Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.
Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Awal
Aroma dedaunan yang lembab menghiasi Udara. Berjalan tanpa alas kaki, tergesek krikil aspal dan pasir jalanan. Dingin menusuk kulitnya yang terbuka.
Gaun putih pengantin yang telah rombeng dan kusam terkena dedebuan juga kotoran kota menghiasinya. Rupanya yang ayu tertutup oleh noda makeup yang luntur akibat air hujan juga air mata hangatnya.
Ia mendesis kecil. Masih menangis namun kini tidak ada air yang menetes dari kelopak mata yang indah itu.
Namanya Marisa Sartika Asih. Wanita berumur dua puluh tiga tahun. Hari ini ia ditimpa dengan bertubi-tubi masalah. Mulai dari dikeluarkan dari pekerjaan karena tidak sengaja menyenggol Vas bunga mahal yang menjadi pajangan didekat pintu masuk Cafe lalu juga pernikahan yang gagal karena Calonnya yang membatalkan dengan alasan dia lebih mencintai Anya Marina bay alias mantan Sahabat sejatinya ketimbang dirinya. Katanya Bara sudah ingin memberitahu hal itu jauh-jauh hari namun karena pekerjaannya yang tidak bisa ditinggal membuat ia mendadak batalkan pernikahan yang telah Marisa persiapkan Jauh-jauh hari. Sungguh miris nasibnya sekarang.
Ibunya yang lumpuh dikampung syok berat dan dilarikan dirumah sakit karena mendengar kabarnya.
Kini tujuannya adalah kamar kosnya. Untuk malam ini saja ia berteduh. Besok Marisa akan kembali ke kampung untuk selamanya. Ia tidak ingin menginjakkan kaki di kota ini lagi.
Banyak kenangan indah selama lima tahun bersama Bara. Marisa ingin melupakan itu semua dan move on. Sangat berharap nanti setelah lama dikampung halaman ia benar-benar melupakan Bara.
Hela nafas dihembuskan. Lelah berjalan kaki menuju ke kos kosannya yang sekarang saja masih lumayan untuk bisa sampai. Terlalu jauh, Marisa sudah lelah. Bahkan ia belum makan.
Langkah kakinya berhenti di sebuah halte yang tampak lampunya temaram. Ini sudah pukul sembilan malam dan halte itu sudah sepi karena memang jam bus terakhir adalah jam delapan pas. Kini sudah lebih satu jam. Jelas disitu sepi.
Marisa duduk disitu untuk termenung. Memandangi jalanan lalu bahunya bergetar. Ia sesegukkan lagi. Menangis tanpa air mata. " Kenapa gue sial banget sih?!" Ia menghentakkan kakinya tanah. Wajah ayunya terkena pancaran sinar lampu jalanan.
Kisah cintanya sekarang hanya tinggal kenangan saat-saat bersama dan ia ingin segera melupakannya.
Kurang apa dirinya? Marisa telah memberikan seluruh cintanya pada Bara. Sedih mengingat itu, tega sekali dia mengingkari janji-janjinya sampai dibuat sakit hati. Kini ia sadar bahwa cintanya tidak berarti untuknya. Sial! Dia buat banyak luka dan buat dirinya sekecewa itu. Dia memilih sahabatnya yang padahal jelas-jelas Anya mendukung percintaanya.
Marisa terkekeh gusar. Ia melirik pantulan dirinya dari genangan air dibawah kaki. Wah! Betapa menyedihkan dirinya. Kaya orang gembel sekarang. "Bara b4jingan!" Kedua tangannya meremas gaun putih lusuhnya.
Saat sedang asik mengumpat. Marisa dikejutkan dengan suara gesekan sepatu dan guncangan kecil dari kursi besi panjang yang ia duduki. Menoleh kekanan dan disana tatapannya langsung bertubrukan dengan bola mata hitam legam dari sipitnya mata itu. Terlihat tajam namun juga tergurat lelah.
"Hallo, "
Dahinya menyengkrit. Marisa merasa jika Pria itu aneh. Dari pakaiannya memang tidak aneh namun tiba-tiba menyapa itu anehnya. Disituasi seperti ini padahal dirinya sedang compang camping.
Pria itu menunduk. " Hidup ini memang menyebalkan ya?"
Eh kenapa mendadak bilang gitu? Atau dia dapat merasakan apa yang sedang ia rasakan? Marisa enggan menjawab karena sedang malas mengingat posisinya yang sedang tertimpa musibah bertubi ini.
" Gue ditipu cewek gue, dia bilang mau pergi kerumah sakit tempat ibunya dirawat eh ternyata ketemuan sama lima pacarnya. "
Marisa hanya bergeming. Masih enggan membuka mulutnya untuk membalas ucapan dia. Aneh banget! Cerita masalah pribadi ke orang asing. Dia nggak stress kan?
" Nyokap bokap gue, paksa gue lanjut kuliah di London. Padahal gue lebih suka lokalan. Menurut gue mau di luar maupun didalam negeri sama aja, toh sama-sama mencari ilmu. Huh!"
Eh, masih curhat lagi?
"Ditipu sama temen sendiri, uang buat keperluan sekolah eh ternyata buat jajanin pacarnya. Tch! Gamodal amat sih!" Ia mendesah lelah. " gua juga dijodohin sama nyokap bokap gue..."
Mendengar itu malah membuat Marisa bertambah puyeng. Kalau gini ia jadi tambah fikiran kan! Menoleh sebentar lalu berdiri dari duduknya.
Pria itu ikut menoleh lalu mendongak agar dapat melihat wajahnya. " Mau kemana? Bukannya lagi termenung? " Memandangi dari atas hingga bawah. "Masih pakai gaun pengantin. Tandanya Lo batal nikah ya?" Tebaknya.
Sial! Marisa berdecak lalu menatap tajam pria bersweater biru muda itu. Wajahnya babyface dengan wajah melas, aslinya iba melihat dia tapi karena sendang suntuk ia emosi. " Gausah ikut campur masalah orang! Dasar!" Menghentakkan kakinya lalu mengayunkan kakinya dengan cepat. Ia sedang ingin sendiri. Emosinya sedang tidak stabil makanya sendiri paling aman.
" Eh?" Menggaruk pipinya yang tidak gatal lalu tersentak saat melihat perempuan itu jatuh karena menginjak gaun pengantin lusuh itu.
Sudut bibirnya tertarik lalu mengulum senyum. Kedua matanya yang sipit terus memperhatikannya hingga perempuan itu menghilang dibalik jalan yang menurun.
Hela nafas dihembuskan. Ia menyandarkan tubuhnya disandaran kursi tunggu. "hah..."
...
Pagi harinya karena suara dari cicitan burung juga sengatan panas dari sinar matahari yang menelusuk masuk melalui celah-celah kecil. Marisa terbangun.
Langsung pandangan pertama saat ia duduk dan menguap kecil adalah pantulan dirinya dicermin depannya.
Dahinya menyengkrit. Kedua tangannya terangkat lalu menyentuh-nyentuh pipinya. " Gue berantakan." Fikirnya melayang pada kejadian kemarin.
Matanya berkaca-kaca. Terasa perih hingga menjatuhkan air mata. Marisa menunduk sambil menutup mukanya. Ia kembali sesegukan.
Sakit sekali hatinya. Ia hancur dan merasa bodoh dengan dirinya yang tidak menyadari jika Bara suka sama sahabatnya. Kalau tahu kan ia bisa putusin secepatnya!
Pagi ini selama dua jam Marisa menangis. Setelah itu berhenti karena perutnya berbunyi tanda minta diisi.
Dengan langkah gontai ia menuju kulkas mininya. Berharap ada isinya namun zonk tidak ada apapun disana selain sebotol air mineral lemon yang masih tersegel. Lalu kini beralih mencari pada lemari penyimpanan. Dan disana sama halnya seperti kulkas tadi. Kosong hanya ada kotak teh celup.
" Masa harus belanja dikeadaan yang kaya gini?" Kruyuk... Perutnya kembali berbunyi. Marisa menghela nafasnya. Mau tidak mau harus belanja ke market terdekat untuk memuaskan perut dulu baru pulang kekampung setelah berberes nanti.
Sebelum belanja ke market. Ia cuci muka dan sikat gigi terlebih dahulu agar fresh. Dan hal itu tidak butuh waktu lama. Ia mengganti pakaiannya dengan dress tosca soft sepanjang dibawah lutut. Rambutnya hitam panjangnya ia biarkan tergerai, kacamata hitam bertengger. Memakai itu agar ia bisa membaca dengan jelas karena matanya minus.
Dengan sedikit langkah panjang, Marisa menuju ke market terdekat ditemani kicauan burung.
Saat sampai di perempatan. Terdengar suara lenguhan di celah lorong gedung depan. Marisa menyengkrit.
Karena penasaran ia mendekat pada sumber suara. Keadaan jalan raya memang ramai dan pejalan kaki ada beberapa namun kenapa pada tidak ngeh?
Langkahnya berhenti didepan lorong. Disana ada pria bersweater biru muda dengan duduk bersandar pada dinding gedung. Merintih dan melenguh kecil dengan mata yang terpejam.
Marisa menoleh kanan kiri, ini serius tidak ada yang mau nolong dia?
Diperhatikan lagi sepertinya dia tertidur dan bergeliat dalam tidurnya. Hela nafas dihembuskan. Marisa mendekat lalu berjongkok disampingnya persis.
Tangannya dengan ragu mengguncangkan tubuh pria itu. " Hei? " Tidak ada sahutan dan dia masih bergeming tidak jelas. Marisa memutuskan mengguncang lebih keras. "hei!"
Kedua mata sipitnya langsung terbuka. "Hah!" Ia menerjap beberapa kali untuk menyesuaikannya pencahayaan lalu menoleh. Dahinya menyengkrit. "Lo yang semalam kan?" Suaranya serak khas bangun tidur.
Setelah difikit-fikir benar juga. Diakan yang semalam. Marisa mengangguk sambil mundur beberapa langkah. Ia memalingkan muka. " Jangan salah paham. Gue disini karena nggak sengaja dengar rintihan. Gue kasihan sama Lo, orang disekitaran pada nggak peduli sama Lo, makanya gue bangunin. Siapa tahu Lo lagi ketindihan. "
Ia menyodorkan tangannya kedepan. " Dalend Angkasarapu, mahasiswa berumur dua puluh tahun" Tersenyum kecil. Melihat penampilan perempuan didepannya yang terlihat lebih segar dari pada semalam. Ternyata dia semanis itu. Apalagi pake kacamata. "Gantian," merasa tidak direspon tangannya ia menarik kembali. Sama sekali tidak malu.
Marisa menyengkrit. " Gantian?"
" Nama Lo siapa sama umur berapa?" Tanyanya. Terdengar basa-basi yang menggoda tapi aslinya Dalend memang penasaran.
Hela nafas dihembuskan. Marisa membalasnya dengan ogah-ogahan. " Marisa Sartika Asih, umur dua tiga. " Berniat ingin beranjak dari tempatnya karena keburu laper namun tangannya dicekal oleh Dalend.
" Mau kemana?"
Marisa malas berurusan dengan anak puber. " Mau ke market, " melirik tangannya yang digenggam. "Lepas genggamannya,"
Dalend menggeleng. " Nggak mau,"
Sebal! " Eh apa-apaan sih Lo!?" Menyentak tangannya agar terlepas dari genggaman Dalend. Tapi naas karena lemah belum terisi makanan ia tidak bisa melepas genggaman tangan Dalend.
"Ikut gue plis," terlihat memelas.