NovelToon NovelToon
Halte Takdir

Halte Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:285
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.

Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.

Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.

Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?

Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RODA GIGI DI BAWAH JEMBATAN

"Ibu? Kok Ibu bisa jalan? Dan... mata Ibu kenapa jadi begitu?"

Viona mundur hingga tumitnya membentur pagar besi jembatan. Logam dingin itu terasa bergetar, seolah-olah jembatan beton ini memiliki detak jantung mekanis yang tersembunyi. Di depannya, sosok yang sangat mirip dengan Elena terus melangkah. Gerakannya terlalu presisi, terlalu anggun untuk seorang wanita yang baru saja pulih dari kelumpuhan setahun. Setiap langkah kakinya di atas aspal basah tidak menimbulkan suara cipratan air, melainkan bunyi denting logam yang halus.

"Ibu sudah tidak sakit lagi, Viona. Rasa sakit adalah sisa-sisa dari garis waktu yang gagal," ucap Elena. Suaranya datar, tanpa intonasi emosi, seperti suara mesin pembaca otomatis yang sering didengar Viona di stasiun kereta. "Mari. Ayah sudah menyiapkan tempat untukmu di pusat mesin."

"Enggak! Ibu jangan bercanda, ya. Ini nggak lucu!" Viona berteriak, suaranya parau tertelan gemuruh hujan yang kini terasa aneh. Air yang jatuh dari langit tidak lagi terasa dingin, melainkan hangat dan sedikit lengket, seperti minyak pelumas mesin. "Alfred tadi bilang gue ini Arsitek. Kalau gue bosnya, gue perintahin Ibu buat balik jadi normal sekarang juga!"

Elena berhenti melangkah tepat tiga meter di depan Viona. Ia memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, sebuah gerakan yang sangat mekanis. Mata peraknya berpendar di tengah kegelapan malam, memantulkan cahaya lampu jalan yang mulai berkedip-kedip tidak stabil.

"Arsitek tidak memerintah dengan kata-kata, Viona. Arsitek memerintah dengan kehendak yang tertulis di dalam nadi," Elena mengulurkan tangannya yang pucat. "Turunlah. Jangan biarkan Ayah menunggu terlalu lama. Di bawah sini, waktu tidak lagi mengejar kita."

Viona melirik telapak tangan kirinya. Roda gigi emas di balik kulitnya berputar semakin cepat, menimbulkan rasa panas yang menjalar hingga ke bahu. Ia menoleh ke bawah jembatan, ke arah sungai yang biasanya dipenuhi sampah dan air keruh. Namun, yang ia lihat di bawah sana bukanlah air.

Di kolong jembatan yang gelap, cahaya biru safir memancar keluar. Aliran sungai itu telah berubah menjadi hamparan ribuan kabel tembaga yang berpilin dan roda gigi raksasa yang berputar lambat. Kabut uap putih keluar dari sela-sela mesin itu, menciptakan pemandangan yang seolah berasal dari perut bumi yang telah diubah menjadi pabrik waktu raksasa.

"Gila... ini beneran gila," gumam Viona. Ia merasa dunianya yang normal telah terkelupas sepenuhnya, menyisakan kerangka mesin yang mengerikan di baliknya.

Didorong oleh rasa penasaran yang bercampur dengan ketakutan luar biasa, Viona mengikuti langkah Elena menuruni tangga darurat di pinggir jembatan. Setiap anak tangga yang ia injak terasa bergetar. Sesampainya di bawah, di kolong jembatan yang tersembunyi dari mata penduduk kota, Viona melihat seorang pria berdiri membelakangi mereka.

Pria itu mengenakan jaket denim tua yang sudah lusuh, pakaian yang sama dengan yang dipakai Nathan Mahendra saat terakhir kali Viona melihatnya sepuluh tahun lalu.

"Ayah?" bisik Viona. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan keras.

Pria itu berbalik. Wajahnya adalah wajah Nathan, lengkap dengan kerutan di dahi dan senyum tipis yang selalu membuat Viona merasa aman. Namun, saat pria itu mengangkat tangannya, Viona melihat bahwa tangan kanan ayahnya sepenuhnya terbuat dari susunan jarum jam dan perunggu yang rumit.

"Selamat datang di kantor baru kita, Vio," ucap Nathan. Suaranya hangat, sangat manusiawi jika dibandingkan dengan suara Elena yang dingin. "Maaf Ayah harus jemput kamu lewat cara seperti ini. Ordo Chronos nggak akan pernah membiarkan kamu hidup tenang setelah kamu memicu paradoks itu."

"Ayah beneran Ayah?" Viona mendekat, matanya berkaca-kaca. "Atau Ayah cuma simulasi lain dari Alfred?"

Nathan tertawa pelan, suara tawa yang sangat ia kenali. "Simulasi nggak akan bisa merasakan rasa bersalah selama sepuluh tahun, Nak. Ayah ini adalah sisa-sisa dari Nathan yang dulu, yang terperangkap di antara roda gigi karena mencoba menyelamatkan kamu. Tapi sekarang, kamu sudah punya koin itu. Kamu punya kendali."

"Gue nggak mau kendali, Yah! Gue cuma mau balik ke rumah, makan malam bareng Ibu, dan hidup kayak orang biasa!" Viona memekik, air matanya tumpah menyatu dengan hujan minyak. "Kenapa semuanya jadi ribet begini sih?!"

Nathan mendekat, tangan perunggunya yang dingin menyentuh pipi Viona. "Karena dunia ini sedang sekarat, Vio. Alfred dan Ordo Chronos sudah terlalu sering mencuri detik-detik penting manusia buat kepentingan mereka sendiri. Akibatnya, realitas mulai rapuh. Kamu liat kota di atas sana? Itu cuma sisa-sisa dekorasi. Begitu jam di tanganmu itu berhenti berputar, Jakarta bakal hilang. Semuanya bakal hilang."

Viona tersentak. Ia melihat ke sekeliling kolong jembatan. Di antara tumpukan roda gigi, ia melihat fragmen-fragmen memori yang melayang seperti debu; ada memori tentang kegagalannya di kantor, memori tentang kecelakaan ibunya, bahkan memori tentang Riko yang sedang menangis di dalam taksi tadi.

"Terus gue harus ngapain?" tanya Viona pasrah.

"Gue butuh lo buat nulis ulang 'Gigi Utama'," sebuah suara asing menyambar dari kegelapan di belakang Nathan.

Viona menoleh cepat. Dari balik pilar jembatan, muncul Julian. Namun, sang penagih utang itu kini tampak babak belur. Jas hujan transparannya sobek-sobek, dan buku catatan hitamnya sudah terbakar di bagian ujungnya. Di belakangnya, Adrian berdiri sambil memegangi bahunya yang berdarah.

"Adrian?! Lo masi hidup?" Viona berseru lega.

"Nyaris mati, Vio. Tapi koin di tangan lo itu sempet ngirim gelombang energi yang narik gue keluar dari dimensi pasir Alfred," sahut Adrian dengan napas tersengal. "Tapi Julian bener. Ordo Chronos lagi ngirim 'Pembersih' buat hapus tempat ini. Kalau lo nggak segera gunain pena itu buat benerin aliran waktu, kita semua bakal dianggap sebagai data sampah yang harus dihapus."

Julian melangkah maju, belati peraknya kini memancarkan cahaya merah yang berdenyut. "Viona, dengerin gue baik-baik. Alfred itu bukan penjaga, dia itu parasit. Dia manfaatin lo buat jadi Arsitek supaya dia bisa punya sumber energi baru yang nggak terbatas. Ayah lo di sini... dia cuma jangkar supaya lo mau kerja buat faksi pemberontak."

"Jangan dengerin dia, Vio! Julian itu cuma mau ambil koin itu buat dirinya sendiri!" potong Nathan dengan nada tajam.

Viona merasa kepalanya ingin pecah. Di sebelah kirinya ada ibunya yang sudah menjadi mesin, di depannya ada ayahnya yang separuh perunggu, dan di belakangnya ada Julian serta Adrian yang membawa peringatan tentang kiamat dimensi.

"DIEM SEMUANYA!" teriak Viona.

Seketika, seluruh mesin di kolong jembatan berhenti berputar. Keheningan yang sangat pekat menyelimuti mereka, hanya diinterupsi oleh suara tetesan hujan minyak yang menghantam genangan kabel. Roda gigi di telapak tangan Viona bersinar terang, mengeluarkan proyeksi holografik berupa garis waktu yang bercabang-cabang dan tampak kusut.

Viona menatap garis-garis itu. Ia bisa melihat benang merah yang menghubungkan halte bus, payung biru, dan kecelakaan ibunya. Ia menyadari bahwa selama ini, ia bukan hanya korban. Ia adalah bagian dari desain yang lebih besar.

"Gue nggak akan dengerin siapa pun lagi," ucap Viona dingin. Ia mengangkat pena perak pemberian Alfred. "Kalian semua cuma mau manfaatin waktu gue. Ordo, pemberontak, bahkan mungkin lo juga, Yah."

"Viona, apa yang kamu lakukan?" Nathan tampak panik saat melihat Viona mulai mengarahkan ujung pena itu ke arah roda gigi di telapak tangannya sendiri.

"Gue bakal tulis takdir gue sendiri. Bukan buat nyelamatin dunia kalian yang rusak, tapi buat balikin kebahagiaan yang kalian curi dari gue," desis Viona.

Ia menekan ujung pena itu ke telapak tangannya. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah kulitnya sedang dibor oleh ribuan jarum panas. Namun, Viona tidak berteriak. Ia mulai menggerakkan pena itu, menuliskan serangkaian simbol yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya, namun terasa sangat akrab di dalam jiwanya.

Zzzttttt!

Arus listrik biru meledak dari pusat jembatan. Pilar-pilar beton mulai retak dan runtuh, menyingkapkan mesin-mesin yang lebih besar lagi di baliknya. Adrian terlempar ke belakang, sementara Julian mencoba menahan ledakan energi itu dengan pedang hitamnya.

"Vio! Lo baru aja ngelepasin Master Gear! Kalau lo nggak hati-hati, lo bakal hapus diri lo sendiri dari sejarah!" teriak Adrian dari kejauhan.

"Bagus! Biarin aja gue ilang, asal kepalsuan ini juga ikut ilang!" jawab Viona penuh emosi.

Tiba-tiba, dari atas jembatan, sebuah suara tawa yang sangat halus terdengar. Sosok Tuan Alfred muncul kembali, berdiri di tepi pagar jembatan dengan payung hitamnya yang terbuka. Ia menatap ke bawah, ke arah kekacauan yang diciptakan Viona, dengan tatapan puas.

"Lakukan, Viona. Tulislah 'Kiamat' jika itu yang membuatmu merasa utuh," ucap Alfred tenang. "Tapi ingat, setiap arsitek butuh fondasi. Dan fondasimu... baru saja dihancurkan."

Viona melihat ke arah ibunya. Elena tiba-tiba mulai meluruh, tubuhnya berubah menjadi tumpukan baut dan mur yang berjatuhan ke sungai mesin. Mata peraknya perlahan meredup, namun tepat sebelum menghilang, ia sempat membisikkan sesuatu yang membuat jantung Viona berhenti berdetak.

"Cari halte yang tidak pernah ada hujannya, Nak."

Seketika, seluruh kolong jembatan meledak dalam cahaya putih yang membutakan.

Saat cahaya itu mereda, Viona mendapati dirinya berdiri di tengah sebuah lapangan luas yang kering kerontang. Tidak ada hujan. Tidak ada jembatan. Tidak ada Jakarta. Di tengah lapangan itu, hanya ada sebuah halte bus tua yang tampak sangat baru, seolah baru saja dicat.

Di papan rute halte itu, hanya tertulis satu tujuan: PEMBERHENTIAN TERAKHIR.

Viona menoleh ke arah tangannya. Roda gigi di telapak tangannya telah berhenti berputar, dan di sana, sebuah retakan besar mulai muncul, seolah-olah tangannya terbuat dari keramik yang siap hancur berkeping-keping.

"Jadi... ini akhirnya?" gumam Viona.

Dari dalam halte yang kosong, terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Seseorang dengan sepatu berhak tinggi yang bunyinya sangat tajam.

"Selamat datang, Arsitek. Kamu telat satu detik," suara seorang wanita yang sangat Viona kenal—suara yang seharusnya sudah mati sepuluh tahun lalu.

Viona membelalakkan mata saat sosok wanita itu muncul dari balik tiang halte. Itu adalah versi muda dari ibunya, memegang sebuah payung biru yang sama persis dengan miliknya, namun payung itu tidak memiliki rangka yang bengkok.

"Ibu?" bisik Viona tak percaya.

"Bukan, Viona," wanita itu tersenyum dingin. "Aku adalah Arsitek sebelum kamu lahir. Dan aku di sini untuk mengambil kembali jantung yang kamu pinjam."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!