Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Belati di Balik Kabut
Jatuhnya Kota Wuhe mengirimkan gelombang kejut yang melumpuhkan jantung Aliansi Pusat. Nama "Xiao Chen" belum diketahui, namun gelar Sang Arsitek Maut kini menjadi sinonim dengan kiamat.
Di sepanjang jalan menuju wilayah pusat, pos-pos penjagaan ditemukan kosong; para pendekar yang ketakutan memilih desersi daripada harus berhadapan dengan hujan yang mampu meluluhkan tulang.
Xiao Chen melintasi perbatasan wilayah pusat melalui Hutan Kematian Sunyi. Hutan ini dikenal karena kabut alaminya yang menyesatkan, namun hari ini, kabut itu terasa berbeda. Ada bau dupa yang tajam bercampur dengan aroma amis yang samar—sebuah jebakan yang disiapkan dengan sangat teliti.
"Bai, kau merasakannya?" bisik Xiao Chen.
Ular perak di lengannya mendesis tajam, kepalanya tegak waspada. Bai merasakan keberadaan ribuan jarum kecil yang disembunyikan di balik dedaunan, semuanya telah diolesi dengan racun saraf tingkat tinggi.
"Keluar," perintah Xiao Chen, suaranya dingin membelah keheningan hutan. "Jangan membuang waktuku dengan permainan anak kecil."
Dari balik pepohonan kuno, selusin sosok berpakaian hitam dengan topeng perak muncul.
Mereka bukan pendekar sekte biasa yang mengandalkan tenaga dalam murni, melainkan Satuan Bayangan Pemusnah, pembunuh bayaran elit milik Aliansi Pusat yang khusus dilatih untuk melenyapkan ancaman tingkat tinggi.
Pemimpin mereka, seorang pria dengan aura Ranah Langit tingkat menengah bernama Ye Mo, melangkah maju. Ia memegang sepasang belati pendek yang bergetar mengeluarkan suara dengung frekuensi tinggi.
"Arsitek Maut... kau telah melangkah terlalu jauh," ucap Ye Mo. Suaranya terdengar seperti gesekan logam. "Kau pikir kau adalah ahli racun terbaik di dunia ini? Aliansi memiliki sumber daya yang melampaui imajinasimu."
Tanpa peringatan, Ye Mo menghilang dalam kepulan asap hitam. Detik berikutnya, ia muncul di belakang Xiao Chen, belatinya mengarah tepat ke arah saraf tulang belakang.
TING!
Bukan suara daging yang robek, melainkan suara logam yang menghantam baja. Xiao Chen tidak berbalik; ia hanya mengalirkan Qi ungu ke punggungnya, membentuk lapisan pelindung yang sekeras Inti Bumi.
"Hanya segini kekuatan 'elit' Aliansi?" Xiao Chen berbalik dengan gerakan yang sangat cepat, mencoba mencengkeram leher Ye Mo.
Ye Mo melompat mundur dengan lincah. "Sekarang!" teriaknya.
Dua belas pembunuh lainnya secara serentak melepaskan jaring-jaring kawat tipis yang terbuat dari Perak Langit. Kawat-kawat itu telah direndam dalam Racun Penghancur Qi, yang dirancang khusus untuk mematikan aliran energi di dalam tubuh pendekar. Jaring itu mengunci Xiao Chen dari segala arah.
"Kena kau!" Ye Mo menyeringai di balik topengnya. "Jaring ini akan menyerap energi racunmu dan membalikkannya padamu. Semakin kuat kau melawan, semakin cepat organmu hancur."
Xiao Chen berdiri diam di tengah jaring yang menjeratnya. Alih-alih panik, ia justru menarik napas dalam-dalam. "Menarik. Racun yang bisa memakan energi... sebuah penemuan yang lumayan. Tapi ada satu hal yang kalian lupakan."
Mata Xiao Chen bersinar ungu terang, lebih intens dari sebelumnya.
"Kalian tidak bisa meracuni lautan dengan setetes cuka."
BOOM!
Xiao Chen sengaja melepaskan kendali atas Qi beracunnya secara mendadak. Energi ungu yang meledak dari tubuhnya begitu masif sehingga jaring perak itu tidak sempat menyerapnya—mereka justru meledak berkeping-keping.
"Seni Racun Langit: Aliran Darah Hitam!"
Xiao Chen menghentakkan tangannya ke udara. Darah yang tumpah dari luka-luka kecil di tubuh para pembunuh akibat serpihan jaring tadi tiba-tiba berubah menjadi hitam dan membeku di dalam pembuluh darah mereka.
"Apa?! Tubuhku... aku tidak bisa bergerak!" salah satu pembunuh berteriak sebelum pembuluh darah di matanya meledak.
Xiao Chen melesat seperti kilat ke arah Ye Mo. Ye Mo mencoba menangkis dengan belatinya, namun Bai—ular perak Xiao Chen—melompat dari lengan tuannya. Bai berubah menjadi seberkas cahaya perak yang menembus jantung Ye Mo sebelum pria itu sempat bereaksi.
Ye Mo terhuyung, menatap lubang kecil di dadanya yang tidak mengeluarkan darah, melainkan uap ungu yang membakar. "K-kau... kau bukan lagi ahli racun... kau adalah...Penjahat..."
"Aku hanya seorang pemburu," balas Xiao Chen sambil berdiri di atas tubuh Ye Mo yang mulai melayu. "Dan Aliansi adalah mangsa yang sangat besar."
Satu per satu, para pembunuh elit itu tewas dalam keheningan hutan. Xiao Chen tidak meninggalkan jejak apa pun kecuali belati Ye Mo yang kini telah berkarat karena sentuhannya.
Ia memandang ke arah pegunungan di depan, di mana markas besar Aliansi Pusat berada. Pertemuan dengan Satuan Bayangan ini membuktikan bahwa Aliansi mulai menggunakan cara-cara kotor untuk menghentikannya. Namun bagi Xiao Chen, itu hanyalah bahan tambahan untuk memperkaya catatan di dalam bukunya.
"Lanjut, Bai. Masih banyak nyawa yang harus kita panen sebelum matahari terbenam."
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.