NovelToon NovelToon
Dendam 172

Dendam 172

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying di Tempat Kerja
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

Perlu kerja keras untuk melumpuhkan Ibu Lusi yang katanya depresi. Pipiku memar karena pukulannya, sementara hidung Zaki berdarah. Memalukan, memang, tetapi itulah kenyataan yang harus kami terima.

Dengan napas tersengal, aku dan Zaki akhirnya berhasil menahannya. Saat itu Lusi sudah kami borgol. Dari pertarungan singkat yang nyaris brutal itu, aku menarik satu kesimpulan. Perempuan ini bukan wanita biasa. Gerakannya terlatih, pukulannya terukur, dan naluri bertahannya terlalu rapi untuk disebut reaksi spontan orang sakit.

Terpaksa kami menghantam tengkuknya hingga ia tak sadarkan diri. Tubuhnya kami tidurkan di atas brankar, lalu kami bawa keluar dari ruang perawatan. Di lorong rumah sakit, dua orang perawat mendorong brankar itu perlahan. Aku dan Zaki berjalan di sisi kanan dan kiri, mengawasi setiap sudut.

Nirmala sanggup mengerahkan pembunuh bayaran. Bukan mustahil ia juga memiliki pengawal pribadi, bahkan tentara bayaran. Pikiran itu membuat setiap langkah terasa seperti berjalan di atas kaca.

Setibanya di halaman parkir, kami memasukkan Lusi ke dalam ambulans. Dua perawat ikut mendampingi di dalam. Aku duduk di kursi depan, di samping sopir. Radio HT terus menyala. Aku berkomunikasi tanpa henti dengan markas pusat, melaporkan posisi dan kondisi.

Di depan kami melaju satu mobil panser. Di belakang, tiga panser lain mengawal rapat. Ironis. Kami membawa seorang wanita yang disebut depresi, tetapi pengamanannya seperti memindahkan tawanan kelas berat.

Perjalanan memakan waktu empat puluh menit. Tidak ada penyergapan, tidak ada kejaran, tidak ada satu pun suara tembakan. Saat gerbang markas pusat terbuka, napasku terasa lebih ringan.

Namun rasa lega itu tidak utuh. Justru di sanalah kecurigaanku tumbuh. Segalanya terlalu lancar, terlalu aman. Dalam pengalamanku, kelancaran seperti ini sering menjadi pertanda.

Bahaya jarang datang dari depan. Ia lebih suka menunggu di belakang, saat kita mulai percaya bahwa semuanya sudah selesai.

Lusi duduk di atas brankar setelah diberi obat pelemah otot. Matanya tampak sayu, bibirnya pucat, napasnya teratur tetapi dangkal. Rambutnya sudah dirapikan, wajahnya dibersihkan, seolah ia hendak difoto untuk laporan medis. Padahal inilah awal dari sesuatu yang jauh lebih memalukan.

Kami akan menjadikannya sandera. Ibu Nirmala, umpan hidup agar putrinya keluar dari persembunyian.

Aku ingin memprotes, tetapi keputusan sudah diambil di tingkat yang tak mungkin kugugat. Kamera diarahkan ke depan, lampu sorot dinyalakan, ruangan mendadak terasa seperti studio. Pak Haris ditunjuk sebagai juru bicara. Aku berdiri di sudut, menyaksikan dengan perasaan getir. Negara ini, dengan segala kekuasaannya, memilih cara yang terasa murahan. Terlalu jelas bahwa kami kehabisan akal.

Pak Haris berdiri di depan kamera. Skrip telah dihafalnya di luar kepala.

“Nirmala, di mana pun kamu berada, menyerahlah. Ibu kamu sangat merindukanmu. Hentikan teror ini. Ibu kamu ada bersama kami.”

Ucapannya datar, tanpa emosi, seperti membaca pengumuman kehilangan.

Lampu kamera padam. Siaran selesai. Kalimat itu akan disebarkan ke seluruh jaringan.

Aku menghela napas panjang. Kini tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain menunggu.

Dua jam berlalu, dan dua orang lagi tewas. Yang lebih gila, korban kali ini adalah seorang jaksa yang kini menjadi tenaga ahli di Kedutaan Cina dan seorang staf senior Kedutaan Amerika. Menurut informasi dari Pak Romi, keduanya termasuk orang yang dulu ikut andil menutup kasus Nirmala. Polanya semakin jelas, dan itu membuat ruangan rapat terasa lebih pengap dari biasanya.

“Sepertinya Nirmala memang tidak peduli pada ibunya,” ucapku pelan kepada Pak Anton yang memimpin rapat.

“Itu karena kita hanya mengumumkan bahwa ibunya ada di tangan kita. Harusnya kita mengancam,” sahut Pak Cipto.

Pak Anton mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, wajahnya kaku, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat. Tidak ada suara lain di ruangan itu.

“Mengancam seperti apa?” tanyaku akhirnya.

“Kita umumkan saja bahwa ibunya akan dihukum mati jika Nirmala tidak menyerahkan diri,” jawab Pak Cipto tanpa ragu.

“Konyol,” kataku kesal. “Menjadikan Lusi sebagai sandera saja sudah memalukan. Sekarang malah mau menghukum mati orang yang depresi. Mau taruh di mana muka negara ini?”

Wajah Pak Cipto memerah. Dengan suara tinggi ia membentak, “Seseorang yang mampu membunuh di dua negara berbeda dalam waktu hampir bersamaan, memang apa lagi yang bisa kita lakukan?”

Kedengarannya rasional, bahkan masuk akal. Namun bagiku itu justru bodoh. Berapa besar anggaran negara yang telah dihabiskan, jika akhirnya hanya melahirkan keputusan seperti ini. Uang keluar begitu banyak, tetapi kualitas berpikirnya serendah ini.

“Lebih baik kita buka saja kembali kasus perundungan Nirmala,” kataku menahan emosi. “Masih ada sepuluh orang yang terlibat. Tangkap semuanya. Beri keadilan untuk Nirmala. Itu satu-satunya cara menghentikan ini.”

“Omong kosong,” potong Pak Haris dingin. “Kamu diam saja. Saya lebih setuju dengan usulan Pak Cipto.”

Ruangan kembali sunyi.

“Baik,” kata Pak Anton akhirnya. “Kita putuskan usulan Pak Cipto. Soal mengungkit kasus Nirmala, nanti kita pikirkan. Yang penting sekarang, Nirmala harus kita temukan dulu.”

“Pak,” aku mencoba bicara.

Namun kata-kata itu kutelan kembali. Dalam hati aku berbisik, dengan perasaan muak yang menyesakkan.

Monster sudah sekejam ini, dan kalian masih saja memilih menutupi akar masalah.

Dan hal yang lebih memalukan kembali terulang. Kali ini hanya berupa sebuah tulisan.

“NIRMALA, DALAM WAKTU SATU JAM IBU KAMU AKAN DIEKSEKUSI.”

Kalimat itu langsung menyebar ke semua jaringan berita dan media sosial. Aku ragu apakah ancaman murahan seperti ini akan berhasil. Terlalu kasar, terlalu terbuka, dan terlalu berbau putus asa.

Namun sepuluh menit kemudian, sesuatu yang tak kami duga muncul.

Sebuah video singkat beredar. Di dalamnya, seorang remaja mengenakan hoodie berdiri menghadap kamera. Wajahnya setengah tertutup bayangan, matanya tajam, suaranya tenang.

“Tolong jangan ganggu ibuku. Aku akan datang dalam satu jam ke markas kalian.”

Hanya itu. Tidak ada ancaman balik, tidak ada amarah. Video itu berhenti, lalu menyebar lebih cepat daripada ancaman kami.

Dalam hitungan menit, dunia maya dipenuhi spekulasi. Banyak yang percaya pelakunya hanyalah seorang anak remaja berusia tujuh belas tahun. Seorang peretas jenius, psikopat, bernama Nirmala.

Narasi itu segera menguat. Media mengulangnya, warganet membenarkannya, seolah kebenaran telah ditemukan.

Tentu saja semua ini bukan kebetulan.

Label itu sengaja kami siapkan. Seorang anak gila, bukan korban. Seorang penjahat muda, bukan hasil dari kesalahan sistem.

Cara paling mudah membersihkan nama baik kami bukan dengan mengungkap kebenaran, melainkan dengan menciptakan cerita yang lebih meyakinkan.

Lima puluh lima menit berlalu, penjagaan di sekitar markas diperketat untuk menyergap Nirmala. Namun ia tak kunjung datang.

“Nirmala tidak datang. Sebaiknya kita eksekusi saja,” ujar seseorang.

Aku hendak memprotes, tetapi moncong senjata menekan pinggangku. “Sudah, ikuti saja,” bisik petugas itu.

Andai aku tidak memikirkan Ratna dan Andika, mungkin aku sudah berteriak.

“Eksekusi sekarang,” perintah Pak Anton tegas.

Saat itu, sebuah suara perempuan terdengar jelas, tenang, dan dingin.

“Tidak usah repot-repot. Aku sudah di sini.”

Kami semua menoleh serentak, mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan.

Namun tidak ada seorang pun perempuan yang berdiri di sana.

1
Nurr Tika
jgn di gantung dong thor lgi seru 💪
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
sebnrnya siapa mereka
Nurr Tika
bikin penasaran thor
Nurr Tika
makin penasaran
Nurr Tika
sebanarnya meraka maunya pa
Nurr Tika
sebenarnya siapa mereka
Nurr Tika
apakah mereka terlibat akan teror itu
Intan Melani
iya kan si anak y di tolong kakek
Nurr Tika
lanjut,,,,,,
Nurr Tika
diantara mereka ada yg jd mata" siapa ya, lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,,
Nurr Tika
lanjut thor semakin seru
Fitur AI
Semangat ya pak , nanti jangan lupa mampir kenovel aku hehehe...🙏😊
Fitur AI
seharus nya bersukur punya cowo begini
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
benarkah nirmala msh hidup
Nurr Tika
lanjut thor
Intan Melani
aqkya pernah baca thor kayanya y si Nirmala di buang ke jurang sama 2orang cwo. di temuin sama kakek2 terus di obati terus di ajarin bela diri bwt balas dendam.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!