Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21-SAH
Note: papah Aluna namanya: Ramma
Mamah Aluna: Calista
Ayah Arlan: Abbas
Bunda Arlan: Nada
Nama panjang Aluna: Aluna Hazel Alzena Arlina
Nama panjang Arlan: Arlan Lauzan Ghaziy Khairi
Semoga kalian ga bingung ya, dan maaf ya klau namanya terlalu pasaran karena author pelupa jadi biar inget nama tokohnya 😅☺🙏🏻.
...****************...
Langkah Ramma dan Calista terasa berat saat mengikuti Abbas keluar dari gedung sekolah. Di belakang mereka, Arlan berjalan dalam diam sembari terus menjaga jarak agar Aluna tetap berada di dekatnya. Aluna sendiri hanya menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik kerah jaket Arlan yang kebesaran.
Begitu pintu jati besar rumah keluarga Abbas terbuka, seorang wanita anggun menyambut mereka dengan raut cemas. Ia adalah Nada, Bunda Arlan. Wajahnya yang tenang mendadak berubah heran melihat rombongan yang tampak tegang itu.
"Abbas? Jeng Calista? Loh, ini ada apa?" tanya Nada bingung. Matanya kemudian beralih ke arah gadis yang berdiri di samping putranya.
Aluna mengerutkan kening, menatap wanita di depannya dengan tatapan asing. Ia merasa pernah melihat wajah itu dalam ingatannya yang sangat jauh, tapi memorinya terlalu kabur untuk mengenali siapa wanita cantik ini.
Bunda Nada terdiam sejenak, memperhatikan Aluna dengan seksama. Meski mata gadis itu sembab dan merah, kecantikan alaminya benar-benar mencolok.
"Ya Tuhan..." Bunda Nada melangkah mendekat dengan mata berbinar, mengabaikan suasana kaku yang dibawa para pria di ruangan itu. "Yah, jangan bilang kalau ini... Aluna? Aluna kecil yang dulu hobi sembunyi di balik punggung Mamahnya kalau ketemu Arlan?"
Aluna tersentak. Ia menoleh ke arah Mamah Calista, mencari jawaban. Calista mengangguk pelan sembari mengusap pundak putrinya. "Iya, Lun. Ini Tante Nada. Kamu pasti sudah lupa karena kita sudah pindah sangat lama."
"Cantik sekali kamu, Nak," puji Bunda Nada tulus. Tangannya terangkat untuk merapikan sedikit rambut Aluna yang mencuat dari balik jaket Arlan. "Tante sampai pangling. Dulu terakhir lihat, kamu masih balita yang kuncir dua. Sekarang sudah jadi gadis yang sangat luar biasa cantik begini. Tapi... kenapa matamu sembab? Kamu habis menangis?"
Abbas berdehem berat, memecah momen haru tersebut. "Kita bicara di dalam, Bun. Ada hal yang sangat mendesak menyangkut mereka berdua.
Setelah semua duduk di ruang tamu yang megah, keheningan mencekam kembali menyelimuti. Ramma kemudian menceritakan apa yang terjadi di sekolah setidaknya dari sudut pandang yang ia tahu. Ia menjelaskan bagaimana Arlan dan Aluna ditemukan berduaan di toilet yang terkunci dan gelap oleh Bu Lastri dan seorang siswi bernama Lyra.
"Jadi... mereka tertangkap berduaan di sana?" tanya Bunda Nada dengan raut wajah kaget.
"Bukan begitu, Bun," Arlan mencoba menyela, namun tatapan tajam Abbas membuatnya terdiam.
"Apapun alasannya, Abbas..." Ramma menghela napas berat, suaranya terdengar penuh beban. "Bu Lastri sudah melihatnya sendiri. Gosip ini akan menyebar cepat. Di mata sekolah, ini skandal. Nama baik keluarga saya dan Aluna sedang dipertaruhkan. Saya tidak mau Aluna dikeluarkan dengan nama kotor."
Abbas menatap Ramma dengan tatapan yang sangat serius, lalu beralih ke Arlan. "Ramma, kita tidak bisa membiarkan gosip ini liar. Satu-satunya cara tercepat untuk membungkam mulut mereka dan melindungi masa depan Aluna adalah dengan memberi status yang jelas."
Abbas menarik napas panjang, wajahnya menunjukkan otoritas yang tidak bisa dibantah. "Hanya ada satu cara untuk menutup mulut Bu Lastri dan menghentikan Lyra. Malam ini juga, Aluna dan Arlan harus menikah."
Deg.
Jantung Aluna rasanya baru saja merosot ke perut. "A-apa? Menikah? , Aluna baru enam belas tahun! Aluna masih kelas dua SMA!" suara Aluna pecah, air matanya yang baru saja mengering kini kembali menggenang.
"Pernikahan ini rahasia," tegas Arlan, matanya menatap tajam ke arah Abbas dan Ramma. "Aluna baru 16 tahun. Kalau anak-anak sekolah tahu, ini bakal makin heboh. Saya mau status kami sah di mata agama dan hukum buat lindungin dia, tapi di sekolah... kami tetep Ketua OSIS dan siswi biasa."
Abbas mengangguk setuju. "Papa sudah urus itu. Besok Papa sendiri yang akan bicara ke Kepala Sekolah. Bu Lastri juga akan tutup mulut kalau dia masih sayang sama jabatannya. Tapi Arlan, ingat... di luar sekolah, Aluna sepenuhnya tanggung jawabmu."
Malam itu juga, di ruang tengah yang hanya diterangi lampu temaram, sebuah akad nikah sederhana digelar. Aluna Hazel Alzena Arlina duduk dengan mukena putih bersih, jemarinya gemetar hebat saat mendengar suara bariton Arlan menggema dengan mantap.
"Saya terima nikahnya Aluna Hazel Alzena Arlina binti Ramma dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah?"
"SAH."
Air mata Aluna jatuh. Bukan karena bahagia, tapi karena ia merasa masa remajanya baru saja terkunci rapat. Ia kini resmi menjadi istri dari Arlan Lauzan Ghaziy Khairi, Ketos paling dingin yang paling ia hindari di sekolah.