NovelToon NovelToon
Ibu Susu Bayi Sang Duda

Ibu Susu Bayi Sang Duda

Status: tamat
Genre:Duda / Janda / Selingkuh / Ibu Pengganti / Menikah Karena Anak / Ibu susu / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Hari yang seharusnya menjadi momen terindah bagi Hanum berubah menjadi mimpi buruk. Tepat menjelang persalinan, ia memergoki perselingkuhan suaminya. Pertengkaran berujung tragedi, bayinya tak terselamatkan, dan Hanum diceraikan dengan kejam. Dalam luka yang dalam, Hanum diminta menjadi ibu susu bagi bayi seorang duda, Abraham Biantara yaitu pria matang yang baru kehilangan istri saat melahirkan. Dua jiwa yang sama-sama terluka dipertemukan oleh takdir dan tangis seorang bayi. Bahkan, keduanya dipaksa menikah demi seorang bayi.

Mampukah Hanum menemukan kembali arti hidup dan cinta di balik peran barunya sebagai ibu susu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Kotak bekal

Rumah keluarga Biantara terasa ramai seperti biasa, namun Abraham sudah bersiap lebih awal. Jas hitamnya rapi menempel di tubuh, dasinya sempurna, sepatu hitamnya mengilap. Ia melangkah cepat menuruni tangga, menoleh sekilas ke arah ruang makan yang masih terisi penuh dengan aroma roti hangat dan teh, tetapi tak sempat duduk.

“Asisten saya sudah menunggu, saya berangkat sekarang,” katanya singkat pada ibunya yang masih sibuk berbicara dengan pelayan.

Siska menghela napas, sudah biasa anaknya begitu. “Jangan lupa makan siang, Bian.”

Abraham hanya mengangguk, tangannya meraih map kerja, lalu berjalan cepat menuju pintu utama.

Di halaman depan, mobil hitam mewah sudah menunggu dengan sopir pribadi dan asistennya. Abraham hendak membuka pintu belakang ketika terdengar suara berlari dari dalam rumah.

“Tuan Bian!” suara Hanum memanggil lantang tetapi terdengar lembut. Nafasnya sedikit memburu karena berlari kecil membawa sesuatu di tangannya.

Abraham spontan menghentikan langkah, keningnya berkerut. Tatapannya beralih ke arah Hanum yang tergopoh mendekat dengan kotak makan kecil berbalut kain.

“Ada apa?” tanyanya datar, meski sorot matanya menahan heran. Hanum tersenyum tipis, meski wajahnya masih merah karena terburu-buru. Dia menyerahkan kotak itu dengan kedua tangannya.

“Ini … bekal untuk Tuan. Saya tahu tadi Tuan tidak sempat sarapan. Mungkin bisa dimakan di mobil. Tolong jangan lewatkan, meskipun hanya roti, perut tetap harus terisi.”

Abraham terdiam, tatapannya turun pada kotak bekal itu, lalu naik lagi ke wajah Hanum yang begitu tulus. Ada kehangatan aneh menjalari dadanya.

“Asisten saya bisa membelikan sesuatu di jalan,” katanya mencoba tetap dingin.

“Tetapi … makanan dari rumah lebih sehat,” sahut Hanum pelan, hampir ragu, namun matanya tetap berani menatap. “Saya tidak ingin Tuan jatuh sakit.”

Seketika Abraham tidak bisa berkata-kata. Kata-kata sederhana itu, ketulusan yang tak dibuat-buat, membuatnya merasakan sesuatu yang sudah lama ia lupakan sejak lama, perhatian Hanun itu tulus untuknya. Dia meraih kotak itu, jemarinya sempat bersentuhan dengan jemari Hanum. Singkat, tapi cukup membuat Hanum tersentak menunduk malu.

“Baiklah.” Suara Abraham terdengar lebih lembut dari biasanya. “Terima kasih, Hanum.”

Hanum mengangguk, tak berani menatapnya lagi. Abraham sempat menoleh sebentar sebelum masuk ke mobil. Senyum samar muncul di wajahnya, nyaris tak terlihat, tapi nyata. Asistennya yang duduk di depan sempat melirik dari kaca spion, matanya terbelalak kecil. Belum pernah ia melihat atasannya menerima sesuatu dengan ekspresi seperti itu.

Mobil melaju keluar halaman. Dari teras, Hanum berdiri diam, memegangi dadanya yang berdegup cepat. Kotak bekal sederhana itu kini ikut membawa sepotong rasa hangat yang mengikat di antara mereka.

Mobil berhenti di basement gedung perusahaan Biantara Group. Abraham turun dengan langkah mantap, asistennya segera mengikuti di belakang sambil membawa berkas-berkas penting. Mereka masuk ke lift pribadi tanpa banyak bicara, hanya suara ting lift yang mengisi keheningan.

Sesampainya di lantai paling atas, Abraham masuk ke ruangannya yang luas, berisi meja kerja besar dari kayu jati dan rak buku penuh dokumen. Asistennya meletakkan berkas-berkas di atas meja, lalu melirik ke arah kotak bekal yang sejak tadi Abraham biarkan begitu saja.

“Tuan … bekalnya tidak dimakan dulu? Nyonya pasti menyiapkannya dengan tulus,” ucap sang asisten hati-hati, mencoba mencairkan suasana. Alis Abraham langsung berkerut. Dia menatap asistennya dengan dingin.

“Siapa yang bilang aku minta bekal itu?” suaranya datar, tapi ada ketegasan yang membuat orang lain sulit melawan. Asistennya menelan ludah.

“Saya hanya … melihat bagaimana Nyonya Hanum berlari sampai terengah-engah tadi. Itu bukan hal kecil, Tuan. Jarang ada orang yang memperhatikan Tuan sedetail itu.”

Abraham menghela napas panjang, memalingkan wajahnya ke jendela kaca besar di belakang meja kerjanya. Jakarta terlihat ramai dari sana, tapi pikirannya justru berantakan.

“Tidak usah ikut campur urusan pribadiku. Saya tidak punya … perasaan apa pun pada Hanum.”

Asisten itu terdiam, tahu atasannya tidak suka dibantah. Namun, matanya melirik kotak bekal di meja. Ia berniat meraihnya. “Kalau begitu … saya buang saja, Tuan...”

“Letakkan.” Suara Abraham tiba-tiba berat. Pandangannya tajam menusuk, membuat asistennya terhenti kaku. “Urus saja pekerjaanmu, jangan sentuh apa pun yang bukan milikmu.”

Suasana mendadak tegang. Asisten itu mengangguk cepat, “Baik, Tuan,” lalu mundur.

Abraham menatap kotak bekal itu lama sekali. Ada perasaan bergejolak dalam dirinya, antara ingin mendorong jauh-jauh atau justru membukanya. Tetapi, demi menjaga dirinya tetap keras, ia memilih menekan tombol interkom.

“Keluar, jangan ganggu aku sebelum jam meeting.”

“Ba ... baik, Tuan.”

Pintu tertutup, Abraham akhirnya sendirian di ruangannya yang hening itu hanya ada suara jam dinding yang terdengar. Dia menatap kotak bekal itu lagi, tangannya sempat terulur, tapi berhenti di udara. Rahangnya mengeras, hatinya memberontak, tapi matanya jelas-jelas memantulkan sesuatu yang berbeda, keinginan yang ia sendiri enggan akui.

Ketika kotak itu dibukanya, isinya membuat dia tersenyum, roti dengan selai coklat yang cukup sederhana. Bahkan, Abraham jarang memakan itu, dia sudah bisa menebak rasanya pasti biasa-biasa saja.

"Ini terlalu enak," gumam Abraham saat gigitan pertama, dia bingung bagaimana itu bisa terlalu enak sedangkan bentuknya cukup sederhana.

1
tattoo
seru
Farida Dalle
Terimakasih thor, ceritanya bgs, bnyk yg bisa dipetik dn dijadikan contoh dlm kehidupan sehari2 ttng bgmn kita hrs menerima dn selalu bersyukur ats segala yg Allah berikan dan takdirkan, ttp semangat yah thor, dan semoga ttp mendapat insfirasi yg wow utk setiap krya2nya ke depan💪🥰
Aisyah Alfatih: aamiin 🤲
total 1 replies
Farida Dalle
Maka dari itu Galuh, selagi kita punya hrs bersyukur, krn hukum alam mmng demikian adanya"klu sdh tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga, 🎼hehe
Farida Dalle
Perempuan koq enteng banged selalu mengangkat tangannya untuk menampar, apalgi menampar suami, sabar betul si Gali, tdk marah pas ditampar, duhhh
Farida Dalle
Menurutku, ini agk lucu krn Abraham sendiri mengakui klu dia yg menguburkan Alma, tp pas ada yg mirip,msh bimbang dn ragu... duh pak ceo, gmn ini??? butuh healing keknya, haha
Kania Rahman
👍👍💪💪 sehat selalu 👍👍
Nel Mudia
Thor kaya y ada orang suruhan rania yg mirip alma deh biar keluarga kecil Abraham dan Hanum goyah tapi tolong Thor jangan biarkan ada org ketiga masuk y kasian hanum
Syalari sholeh
apa bedanya dengan mu bram?
Deistya Nur
cerita ga bertele2 dan menarik, sukses sellu ka 👍😘
ditunggu karya terbarunya 😘
Amalia 3
cie dapat ciuman pertama dari Abraham.. 🤩
pasti Hanum kaget
Amalia 3
syokoooorin dapat istri lintah darat.. yang bisanya foya foya . udah tau dapat batu kerikil malah seneng.. emang enak.. tunggu sebentar lagi miskin🤩
Rungguan Siregar
yah penyesalan datangnya selalu terlambat, Galih puzinggg
Rungguan Siregar
adem rasanya jika mereka berdua saling menyanyangi
Rungguan Siregar
nah itu suka tegas Abraham... jangan kendur
Rungguan Siregar
Abraham sudah tau semuanya semoga sikap dan nalar yg tegas bisa membongkar tipuan rania
Rungguan Siregar
wah.. bisa juga romantis dia dan runtuhlah benteng pertahanan yg beku selama ini
Rungguan Siregar
nah begitu cocoknya sikap Abraham, tegas dan berwibawa dan tak mudah di goyahkan... ayooo keluarkan logika mu abraham
Rungguan Siregar
Abraham gk jentel, malam nya romantisan sm Hanum, eh siangnya malah mau cari tau alma, tp mmg harus begitu biar ceritanya panjangan
Rungguan Siregar
Abraham sedang halusinasi diantara 3 wanita yg tak bisa dia bedakan
Rungguan Siregar
alma kemungkinan tdk mati, semua permainan Rania, mgkn sewaktu melahirkan Rania buat sandiwara mengatakan Rania meninggal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!