NovelToon NovelToon
ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Dokter / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.

Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.

Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTANYAAN DARI INSTRUKTUR

Hari setelah modul pelatihan tempur jarak dekat selesai, Evan sedang membersihkan peralatan latihan bersama teman-temannya ketika Letnan TNI Sutedjo menghampirinya dengan wajah yang penuh rasa ingin tahu. Setelah menyapa semua anggota kelompok dengan ramah, instruktur tersebut mengajak Evan untuk berbicara secara pribadi di sudut area latihan yang lebih tenang.

"Evan, bolehkah saya bertanya sesuatu yang telah membuat saya penasaran selama ini?" ujar Letnan Sutedjo dengan suara yang lebih lembut dibanding saat memberikan instruksi. Ia duduk di atas batu yang rata dan mengundang Evan untuk duduk di sebelahnya.

"Tentu saja, Pak Letnan. Silakan bertanya saja," jawab Evan dengan sopan, merasa sedikit penasaran dengan tujuan pembicaraan ini.

Letnan Sutedjo menghela napas sebelum mulai berbicara. "Selama pelatihan tempur jarak dekat, saya melihat kemampuanmu yang luar biasa. Teknik yang kamu gunakan bukanlah jenis seni bela diri yang biasa saya temui – baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Setiap gerakanmu memiliki presisi, keanggunan, dan efektivitas yang menunjukkan bahwa kamu belajar dari seorang ahli yang sangat berpengalaman."

Ia kemudian menatap Evan dengan tatapan yang penuh minat. "Saya ingin tahu – dari mana sebenarnya kamu belajar ilmu beladiri tersebut? Kamu bilang sebelumnya bahwa kamu belajar dari keluarga, tapi saya yakin itu bukan hanya ilmu biasa yang diajarkan dalam keluarga pada umumnya. Ada sesuatu yang istimewa dari teknik yang kamu gunakan."

Evan terdiam sejenak, berpikir tentang bagaimana harus menjawabnya. Kakek Darmo pernah mengingatkannya bahwa ilmu beladiri yang dia wariskan adalah warisan keluarga yang harus dijaga kerahasiaannya dengan baik. Ia hanya diperbolehkan mengajarkannya kepada orang yang benar dan memiliki niat yang baik, serta tidak boleh menyebarkannya secara sembarangan.

"Saya benar-benar belajar dari keluarga saya, Pak Letnan – khususnya dari Kakek saya yang sudah tidak ada lagi," jawab Evan dengan suara yang penuh rasa hormat. "Dia adalah orang yang sangat ahli dalam ilmu beladiri tradisional dan telah mengajarkan saya sejak saya masih sangat kecil. Ia selalu mengatakan bahwa ilmu yang dia berikan adalah warisan dari leluhur kita yang harus dijaga dengan baik."

Letnan Sutedjo mengangguk dengan pemahaman. "Saya mengerti jika ada hal-hal yang tidak bisa kamu ceritakan secara terbuka. Banyak ilmu beladiri tradisional Indonesia yang memang memiliki aturan khusus tentang siapa yang boleh belajar dan bagaimana cara menyebarkannya."

Ia kemudian melanjutkan, "Namun saya ingin kamu tahu bahwa kemampuan yang kamu miliki sangat berharga, terutama bagi dunia militer kita. Di masa depan, mungkin kita bisa bekerja sama untuk mendokumentasikan beberapa teknik yang bisa diadaptasi untuk kebutuhan tempur jarak dekat militer – tentu saja dengan persetujuan dari keluarga kamu dan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan."

Evan mengangguk dengan senyum hangat. "Saya sangat bersedia untuk membantu sebanyak mungkin, Pak Letnan. Saya akan berbicara dengan keluarga saya tentang hal ini jika diperlukan. Namun untuk saat ini, saya hanya bisa mengatakan bahwa ilmu yang saya pelajari adalah bagian dari identitas keluarga saya yang harus saya jaga dengan baik."

Letnan Sutedjo tersenyum dan menepuk bahu Evan dengan lembut. "Tidak apa-apa, Evan. Saya menghargai sikapmu yang menghormati tradisi keluarga. Itu adalah salah satu sifat yang membuatmu menjadi orang yang luar biasa – bukan hanya karena kemampuanmu yang hebat, namun juga karena kamu memiliki nilai-nilai yang kuat yang kamu pegang teguh."

Sebelum mereka kembali ke aktivitas rutin, Letnan Sutedjo memberikan nasihat penting kepada Evan. "Ingatlah, kemampuan yang kamu miliki bisa digunakan untuk kebaikan yang besar. Kamu bisa membantu banyak orang dengan mengajarkan mereka teknik pertahanan diri yang efektif, serta bisa berkontribusi pada pengembangan tempur jarak dekat militer kita yang lebih baik dan sesuai dengan karakteristik orang Indonesia."

Ia kemudian berdiri dan siap untuk kembali ke area administrasi. "Jika suatu hari kamu merasa siap untuk berbagi lebih banyak tentang ilmu beladiri yang kamu pelajari, saya akan sangat senang untuk belajar darimu atau bekerja sama denganmu. Kamu memiliki potensi besar untuk menjadi orang yang bisa menghubungkan tradisi dan modernitas dalam dunia beladiri kita."

Setelah pembicaraan tersebut berakhir, Evan kembali ke teman-temannya yang sedang menunggunya. Rio segera mendekatinya dengan rasa penasaran. "Apa yang dibicarakan kamu dengan Pak Letnan, Evan? Dia tampak sangat tertarik denganmu."

"Kamu tahu saja dia bertanya tentang ilmu beladiri yang saya pelajari dari Kakek saya," jawab Evan dengan senyum. "Saya hanya bilang bahwa itu adalah ilmu keluarga yang harus saya jaga dengan baik."

Siti mengangguk dengan pemahaman. "Itu benar sekali, Evan. Beberapa tradisi keluarga memang memiliki aturan khusus yang harus kita hormati. Kita semua menghargai keputusanmu untuk menjaga kerahasiaannya."

Bima kemudian datang dengan membawa botol air minum dan memberikankannya kepada Evan. "Baiklah, tidak masalah jika kamu tidak bisa memberitahu kita semuanya. Yang penting adalah kamu bisa menggunakan kemampuanmu untuk membantu kita semua seperti yang kamu lakukan selama pelatihan."

Keesokan harinya, Letnan Sutedjo mengumumkan bahwa Evan akan menjadi pembantu instruktur untuk sesi tambahan tempur jarak dekat yang akan diberikan kepada calon prajurit yang masih kesulitan menguasai teknik dasar. Ia diberi wewenang untuk mengajarkan prinsip-prinsip dasar yang dia pelajari dari Kakek Darmo, namun dengan catatan bahwa ia hanya boleh mengajarkan bagian yang tidak bersifat rahasia.

Selama sesi tambahan tersebut, Evan dengan sabar membantu teman-temannya yang mengalami kesulitan. Ia menjelaskan prinsip dasar tentang pernapasan, posisi tubuh yang benar, dan teknik menghindar yang efektif – semua dengan bahasa yang mudah dipahami dan contoh gerakan yang jelas.

"Banyak orang berpikir bahwa tempur jarak dekat hanya tentang kekuatan fisik," ujar Evan kepada teman-temannya yang sedang berlatih. "Namun sebenarnya, kekuatan yang paling penting adalah kekuatan mental dan kemampuan untuk mengontrol diri sendiri. Kakek saya selalu bilang bahwa seorang ahli beladiri yang benar adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya sendiri sebelum bisa mengendalikan lawannya."

Para calon prajurit yang mengikuti sesi tambahan merasa sangat terbantu dengan penjelasan dan bimbingan dari Evan. Banyak yang mengatakan bahwa mereka sekarang lebih memahami teknik tempur jarak dekat dan merasa lebih percaya diri dalam menerapkannya.

Pada malam hari setelah sesi tambahan selesai, Evan pergi ke area taman kecil di dalam kompleks akademi yang jarang digunakan orang. Ia duduk di bawah pohon besar dan mengambil kalung batu giok dari lehernya, kemudian memegangnya dengan penuh rasa hormat.

"Kakek, hari ini seorang instruktur bertanya tentang ilmu yang kamu ajarkan padaku," bisik Evan dengan suara yang lembut, seolah sedang berbicara langsung dengan leluhurnya. "Saya menjawab seperti yang kamu ajarkan – bahwa ini adalah warisan keluarga yang harus dijaga dengan baik. Tapi saya juga memberi tahu dia bahwa saya bersedia membantu orang lain sebanyak mungkin dengan ilmu yang saya miliki."

Ia merasakan angin lembut menyapu wajahnya, seolah Kakek Darmo sedang memberikan restunya. Dengan hati yang penuh tekad, Evan berjanji bahwa dia akan selalu menjaga warisan keluarga dengan baik dan menggunakan ilmu yang dia pelajari untuk kebaikan yang lebih besar – sesuai dengan ajaran yang telah diberikan kepadanya sejak kecil.

Ketika ia kembali ke asrama, teman-temannya segera menyambutnya dengan senyum hangat. Mereka telah menyiapkan secangkir teh hangat dan beberapa camilan untuknya sebagai bentuk terima kasih atas bantuan yang telah diberikan selama sesi tambahan.

"Terima kasih banyak, Evan. Kamu benar-benar membantu kita semua hari ini," ujar salah satu teman sekampungnya dengan penuh rasa terima kasih.

Evan tersenyum dan memberikan camilan tersebut kepada teman-temannya. "Tidak perlu berterima kasih. Kita adalah satu tim, dan kita harus saling membantu satu sama lain. Begitu juga yang diajarkan oleh keluarga saya – bahwa ilmu yang kita miliki harus digunakan untuk membantu orang lain sebanyak mungkin."

Mereka kemudian berkumpul dan berbicara tentang rencana mereka untuk mengikuti pelatihan selanjutnya, serta bagaimana mereka bisa terus saling membantu untuk meningkatkan kemampuan masing-masing. Evan merasa sangat bersyukur telah memiliki teman-teman yang mendukung dan menghargai nilai-nilai yang dia anut.

Sebelum waktu tidur tiba, Letnan Sutedjo datang ke asrama untuk memeriksa kondisi para calon prajurit. Ia melihat Evan yang sedang membantu teman-temannya memahami materi pelatihan dan memberikan senyum yang penuh kebanggaan.

"Kamu sedang melakukan hal yang benar, Evan," bisiknya dengan lembut sebelum pergi meninggalkan asrama. "Memberikan ilmu kepada orang lain adalah cara terbaik untuk melestarikan tradisi dan membawa manfaat bagi banyak orang."

Dengan hati yang penuh damai dan tekad yang semakin kuat, Evan tertidur dengan keyakinan bahwa dia sedang berada di jalan yang benar – jalan yang telah ditentukan oleh keluarga dan leluhurnya, jalan untuk menjadi orang yang tidak hanya kuat dan terampil, namun juga memiliki hati yang baik dan siap membantu orang lain dalam setiap kesempatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!