Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
APA YANG KAMU SEMBUNYIKAN, MAS?!
“Mana pemilik restoran ini?! Panggil dia ke sini sekarang juga!”
Teriakan Dini menggema di dalam restoran, mengoyak ketenangan siang itu. Suaranya melengking dan penuh amarah. Ia berdiri di tengah ruangan, matanya liar menyapu setiap sudut ruangan seperti sedang mencari mangsa.
Ia tahu, kakak tirinya itu tak mungkin berada di rumah hari ini. Oleh karena itulah ia memutuskan untuk pergi ke restoran hanya dengan kedua orangtuanya.
Para pelayan yang sedang sibuk melayani pelanggan tampak gelisah. Langkah mereka terhenti, tatapan mereka saling bertukar bingung. Sementara beberapa pengunjung mulai berbisik—sebagian bahkan terlihat jengkel, merasa terganggu oleh kegaduhan tak terduga itu.
Tak lama, seorang pria muda yang merupakan manajer restoran sekaligus orang kepercayaan Maira, melangkah mendekat. Wajahnya berusaha tetap tenang meski jelas terlihat raut tak nyaman di sana.
“Maaf, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?" Tanyanya sopan.
“Saya adiknya Maira! Panggil bos kalian ke sini sekarang juga!” Nada suara Dini melengking tinggi, tajam seperti cambuk. Tangannya berkacak pinggang, wajahnya merah padam, siap menerkam siapa pun yang berani membantah.
Manajer muda yang berdiri di hadapannya tampak ragu. Matanya sempat menilai sosok di depannya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Ia bingung dengan gaya dan penampilan wanita itu jauh dari citra elegan pemilik restoran tempat ia bekerja. Maira selalu rapi, berkelas, dan berwibawa. Sementara wanita di depannya kini berteriak-teriak, berantakan, dan terlihat seperti membawa badai.
Melihat keraguan itu, Dini tersulut. “Kenapa?! Kamu pikir saya bohong?! Nggak percaya saya ini adiknya?!” Suaranya naik satu oktaf.
Manajer itu berusaha tetap tenang, meski suaranya terdengar sedikit gugup. "Ma-maaf, Mbak. Tapi bos saya sedang tidak berada di tempat saat ini.”
Dini mendengus. “Alah, bilang aja dia ngumpet di belakang, kan? Memang dasar pengecut! Berani manggil polisi buat nangkap suami saya, tapi nggak berani hadapin saya langsung!”
Seketika sebuah suara tajam terdengar dari arah belakang restoran. “Siapa yang kamu bilang pengecut?”
Suara itu dingin, namun cukup lantang hingga membuat ruang makan restoran seketika hening. Semua kepala serempak menoleh ke arah sumber suara.
Maira melangkah masuk dengan langkah mantap. Hijabnya yang meski belum terpasang sempurna justru memperkuat aura ketegasannya. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menyala seperti bara. Di belakangnya, empat orang petugas keamanan restoran mengikuti dengan sigap, membuat kehadirannya terasa semakin mengintimidasi.
Ia berhenti tepat di depan Dini, berdiri anggun namun tegas. “Kalau kamu memang ada urusan denganku, ikut aku ke ruanganku!"
Namun Dini hanya mendengus, menoleh ke arah pengunjung restoran yang mulai membentuk bisik-bisik kecil di meja mereka.
“Kenapa, Mbak?” Katanya dengan suara lantang. “Takut semua orang di sini tahu kejahatan pemilik restoran besar ini? Takut mereka tahu kalau pemilik restoran ini tega—” ia menekankan kalimatnya, “menjarain keluarga sendiri cuma gara-gara uang?!
Dini kembali bersuara dengan lantang, matanya menyala. “Aku mau kamu cabut laporan itu! Mas Bayu suami aku, Mbak! Dia bukan maling, dia cuma… butuh uang!”
Maira melangkah maju satu langkah, tenang dengan senyum tipis yang tak membawa kehangatan sedikit pun. “Oh, jadi sekarang maling itu disebut ‘cuma butuh uang’?” Gumamnya lalu terkekeh pendek—dingin dan sinis, lebih mirip ejekan daripada tawa.
Tatapannya menusuk lurus ke arah Dini.
“Dengar baik-baik Dini, Aku nggak punya waktu untuk debat dengan orang yang lebih sibuk cari pembenaran dengan orang yang nggak punya otak kayak kamu!" Nadanya rendah, tapi penuh tekanan yang mengguncang.
“Kalau kamu mau suami kamu bebas—balikin uangku enam puluh lima juta. Tunai. Hari ini juga!” Maira menekankan setiap kata terakhir dengan jeda yang dingin.
Selanjutnya Maira memberi isyarat kecil dengan tangannya ke arah satpam. “Keluarkan dia dari restoranku!"
Satpam segera mendekat. Dini mundur satu langkah, shock—wajahnya merah padam antara malu dan marah.
Pak Bowo dan Bu Susi yang sedari tadi berdiri di belakang Dini ikut tersentak. “Maira! Kamu tega?" Pekik Bu Susi, menahan satpam yang mulai berjalan.
Maira menoleh singkat ke arah ibunya. Tidak ada emosi di matanya. “Sudah cukup, Bu.” Nadanya tenang, tapi dingin seperti angin tajam menusuk tulang. “Seperti yang aku bilang, kalau ibu memang lebih memilih membela menantu ibu yang mencuri uangku dan menghancurkan proyekku, lebih baik ikut saja dengannya ke penjara.”
Ruangan seketika sunyi. Hanya suara AC dan bisik-bisik pengunjung yang masih duduk terpaku di kursi mereka.
Maira memejamkan mata sejenak. Entah ia sudah berubah menjadi anak durhaka atau bukan, ia tidak peduli. Batas kesabarannya sudah benar-benar lewat.
Tanpa menunggu reaksi, Maira membalikkan badan dan melangkah pergi, meninggalkan ruangan dengan kepala tegak. Di belakangnya, suara langkah kaki satpam mulai menggiring Dini keluar restoran. Para pelanggan masih terdiam, menyaksikan drama keluarga yang tak lagi bisa disembunyikan.
____
Maira pulang ke rumah menjelang magrib. Wajahnya sungguh terlihat sangat letih. Hijab yang ia kenakan tadi siang sudah dilepas dan hanya diletakkan begitu saja di atas sofa. Ia berjalan lambat menuju dapur, menuang segelas air, lalu duduk di kursi makan sambil memejamkan mata.
Tak lama, Farid yang sudah pulang sejak tadi sore muncul dari kamar. “Kamu udah pulang?" Tanyanya pelan.
Maira hanya mengangguk. Ia menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara rendah namun serius. “Mas… aku mau ngobrol sebentar.”
Farid mengangguk dan ikut duduk di seberangnya.
“Aku berencana mau pakai dulu tabungan kita yang di rekening bersama untuk lanjutin proyek pembangunan restoran sebelah." Ucap Maira tanpa basa-basi.
Tak ada pilihan lain. Ia tahu, mengandalkan uang pengganti dari Bayu hanya akan jadi mimpi yang entah kapan terwujud. Sementara proyek tetap harus berjalan, material harus dibeli ulang dan juga tukang harus dibayar.
Sebenarnya Maira masih memiliki tabungan pribadi, tapi ia merasa lebih adil dan bijak jika menggunakan tabungan bersama. Karena toh restoran itu juga akan jadi bagian dari masa depan mereka berdua, pikirnya.
Sementara Farid yang mendengar permintaan Maira langsung tersentak. Gerakan tubuhnya berubah. Ia yang semula bersandar santai, kini menegakkan punggung dengan canggung. Wajahnya mendadak terlihat gelisah.
“A-aku pikir..." Farid membuka suara, ragu. “Kenapa kamu nggak pakai tabungan pribadi kamu dulu aja, Mai?”
Maira mengangkat alis, sedikit bingung. “Kenapa, Mas?”
Farid berusaha tersenyum, meski wajahnya tampak tertarik tegang. “Maksudku… itu kan restoran kamu. Bukan proyek kita berdua. Jadi, ya… lebih baik kamu pakai uangmu sendiri dulu. Biar tabungan kita tetap aman.”
Sejenak ruangan terasa sunyi. Hanya suara detik jam yang terdengar, berdetak pelan tapi terasa menghentak bagi Maira.
“Oh…” Ucapnya pendek, dengan anggukan kecil tanpa kata lanjutan. Lalu ia berpaling, menyesap air putih yang sejak tadi tak tersentuh di atas meja.
Di balik ketenangannya, pikirannya sudah mulai bekerja. "Apa yang kamu sembunyikan, Mas?" Pertanyaan itu berputar di kepalanya.
Ia bisa saja memaksa sekarang, mendesak Farid untuk jujur. Tapi untuk kali ini—ia ingin melihat sendiri. " Mungkin besok pagi. Aku akan cek langsung ke bank." Batinnya mantap.
Sementara Farid hanya menunduk, pura-pura sibuk memainkan ponsel yang berada di tangannya untuk menghilangkan kecurigaan Maira padanya.