tempat itu!" serunya.

"Aku juga. Sudah lama sekali tidak ke sana."

"Liburan nanti, kau akan pulang?"

Sena mengedik. "Biasanya pulang, tapi sejak pandemi, aku belum pernah pulang lagi."

Andy mendengus pelan, menatap langit-langit. "Aku ingin pulang," gumamnya. "Aku benar-benar merindukan Kanada."

Sena memperhatikan wajah Andy betul-betul, dan menemukan semburat kerinduan di matanya. Tak peduli seberapa betah Andy di Korea, keluarga dan masa kecilnya tetap tinggal di Kanada. Karena pekerjaannya, pulang ke sana hampir mustahil, kecuali jika sedang ada jadwal tur Amerika. Tidak seperti Sena yang bisa pulang kapan pun ia mau, selagi ada waktu.

"Mungkin suatu hari nanti, kita bisa pulang bersama. Saat itu tiba, kita bisa sekalian mampir ke peternakan," kata Sena. Mencoba menghibur kerinduan Andy dengan andai-andai di kepala.

Andy tersenyum lebar. "Tentu. Itu akan menyenangkan," balasnya, lalu menoleh ke arah Sena. "Omong-omong, bagaimana kabar kakek dan nenekmu?"

"Mereka baik-baik saja. Walaupun sudah tua, masih ada beberapa pekerjaan ringan di peternakan yang tetap mereka kerjakan sendiri, sementara yang terlalu berat diserahkan kepada pamanku."

Setiap kali menelepon ibunya, Sena tidak pernah lupa menanyakan kabar kakek dan neneknya. Mereka berdua adalah salah satu bagian keluarga yang paling Sena sayangi. Bersama mereka, masa kecil Sena terlewati dengan banyak kenangan indah. Peternakan luas dengan hewan-hewan yang penurut, Sena selalu ingin merasakan berada di sana lagi. Dia ingin mendapatkan kembali sensasi tenang dan bebas, yang tidak bisa ditemukannya di sini.

Tapi untuk sekarang, Sena akan bertahan di sini demi menjalani kehidupan yang lebih realistis. Ia masih ingin membuka kliniknya sendiri. Lalu dari klinik itu, dia akan mendapatkan pemasukan yang sebagian bisa ditabung untuk membeli sebidang tanah di pedesaan yang kelak dijadikannya peternakan. Di sana, Sena akan membangun keluarga kecil yang hangat dan penuh cinta. Keluarga kecil yang kompak, yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Meninggalkan angannya untuk memiliki peternakannya sendiri, pandangan Sena berali pada sebuah gitar yang diletakkan di sudut kamar Andy. Dulu, Andy pernah mengajarinya main gitar, walaupun sebenarnya ia juga tidak pandai-pandai amat memainkannya.

Andy menyadari arah tatapan Sena. Dia tersenyum, lalu turun dari kasur dan mengambil gitar yang sejak tadi menarik perhatian gadis itu. Duduklah ia di hadapan Sena, meletakkan gitar di atas pangkuan, menunduk sambil sedikit menyetem senarnya.

"Kau masih main?" tanyanya, matanya melirik Sena sekilas.

Sena menggeleng pelan. "Belum sempat beli. Sebelum kau pergi, itu adalah kali terkahir aku memainkannya."

Mata Andy melebar, tidak menyangka Sena akan berhenti bermain hanya karena sudah tidak ada dia di sisinya. Padahal dulu gadis itu merengek padanya untuk diajari selama berjam-jam, mengatakan dirinya akan bermain dengan baik dan menunjukkannya pada Andy.

"Coba," Andy menyodorkan gitar yang sudah selesai disetel kepada Sena.

Sena menghela napas pelan, lalu dengan ragu mengambil gitar tersebut. Rasanya aneh karena ini adalah kali pertama dia memegang gitar lagi setelah sekian lama. Namun sensasi itu tidak bertahan lama, karena sepertinya masih ada muscle memory yang tersisa dari berjam-jam latihan bersama Andy dulu.

Ia menatap Andy sejenak, lalu dengan kepercayaan diri yang mulai tumbuh, senar mulai dipetik perlahan. Jemarinya lincah berpindah di antara posisi-posisi akor yang masih dia ingat, menciptakan beberapa nada yang mulai mengalun apa adanya.

"Baiklah," Sena berhenti sejenak, jeda singkat itu digunakannya untuk memastikan kemampuannya masih ada. Kini dia yakin untuk memainkan satu lagu penuh.

Andy terkekeh melihatnya, namun matanya tidak bisa berbohong. Ia telah bersiap untuk melihat seberapa bagus permainan gitar Sena.

Sena kembali bersiap. Jemarinya hampir bergerak pada posisi akor pertama, tepat sebelum dia tersadar akan sesuatu. "Andy," katanya, "Aku tidak bisa bernyanyi."

Andy tertawa renyah, kepalanya menggeleng pelan. "Main saja dulu. Aku juga tidak sebagus itu dalam bernyanyi."

"Dude, tapi kan kau idol. Sejelek-jeleknya caramu bernyanyi, itu tetap masih lebih bagus daripada aku."

"Sudahlah, coba saja dulu."

Sena terpaku sesaat, terkunci pada tatapan hangat Andy yang seakan memeluknya dengan sebuah keyakinan penuh. Lalu dia menghela napas, kepalanya mengangguk perlahan.

"Oke," ucapnya, lantas memulai kembali dari awal. Ia kembali menunduk ke arah gitar dan menempatkan tangannya di posisi semula. Sena menarik napas dalam-dalam, mencoba memutar ulang satu lagu di kepalanya dan mengingat akor-akor yang Andy ajarkan untuk lagu itu bertahun-tahun lalu. Sebelum benar-benar memulai, ia melirik Andy sebentar.

Saat rangkaian akor yang familier mulai terdengar, Andy tersenyum. Hatinya terasa hangat, dan bagian yang semula terasa kosong kini perlahan mulai penuh.

Bersama iringan petikan gitar yang Sena mainkan, Andy mulai bernyayi. Suaranya mengalun lembut. Meski posisinya di dalam grup adalah sebagai raper, Andy sesungguhnya memiliki suara yang lembut. Tipikal suara yang cocok menyanyikan lagu-lagu ballad seperti yang kini mereka pilih.

Mendengar suara lembut Andy, Sena tersenyum dengan mata berbinar. Rasanya seperti ia terseret kembali tiga belas tahun ke belakang, ke masa kanak-kanak di mana mereka sering menghabiskan waktu ngongkrong di kamar Andy, berduet menyanyikan lagu-lagu Westlife. Kini setelah bertahun-tahun lamanya, mereka bisa mengalami momen ini lagi. Terkadang masih terasa seperti mimpi bagi Sena.

Sena memejamkan mata sejenak, menyerap ketenangan yang ia rasakan di momen itu, sebelum akhirnya bergabung dengan Andy, menyanyi pelan saat bagian bridge.

Hari itu, sepasang teman yang saling merindukan, mencurahkan perasaan masing-masing melalui tiap bait lagu yang mereka nyanyikan.

Bersambung....

1
Zenun
jiaelah babang
nowitsrain: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
Zenun
🥺🥺🥺🥺🥺🥺
Zenun
teman yang lebih dari teman🤭
Zenun
benarkah begitu😁
Zenun
setuju dengan Andy sih
Zenun
waduh
Zenun
bisa bahasa qalbu😁
Zenun
dan teman-temannya Andy datang
Zenun
Kirain Andy menjaga jarak
Zenun
mungkin Andy jadi canggung karena dia sebenarnya hanya menganggap teman😁
Zenun
Kasihan kamu Andy😄
Zenun
benarkah begitu? 😁
Zenun
kayanya mereka kompak mau mngerjaimu, Andy
nowitsrain: Andy yang malang
total 1 replies
Zenun
kalau begitu kredit aja
nowitsrain: No no ya
total 1 replies
Zenun
weh, gak mau jagain mereka😁
nowitsrain: Wkwk ditinggal biar berduaan
total 1 replies
Zenun
hayoloooo
Zenun
bisa main bareng lagi ya Sena😁
nowitsrain: Yoyoyy.. Bersama mengguncang dunia
total 1 replies
Zenun
akankah pertemanan itu akan berubah menjadi asmara?
nowitsrain: Jeng jeng jeng
total 1 replies
Zenun
Nah, coba saran Hana ini
nowitsrain: Oraitt
total 1 replies
Zenun
Mungkin sebenarnya Andy ngeh, tapi lagi mengingat-ingat kaya kenal muka tapi lupa nama😄
nowitsrain: Wkwk bisa juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!