fiksi sejarah Kisah Para Pemimpin sebuah Pulau bernama The Horn Land. cerita dalam rentang waktu 110 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutrisno Ungko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angurey Wayn
“Salam Ser Angurey, senang melihat anda lagi.” kata Jhon .
Ia mengambil tempat duduk untuk kesatria utama itu. posisi mereka kini melingkar tempat pembakaran.
“Terima kasih tuan . Bagaimana keadaan kalian?” tanya Angurey. Ia menatap Oliver.
“Sudah lebih baik Ser, bagaimana perkembangan situasi disini?” Oliver mengambilkan minuman dan di serahkan pada sahabatnya itu.
“Sepeninggal kalian, muncul masalah dalam kebersamaan kita di Kaitaia ini. Sehubungan kebijakan Baginda untuk mempercayakan kekuasaan Dermaga Cape Reinga pada suku Yulara yang tergabung dalam pejuang kemerdekaan. Keluarga Winter, Talindurum, Moon, Queen dan Kaemon. Kita tahu bersama peran mereka saat merebut Kastel dan terlibat dalam perang Kaitaia, baginda tentu senang keberadaan mereka sehingga demi memperlihatan kepercaayaan itu baginda mempercayakan penjagaan Dermaga pada mereka, pasukan mereka juga tinggal disana, namun masalah muncul sebulan yang lalu...” wajah Angurey kini terlihat cemas.
“Masalah apakah itu?” tanya Oliver.
“Keluarga-keluarga asli wilayah Kai tidak setuju dan meminta pengelolaan dermaga dikembalikan pada mereka. Terutama keluarga Loaun. Namun Baginda tetap meminta keluarga Yulara untuk memegang kendali Dermaga. Sementara 3 keluarga Kaitaia diminta untuk menjaga pusat pemerintahan dan sekitarnya. Hal ini tentu mendatangkan kekecewaan.”
“Mungkin baginda sudah mempertimbangkan dengan matang keputusan itu sehingga harus mempercayakan dermaga pada suku Yulara, satu sisi baginda ingin memperlihatkan kebijakan untuk persatuan, namun disisi lain mungkin keluarga lain masih meragukan kesetiaan suku Yulara pada perjuangan ini, dermaga adalah lokasi vital. Jika lengah penjagaan disana musuh akan mudah menaklukan kita.” kata Jhon memberikan pandangan.
“Masalah lain muncul seminggu kemudian setelah keputusan baginda itu., sekelompok pemuda keluarga Loaun mengunjungi Dermaga dan membuat kekacauan. Sayangnya para penjaga keluarga Kaemon yang menjaga saat itu memberikan tindakan keras sehingga jatuh korban. Satu pemuda Loaun tewas disana, satu terluka, juga dari keluarga Kaemon ada dua yang terluka. Masalah menjadi rumit dan perlu kebijakan baginda. Saat ini keluarga Loaun meminta pertanggung jawaban…keluarga Loaun kini di pimpin adik Rugila, Rugina janda seorang Lord.” kata Angurey.
“Apa keputusan baginda?” tanya Jhon.
“Kalian tahu bidang hukum di serahkan baginda pada Master Sorush. Dan keputusannya untuk keadilan adalah hukuman mati bagi pembunuhan. Sehingga Stev Kaemon yang membunuh Dex Loaun akan menjalani persidangan, kemungkinan besarnya adalah hukuman mati.” kata Angurey.
“Ini akan menjadi masalah besar tentu.” Oliver terlihat khawatir memikirkannya.
“Keluarga Kaemon masih berjuang meminta Baginda memberikan keadilan bagi mereka..”
“Kapan persidangannya?” tanya Jhon
“Sebenarnya sudah akan digelar kemarin, tapi baginda dilaporkan sakit demam, sejak tiga hari yang lalu, sehingga dibatalkan.”
“Oh baginda sakit?” Serentak Jhon dan Oliver bertanya.
“Kalian diijinkan menjenguk. ” kata Angurey.
Segera mereka bersiap diri.
***
Ruangan kamar Lord Owen Ghie tampak gelap dan suram setelah memasuki terangnya pagi hari.
Master Sorush mematikan lilin dan membawanyakan obat ke kamar ini. meletakan semuanya di pojok dimana terdapat salep-salep, ramuan-ramuan dan obat-obatan yang dijejerkan dengan rapi di rak kayu
Usia baginda Owen Ghie saat ini sudah 61 tahun. Sejak perebutan Kastel ia memang mulai tak sehat lagi. Namun sakitnya saat ini lebih dari sebelum-sebelumnya. Ia bahkan tak bisa bangun lagi sejak dua hari yang lalu, Master Sorush memberikannya obat dan ramuan yang ia buat sendiri.
Baginda masih memejamkan mata saat minuman itu diberikan Sorush padanya. Di dalam ruangan itu ; Jhuma, Regen, Lauren, Angurey, Oliver dan Aragon Balyn Serta Jhon menyaksikan kondisi baginda. Setelah beberapa saat kemudian mata baginda terbuka.
“Terima kasih kalian semua ada disampingku disaat seperti ini. Bisakah aku menitipkan satu keinginan pada kalian semua?” sesekali mata baginda Owen tertutup lagi.
“Keinginan apa tuan.” tanya Jhuma yang tepat berada disamping sahabatnya itu. ia mengelap peluh di wajahnya.
“Jika berkenan, aku minta… jika anakku Ommer menyusulku, bagaimanapun keadaannya. lindungi dia. Terima dia diantara kalian,..bukan untuk menjadi penerus kekuasaanku. Namun menjadi bagian dari perjuangan kalian.” tutur Owen. ia batuk setelah itu.
“Tentu baginda, kami akan menerimanya. jika perlu kami akan menjemputnya.” kata Jhuma lagi.
“Tak perlu, jika ia mengingatku dan ingin membantu perjuangan kita, ia akan datang. Jika dijemput tak akan ada ketulusan dalam hatinya..”
“Baik tuan." kata Jhuma.
“Ser Jhuma, aku punya sesuatu untuk kalian semuanya. Ambilkan di dalam kotak itu..” telunjuk Owen mengarah disatu sudut ruangan.
Ser Jhuma mengambil kotak yang dimaksud. Berbentuk persegi panjang. Tak berat, terbuat dari kayu pilihan berwarna hitam. Ia menyerahkannya pada Ser Owen. Yang langsung membukannya dengan pelan.
“Aku meminta pengrajin di sini bulan lalu untuk membuatkan kalian pin dan kalung. 6 untuk kalian Kesatria Utama dan 27 kalung untuk kesatria Keluarga…semoga ini bisa menjadi kenang-kenanganku untuk perjuangan kalian” kata Owen.
Ser Jhuma mengambilnya dan menemukan Pin serta kalung yang masih terbungkus kain hitam.
Perlahan ia membukanya. Dan tertegun ia melihat 6 Pin mengkilat karena terbuat dari emas. Dan 27 kalung yang terbuat dari perak. Berkilauan memancarkan keindahan.
6 Pin itu masing-masing punya logo dan ornamen tersendiri ; Elang berkepala dua, Jangkar, Petir, Chevron, Daun Ek, dan Bintang. Sementara 27 kalung Perak juga masing-masing mempunyai simbol angka romawi dari I sampai XXVII.
“Simbol elang berkepala satu ada padaku. Yang tertinggi. Aku sudah menyimpannya, 6 Pin emas ini kalian bagi, dan sisanya pada 27 kesatria keluarga, atau pada anak-anak mereka jika sudah mendahului. ” kata Owen
“Baik Ser.” Kata Jhuma. Ia menyerahkan pada yang lain secara acak pada masing-masing simbol ; Jangkar pada Aragorn, Petir pada Lauren, Chevron pada Angurey, Daun Ek pada Regen dan Bintang pada Oliver.
“Pedang The King juga adalah simbol pemimpin bagi perjuangan kita, siapapun yang menggantikan aku. Peganglah pedang itu. pedang Istimewa..”
Setelah itu baginda tak bercerita lagi. Sesaat semuanya hening tak ada yang bisa berkata-kata lagi. Mereka tentu tak ingin waktu istirahat baginda terganggu. mata baginda tertutup, pengaruh obat membuat ia mulai tertidur.
Tarikan nafas pelan dari Ser Jhuma. disertai tangannya yang merapikan kain penutup tubuh pimpinannya..
Di mulai dari Angurey, satu persatu mereka keluarga kamar itu. perlahan
***