karya pertama ini sedikit tidak layak untuk di baca, takutnya kalian baca malah jadi pening kepala 😅
"kamu itu hanya istri keduaku, jadi jangan banyak bertingkah"
perasaanku hancur seketika mendengar ucapan suami ku sendiri.
mengapa takdir seolah ingin mempermainkan ku.
apa istri pertama nya tau bahwa suaminya telah menikah lagi, bagaimana perasaan nya kalau tau suaminya telah menikah dengan ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengalah
hampir satu jam mereka ada di toko itu.
Danu melihat Laras yang mulai lelah.
"kita pulang saja, lain waktu kita lanjutkan"
"tapi mas ini belum semua perlengkapan bayinya" dengan wajah lelah nya Laras masih ingin berlama-lama di tempat ini.
"iya nanti kita ke sini lagi" ucap Danu sedikit geram pada istri nya karena mulai berdebat lagi.
"tapi aku maunya sekalian aja sekarang"
Danu sudah emosi mendengar jawaban Laras, kali ini dia tidak boleh kalah. seperti waktu kejadian jalan-jalan memakai motor itu, Laras jatuh sakit karena masuk angin.
"yasudah kalau gitu kamu saja sendiri, mas ingin pulang capek" Danu sudah melangkah pergi meninggalkan Laras. namun laras mengacuhkan nya dan kembali memilih perlengkapan bayi.
darah Danu sudah benar-benar naik ke ubun-ubun nya. di tarik paksa lengan istri nya ke arah kasir.
"semuanya jadi 1 juta rupiah pak"
Danu menyerahkan kartu debit nya. dan mereka keluar dari toko itu dengan wajah cemberut Laras dan wajah marah Danu.
bukan apa-apa Danu Benar-benar kesal bukan main pada istri. kalian tau selama satu jam di dalam toko Laras hanya membeli 2 stel pakaian, 1 selimut bayi, gendongan bayi dan sweater. jika dia tidak ingat Laras sedang mengandung anaknya mungkin dia sudah memaki istrinya itu.
"merepotkan saja" batin Danu.
"mas Danu ini gimana sih kan aku belum selesai, masa nanti anak ku lahir aku cuma punya persiapan 2 baju, mana belum beli handuk lagi, terus kalau anak ku lahir handuk nya pakai apa ? pakai tisu gitu, kan gak mungkin" Laras terus menggerutu dalam hatinya.
"sebenernya mas itu senang gak sih bayi kita akan lahir" emosi Laras pada Danu.
Danu fokus menyetir namun masih menyempatkan untuk melirik istrinya yang sedang marah.
"astaga sabar Danu sabar" batin Danu sambil menenangkan Amarahnya.
tidak lama terdengar isakan dari istrinya.
Danu menghela nafas memarkirkan mobilnya di supermarket.
mengelus perjalanan kepala istrinya yang terbalut jilbab.
dengan sabar Danu memeluk istrinya menunggu hingga tangis istrinya selesai.
"mas aku haus" ucap Laras sambil menyeka air matanya.
"yasudah tunggu sebentar"
"ikut" dengan nada manjanya Laras menyenderkan kepalanya di lengan Danu.
Danu mengangguk mengiyakan.
Laras tersenyum bahagia karena niat terselubung nya berhasil.
belum sempat sampai di tempat minuman Laras berhenti di rak peralatan mandi bayi.
"mas tunggu sebentar"
merasa di panggil Danu kemabali berjalan ke arah Laras dan memperhatikan istrinya yang sedang serius memandangi jajaran peralatan mandi bayi.
"astaga istri ku mengerjai ku lagi'' batin Danu. dengan cepat Danu mengambil air minum dan kembali ke hadapan Laras.
"ayo pulang ini air minum nya sudah mas ambilkan"
"sebentar mas, anak kita butuh sampo, sabun, minyak telon dan yang lainnya" ucap Laras santai.
danu mengusap wajahnya dengan kasar.
"ayo kita pulang, nanti saja belianya"
Laras menatap Danu dengan pandangan sedihnya sudah bersiap untuk menangis.
"jangan lama" mendengar mas Danu mengijinkan nya Laras bersorak gembira dalam hatinya.
pasrah Danu berdiri di samping Laras dengan wajah masam nya.
"kenapa aku baru tau kalau istri ku semenyebalkan ini" batin Danu.
kali ini Danu lebih sedikit mengalah, karena istrinya tidak seperti di toko baju yang terus mundar- mandir kesana kemari membuatnya lelah.
''kalau menurut mas bagus merk yang mana" Laras mengangkat tangannya yang sedang memegang sabun dengan merk yang berbeda.
"tidak salah dia bertanya lagi padaku" batin ku lagi.
"mas jawab pilih yang mana" kesal Laras karena suaminya malah diam tidak menjawab.
"hmm yang kanan kayanya" Danu mencoba menjawab.
Laras kembali menatap rak di depannya.
"tapi yang ini lebih mahal mas mungkin lebih bagus" laras menunjukkan sabun dengan merk berbeda dari yang barusan.
"tuh kan benar" kesal Danu di dalam hatinya.
"lebih baik kamu tidak usah bertanya istri ku, karena kamu tidak memerlukan pendapat ku"
terdengar suara tawa pelan dari bibir laras.
Danu mengepalkan tangannya.
"seperti nya istri ku sedang mengerjai ku"
geramnya dalam hati.