NovelToon NovelToon
Kaisar, Pelayan Hanya Ingin Menjalankan Misi!

Kaisar, Pelayan Hanya Ingin Menjalankan Misi!

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Pembaca Pikiran / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:17.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zhuzhu

Mei Zhiyi dipindahkan ke sebuah dunia kuno oleh sistem setelah mengalami insiden penembakan di markas militer.

Dia diubah menjadi seorang pelayan istana yang akan segera mati karena telah menyinggung seseorang di istana yang dalam.

Untuk mencegah kemusnahan karakter asli, Mei Zhiyi diminta melakukan serangkaian misi penyelamatan diri.

Namun ketika dia bertemu dengan Liu Yan, Kaisar penguasa dinasti yang sangat ditakuti dan sukar diajak kompromi, sistem tiba-tiba berkata: Taklukan dia, cegah dia jadi iblis tiran atau kau akan mati!
***
"Mentang-mentang seorang Kaisar, suka sekali menyuruh-nyuruh bawahan," Mei Zhiyi menggerutu dalam hati.

Kaisar tiba-tiba bertitah, "Pelayan Mei menghina atasan. Hukum cambuk lima kali!"

"Dasar Kaisar jahat. Aku mengutukmu impoten sampai mati!" Mei Zhiyi berseru dalam hatinya.

Tiba-tiba Kaisar menariknya ke tempat tidur dan berkata, "Beraninya kau mengutukku! Akan kubuktikan padamu apakah aku impoten atau tidak!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 19: TAK PERLU MERASA TERTEKAN

Keesokan paginya, Mei Zhiyi bekerja seperti biasa. Pagi-pagi sekali dia sudah mengantarkan makanan ke dalam Aula Zhaoyang dan melayani Liu Yan saat sarapan.

Kali ini Liu Yan tidak lagi menunda makan. Dia langsung menyantap hidangan begitu selesai bersiap-siap.

Semalam apinya sangat besar. Seharusnya tidak ada yang melihatku, kan?

Mata Liu Yan mengerling begitu dia mendengar sesuatu yang mengejutkan. Ah, jadi semalam itu ulah Mei Zhiyi ternyata. Saat bangun tidur tadi, Li Dezai melapor bahwa semalam Istana Shuning kebakaran dan apinya cukup besar. Api itu baru bisa dipadamkan setelah satu jam kemudian.

Ia pikir itu hanya kecelakaan karena angin di penghujung musim dingin masih cukup kencang untuk menjatuhkan sebatang lilin. Tapi ternyata, itu ulah manusia.

Pelakunya bahkan berdiri di sampingnya dengan suara yang sangat berisik. Jika seperti ini, apakah dia bisa dikatakan tidak berbakti?

Liu Yan kemudian menertawakan dirinya sendiri. Bakti, itu adalah sebuah kata yang menjadi simpul rumit dalam hatinya.

Sejak dia bisa mengingat, kata ‘bakti’ seolah telah dipahat di dalam hatinya dan ditempel di matanya sepanjang waktu. Kata itu pernah menjadi motivasinya, juga pernah menjadi pisau yang menusuknya sangat dalam.

Seperti apa sebenarnya sebuah bakti itu dan bagaimana rasanya ketika bakti itu diterima?

Liu Yan tidak tahu, dan mungkin tidak akan pernah mengalaminya. Kata itu punya arti ganda yang terlalu mahal untuk ditebus olehnya.

“Kau kenapa? Menjadi bisu karena semalam aku mengganggumu?”

“Suaraku masih ada. Yang Mulia, aku mana berani mengeluh terhadapmu.”

“Pembohong. Wajahmu itu jelas menuliskan kata tidak puas padaku.”

“Kenapa Yang Mulia suka sekali menebak pikiran orang? Belum tentu itu benar. Yang Mulia, kebiasaan Yang Mulia dalam berprasangka harus dikurangi.”

“Apa kau sedang mengajariku cara bersikap?”

“Tidak sama sekali. Aku tidak berani.”

“Kau berisik dan membuatku tidak lagi berselera makan. Gaji bulan ini dipotong seperempatnya!”

Mata Mei Zhiyi menyiratkan ketidaksetujuan. Kenapa gajinya harus dipotong?

Sedari tadi dia diam saja, tidak bersuara karena tidak mau mengganggu sesi makan Liu Yan. Liu Yan sendiri yang memulai percakapan, kenapa pula harus dia yang akhirnya dipotong gaji?

Benar-benar bos otoriter. Jika seperti ini aku benar-benar ingin meminumkan sup goji beri itu untuknya.

Sup goji beri lagi. Li Dezai juga memberikan laporan kalau malam tadi sebelum kebakaran, Ibu Suri telah mencambuk mati seorang pelayan. Masalahnya dari sup goji beri tersebut. Karena kesalahan memberi informasi, pelayan itu dicambuk sampai mati oleh Ibu Suri.

Omong-omong soal itu, aku memang harus berterima kasih padanya. Jika dia tak marah karena aku menyajikan sup itu, sekarang mungkin aku dalam bahaya. Siapa yang akan berani menuduh seorang Ibu Suri ketika Kaisar mengalami masalah hilang kendali dan berperilaku tidak pantas?

Ada sebuah pukulan yang sepertinya sampai ke kepala Liu Yan. Dia pikir, Mei Zhiyi tidak akan berurusan dengan orang-orang itu jika dia dipindahkan kemari. Namun ternyata dia salah. Tidak peduli dipindahkan ke manapun, orang-orang itu masih saja melibatkannya.

Tampaknya Mei Zhiyi menemukan ada benda kotor di dalam sup kemarin. Jika sampai dia meminumnya dan terjadi sesuatu yang buruk padanya, orang pertama yang akan disalahkan adalah Mei Zhiyi sebagai pengantar makanan. Dia bisa saja menanggung tuduhan meracuni Kaisar dan pasti dihukum mati.

“Mei Zhiyi,” panggil Liu Yan.

“Ya, Yang Mulia?”

“Jangan merasa tertekan. Kau tidak perlu merasa ketakutan bekerja di sampingku.”

Tidak banyak orang tulus di dunia ini. Bahkan di istana miliknya sendiri, berapa banyak yang benar-benar setia kepadanya?

Susah payah dia menemukan orang yang menarik, dia tidak mau orang itu hilang juga. Mei Zhiyi ini bukan hanya menarik, tapi juga misterius. Liu Yan seolah melihat ada sisi misterius dari dirinya yang harus dia telusuri.

“Jika aku tertekan, apa Yang Mulia akan berbelas kasih melepaskanku?”

Jika bisa keluar istana secara resmi, aku tak perlu menunduk khawatir tidak punya pekerjaan lagi. Nanti menyamar saja dan ikut seleksi tentara.

“Ingin berhenti bekerja dan keluar istana? Jangan harap. Wanita yang masuk istana sebagai pelayan tidak akan bisa keluar.”

Mei Zhiyi tentu tahu. Dia mengenal istilah semua wanita istana adalah milik Kaisar.

Dia hanya sembarang berpikir menyiapkan rencana jika suatu saat dirinya bisa keluar dari sangkar emas ini. Dia tidak mengira Liu Yan begitu mengikatnya, seolah tidak mau dia pergi.

“Aku hanya pelayan, semuanya mengikuti pengaturan Yang Mulia. Selama aku masih bisa hidup, melayanimu adalah tanggung jawabku.”

“Baguslah jika kau sadar. Mulai sekarang, kau tidak perlu lagi menjadi pengantar makanan.”

“Aku dipecat?”

“Tidak. Mulai hari ini kau jadi pelayan pribadiku.”

Pelayan pribadi? Bukankah hanya Li Dezai yang selama ini bisa menjadi pelayan pribadinya? Kenapa dia hari ini? Mungkinkah dia merasa bahwa kejadian kemarin sangat berbahaya dan tidak ingin aku dilibatkan lagi? Tapi tidak apa-apa. Menjadi pelayan pribadinya akan memudahkan semua urusanku.

Itu benar. Liu Yan tidak memungkirinya. Dia tidak mau Mei Zhiyi tanpa sengaja terlibat lagi dalam sesuatu yang direncanakan orang lain.

Hanya dia yang berhak menentukan apakah Mei Zhiyi harus terlibat atau tidak. Membawanya ke sisinya memang sangat berbahaya, tapi di sanalah tempat yang paling aman untuknya.

“Kalau begitu, pelayanmu ini menuruti perintah.”

Liu Yan kemudian berdiri. Ia merapikan pakaiannya sebentar sebelum pergi.

Hari ini adiknya akan masuk istana lebih awal dari perkiraan. Dia harus menyambutnya dengan baik, melihat sejauh mana sebuah ambisi yang dipaksa padam mengubah seseorang.

“Ikutlah denganku.”

“Ke mana?”

“Pengadilan istana.”

“Bukankah itu tidak baik? Yang Mulia, jika kau membawa seorang pelayan wanita ke dalam aula suci, kau akan dikritik.”

Liu Yan sempat tersenyum singkat. Masih ada orang yang peduli soal dia akan dikritik atau tidak rupanya.

“Aku adalah Kaisar-nya. Kalau aku tidak tahan dengan kritikan, kursiku kuberikan saja pada orang lain.”

Lagi pula, siapa yang akan memedulikan seorang pelayan? Para menterinya tidak akan punya waktu memperhatikan Mei Zhiyi.

Mereka kemungkinan akan lebih fokus melihat apa yang akan terjadi saat dia bertemu dengan adiknya nanti. Itu jauh lebih menarik daripada mempermasalahkan seorang pelayan.

“Karena Yang Mulia yang menjamin, kalau begitu aku ikut saja.”

Sekalian, aku juga ingin melihat seperti apakah rapat pimpinan dengan para bawahannya di zaman ini. Seharusnya sangat menarik seperti yang digambarkan dalam drama, kan?

Setelah mendengar itu, Liu Yan lalu berjalan lebih dulu. Li Dezai menyusul, kemudian Mei Zhiyi juga mengekori di belakang.

Sampai di aula pengadilan, semua orang telah berkumpul. Seragam mereka merah dan ungu, menandakan perbedaan antara pejabat sipil dengan pejabat militer.

Beberapa orang terlihat mengernyit saat melihat seorang pelayan wanita mengekori Li Dezai memasuki aula. Tapi mereka takut dan tak kuat menahan aura Kaisar yang begitu luar biasa. Perhatian mereka dalam waktu singkat langsung tertuju pada Liu Yan, pada segala kewibawaannya yang tidak tertandingi.

“Kaisar panjang umur, sehat selalu, negara makmur!” ucap mereka serentak sesaat setelah Li Dezai mengumumkan kedatangan Liu Yan.

“Para menteriku, berdirilah.”

Mei Zhiyi terkesima. Dalam beberapa detik pertama dia terdiam melihat betapa kompaknya orang-orang ini mengucapkan salam panjang umur untuk Liu Yan.

Sanjungan yang begitu agung itu jelas dapat membuat hati siapapun menjadi hangat dan rawan tinggi hati. Pantas saja ada begitu banyak orang yang menginginkan kursi naga itu.

Dia saja sulit menghindari perasaan itu. Namun, Liu Yan tampaknya tidak tertarik pada sensasi disanjung seperti itu.

Raut wajahnya begitu tenang, menatap menterinya satu per satu seolah sedang mengabsen. Aula ini dingin, sedingin hati orang-orang yang tak ragu melakukan segalanya demi sebuah keuntungan.

“Beberapa hari yang lalu aku tak sengaja memotong jari Ming Zheng dan mengusir mereka dari ibu kota. Perdana Menteri, sudahkah kau menemukan kandidat yang cocok untuk menggantikan posisinya?” tanya Liu Yan.

Kekuatannya kuat sekali. Dia bahkan dapat mengucapkan perkataan halus untuk mengungkapkan sebuah tindak kekerasan yang telah ia lakukan. Apakah semua kaisar di sebuah dinasti memang suka sedingin ini?

Liu Yan sempat melirik Mei Zhiyi sebentar setelah mendengar pemikiran itu. Tatapan matanya kembali lagi pada Li Sheng, sang perdana menteri yang merupakan seorang menteri veteran. Wajah itu begitu membosankan. Janggut pendek dan kumis tipisnya membuat dia terlihat seperti seorang preman berseragam.

“Saya tidak berani menunda perintah Yang Mulia. Chu Rongyu dari kantor Jingzhao memiliki karakter baik dan jujur, juga pekerja keras. Menteri tua ini memohon agar Yang Mulia menunjuknya sebagai Wakil Menteri Pendapatan yang baru,” ucap Li Sheng penuh kerendahan hati.

“Chu Rongyu? Sarjana baru tahun kemarin? Menurutmu, apakah pengalamannya sudah cukup?” sela Menteri Hukum, Luo Wenfu.

“Meski karakternya baik, dia harus punya pengalaman yang cukup untuk memegang posisi tinggi. Jika hanya menunjuknya berdasarkan karakter saja, mungkin akan mendatangkan masalah di kemudian hari. Yang Mulia, menurut menteri ini, Chu Rongyu belum cocok mengisi jabatan Wakil Menteri Pendapatan.”

“Lalu menurutmu siapa yang cocok?” Liu Yan bertanya balik pada Luo Wenfu.

Orang ini sering berseberangan dengan Li Sheng. Melihat Li Sheng menjadi perdana menteri sementara dirinya hanya menjadi menteri hukum, hatinya sudah lama tidak puas.

‘Penyeimbang’ ini sangat berguna bagi Liu Yan. Dia bisa memanfaatkannya untuk menekan kekuasaan Li Sheng yang sudah terlalu besar dan berakar cukup dalam di pengadilan ini. Jadi, dia juga harus mempertimbangkan siapakah orang yang diinginkan oleh Luo Wenfu.

“Menurut menteri tua ini, Zhao Qin dari Kementerian Pekerjaan lebih cocok menjadi Wakil Menteri Pendapatan. Dia teliti dan pekerja keras. Kementerian Pekerjaan dan Kementerian Pendapatan akan memiliki keselarasan yang bagus jika dia menjadi jembatan.”

Chu Rongyu atau Zhao Qin, Mei Zhiyi sama sekali tidak mengenal kedua nama itu. Dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana para menteri negara ini berdebat memperebutkan sebuah posisi. Sesekali dia melirik Liu Yan yang duduk diam memperhatikan.

Dia punya ketenangan dan kebijaksanaan. Kubu satu adalah Perdana Menterinya, kubu satunya lagi adalah Menteri Hukumnya. Membiarkan dua orang itu berdebat memang strategi bagus untuk melihat siapakah yang benar-benar ingin memaksakan diri.

Ada sebuah lengkungan kecil terbentuk di sudut bibir Liu Yan. Mei Zhiyi tahu pemikirannya ternyata.

Memang benar, dia sengaja membiarkan Li Sheng dan Luo Wenfu berdebat di depannya dan tidak berniat menegur mereka dengan cepat. Ia memang ingin tahu di antara kedua orang itu, seberapa banyak motif tersembunyi yang dapat diketahui.

“Mei Zhiyi, bagaimana menurutmu?” tanya Liu Yan tiba-tiba. Mei Zhiyi seketika menatapnya dengan heran.

“Menurutmu, siapakah yang cocok mengisi jabatan Wakil Menteri Pendapatan?”

“Kenapa Yang Mulia bertanya padaku?”

“Jawab saja. Aku tidak akan menghukummu.”

“Menurutku yang terpenting sekarang adalah menyambut adikmu. Bukankah itu tujuan utama Yang Mulia menghadiri rapat hari ini?”

“Tepat sekali. Aku hampir saja lupa.”

Tiba-tiba saja Liu Yan menyela dan menghentikan perdebatan antara Li Sheng dan Luo Wenfu. Kedua menteri tua itu terdiam menatap heran pada sang Kaisar yang tiba-tiba saja bersuara.

“Menurutku keduanya bagus, tapi aku pikir lebih baik menyambut dahulu kedatangan adikku sekarang ini. Li Dezai, panggil dia.”

Li Dezai maju ke depan. Dengan suara lantangnya, dia berteriak, “Persilakan Raja Yun masuk!”

Li Sheng dan Luo Wenfu saling pandang dengan penuh tanya. Lantas bagaimana keputusan akhirnya? Siapa yang akan menjabat sebagai Wakil Menteri Pendapatan baru? Chu Rongyu atau Zhao Qin?

1
Ai
sekejam kejamnya ibu kandung tdk mgkn mencelakai anaknya sendiri meski anak itu ada dari seorg laki2 yg tdk dia suka.. klo cuma mengacuhkan msh bisa ditoleransi tapi ini keterlaluan, klo aku jg akan benci setengah mati sama ibu yg spt itu
Ai: banget banget banget 🤭
total 2 replies
Biyan Narendra
Sempet khawatir banget td sama Mei..
Takut knp knp sama Liu yan
Sun Flower: tenang pemirsa
total 1 replies
Imas Fatimah
kayaknya mereka ini satu ibu beda ayah 🤭😉
Sun Flower: hmmmmmm
total 1 replies
Dyana
bgus ibu suri ni d apa in y... Liu cheg jg mnding d buang jauhhh.. putri ruoxi d nikahnya aj k tmpat jauh ga bs balik lg.... huhhhhhb
Sun Flower: digoreng rame-rame
total 1 replies
Dyana
mg aj putri ruoxi ini bknsahabat zhiyi yg brkhianat... mg aj org baik
Sun Flower: baik gak yaaa
total 1 replies
Ai
tenang mei zhiyi tdk akan mati semudah itu😄
Ai: 🤣🤣🤣🤣lanjut yg bnyk thor
total 2 replies
vivi oh vivi
🤭🤭
Sun Flower: 😄😄😄😄😄
total 1 replies
Biyan Narendra
Semoga Mei baik baik saja
Sun Flower: baik-baik kok
total 1 replies
Biyan Narendra
Makin gondok dong ibu Suri
😁😁😁😁
Sun Flower: darting gak tuh
total 1 replies
Biyan Narendra
bakalan rame nih pestanya
Sun Flower: mau ikut?
total 1 replies
Imas Fatimah
wah...penasaran nih kelanjutannya,up lg thor..
Sun Flower: siappp
total 1 replies
Machsunatul Istianah
hmmm.... mencurigakan putri ruoxi ini🤔
Sun Flower: kenapa hayooo
total 1 replies
Libra
Putri Ruoxi itu musuh Zhiyi di dunia modern ya kk author?
nebak" aja dulu
Sun Flower: coba tebakkk
total 1 replies
Biyan Narendra
🤣🤣🤣🤣🤣
Emang enak di ghibahin sama Mei
Sun Flower: gibahin dalam hati lebih seru, apalagi kalau bisa didengar, mau kesal pun tak berdaya🤣
total 1 replies
Ai
apakah penyerangan mei zhiyi ada hubungannya dg putri ruoxi.. tp knp dan apa alasannya? penasaran ini thor
Ai: ada hubungannya ini pasti soale klo ibu suri ndak mgkn
total 2 replies
Ai
andai kaisar daqi tau yg sebenar nya kampung halaman yg diceritakan mei zhiyi berasal dari dunia yg jauhhh di masa depan gimana respect ya
Ai: klo kaisar daqi ikut pantes klo jd ceo keren pasti y thor😄
total 2 replies
Machsunatul Istianah
Liu zhao atau putri ruoxi itu perpindahan jiwa yao shu🤔
Sun Flower: ayoo tebakkk
total 1 replies
Imas Fatimah
mungkinkah yg menyerang Mei itu putri Ruoxsi?🤔
Sun Flower: apa alasannya cobaa
total 1 replies
Imas Fatimah
kaisar bisa membaca pikiran org lain?atau khusus Mei saja yg bisa dibaca pikirannya?
Sun Flower: cheat khusus untuk Mei Zhiyi
total 1 replies
Machsunatul Istianah
pujian yang ber bahaya 😁
Sun Flower: berbahaya untuk jantung dan hati
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!