Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang
Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.
Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyembuhkan Nao Jiang
Pintu kayu itu akhirnya terbuka. Gao Rui melangkah keluar dengan langkah agak pelan. Wajahnya tampak sedikit pucat, tetapi sorot matanya tenang. Begitu keluar, ia langsung menatap Tetua Peng Bei dan putri Nao Jiang yang sejak tadi menunggu dengan gelisah. Bibirnya melengkung membentuk senyum kecil. Bukan senyum penuh kebanggaan, melainkan senyum lega karena beban di dadanya akhirnya terangkat.
Putri Nao Jiang spontan berdiri tegak. Matanya langsung tertuju pada tangan Gao Rui, seolah berharap melihat sesuatu di sana.
Tetua Peng Bei melangkah maju setengah langkah, suaranya nyaris tak bisa menyembunyikan antusiasme.
“Bagaimana?” tanyanya cepat. “Apakah berhasil?”
Gao Rui tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan.
Satu anggukan sederhana itu terasa seperti palu yang menghantam dada putri Nao Jiang. Wajahnya langsung bersinar, kedua tangannya tanpa sadar mengepal kecil di depan dada.
“Benarkah?” ucapnya lirih, nyaris seperti berbisik, takut jika suara yang terlalu keras akan merusak kenyataan itu.
“Benar,” jawab Gao Rui singkat, masih tersenyum tipis.
Tetua Peng Bei tertawa pendek, napas yang sejak tadi tertahan akhirnya terlepas.
“Hahaha… bagus! Kalau begitu, jangan kita tunda lagi.”
Tanpa perlu dikatakan lebih lanjut, ketiganya langsung bergegas menuju ruangan utama tempat Nao Jiang beristirahat. Langkah mereka cepat, namun tetap dijaga agar tidak menimbulkan suara berlebihan. Suasana rumah itu seolah ikut menahan napas.
Begitu pintu kamar dibuka, aroma obat yang sudah lama mendominasi ruangan kembali menyambut mereka. Nao Jiang terbaring di atas ranjang kayu, wajahnya pucat, napasnya lemah dan tidak teratur. Matanya setengah terbuka, tetapi jelas ia sudah tidak mampu berbicara. Bahkan untuk sekadar menggerakkan jari pun tampak berat baginya.
Putrinya langsung mendekat ke sisi ranjang, menahan getaran di tangannya. Gao Rui melangkah ke depan. Ia mengeluarkan sebuah botol giok kecil dari cincin ruangnya. Begitu tutupnya dibuka, aroma herbal khusus langsung menyebar ke seluruh ruangan. Wangi hangat, dalam, dengan sentuhan pahit yang lembut. Aroma itu berbeda dari obat biasa. Bahkan Tetua Peng Bei yang sudah berpengalaman langsung merasakan perbedaannya.
“Jadi… ini pil penguat tubuh,” ucap Tetua Peng Bei pelan, matanya menajam saat menatap pil di dalam botol giok itu.
Gao Rui mengangguk, lalu menghela napas kecil.
“Ya. Tapi…” Ia ragu sejenak sebelum melanjutkan. “Aku minta maaf, Tetua. Pil ini hanya pil kualitas menengah. Aku belum mampu membuat yang lebih baik.”
Ia menundukkan kepala sedikit, seolah benar-benar merasa bersalah.
“Namun… untuk kondisi Paman Nao, ini seharusnya sudah lebih dari cukup.”
Tetua Peng Bei justru tertawa pelan dan menggeleng.
“Anak bodoh,” katanya tanpa nada mencela. “Kau tahu tidak berapa banyak tabib yang gagal membuat pil tingkat menengah? Di usia seperti milikmu, mampu menghasilkan pil kualitas menengah itu sudah luar biasa.”
Ia menepuk bahu Gao Rui ringan.
“Tidak ada anak seusiamu yang bisa melakukan ini.”
Ucapan itu membuat telinga Gao Rui memerah. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, jelas malu menerima pujian seperti itu.
Tanpa membuang waktu lagi, Gao Rui duduk di sisi ranjang. Dengan sangat hati-hati, ia membantu Nao Jiang membuka mulut dan memasukkan pil itu perlahan, memastikan pil tersebut tertelan dengan bantuan sedikit cairan herbal.
Beberapa detik berlalu tanpa perubahan. Lalu sebuah keanehan terjadi.
Tangan Gao Rui yang masih berada di dekat dada Nao Jiang tiba-tiba memancarkan cahaya biru lembut. Api biru itu muncul tanpa suara, tidak menyala liar, tidak panas. Justru terasa hangat, seperti nyala lilin di malam dingin.
Putri Nao Jiang terkejut dan refleks menutup mulutnya agar tidak berseru. Tetua Peng Bei membelalakkan mata.
“Api… biru?” gumamnya.
“Phoenix Biru Ektomi,” ucap Gao Rui pelan, suaranya sedikit tertahan. “Teknik penyembuhan. Aku hanya bisa menggunakannya sebentar.”
Ia meletakkan telapak tangannya tepat di dada Nao Jiang. Api biru itu merambat lembut, menyusup ke dalam tubuh pria itu, menyatu dengan khasiat pil. Energi herbal yang tadinya menyebar lambat kini dipandu dengan rapi, mengalir ke tulang, otot, dan organ dalam yang rusak. Luka-luka lama yang tertimbun perlahan disentuh satu per satu.
Wajah Nao Jiang yang pucat mulai menunjukkan sedikit warna. Napasnya, meski masih lemah, menjadi lebih stabil.
Sepuluh menit berlalu. Api biru itu akhirnya meredup dan menghilang. Gao Rui menarik tangannya, tubuhnya sedikit terhuyung sebelum ia menahan diri. Napasnya memburu, dahi dan punggungnya basah oleh keringat.
Ia menatap Tetua Peng Bei dan menunduk.
“Maaf… sampai di sini saja kemampuanku. Tenaga dalamku hampir habis.”
Putri Nao Jiang menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca, lalu beralih ke Gao Rui, ingin mengucapkan terima kasih.
Tatapan Tetua Bei sendiri masih terpaku pada tangan Gao Rui, pada bayangan api biru yang barusan ia lihat. Wajahnya kosong, seolah pikirannya sedang dihantam sesuatu yang jauh melampaui sekadar pil penguat tubuh.
“Phoenix Biru… Ektomi…” gumamnya lagi, kali ini lebih pelan.
Untuk pertama kalinya sejak lama, Tetua Peng Bei benar-benar kehilangan kata-kata.
...********...
Malam akhirnya tiba tanpa terasa.
Langit di atas kediaman Keluarga Nao berubah menjadi hamparan hitam pekat yang bertabur bintang. Angin malam berembus pelan, membawa hawa sejuk yang menenangkan, seakan ikut meredakan ketegangan yang sejak siang tadi menggantung di rumah itu.
Keadaan Nao Jiang saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan pagi hari. Napasnya kini lebih teratur, wajah pucatnya mulai memiliki sedikit warna, dan keringat dingin yang sempat terus muncul telah berhenti. Meski tubuhnya masih lemah dan ia belum mampu berbicara, setidaknya nyawanya sudah benar-benar stabil. Pil penguat tubuh yang diberikan Gao Rui telah bekerja sesuai harapan, memperkuat fondasi fisiknya secara perlahan namun pasti.
Rencananya, besok barulah Gao Rui akan memberikan obat penyembuh luka miliknya. Ia tidak ingin tergesa-gesa. Tubuh Nao Jiang perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Memberikan terlalu banyak efek obat dalam satu hari justru bisa menjadi bumerang.
Saat ini, Gao Rui duduk di teras halaman rumah, bersandar ringan pada tiang kayu. Pandangannya tertuju ke langit malam yang luas. Bintang-bintang tampak berkelip pelan, seolah tak peduli pada kekhawatiran dan harapan manusia di bawahnya. Untuk sesaat, pikirannya terasa kosong. Tidak ada perhitungan rumit, tidak ada tekanan keputusan. Hanya keheningan yang jarang ia rasakan sejak datang ke tempat ini.
Di sampingnya, Tetua Peng Bei duduk dengan sikap santai, kedua tangannya bertumpu pada tongkat kayunya. Wajah pria tua itu tampak lebih rileks dari biasanya, garis-garis tegang di sekitar matanya sedikit memudar.
Mereka terdiam cukup lama, hanya ditemani suara serangga malam dan desir angin yang menyapu dedaunan.
Akhirnya, Tetua Peng Bei membuka suara.
“Rui’er,” katanya pelan, tanpa nada mendesak. “Bagiku… membawa dirimu kemari adalah sebuah keberuntungan.”
Gao Rui sedikit terkejut. Ia menoleh, menatap wajah tetua itu. Ada ketulusan di sana, bukan sanjungan kosong atau kata-kata basa-basi.
“Jika bukan karena dirimu,” lanjut Tetua Peng Bei, “kondisi Nao Jiang mungkin sudah melewati titik yang tak bisa diperbaiki. Pil hari ini saja sudah menyelamatkan fondasi tubuhnya. Itu bukan hal kecil.”
Gao Rui terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. Senyum yang sederhana, tanpa kebanggaan berlebih.
“Itu bukan apa-apa, Tetua,” jawabnya jujur. “Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan.”
Ia menunduk sedikit, menatap telapak tangannya sendiri, seolah masih bisa merasakan kehangatan pil yang tadi ia pegang.
“Lagipula,” tambahnya pelan, “pil itu juga belum sempurna. Kualitasnya masih menengah.”
Tetua Peng Bei tertawa ringan, suara tawanya rendah namun hangat.
“Anak muda…” katanya sambil menggeleng pelan. “Terlalu rendah hati juga bukan kebiasaan yang baik. Banyak orang dewasa di luar sana yang bahkan tak mampu membuat pil seperti itu seumur hidup mereka.”
Gao Rui hanya tersenyum, tidak membantah, namun juga tidak menanggapi lebih jauh. Ia sudah belajar hari ini bahwa membiarkan orang lain menilai lebih baik daripada dirinya sendiri.
Percakapan mereka berlanjut dengan ringan. Tidak lagi membahas pil atau kondisi Nao Jiang secara mendalam. Tetua Peng Bei sempat bercerita tentang masa mudanya, tentang kesalahan-kesalahan yang dulu ia buat karena terlalu percaya diri, dan tentang betapa pentingnya mengetahui batas kemampuan diri sendiri. Gao Rui mendengarkan dengan saksama, menyadari bahwa banyak dari cerita itu terasa… relevan.
Waktu terus berjalan. Bulan perlahan naik lebih tinggi, cahaya pucatnya menyinari halaman dengan lembut.
Akhirnya, Tetua Peng Bei berdiri lebih dulu.
“Sudah cukup malam,” katanya. “Kau juga perlu istirahat. Besok masih ada yang harus kau lakukan.”
Gao Rui mengangguk. Ia pun bangkit dan membungkuk kecil sebagai penghormatan.
Mereka berjalan ke arah kamar masing-masing. Di depan pintu, Tetua Peng Bei sempat berhenti sejenak dan menoleh.
“Beristirahatlah dengan tenang, Gao Rui,” ujarnya. “Malam ini… kau pantas mendapatkannya.”
Gao Rui menjawab dengan anggukan singkat.
Tak lama kemudian, halaman kembali sunyi. Lampu-lampu minyak dipadamkan satu per satu. Kediaman Keluarga Nao tenggelam dalam ketenangan malam.
Di kamarnya, Gao Rui berbaring sambil menatap langit-langit kayu. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya terasa jauh lebih ringan dibandingkan sebelumnya. Besok masih ada tugas penting menantinya, namun untuk malam ini, ia membiarkan dirinya beristirahat.
Di luar, bintang-bintang tetap berkelip… menjadi saksi bisu bahwa satu nyawa mungkin akan diselamatkan, dan satu langkah kecil telah diambil oleh seorang bocah yang perlahan belajar memikul tanggung jawab yang lebih besar.