Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.
Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.
Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.
"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: LANGKAH KAKI DI LUAR PINTU
Dua minggu setelah kelahiran Aisyah, rumah kami seperti kapal yang baru saja melewati badai penuh kerusakan yang belum diperbaiki, tapi semua penumpangnya selamat. Maya masih lemah, harus banyak istirahat meski keinginannya untuk mengurus semuanya sendiri begitu besar. Aisyah adalah bayi yang rewel, menangis setiap dua jam, membuat lingkaran hitam di bawah mata kami semua semakin dalam.
Tapi kami bahagia. Jenis bahagia yang lelah, yang tercampur dengan bangun tengah malam dan popok kotor, tapi bahagia tetap saja.
Sampai suatu pagi, ketika kabut masih menyelimuti jalanan dan kota belum sepenuhnya bangun, pintu pagar rumah kami diketuk.
Bukan ketukan biasa. Bukan ketukan tetangga yang ramah atau kurir pengiriman. Ini ketukan keras, berirama, seperti pernyataan.
Aku yang membuka. Dan di sana, berdiri Rangga.
Bukan Rangga yang kami lihat terakhir kali di taman pria yang menyesal, dengan bahu bungkuk dan mata penuh penyesalan. Ini Rangga yang berbeda: rapi, dengan setelan jas yang mahal, berdiri tegak, dengan ekspresi dingin yang membuat udara pagi terasa lebih menusuk.
"Raka," sapanya, tanpa senyum.
"Rangga. Apa yang bisa kubantu?"
"Saya perlu bicara dengan Maya. Dan dengan anak-anak saya."
"Anak-anakmu sedang tidur. Dan Maya masih lemah setelah melahirkan."
"Maka saya akan menunggu." Dia melangkah masuk tanpa diundang, melewati aku seperti aku hanya penghalang kecil. "Saya dengar kabar tentang kelahiran bayi perempuan. Selamat."
Tapi ucapan selamat itu tidak terdengar tulus. Terdengar seperti formalitas, seperti sesuatu yang harus diucapkan sebelum masuk ke bisnis sesungguhnya.
Aku menutup pintu, hati mulai berdebar tidak karuan. "Rangga, kalau ini tentang perceraian—"
"Ini tentang anak-anak saya." Dia duduk di sofa, menyeleksi bajunya. "Tepatnya, tentang hak asuh."
Dunia berhenti berputar.
"Apa maksudmu?"
"Proses perceraian sudah hampir selesai. Dan saya ingin meninjau kembali kesepakatan hak asuh."
"Maksudmu... kamu mau mengambil Bima dan Kinan?"
"Saya ayah mereka, Raka. Dan saya punya hak untuk membesarkan anak-anak saya."
Tapi dia tidak peduli dengan mereka selama delapan bulan! Dia menghilang! Dia tidak mengirim uang, tidak menelpon, tidak peduli!
"Kamu tahu mereka sudah mulai pulih, Rangga. Mereka sudah mulai bahagia lagi."
"Dengan Anda? Dengan pria yang tinggal serumah dengan ibu mereka padahal belum menikah?" Matanya tajam. "Apakah itu lingkungan yang sehat untuk anak-anak?"
Aku menarik napas dalam-dalam. "Kami berencana menikah. Begitu Maya cukup kuat."
"Tapi belum. Dan selama belum, secara hukum, Anda hanyalah pria asing yang tinggal serumah dengan janda dan anak-anaknya." Dia berdiri, berjalan ke foto keluarga di dinding foto lama dengan dia masih di dalamnya. "Saya sudah berubah, Raka. Saya punya pekerjaan stabil di Jakarta. Punya rumah yang layak. Bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk mereka."
"Kehidupan yang lebih baik bukan hanya tentang uang, Rangga."
"Tapi juga tentang norma. Tentang apa yang benar di mata masyarakat." Dia menoleh padaku. "Anda pikir ini hanya tentang cinta? Ini tentang masa depan anak-anak. Di Jakarta, mereka bisa sekolah di sekolah internasional. Punya teman-teman dari keluarga baik-baik. Tidak akan diejek karena ibunya hidup dengan sepupunya sendiri."
Setiap kata seperti pisau. Karena itu benar sebagian benar. Kami memang hidup di luar norma. Dan anak-anak akan membayar harga untuk itu.
"Dengar, Rangga"
"Tidak, Anda yang dengar." Suaranya keras, membuatku terkejut. "Saya sudah bicara dengan pengacara. Dan dengan kondisi Maya yang baru melahirkan, belum punya pekerjaan tetap, tinggal dengan pria yang bukan suaminya... pengadilan akan memihak saya."
"Kamu tidak serius."
"Sangat serius." Dia mengeluarkan amplop dari tasnya. "Ini surat permohonan revisi hak asuh. Saya akan menyerahkannya ke pengadilan besok. Tapi saya ingin memberi Anda dan Maya kesempatan untuk... bernegosiasi."
"Negosiasi seperti apa?"
"Biarkan anak-anak tinggal dengan saya. Anda dan Maya bisa tetap bersama, bahkan menikah. Tapi tanpa Bima dan Kinan."
"TIDAK MUNGKIN!" teriakku, tidak bisa menahan emosi lagi.
"Pikirkan baik-baik. Apa yang lebih baik untuk mereka? Tinggal di sini, dengan segala gossip tetangga, dengan kehidupan pas-pasan? Atau di Jakarta, dengan pendidikan terbaik, dengan ayah yang sekarang siap bertanggung jawab?"
"Kamu bukan ayah yang bertanggung jawab! Kamu yang meninggalkan mereka!"
"Dan saya menyesal! Saya ingin memperbaiki kesalahan!" Teriakan baliknya sama keras. "Bukankah itu yang kalian inginkan? Agar saya bertanggung jawab? Nah, saya siap bertanggung jawab sekarang!"
Dari kamar, terdengar suara tangis Aisyah. Lalu suara langkah Maya yang terburu-buru.
"Suara apa itu?" Maya keluar, masih memakai piyama, wajah pucat. Begitu melihat Rangga, dia membeku. "Rangga? Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Saya datang untuk membicarakan masa depan anak-anak kita, Maya."
Maya melihatku, matanya bertanya. Aku menggeleng, tidak tahu harus mulai dari mana.
"Kamu mau mengambil Bima dan Kinan?" tanya Maya langsung ke intinya, suaranya datar.
"Saya mau hak asuh penuh. Tapi saya bersedia memberikan hak berkunjung"
"TIDAK." Maya lebih tegas dari yang pernah kudengar. "Kamu tidak akan menyentuh anak-anakku."
"Mereka anak saya juga, Maya!"
"ANAK YANG KAMU TINGGALKAN SAAT MEREKA MEMBUTUHKANMU!" teriak Maya, suaranya pecah. "Kamu pikir dengan datang sekarang, dengan uangmu, dengan setelan jasmu, kamu bisa menghapus delapan bulan ketiadaanmu? Delapan bulan mereka menangis memanggil 'Papa' dan kamu tidak menjawab?"
Rangga menatapnya, wajahnya berkerut oleh emosi yang bertarung. "Saya tahu saya salah. Tapi saya di sini sekarang. Dan saya tidak akan pergi lagi."
"Terlalu lambat, Rangga. Terlambat delapan bulan. Terlambat ratusan malam ketika Bima bertanya kenapa ayahnya tidak mencintainya. Terlambat ketika Kinan menangis karena temannya punya ayah yang datang ke pentas sekolah dan dia tidak."
"Aku akan memperbaiki semuanya!"
"TIDAK BISA DIPERBAIKI!" Air mata Maya mengalir deras sekarang. "Luka itu sudah jadi bekas. Dan bekas itu... mereka bawa setiap hari. Kamu mau membawa mereka ke Jakarta? Memisahkan mereka dari aku? Dari rumah mereka? Dari Raka yang sudah menjadi ayah bagi mereka?"
"Dia bukan ayah mereka!"
"LEBIH DARI KAMU!" Maya maju selangkah, meski tubuhnya masih lemah. "Dia yang menemani Bima ke dokter gigi. Dia yang mengajari Kinan naik sepeda. Dia yang mendengarkan mereka ketika mereka sedih. Dia yang ada ketika kamu tidak!"
Rangga terdiam, wajahnya pucat. Tapi kemudian, dengan suara lebih pelan: "Dan itu kesalahan saya. Tapi saya ingin kesempatan untuk memperbaikinya."
"Pada harga apa? Dengan memisahkan mereka dari ibunya? Dari adik bayinya?"
"Kamu bisa mengunjungi mereka. Setiap bulan."
"BUKAN ITU YANG MEREKA BUTUHKAN! Mereka butuh stabilitas! Butuh kepastian! Dan mereka sudah memilikinya di sini!"
Percakapan itu terputus ketika Bima keluar dari kamarnya. Dia sudah berdiri di sana beberapa saat, mendengarkan. Wajahnya... kosong.
"Bima," panggil Rangga, suaranya tiba-tiba lembut. "Nak..."
"Kamu mau membawa aku dan Kinan ke Jakarta?" tanya Bima langsung, tanpa emosi.
"Ya. Ayah punya rumah besar di sana. Kamu bisa punya kamar sendiri. Sekolah bagus"
"Dan Mama?"
"Dia... bisa mengunjungi kalian."
"Setiap hari?"
"Tidak setiap hari, Nak. Jakarta jauh."
"Lalu kapan?"
"Ayah jamin sebulan sekali."
Bima memandang ibunya, lalu padaku, lalu kembali pada ayahnya. "Aku tidak mau."
"Bima"
"AKU TIDAK MAU!" teriaknya, suaranya pecah seperti Maya tadi. "Aku tidak mau tinggal jauh dari Mama! Tidak mau tinggal jauh dari Kinan! Tidak mau tinggal jauh dari Om Raka dan Aisyah!"
"Tapi Ayah"
"KAMU BUKAN AYAHKU LAGI!" Bima menangis sekarang, tangisan marah dan sakit. "Ayah yang seharusnya melindungi kami, tapi malah pergi! Ayah yang seharusnya ada, tapi memilih orang lain! Sekarang kamu mau kembali? SETELAH SEMUANYA?!"
Rangga terlihat seperti ditampar. "Bima, Ayah menyesal"
"KATA MENYESAL TIDAK CUKUP! Kata menyesal tidak mengembalikan malam-malam ketika Mama menangis! Kata menyesal tidak membuat Kinan berhenti bertanya kenapa ayahnya tidak mencintainya! Kata menyesal TIDAK ADA APA-APA NYA!"
Kinan terbangun oleh teriakan, keluar dengan mata mengantuk. Begitu melihat Rangga, dia langsung bersembunyi di balik Maya.
"Papa... kenapa Papa di sini?"
Rangga berjongkok, mencoba tersenyum. "Kinan, Papa datang untuk"
"JANGAN DEKAT DIA!" Bima berdiri di antara Rangga dan Kinan, seperti pelindung kecil. "Jangan sentuh adikku!"
"Bima, saya ayahmu"
"KAMU ORANG ASING! Om Raka lebih ayah dari kamu!"
Itu yang memutuskan sesuatu di dalam Rangga. Ekspresinya berubah dari penyesalan menjadi kemarahan.
"Oke. Kalau begitu, kita selesaikan di pengadilan." Dia berdiri, mengambil amplopnya. "Saya akan serahkan permohonan ini. Dan kita lihat siapa yang pengadilan anggap lebih pantas."
Sebelum pergi, dia menoleh sekali lagi. "Maya, pikirkan baik-baik. Apa yang terbaik untuk anak-anak, bukan untuk perasaanmu."
Pintu tertutup. Dan kami berdiri di ruang tamu, hancur.
---
Sepanjang hari itu, rumah seperti kuburan. Maya menangis di kamarnya, Aisyah ikut menangis tanpa alasan jelas. Bima mengurung diri, menolak makan. Kinan terus bertanya apa yang terjadi, tapi tidak ada yang bisa menjawab dengan benar.
Aku menelepon pengacara keluarga, Bu Rina. Dia mendengarkan ceritaku dengan serius.
"Secara hukum, ini rumit," katanya setelah aku selesai. "Rangga punya hak sebagai ayah kandung. Dan kondisi Maya baru melahirkan, tidak bekerja, tinggal dengan pria yang belum dinikahi bisa digunakan melawannya."
"Tapi dia yang meninggalkan mereka!"
"Dan itu akan jadi poin untuk kita. Tapi pengadilan keluarga seringkali mempertimbangkan kemampuan finansial dan stabilitas. Dan Rangga... punya itu."
"Jadi kita kalah?"
"Tidak pasti. Tapi kita harus siap berjuang keras. Dan... kita butuh bukti. Bukti bahwa Maya adalah ibu yang baik. Bukti bahwa lingkungan di sini sehat untuk anak-anak. Bukti bahwa Rangga tidak layak."
"Bagaimana?"
"Surat dari sekolah tentang perkembangan anak-anak. Surat dari tetangga tentang pola asuh Maya. Dan... kesaksian dari anak-anak sendiri."
"Anak-anak? Mereka harus bersaksi di pengadilan?"
"Jika diperlukan. Tapi itu... berat untuk mereka."
Aku menutup telepon, merasa seperti ditenggelamkan. Pengadilan. Kesaksian. Bukti-bukti. Ini seperti mimpi buruk.
Malam itu, setelah semua tertidur (atau pura-pura tidur), aku duduk di teras sendirian. Pikiranku berputar-putar. Apa yang terbaik untuk Bima dan Kinan? Tinggal dengan kami, dengan cinta tapi dengan segala tantangan? Atau dengan Rangga, dengan kenyamanan materi tapi tanpa ibu dan adik bayinya?
Tidak ada jawaban mudah.
Lalu Bima keluar, duduk di sampingku tanpa berkata apa-apa.
"Tidak bisa tidur?" tanyaku.
"Apakah... apakah aku dan Kinan akan dipaksa pergi?"
"Kami tidak akan membiarkan itu terjadi, Bima."
"Tapi kalau pengadilan memutuskan..."
"Kita akan melawan. Dengan segala cara."
Dia diam lama. "Om, aku takut."
"Aku juga."
"Tapi Om selalu bilang, kalau takut, kita hadapi bersama."
Aku memandangnya, anak delapan tahun dengan mata yang sudah melihat terlalu banyak penderitaan. "Iya. Kita hadapi bersama."
"Kalau... kalau aku harus bicara di pengadilan. Tentang Papa. Tentang kenapa aku tidak mau tinggal dengannya..." suaranya gemetar. "Apa itu akan menyakiti Mama?"
"Mungkin. Tapi kadang, kebenaran memang menyakitkan."
"Apakah aku anak jahat? Karena tidak mau memaafkan Papa?"
"Tidak, Bima. Kamu punya hak untuk marah. Punya hak untuk terluka. Dan punya hak untuk memilih siapa yang kamu anggap sebagai ayah."
Dia menangis pelan. "Aku benci ini. Benci harus memilih. Benci semua ini."
Aku memeluknya. "Aku tahu, Nak. Aku tahu."
---
Keesokan harinya, Rangga mengirimkan salinan permohonan resmi. Dokumen itu dingin, formal, penuh dengan kata-kata hukum yang mengubah kehidupan kami menjadi poin-poin argumentasi.
Maya membaca dengan wajah semakin pucat. "Dia bilang aku tidak stabil secara emosional. Bilang lingkungan di sini tidak sehat karena ada 'pria asing'. Bilang aku tidak mampu finansial..."
"Dia mencoba membangun kasus, Maya. Itu strategi."
"Tapi itu menyakitkan. Setelah semua yang kita lalui... setelah semua perjuangan..."
Aku memegang tangannya. "Kita akan melawan. Dengan kebenaran kita."
Tapi kebenaran kami rumit. Cinta kami tidak konvensional. Kehidupan kami tidak sempurna. Dan di mata hukum yang hitam-putih, kami mungkin memang terlihat... tidak ideal.
Bu Rina datang siang itu untuk konsultasi. Perempuan paruh baya dengan mata tajam dan sikap tegas.
"Kita punya kekuatan: anak-anak tidak mau pergi. Itu poin besar. Tapi kita juga punya kelemahan: status hubungan kalian."
"Kami akan menikah," kata Maya. "Begitu aku cukup kuat."
"Kapan?"
"Bulan depan."
"Itu membantu. Tapi pernikahan sepupu... bisa jadi senjata makan tuan. Hakim konservatif mungkin tidak melihatnya dengan baik."
"Lalu apa yang harus kami lakukan?"
"Kumpulkan bukti. Semua bukti bahwa kalian adalah keluarga yang baik. Foto-foto kegiatan keluarga. Surat dari guru. Bahkan... mungkin kalian perlu pindah."
"Pindah?"
"Ke lingkungan baru. Di mana orang tidak tahu sejarah kalian. Di mana kalian bisa memulai sebagai keluarga normal."
Tapi itu berarti meninggalkan rumah ini. Meninggalkan kenangan. Meninggalkan jaringan dukungan keluarga yang baru saja kami dapatkan kembali.
"Pertimbangkan," kata Bu Rina sebelum pergi. "Dan bersiap untuk pertempuran yang panjang."
---
Malam itu, keluarga besar berkumpul di rumah kami. Bibi Sartika, beberapa bibi, paman, bahkan ayahku datang. Mereka membaca permohonan Rangga, wajah-wajah mereka gelap.
"Ini tidak bisa dibiarkan," kata ayahku, suaranya berat. "Mereka keluarga kita. Tidak akan kita biarkan diambil begitu saja."
"Tapi secara hukum" potong seorang paman.
"Hukum harus melihat kenyataan! Anak-anak bahagia di sini! Itu yang penting!"
Pertemuan itu menghasilkan keputusan: keluarga akan mendukung kami. Secara finansial untuk biaya pengacara. Secara moral dengan menjadi saksi. Bahkan tetangga-tetangga, ketika mendengar kabar, mulai datang dengan dukungan.
"Kami lihat sendiri bagaimana Raka merawat keluarga itu," kata Bu Sari, tetangga yang dulu paling banyak mengomentari. "Dia lebih ayah dari Rangga yang pernah ada."
Dukungan itu menghangatkan hati. Tapi juga membuat sedih karena butuh ancaman kehilangan untuk membuat mereka sepenuhnya berada di pihak kami.
---
Tiga hari sebelum sidang pertama, terjadi sesuatu yang tidak terduga.
Rangga datang lagi. Tapi kali ini, sendirian, tanpa setelan jas, dengan wajah lelah.
"Saya ingin bicara. Hanya bicara."
Kami mengizinkannya masuk, waspada.
"Saya... saya bertemu dengan psikolog," mulainya, suara rendah. "Atas saran pengacara saya. Untuk mempersiapkan sidang."
Dia menatap tangannya. "Dan dia bertanya... mengapa saya benar-benar ingin hak asuh. Apakah karena cinta pada anak-anak? Atau... karena ego?"
Maya dan aku diam, mendengarkan.
"Dan saya sadar... itu ego. Karena melihat mereka bahagia dengan Anda, Raka... itu membuat saya merasa tidak berarti. Seperti digantikan."
Dia menarik napas dalam. "Saya tidak pernah menjadi ayah yang baik. Bahkan ketika masih di sini. Saya sibuk dengan pekerjaan. Sibuk dengan... perempuan lain. Anak-anak hanya aksesori. Bukti bahwa saya sukses sebagai laki-laki."
Air mata mulai menggenang di matanya. "Dan ketika pergi... itu bukan karena tidak mencintai mereka. Tapi karena tidak bisa menghadapi kenyataan bahwa saya gagal. Gagal sebagai suami. Gagal sebagai ayah."
Ruang tamu sunyi. Hanya suara Rangga yang bergetar.
"Sekarang, melihat mereka... melihat mereka mencintai Anda... itu seperti cermin yang menunjukkan betapa buruknya saya dulu."
Dia memandang Maya. "Kamu benar. Terlambat. Terlambat untuk menjadi ayah yang mereka butuhkan dulu."
Lalu pada Bima dan Kinan, yang diam-diam mendengarkan dari balik pintu kamar. "Dan kalian benar. Kata menyesal tidak cukup."
Dia berdiri. "Saya akan menarik permohonan."
Kami terkejut.
"Tapi dengan satu syarat." Dia menatapku. "Jadilah ayah yang lebih baik dari saya. Selalu ada untuk mereka. Selalu pilih mereka pertama kali."
"Rangga"
"Dan izinkan saya... sesekali mengunjungi mereka. Sebagai... sebagai teman. Sebagai orang yang pernah menjadi ayah mereka, meski gagal."
Maya menangis. Aku juga.
"Kamu tidak perlu menarik permohonan karena kami," kata Maya. "Jika kamu benar-benar ingin menjadi ayah yang baik"
"Tapi saya tidak siap, Maya. Psikolog bilang saya butuh terapi dulu. Butuh belajar dulu. Dan mengambil mereka sekarang... itu akan menyakiti mereka lagi. Karena saya masih egois. Masih ingin membuktikan sesuatu."
Dia berjalan ke pintu. "Saya akan mundur. Tapi saya akan kembali. Setelah saya layak. Setelah saya belajar bagaimana mencintai dengan benar."
Sebelum pergi, dia berjongkok di hadapan Bima dan Kinan. "Ayah minta maaf. Untuk segalanya. Dan Ayah tidak akan memaksa kalian pergi. Tapi suatu hari nanti, jika kalian mau... kita bisa minum es krim bersama. Cerita tentang hidup kalian."
Bima mengangguk, pelan. Kinan hanya memandangnya dengan mata besar.
Pintu tertutup. Dan kali ini, tidak dengan kemarahan. Tapi dengan... kedamaian.
---
Sidang dibatalkan. Rangga menarik permohonannya. Dan sebagai gantinya, kami membuat perjanjian baru: hak berkunjung terbatas, dengan syarat anak-anak setuju.
Malam itu, keluarga kami berkumpul di ruang tamu aku, Maya, Bima, Kinan, dan Aisyah yang tidur di gendongan.
"Kita menang?" tanya Bima.
"Kita tidak perlu bertarung," jawabku. "Itu kemenangan lebih besar."
"Apakah Papa... akan baik-baik saja?"
"Kita doakan saja. Dan kita sambut jika suatu hari dia benar-benar siap menjadi ayah yang baik."
Maya memegang tanganku. "Kamu tahu, melalui semua ini... aku belajar sesuatu."
"Apa?"
"Bahwa cinta tidak melulu tentang memiliki. Kadang tentang melepaskan. Rangga melepaskan ego untuk kebaikan anak-anak. Dan itu... mungkin bentuk cinta terbesar yang pernah dia berikan pada mereka."
Aku memandangi keluarga kecilku. Maya dengan matanya yang lelah tapi bahagia. Bima yang mulai tersenyum lagi. Kinan yang sudah kembali menggambar. Aisyah yang tidur nyenyak.
Dan aku tahu:
Pertempuran ini mungkin selesai. Tapi perang untuk membangun keluarga yang sehat, untuk melindungi anak-anak dari luka dunia, untuk mencintai dengan cara yang benar itu akan terus berlangsung.
Tapi tidak apa-apa.
Karena kami bersama.
Dan bersama, kami cukup kuat untuk menghadapi apa pun.
Bahkan jika yang harus dihadapi adalah bayangan masa lalu, yang datang mengetuk pintu di pagi buta, membawa semua ketakutan dan keraguan yang pernah kami kira sudah terkubur.