Hiatus : persiapan case baru
Mereka ada dimana mana. mengintai dari balik bayangan bayang.
Bersembunyi disudut ruang gelap, dibawah tangga atau dikolong tempat tidurmu, dibawah pohon, jembatan, atau bahkan menyelinap di keramaian malam.
Kadang mereka muncul dengan rupa yang akrab untuk mendekatimu. Kadang juga dengan rupa yang menakutkan yang membuatmu bergidik ngeri.
Sekali mereka tertarik padamu, mereka akan mengikutimu, mengganggumu, kemanapun kamu pergi, sepanjang waktu, Bahkan menyelinap di balik tidurmu dan menjadi mimpi burukmu.
Kau tidak bisa lari atau sembunyi. Mereka akan terus mengkutimu sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuppy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Ello kembali
Darah mulai merembas dari telapak kiriku. Telapak tangan yang kugunakan untuk berpegangan pada ranting pohon dan tanaman di sekitarku. Luka akibat gesekan selama tarik menarik dengan makhluk itu. Menandakan bahwa aku sudah sampai batasnya.
"Aku takkan membiarkan kalian kabur lagi!" Penjahat itu menarik kami berdua lagi ke bawah.
"Aakkhh!" Aku tak kuasa. Saat aku berpikir melepaskan genggamanku pada ranting pohon itu, ranting-ranting itu seolah bergerak melingkar di pergelangan tanganku. Namun aku mengabaikan keanehan itu.
Fokusku teralih pada sesuatu yang jatuh dari saku kemejaku, menyenggol bahu Alvin. Aku bahkan lupa benda itu ada di sakuku. Itu benda yang pernah diberikan Angga padaku tempo hari, dan memintaku untuk selalu membawanya.
Aku tak tahu apa isi di dalamnya karena tak pernah membukanya. Angga melarangku membukanya tapi dia meminta menyimpannya karena mungkin aku akan membutuhkan benda itu. Saat ini kantong itu terbuka dan isinya tumpah tepat mengenai wajah makhluk itu. Isinya semacam serbuk tapi tidak jelas serbuk apa itu.
"Aaaakh!" Jerit laki-laki itu meraung kesakitan. Dia melepaskan cengkramannya memegangi wajahnya. Aku memanfaatkan itu untuk menarik Alvin ke atas.
Aku memperhatikan dari atas. Kulit wajahnya melepuh dan rusak.
"Apa itu tadi?" Tanya Alvin bingung.
"Aku tidak tahu. Kantong itu pemberian seseorang." Jawabku.
"Akkhhh, benda itu milik 'dia'. Kenapa anak- anak kurang ajar seperti kalian bisa memilikinya?!" Dia meraung dan berkata-kata tidak jelas. Aku dan Alvin pergi meninggalkannya.
Setelah dirasa cukup jauh, aku memutuskan beristirahat. Aku menyandarkan Alvin di batang pohon besar. Kondisi Alvin selama perjalanan memprihatinkan.
Darah kental terus menetes dari luka di keningnya. Sepertinya lukanya lebih dalam dari yang terlihat. Jika kami memaksa terus berjalan dia bisa kehabisan darah saat kami sampai di luar.
Belum lagi luka di kaki kirinya. Aku tahu sejak tadi dia memaksa berjalan dengan menahan sakit di kakinya.
Aku tidak membawa obat darurat. Jadi aku merobek sebagian kemejanya menjadi kain panjang untuk memperban luka di kepalanya. Paling tidak ini bisa menahannya sementara waktu.
Alvin diserang lebih dulu karena berada di belakangku. Dia terlempar sejauh tiga meter sebelum akhirnya membentur tembok dengan keras. Aku sudah mengira kalau lukanya akan parah.
Satu-satunya yang ku syukuri dia tetap sadar. Jika sampai dia pingsan aku akan kesulitan membawanya.
Hutan ini luas. Ku harap kami tidak cukup sial sampai bertemu dengannya lagi. Tapi tetap saja aku harus berjaga-jaga. Aku mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata untuk melawannya.
Aku mengambil bekas cabang pohon yang patah.
"Itu untuk apa?" Tanya Alvin dengan nafas yang berat. Dia terlihat kesulitan bicara. Nafasnya tak beraturan.
"Akan kugunakan batang ini untuk menghajar si gorila itu. Aku yakin ini cukup kuat." Jawabku.
"Percuma! Benda itu akan langsung ditebasnya dengan kapak." Ujar alvin.
Aku berjalan mendekatinya. "Dari mana kau tahu dia memakai kapak?" Tanyaku. Alvin tidak menjawab. Namun aku merasakan tekanan yang kuat. Aku menengok belakang. Sesuatu terayun ke arahku. Namun Alvin dengan cepat mendorongku jauh ke samping.
Saat berpaling ke Alvin, aku melihat laki-laki yang seperti gorila itu sedang menindas Alvin. Dia bermaksud menyerang dengan kapaknya tapi Alvin berhasil menghindar sehingga kapak itu tertancap di batang pohon.
Alvin mendorong tubuh besar itu dengan kedua kakinya menjauh. Pria itu jatuh ke tanah. Alvin merintih memegangi kakinya yang cedera.
Penjahat itu berusaha bangun. Aku memukuli tubuhnya dengan kayu. Tapi baru satu pukulan batang kayu itu patah. Laki-laki itu mencengkeram tanganku dan melemparku. Aku merasa tubuhku melayang sesaat sebelum jatuh ke tanah.
Tubuhku sakit dan kesulitan untuk bangun. Aku melihat laki-laki itu menghampiri Alvin dan menyeret Alvin yang sudah tak sadarkan diri.
Laki-laki itu tertawa senang sampai tubuhnya ikut bergoyang. "Baumu sama seperti bau bocah yang kabur itu. Akhirnya aku bisa dapat penggantinya. Persembahanku akan sempurna."
Persembahan apa? Dia mau bawa Alvin ke mana? Aku berusaha bangun. Tapi saat itu telapak tanganku menyentuh sesuatu. Saat aku meraih benda itu untuk melihatnya aku tak percaya dengan apa yang ada di tanganku.
Sebuah tulang. Ini bukan tulang hewan. Tapi terlalu kecil untuk tulang manusia dewasa. Jangan-jangan..
Aku menggali ke dalam tanah dengan kedua tanganku. Banyak tulang belulang yang terkubur di tanah tempat aku terlempar. Ini tempat orang itu membuang jasad anak-anak itu.
Aku merasakan tanah di bawahku bergerak. Tangan-tangan kecil yang hampir menjadi tengkorak keluar dari dalam tanah. Merangkak naik ke tubuhku. Kengerian yang tidak bisa kuhindari menangkapku seperti lalat yang terjatuh di jaring laba-laba.
"Kakak kami ingin pulang!" Suara anak-anak itu memanggilku. Meminta tolong padaku.
"Bawa kami!"
"Tolong kami!"
"Bawa kami keluar dari sini!"
Suara mereka meminta tolong saling tumpang tindih di telingaku. Sementara perasaan dan ingatan mereka mengalir di kepalaku. Kesedihan, kebencian, kemarahan dan kesepian.
Tanpa kusadari mereka semua sudah berdiri mengelilingiku. Seorang anak dengan kedua kaki yang putus merangkak mendekatiku.
"Kakak, tolong aku! Aku tidak ingin mati!" Anak itu menangis.
"Pinjami kami tubuh kakak agar kami bisa keluar!" Kata anak yang merangkulku dari belakang.
"Akkhhh! Tidak! Hentikan!" Aku berteriak sekuat tenaga menolak mereka.
"Biarkan kami masuk ke tubuhmu agar kami bisa membunuh orang itu. Kami akan membebaskan teman kakak!" Kata anak yang lain. Mereka saling berdebat tentang apa yang akan mereka lakukan pada tubuhku.
Tubuhku tak bisa bergerak. Kepalaku sakit dan terasa berat. Aku merasa sesuatu merasukiku, mengambil alih kesadaran ku.
Aku jatuh lemas tersungkur di tanah. Pandanganku mulai kabur. Saat itulah samar-samar aku melihat sosok Ello muncul di depanku. Penampilannya sama seperti biasanya. Dia mengenakan celana pendek dengan switer kuning dan tudung di kepalanya.
"Hentikan! Apa kalian akan melukai orang yang berniat membantu kalian?" Ujar Ello tapi dengan suara yang berbeda. Suaranya terdengar berat. Seperti suara pria dewasa.
'Apa dia Ello yang kutahu selama ini?' pikirku meragukan.
Anak-anak itu berhenti mengerumuniku dan menghilang. Seolah mereka takut pada kemunculan Ello yang tiba-tiba.
Ello berjalan mendekatiku. Bukan hanya suara, bahkan ekspresinya berubah. Tidak seperti biasanya. Sebuah seringai muncul di wajahnya.
"Aku tak mengira kau akan datang secepat ini." Ujarnya sambil tersenyum puas.
"Apa kau-- yang merencanakan-- semua ini?" Tanyaku dengan susah payah.
"Memang benar kalau aku yang memancingmu. Tapi aku tidak memaksamu. Kau datang atas kemauanmu sendiri dan dengan kedua kakimu sendiri." Jawabnya.
"Kenapa kau melakukan ini?" Aku meraih lengannya dan mencengkramnya kuat. Mengeluarkan kemarahan yang sejak tadi kutahan.
"Karena aku membutuhkanmu, untuk membuka pintu yang terkunci itu." jawabnya tersenyum tanpa beban.
MASIH MENUNGGU.
akhir nya berakhir jga kisah pilu dan menegangkan ini.
Legaaaaa.....
Ceritany menarik,seru dan tegang.
aq suka 👍👍👍
Selalu ditunggu.
Saya juga dianugerahi sense of horor yg peka wlau sekrng gk bisa liat lgi ,klo wktu kcl sering mreka nampk ,karna khodam warisan leluhur trlalu nyeremin mkya wlau mata batin dh kebuka max ttp aja mreka TAKUT NAMPAKIN DIRI .
Cuma kdng pas lwt t42 yg "wingit" suka panas dingn & benturan energi bkin aq gatel2 smlman biasa mlai magrib smpe subh hbis tu norml lgi , sya kdamg lngsung rukyah mandri utk netralin Alhamdulillah
Salam dari Danyang LELEMBUT 😘