Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
Lalu datanglah Mori.
Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Selasa pagi di SMA Garuda berarti satu hal yang paling dibenci Mori: Jam Olahraga. Bukan karena Mori malas, tapi karena olahraga berarti dia harus berada di area terbuka bersama Lian selama dua jam penuh. Ditambah lagi, hari ini Pak Dani, guru olahraga yang badannya kayak beton, mengumumkan materi tes kebugaran.
"Hari ini kita ambil nilai sit-up. Berpasangan! Satu melakukan, satu memegang kaki. Ganti-gantian!" seru Pak Dani sambil meniup peluitnya yang melengking.
Mori sudah bersiap-siap menarik lengan Jessica. Tapi, seperti sudah direncanakan oleh alam semesta yang hobi bercanda, Pak Dani tiba-tiba memotong.
"Jessica, kamu sama Alissa! Nadya sama... itu, Budi! Dan Mori," Pak Dani melihat catatannya, lalu menunjuk ke arah barisan belakang. "Lian, kamu sama Mori. Tadi saya liat kalian bareng pas hari Minggu di mall (Mama Mori ternyata sempat pamer ke grup wali murid), jadi harusnya sudah kompak!"
Mori rasanya ingin menghilang saat itu juga. Dia bisa melihat Lian, yang sudah melepas kaos olahraganya dan hanya memakai kaos dalam ketat (singlet) yang memperlihatkan lekuk otot bahunya—visual Gabriel Guevara yang bener-bener unreal. Lian berjalan pelan ke arah matras Mori dengan senyum kemenangan yang paling menyebalkan.
"Takdir, Mor. Jangan dilawan," bisik Lian pas dia sudah berdiri di depan matras Mori.
"Gue duluan yang pegang kaki lo," kata Lian. Dia langsung berlutut di ujung matras.
Mori menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang mulai berisik. Dia berbaring di matras, menekuk lututnya. Lian kemudian mencondongkan badannya maju, kedua tangannya yang besar dan kuat menggenggam pergelangan kaki Mori dengan mantap.
Begitu tangan Lian menyentuh kulitnya, Mori tersentak kecil. Tangan Lian terasa hangat, dan genggamannya sangat kokoh. Mori bisa melihat urat-urat di punggung tangan Lian—visual yang sering dipuja-puja teman-temannya, dan sekarang ada tepat di depan matanya.
"Ayo, Mor. Mulai. Gue hitungin," ujar Lian. Suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya karena jarak mereka yang dekat.
Mori mulai melakukan sit-up. Satu... dua... tiga...
Setiap kali Mori bangun ke posisi duduk, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Lian. Dia bisa mencium aroma parfum maskulin Lian yang bercampur sedikit bau matahari—aroma yang bener-bener "Lian banget". Dia juga bisa melihat mata gelap Lian yang menatapnya intens, nggak berkedip sedikit pun.
Memasuki hitungan ke-sepuluh, perut Mori mulai terasa panas dan badannya gemetar. Dia bukan atlet, dan sit-up adalah kelemahannya. Saat dia mencoba naik untuk hitungan ke-sebelas, badannya nggak sanggup. Dia tertahan di tengah-tengah, wajahnya hampir menempel di dada Lian.
"Duh, nggak kuat..." gumam Mori, mukanya sudah merah padam antara capek dan... malu.
Tiba-tiba, Lian melepaskan satu tangannya dari kaki Mori dan menahannya di belakang punggung Mori, memberi sedikit dorongan biar Mori bisa bangun. "Satu lagi, Mor. Lo bisa. Fokus ke gue aja."
Mori tertegun. Dorongan lembut di punggungnya itu bikin dia sukses naik ke posisi duduk. Tapi karena jaraknya terlalu dekat, hidung mereka hampir bersentuhan. Mori bisa merasakan napas Lian di kulit wajahnya.
"CIEEEE! MORI SALTING YA?!" teriak Jessica dari matras sebelah, diikuti tawa Nadya dan Alissa.
"Lian, jangan dipandangin terus anaknya! Nanti pingsan gara-gara love-bombing lo!" sahut Jojo dari kejauhan sambil ketawa ngakak.
Mori langsung menjauhkan wajahnya dan merebahkan diri kembali ke matras dengan cepat. Pipinya bener-bener kayak tomat rebus sekarang. Dia berusaha keras memasang muka datar, tapi gemetar di tangannya nggak bisa bohong.
"Berisik lo semua!" balas Lian ke arah teman-temannya, tapi dia nggak melepaskan tatapannya dari Mori. Dia justru tersenyum tipis, tipe senyum yang tulus, bukan senyum miring yang biasanya.
"Lo... pipi lo merah, Mor," bisik Lian pelan, hanya untuk didengar mereka berdua.
"Ini gara-gara capek! Jangan GR," ketus Mori, meskipun suaranya sedikit pecah. Dia langsung duduk dan mendorong tangan Lian dari kakinya. "Ganti. Sekarang gue yang pegang kaki lo."
Lian berganti posisi. Dia berbaring dengan santai di atas matras, seolah sit-up seratus kali pun bukan masalah buat dia. Mori berlutut di depan kaki Lian, mencoba menekan pergelangan kaki cowok itu dengan sekuat tenaga agar dia nggak kelihatan lemah.
Lian mulai melakukan sit-up dengan gerakan yang sangat cepat dan bertenaga. Setiap kali dia naik, dia sengaja berhenti sejenak tepat di depan wajah Mori, memberikan kedipan mata atau sekadar hembusan napas yang bikin Mori ingin memukulnya.
"Mor, lo tau nggak?" kata Lian di sela-sela hitungannya.
"Diem. Fokus aja," jawab Mori cuek.
"Nyokap lo beneran masak rendang lho kemaren. Dia ngirim foto ke WA gue," lanjut Lian sambil naik lagi ke posisi duduk.
Mori hampir saja melepaskan pegangannya. "Apa?! Kok lo bisa dapet nomor Nyokap gue?!"
"Gue emang punya cara, Mor. Apalagi buat orang-orang yang gue pengen deketin," Lian berhenti di depan wajah Mori, matanya mengunci mata Mori. "Termasuk lo."
Mori terpaku. Jantungnya bener-bener berontak sekarang. Dia ngerasa radarnya bener-bener meledak, tapi anehnya, kali ini bukan cuma sinyal bahaya yang keluar, tapi ada sesuatu yang lain—sesuatu yang bikin perutnya kerasa kayak ada kupu-kupunya.
"Woy! Malah pacaran! Lanjutin!" teriak Pak Dani dari ujung lapangan.
Mori langsung menunduk, menyembunyikan wajahnya yang makin memerah. Dia bener-bener benci situasi ini. Dia benci Lian yang bisa dengan mudahnya ngacak-ngacak pertahanannya. Dia benci fakta bahwa meskipun dia tau Lian itu red flag, tapi kontak fisik barusan bikin dia ngerasa... aneh.
Saat jam pelajaran selesai, Mori buru-buru lari ke ruang ganti. Dia membasuh mukanya dengan air dingin berkali-kali.
"Aduh, Mori... lo kenapa sih? Dia itu Lian. Inget Alina! Inget jari tengah! Inget dia itu cowok beracun!" Mori memarahi dirinya sendiri di depan cermin.
Dia mencoba mengembalikan "Mode Cuek"-nya. Tapi tiap kali dia menutup mata, dia masih bisa ngerasain hangatnya tangan Lian di kakinya dan gimana intensnya tatapan mata cowok itu.
Mori keluar dari ruang ganti dengan langkah tegas, tapi baru saja keluar pintu, Lian sudah berdiri di sana, menyandarkan punggungnya di tembok sambil minum air mineral. Rambutnya basah karena keringat, bikin visualnya makin mirip Gabriel Guevara di film-film.
Lian menyodorkan sebotol air dingin ke arah Mori. "Nih. Buat nedinginin pipi lo yang masih merah."
Mori menatap botol itu, lalu menatap Lian. Dia mengambil botol itu dengan kasar. "Makasih. Tapi bukan berarti gue nggak jutek lagi sama lo."
Lian tertawa kecil sambil berjalan pergi. "Gue suka lo yang jutek, Mor. Bikin gue makin penasaran gimana caranya bikin lo senyum buat gue."
Mori berdiri mematung. Dia menarik napas panjang dan meminum air pemberian Lian. Sialnya, air itu bener-bener seger, sama segernya dengan perasaan asing yang mulai tumbuh di hati Mori—perasaan yang seharusnya dia bunuh sebelum terlambat.