Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalur Api Menuju Roma
Fajar di Mestre muncul dengan warna abu-abu yang suram, seolah langit ikut menanggung beban dari rencana yang sedang disusun di dalam gudang tua itu. Suara mesin SUV bermesin besar yang sudah dimodifikasi oleh Luca menderu rendah, memecah kesunyian pagi. Kendaraan itu bukan lagi sekadar alat transportasi; dengan kaca antipeluru dan bodi yang diperkuat baja ringan, mobil tersebut adalah benteng berjalan yang akan membawa Elena dan Matteo menembus jantung musuh.
Elena berdiri di samping bagasi, mengenakan jaket kulit hitam yang pas di tubuh, menyembunyikan dua bilah pisau taktis dan sebuah Beretta di balik pinggangnya. Rambut Elena diikat tinggi, memperlihatkan rahangnya yang tegas dan sorot mata yang tidak lagi menyisakan ruang untuk keraguan. Hari tenang di taman kemarin telah disimpan rapat dalam kotak memori, kini yang tersisa hanyalah Elena Moretti yang siap melakukan pembersihan besar-besaran.
Matteo keluar dari pintu bungker dengan langkah yang jauh lebih stabil. Meskipun wajah pria itu masih menampakkan sisa-sisa kelelahan, binar di matanya menunjukkan bahwa semangatnya telah kembali. Matteo mengenakan kemeja taktis berwarna gelap, dengan satu tangan masih sedikit kaku saat memegang tas berisi perangkat peretas portabel.
"Marco sudah memberikan koordinat titik pertemuan pertama," ucap Matteo sambil mendekati Elena. "Kita tidak akan langsung masuk ke pusat kota Roma. Terlalu banyak kamera pengawas yang sudah terintegrasi dengan sistem pengenal wajah milik kementerian. Kita akan bertemu kontak rahasia kita di sebuah peternakan kuda di pinggiran Viterbo."
Elena mengangguk kecil. Elena tahu bahwa perjalanan ini adalah perjalanan satu arah. "Siapa kontak ini, Matteo? Kau belum menyebutkan namanya."
"Seorang mantan jaksa yang karirnya dihancurkan oleh Sergio Donati karena mencoba menyelidiki aliran dana Dewan Tujuh lima tahun lalu. Namanya adalah Lorenzo. Dia hidup seperti pertapa sekarang, tapi dia masih memiliki akses ke jalur komunikasi internal kementerian," jawab Matteo sambil masuk ke kursi penumpang di depan.
Luca mengambil posisi di balik kemudi, sementara Marco memberikan instruksi terakhir melalui jendela mobil. "Ingat, begitu kalian melewati garis batas wilayah Lazio, kalian berada di wilayah mereka. Jangan gunakan ponsel atau kartu kredit apa pun. Gunakan frekuensi radio terenkripsi yang sudah kupasang."
SUV itu pun meluncur keluar dari gudang, meninggalkan Mestre dan kenangan tenang yang baru saja mereka bangun. Perjalanan menuju Roma menempuh jarak ratusan kilometer, melewati jalur-jalur pedesaan untuk menghindari pemeriksaan polisi di jalan tol utama.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa sangat tegang namun fokus. Elena sesekali melirik Matteo yang sedang sibuk memonitor frekuensi radio polisi melalui tabletnya. Maksud dari keheningan ini bukanlah karena mereka tidak punya hal untuk dibicarakan, melainkan karena mereka sedang mempersiapkan mental untuk konfrontasi yang jauh lebih besar daripada sekadar baku tembak di Venesia.
"Elena," panggil Matteo tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Isabella sudah mulai bergerak. Laporan radio menyebutkan ada operasi 'pembersihan' di beberapa titik di Verona. Dia mencoba menghapus sisa-sisa pengaruh Moretti yang masih ada di sana untuk menunjukkan kekuatannya pada Dewan."
"Dia sedang ketakutan, Matteo," balas Elena dingin. "Dia tahu data digitalnya sudah musnah, jadi dia mencoba menggunakan kekerasan fisik untuk mempertahankan posisinya. Itu adalah tanda bahwa dia sudah tidak punya kartu as lagi."
Saat mobil memasuki wilayah perbukitan di Toscana, sebuah bayangan hitam muncul di kaca spion Luca. Dua sepeda motor besar melaju dengan kecepatan tinggi, menjaga jarak yang konstan di belakang mereka. Luca segera mempercepat laju kendaraan, namun kedua motor itu tetap mengikuti dengan lincah.
"Kita punya tamu," desis Luca, tangannya menggenggam kemudi lebih erat.
"Bukan polisi," Matteo mengamati melalui kamera belakang SUV. "Lihat helm mereka. Itu adalah tim pemburu bayaran dari 'The Black Wing', tentara bayaran yang sering digunakan Dewan untuk tugas-tugas kotor di luar kota."
Maksud dari serangan ini sudah jelas: Isabella tidak ingin mereka sampai ke Roma. Dia ingin menghabisi mereka di tempat yang sunyi, jauh dari jangkauan media atau saksi mata.
Salah satu pengendara motor menarik senjata otomatis kecil dan mulai melepaskan tembakan ke arah ban belakang SUV. Suara dentuman peluru yang menghantam bodi baja mobil terdengar seperti hujan es yang mematikan. Luca membanting setir ke kiri dan ke kanan, mencoba mengganggu bidikan lawan di jalanan yang berkelok-kelok.
"Elena, ambil alih atap!" teriak Matteo.
Elena segera membuka sunroof mobil, berdiri di tengah guncangan hebat. Angin kencang menerpa wajahnya, namun tangan Elena tetap stabil saat membidik ban depan salah satu motor. Elena melepaskan dua tembakan presisi.
Dor! Dor!
Motor pertama kehilangan keseimbangan saat bannya meledak, terpental ke luar pembatas jalan dan jatuh ke dalam jurang dangkal. Namun, motor kedua jauh lebih licik. Pengendaranya melambat sejenak, lalu melemparkan sebuah alat bermagnet ke arah pintu belakang SUV.
"Bom tempel!" teriak Luca.
Tanpa ragu, Elena menjatuhkan dirinya kembali ke dalam mobil, meraih sebuah tuas di bawah jok belakang yang merupakan sistem pertahanan tambahan buatan Luca. "Matteo, sekarang!"
Matteo menekan tombol di dasbor yang mengaktifkan lonjakan elektromagnetik kecil di sekitar bodi mobil. Alat magnetik di pintu belakang itu kehilangan daya rekatnya dan jatuh ke aspal jalanan, meledak beberapa detik kemudian tepat di depan motor kedua yang mengejar. Ledakan itu menciptakan awan api yang menelan pengendara motor tersebut.
Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan deru mesin SUV dan napas mereka yang memburu. Elena duduk kembali di kursinya, merapikan senjatanya dengan tenang seolah-olah baru saja melewati gangguan kecil.
"Itu baru permulaan," ucap Matteo, matanya kembali menatap layar tablet. "Isabella akan mengirim lebih banyak lagi begitu kita mendekati Viterbo."
Elena menatap jalanan di depan yang mulai menurun menuju lembah. Elena menyadari bahwa maksud dari setiap serangan ini adalah untuk menguji mental mereka. Isabella ingin mereka merasa tidak aman di mana pun mereka berada. Namun, Isabella tidak menyadari bahwa setiap serangan hanya memperkuat tekad Elena untuk sampai ke pusat kekuasaan di Roma.
Sore harinya, mereka tiba di sebuah peternakan kuda yang tampak sepi dan terpencil. Seorang pria tua dengan rambut putih yang tidak rapi dan kemeja flanel kusam keluar dari kandang kuda, membawa sebuah senapan tua. Itulah Lorenzo.
"Matteo Valenti," suara Lorenzo terdengar berat dan penuh dengan luka masa lalu. "Kau membawa putri Moretti ke sarang serigala."
"Kami datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi hak kami, Lorenzo," sahut Matteo sambil turun dari mobil.
Lorenzo menatap Elena dengan tajam, seolah sedang mencari jejak keberanian ayah Elena di dalam matanya. Setelah beberapa saat, pria tua itu menurunkan senapannya dan memberikan isyarat agar mereka masuk ke dalam gudang jerami yang di dalamnya tersembunyi sebuah pusat komunikasi canggih.
"Maksud dari kedatangan kalian ke sini akan sia-sia jika kalian tidak tahu apa yang sedang direncanakan Sergio Donati besok malam," Lorenzo menunjuk ke sebuah peta digital Roma yang besar di dinding. "Ada pelantikan kepala keamanan nasional yang baru di gedung kementerian. Itulah saat di mana Isabella akan resmi diberikan kekuasaan atas militer swasta. Jika itu terjadi, kalian tidak akan pernah bisa menyentuh mereka lagi."
Elena mendekati peta itu, jarinya menyentuh lokasi gedung kementerian. "Maka kita harus menghentikannya sebelum pelantikan itu terjadi."
Matteo berdiri di samping Elena, wajahnya memancarkan tekad yang sama. "Kita punya waktu dua puluh empat jam. Lorenzo, kami butuh cetak biru jalur ventilasi dan sistem keamanan terbaru gedung itu."
"Kalian gila," gumam Lorenzo, namun pria itu mulai mengetik di komputer lamanya. "Tapi mungkin kegilaan adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan Italia sekarang."
Malam itu, di bawah temaram lampu gudang jerami di Viterbo, rencana penyusupan terakhir mulai disusun. Elena, Matteo, dan Luca mempelajari setiap inci jalur masuk gedung kementerian. Mereka tahu bahwa ini bukan lagi sekadar pelarian; ini adalah serangan balasan. Maksud dari perjalanan panjang dari Verona hingga Roma adalah untuk satu momen ini: momen di mana kebenaran akan dipaksakan masuk ke telinga mereka yang selama ini menutup mata.
Di sela-sela perencanaan, Elena sempat keluar sejenak untuk menatap langit malam Roma yang mulai terlihat di cakrawala. Matteo mengikuti Elena, berdiri di belakang tanpa suara.
"Kita akan melakukannya, bukan?" bisik Elena tanpa menoleh.
"Kita akan melakukannya," jawab Matteo pasti. Matteo melingkarkan tangannya di bahu Elena, memberikan kehangatan di tengah udara malam yang mulai mendingin. "Setelah besok, nama Moretti dan Valenti akan dikenal bukan karena perseteruan mereka, tapi karena keberanian mereka untuk meruntuhkan tembok-tembok korup di Roma."
Elena memejamkan matanya sejenak, menghirup aroma tanah dan jerami di sekitarnya. Elena tahu bahwa besok pagi, perjalanan ini akan mencapai puncaknya. Tidak ada lagi hari romantis di taman, tidak ada lagi persembunyian di bawah kanal. Hanya ada mereka, senjata mereka, dan sebuah kebenaran yang akan membakar seluruh gedung kementerian.
Babak akhir sudah di depan mata. Roma sedang menunggu, dan Elena Moretti siap untuk memberikan jawaban atas semua darah yang telah tumpah selama sepuluh tahun terakhir.