NovelToon NovelToon
Kepentok Deadline Atasan

Kepentok Deadline Atasan

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak / Berondong / Kehidupan di Kantor / CEO
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.

Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.

Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.

Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.

Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.

Cover Ilustrasi by ig rida_graphic

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Magenta sudah berdiri di depan apartemen Cyan bahkan sebelum pukul tujuh tepat. Mungkin belakangan ini julukannya sudah berbeda. Ia yang biasanya dijuluki duta terlambat dan dikejar zombie lift, kini lebih pantas menyandang gelar sebagai morning person. Ya, meski tidak sepagi itu juga, yang jelas memang ada ‘peningkatan performa’ dari hari sebelumnya.

Embun di sekitar gedung itu masih berpapasan dengan sinar matahari yang terpantau redup. Jalanan belum sepenuhnya ramai, tetapi ia lebih dulu memasang gaya terbaiknya sambil menyisir rambut. Ah, tampan sekali, pikirnya saat itu.

Magenta menyandarkan punggungnya ke dinding mobil dengan satu tangan memegang ponsel. Layarnya sudah lama mati, merindukan notifikasi balasan dari Cyan tentunya.

Cyan melangkah keluar apartemen dengan langkah cepat, blazer rapi terpasang di badannya dan rambut tersisir sempurna seperti biasa. Begitu melihat Magenta, langkahnya sempat melambat setengah detik.

“Kamu cepet banget nyampenya,” kata Cyan sambil menghentikan langkahnya tepat di depan Magenta.

“Kamu ‘kan biasanya berangkat pagi. Jadi aku berusaha bangun, walaupun agak gedebak-gedebuk, sih,” jawab Magenta cengengesan.

“Makasih. Udah lama nunggunya?” tanyanya.

“Enggak kok. Ini baru keluar mobil, terus nunggu kamu sebentar. Aku baru mau kirim WA,” jawab Magenta datar. Cyan mengangguk sebentar, lalu beralih pandangan ke sembarang arah.

“Yaudah, ayo,” ajaknya.

Seolah refleks, Magenta langsung melangkah dan membukakan pintu penumpang untuk Cyan. Gerakannya cepat, tanpa banyak basa-basi, seakan terbiasa melakukan rutinitas yang satu itu.

“Eh? Nggak usah, Gen. Sumpah,” kata Cyan sempat kebingungan, sebelum akhirnya menunduk bingung, yang pada akhirnya menuruti karena telanjur dibukakan pintu mobil. Magenta manggut-manggut singkat, lalu membalas dengan senyuman tipis. Ia menutup pintu dengan hati-hati, lalu berjalan memutari mobil menuju sisi kemudi.

Begitu mesin menyala dan mobil melaju, Cyan beberapa kali melirik ke arah Magenta. Seperti sedang memastikan bahwa Magenta baik-baik saja.

“Kamu masih ngantuk gak?” tanya Cyan akhirnya memberanikan diri.

“Enggak, Sayang,” jawab Magenta tanpa menoleh, matanya fokus menyapu jalanan saat ini.

“Yakin?”

Kini Magenta terpaksa menoleh sebentar ke arahnya, lalu sudut bibir itu terangkat sebelah.

“Emang kenapa tanya begitu? Khawatir? Kasih aku cium dulu dong\~” goda pria itu memonyongkan bibirnya.

“NGACO! PUASA!”

“Haha, bercanda. Sayang. Terus kenapa? Hm?”

“Hari ini ‘kan kamu bangunnya jam tiga pagi. Biasanya kamu jam enam pagi aja baru bangun. Tiap hari dateng ke kantor telat,” balasnya sambil tersenyum tipis, hampir mengejek.

Magenta kembali mengarahkan pandangan ke depan, dengan satu tangannya mantap di setir, kemudian dia terkekeh pelan.

“Tadi pagi sih ngantuk parah banget sampe rasanya mau pingsan.” Lagi-lagi narasinya terlalu mendramatisir.

“Kalau sekarang?” tanya Cyan melirik lagi.

“Kalau sekarang ... bentar aku mikir dulu.” Ucapan Magenta sengaja diberi jeda, sengaja membiarkan sepercik rasa penasaran di benak Cyan sebelum ia melanjutkan.

“Setelah lihat yang sebening kamu, mataku mendadak seger!” lanjutnya.

“Cih, najis.” Cyan berdecak, membuang pandang lagi. Pura-pura memperhatikan jalan sambil menggigit jari. Tampak tidak peduli, padahal nyatanya ia senyum-senyum sendiri menahan salah tingkah.

Begitu mereka tiba di parkiran kantor, pemandangan itu langsung menarik perhatian satu orang. Ada Raka berdiri di sana, dekat pintu masuk dengan setumpuk berkas di tangan. Tubuhnya bersandar santai di pintu, menatap lurus ke arah pasangan sejoli ini.

Dari posisi itu, ia sudah cukup melihat segalanya. Mobil Magenta yang berhenti, Magenta turun lebih dulu lalu Cyan menyusul. Dan yang paling penting, mereka datang bersama lagi.

Raka membuka mata lebar-lebar, ia hampir tersedak liur sendiri karena penglihatannya sejak awal mereka datang ternyata tidak salah.

“Selamat pagi, Bu Cyan,” sapanya ramah. Cyan melirik sekilas ke arahnya tanpa senyum sama sekali.

“Pagi.”

Raka tersenyum, lalu memiringkan kepala.

“Selamat pagi juga, sopir pribadinya Bu Cyan,” ucap Raka yang langsung mendapat sentilan kecil di keningnya oleh Magenta.

“Bangke lo! Jangan asal sebut! Ini tuh layanan antar-jemput khusus pelanggan prioritas.”

“Hmm, I see. Pelanggan prioritas banget nih, Mas?”

“Diem lo sapu WC. Gue jadiin tumbal zombie lift mau?” balas Magenta kesal.

“Wah, ampun, Mas! Saya masih mau hidup, belum nikah!”

Menjadi saksi hidup ketika Magenta dan Raka mengobrol, membuat Cyan mempercepat langkahnya masuk ke dalam, memilih menghindar sebelum percakapan melebar ke mana-mana. Namun, beberapa langkah di belakang, Magenta dan Raka menyusul.

Di perjalanan, Raka sengaja menempatkan dirinya tepat di antara Cyan dan Magenta. Bahunya sedikit melebar, jelas disengaja. Lengkap dengan senyum bodohnya itu.

“Jadi ....” Ia kembali memulai percakapan yang sempat mati.

“Apa?”

“Kalian sering berangkat-pulang bareng gini, udah ada hubungan?” sambungnya penasaran.

“Enggak sering,” jawab Cyan cepat tanpa menoleh.

“Cuma kebetulan,” sambung Magenta hampir bersamaan.

Raka mempercepat langkahnya, kemudian berhenti tepat di depan Cyan dan Magenta. Raka menoleh ke mereka satu per satu.

“Enggak sering, tapi tiap hari. Lucu deh, kalian jawab pertanyaan sesimpel ini aja kompak banget,” celetuk Raka membekap mulut menahan tawa.

Cyan yang mendengar itu hanya mendengkus pelan, tanpa berucap apa-apa lagi. Ia melangkah menjauh, tak berminat melayani pertanyaan-pertanyaan tidak penting dari Raka. Magenta menepuk bahu Raka singkat, sontak saja pria itu tersentak kaget.

“Kerja, Raka. Jangan kebanyakan kepo. Atau mending cari cewek juga biar seimbang,” bisik Magenta jahil.

“Justru ini detail paling menarik dari hari gue, Mas Maag.”

Magenta tak menanggapi. Ia melanjutkan berjalan, lalu berbelok ke arah mejanya, membuka tas, dan fokus pada rutinitasnya seolah tak terjadi apa-apa. Raka masih berdiri di tempatnya beberapa detik lebih lama, sambil memperhatikan arah kepergian mereka berdua.

“Bilangnya sih kebetulan, tapi insting gue gak pernah salah,” gumamnya.

***

Sekitar satu jam kemudian, saat kantor sudah mulai dipenuhi suara ketikan, Raka mendekat ke meja Magenta sambil membawa setumpuk berkas di tangannya.

“Gue taruh di sini, ya,” katanya santai, lalu meletakkan setumpuk berkas itu di sisi kanan meja sambil ditepuk pelan sebagai penegasan bahwa pekerjaan mengantre sebanyak ini.

“Oke,” jawab Magenta sempat menoleh ke berkas itu, menghela napas gusar, lalu kembali menatap layar komputer.

Namun, Raka tidak langsung pergi. Ia justru bersandar ke tepi meja Magenta dengan satu tangannya menopang tubuh. Nada suara diturunkan, ia juga mengerti bahwa mungkin ada sesuatu yang dirahasiakan.

“Ehm, Mas ... lo sadar nggak, sih? Kalau lo itu udah mulai kelihatan?”

“Kelihatan apa?” tanyanya datar, matanya tetap terpaku pada layar, seolah pertanyaan Raka kali ini tidak menarik perhatiannya.

“Kelihatan bucin,” jawab Raka yang sontak membuat Magenta menoleh cepat dengan mata terbelalak.

“Sssttt ... hati-hati congor lo kalo ngomong, Rak!” tegur Magenta berbisik diam.

“Kenapa? Takut Bu Cyan denger? Panik bener,” godanya. Magenta memicing dengan senyum smirk. Tidak terlalu tampak memang, tapi sudah cukup mengandung peringatan.

“Lo terlalu gampang nyimpulin sesuatu. Awas aja kalau jadi fitnah. Ingat, fitnah lebih kejam dari ....”

Sebelum kata terakhir terucap, dengan sigap Raka menutup rapat mulut Magenta. Persis seperti suara rakyat yang dibungkam pemerintah.

“Whopsss, diam. Gak usah bawa-bawa ayat kali ini. Yang waras aja, jangan dipelintir,” balas Raka.

“Anjir, tangan lo bau ikan hiu busuk tau gak!” protes Magenta.

“HAHA!”

“Heran, panjang amat itu tangan. Curiga lo sering curi celana dalem janda gang sebelah,” pungkas Magenta kembali melawak.

“Anjir, diam dulu lo, Mas. Intinya gini, kalau insting gue bener, jatohnya bukan fitnah. Lo tinggal jujur aja kenapa, sih? Sejelas itu masih denial,” ucap Raka.

“Jujur soal apa, Rak?”

“Lo perhatian banget sama dia.”

“Dia atasan gue,” jawab Magenta cepat. Seolah ingin terburu-buru klarifikasi.

“Lho, dia juga atasan gue,” potong Raka tanpa ragu, “atasan mana yang lo jemput tiap pagi? Yang lo bukain pintu mobilnya? Yang lo perhatiin jam makannya? Gue aja nggak pernah segitunya sama Bu Cyan, walaupun dia atasan gue.”

“AWAS KALO LO BERANI!” Matanya melotot seram, tidak seperti biasanya.

Magenta menutup mulutnya buru-buru sadar kalau keceplosan, lalu terus terdiam sepersekian detik. Kemudian Raka menyipitkan matanya.

“Lho ... santai aja kali. Sekarang lo emosi. Tenang aja sih, gue ngga bakal anter-jemput dia.”

“Udah lah. Lo kebanyakan ngarang,” bantah Magenta akhirnya.

“Gue gak ngarang. Gue liat pake mata kepala gue sendiri.”

Magenta hanya diam, tak membalas. Raka berdiri tegak, lalu melipat kedua lengannya di dada, lengkap dengan senyum kebanggaannya.

“Lo mau gue sebut satu-satu di depan dia?”

“Apaan sih, drama banget.” Magenta mendengkus pelan.

“Lo yang drama. Perasaan lo ke dia tuh dari luar angkasa juga udah kelihatan jelas, Mas.”

Magenta bersandar ke sandaran kursi, ikut menyilangkan tangan di dada. “Terus?”

“Lo harus jujur sama perasaan sendiri, takut nanti diambil orang,” jawabnya santai.

Magenta terdiam, jarinya mengetuk sandaran kursi tanpa sadar.

“Tuh kan, baru mikir dia.”

***

Menjelang magrib, suasana kantor berubah pelan. Aktivitas mengetik mulai melambat, beberapa layar dimatikan, dan aroma makanan dari pantry menyusup ke antara meja-meja kerja. Cyan bangkit dari kursinya, melirik jam di pergelangan tangan.

“Sebentar lagi,” gumamnya pelan, lalu melangkah menuju pantry.

Magenta refleks berdiri hampir bersamaan. Kursinya bergeser sedikit, tubuhnya sudah bergerak ke arah pantry bahkan sebelum Cyan benar-benar menjauh dari mejanya.

Di pantry, beberapa takjil sudah tertata rapi. Cyan berhenti di dekat meja panjang, membuka satu kotak berisi kurma. Tak lama, Magenta menyusul. Ia berdiri agak menyamping, sedikit menjaga jarak.

“Kamu mau yang mana?” tanya Magenta bersuara lembut sopan, tidak berubah sedikit pun.

“Kurma aja sama air,” balas Cyan singkat.

Magenta mengangguk, lalu tangannya sudah bergerak lebih dulu mengambil dua gelas, menuang air, lalu menyodorkan salah satu gelas berisi air itu ke arah Cyan. Ia bahkan memastikan kurmanya sudah diletakkan rapi di samping gelas. Cyan menoleh kemudian menerimanya dengan sedikit heran. Sedikit tidak enak hati karena takut merepotkan.

“Eh, nggak usah padahal, tapi makasih deh,” ucapnya gugup.

“Sama-sama, Syan.”

Di sudut pantry, Raka pura-pura sibuk menuang air ke gelasnya sendiri. Namun, matanya tak lepas dari segala perhatian yang diberi Magenta kepada Cyan.

“Fiks, dia kecintaan,” ucap Raka pada dirinya sendiri.

Azan magrib berkumandang dari aplikasi ponsel salah satu karyawan. Itu saja sudah cukup menjadi pertanda bahwa puasa hari ini sudah bisa diakhiri.

“Selamat berbuka semuanya!” ucap Magenta cukup kencang. Seketika semua orang mengalihkan pandangan ke arahnya.

“Selamat berbuka!”

“Selamat makan, semua!”

Balasan datang dari berbagai arah, disertai senyum-senyum lelah yang akhirnya boleh bernapas lega setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Magenta lalu melirik ke arah Cyan, tentu tidak lupa siapa yang paling spesial dalam misi ‘pacaran pura-pura’ saat ini.

“Selamat berbuka puasa, Syan,” katanya lebih pelan kali ini.

“Selamat berbuka puasa, Genta,” balas Cyan menahan senyumnya. Cyan memakan kurmanya, kemudian meneguk air perlahan, lalu melirik sekilas ke arah Alya. “Aku nyamperin Alya dulu, ya.”

“Oke … hati-hati cantik,” jawab Magenta sambil tersenyum. Cyan berbalik badan dan berjalan ke arah Alya dengan langkah yang tenang. Magenta masih berdiri di tempatnya, menatap punggung Cyan yang semakin lama semakin hilang dari pandangan.

Raka pun mendekat perlahan, tapi tidak terburu-buru.

“Mas Maag,” panggilnya ramah, berdiri di samping Magenta, “kita ngobrol-ngobrol sebentar, yuk.”

Magenta menatapnya sebentar, lalu menuang air ke botolnya sendiri. “Ngobrolin apaan?”

“Perasaan lo.” Raka menegaskan kata itu. “Gue udah perhatiin gerak-gerik lo dari tadi. Lo berusaha bilang ‘cuma perhatian biasa’, tapi gue masih gak percaya.”

Magenta mendengkus gusar. “Halah, buang jauh pikiran lo itu. Dia gak mungkin suka sama gue.”

“Gue nggak nanya dia suka sama lo atau nggak. Gue nanya perasaan lo.” Raka mengangkat alis, menahan senyum. “Nah, dari sini udah keliatan, Mas. Lo suka sama Bu Cyan.”

Magenta menggeleng cepat, sedikit panik. “Udah gue bilang, gue gak suka sama dia. Perhatian yang gue kasih cuma perhatian biasa.”

“Kalau lo gak suka, lo gak bakal ngasih perhatian segede itu. Gue bukan bocah SD yang gak bisa bedain mana perhatian wajar, mana perhatian yang gak biasa,” potong Raka tegas.

Magenta terdiam. Tangannya masih menggenggam gelas, jari-jarinya mengetuk perlahan.

Raka berdiri tegak, menatapnya. “Lo bisa bohong sama gue, bisa bohong sama orang lain, tapi insting gue gak pernah salah. Semua yang gue liat, semuanya nunjukin kalo lo punya perasaan lebih sama Bu Cyan.”

Magenta menatap ke arah Cyan beberapa detik, kemudian menghela napas panjang.

“Ah udahlah gausah dibahas,” ucap Magenta, lalu melangkah meninggalkan Raka, bergabung bersama karyawan yang lain.

Raka tersenyum puas. Ia tahu, instingnya kali ini tepat. Magenta pasti menyimpan perasaan yang lebih dari sekadar perhatian biasa. Dan meskipun belum diakui, semua tanda itu jelas terlihat.

Raka menatap Magenta yang kini duduk bersama karyawan lain. “Lo bisa aja ngelak terus, Mas, tapi insting gue nggak pernah salah. Kita lihat mau sampai kapan lo sembunyiin perasaan lo sendiri.”

Perjalanan pulang Raka ke parkiran setelah tadi buka puasa bersama memang melelahkan, apalagi beberapa kerjaan yang terpaksa ditunda besok membuat Raka kelimpungan. Baru saja ia membuka pintu mobil merahnya, tetiba saja matanya memicing fokus menatap mobil di seberang. Tanpa diduga hal yang lebih mengerikan dari dugaan tadi terjadi di depan matanya.

Cyan dan Magenta duduk di dalam mobil itu. Perlahan mereka mendekat, mengikis jarak, dan ....

“Anjir … mereka ciuman?!”

1
Aruna02
laki laki mah kagak kelihatan lah syudah pernah gituan kalo cewek ada bekas nya 😭😭kok nggak adil ya
Aruna02
gentaaaa OMG jangan nyosor mulu
Laila Sarifah
Cyan pegangan ke bahu Genta dh kayak tukang ojek aja, peluk di perut kek✌️🤣
Rivella
lucu bnget deh Cyan dan Magenta🤣🤣
Rivella
lucu bnget namanya😭😭🤭
Aleaa
masa yang begini ngga pakai perasaan sih wkwkwk
Wulandaey
Lha si arga mau jadiin cyan bini kedua👍 jelas2 genta aj deketin stgh matii... klo kaga dicium jg g bkal genta brhasil tu dket sma bosnya yg galak introvert ini
Aleaa
wkwk genta gentw, lift pun berpihak padamu
Aleaa
Astagaaa ini dua orang dewasa kek bocil jadinya ya
Laila Sarifah
Apa itu yg namanya Karma? Mana suami Vira ini suka jelalatan lagi pasti di atas pesawat dia melakukan hal-hal aneh dgn pramugarinya
Drezzlle
Magenta ini pria yang blak2 an ada plus minusnya. Minusnya nggak bisa bedain lagi serius dan nggak
ainnuriyati
yaah vira sgitu doang kekuatan lu, blm apa2 sh kena sikat cyan
Drezzlle
cubit ya Magenta ih, masih pura-pura bilang nggak suka setelah semua yang terjadi.
brilliani
musang /Angry/ tolongg ada musang birahiyy tlongg
brilliani
jurus ngeles dan denial nya sama kuat🤣
Sinchan Gabut
Astaga Vi ma Ar ini pasangan 🚩🚩

Masing2 ud ad pasangan masih aj ganggu Genta n Cyan hih 😤
Alessandro
astaga berbagi iler....
ada2 aja,, cyan.. blh jg ngga baper2 club. cm jwb,
"ngga biasa aja, ud prnh lbh dr itu" 🤭
Alessandro
bs pas.. ini mo puasa yakkk🤭
jd gk sabar war takjil 🔪
Miley
genta heh wkwkw🤣
Miley
sehat² wanita karir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!