NovelToon NovelToon
Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Sistem / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: Lil Miyu

Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
​Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
​Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
​Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
​Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Aroma di Pinggir Sungai

TAK. TUK. TAK.

​Terdengar suara yang cukup keras, sebuah bunyi ritmis yang terdengar seperti ujian kesabaran bagi sang Ksatria Agung. Suara yang bergema di tengah keheningan itu bukanlah suara derapan kaki kuda Asher yang sedang berpacu menembus kegelapan Hutan Hitam, melainkan suara dahi Aruna yang untuk kesekian kalinya membentur pelindung punggung milik Asher yang sedingin es.

​"Uuhh..." Gadis itu mengerang kecil dalam tidurnya, namun kelopak matanya tetap terpejam rapat.

​Perjalanan panjang sejak ia bangun hingga penyerangan mendadak dari assassin Viper’s Fang benar-benar telah menguras habis seluruh energinya, menyisakan tubuh yang lunglai di atas pelana. Dalam kondisi setengah sadar, insting Aruna mulai bekerja mencari posisi yang lebih stabil agar kepalanya tidak terus-menerus membentur logam zirah yang keras dan tak berperasaan itu. Cengkeraman tangan Aruna pada jubah milik Asher perlahan melonggar. Tangannya yang mungil merambat naik, lalu berpindah mencengkeram tepian pelindung bahu Asher sebagai tumpuan baru agar tubuhnya tidak terus terguncang mengikuti irama langkah kuda.

​Karena lehernya yang sudah lemas, kepala Aruna terayun hingga akhirnya tidak sengaja menyandar tepat di leher Asher—satu-satunya bagian hangat yang tidak tertutup oleh zirah logam yang angkuh.

​"?!"

​Asher seketika tersentak kaku. Seluruh otot di tubuhnya menegang keras seperti batu, bahkan ia nyaris menarik kendali kuda terlalu kuat hingga hewan malang itu meringkik protes. Di titik yang sangat dekat itu, hidung Aruna mulai menangkap aroma yang menguar dari kulit leher sang ksatria—perpaduan antara Sandalwood yang hangat dan Cooling Peppermint yang sangat segar. Aroma itu begitu maskulin dan menenangkan, membuat Aruna justru semakin menenggelamkan wajahnya di sana seolah menemukan oasis di tengah gurun yang dingin.

​Deg... Deg... Deg... Jantung Asher mendadak berdetak kencang, seolah kuda yang dia pacu berada di dalam dadanya sendiri. Sensasi napas Aruna yang teratur mengenai kulit lehernya menciptakan sengatan listrik yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

​"Putri," panggil Asher dengan suara berat yang tertahan. Suaranya sedikit serak karena ia mencoba menekan kegugupan yang tidak masuk akal ini. "Putri Auristela, bangunlah. Posisi Anda... Ini... sangat tidak sopan."

​"Zzz... mnghh... bantalnya keras... tapi di sini harum..." Aruna justru semakin menempelkan pipinya ke kulit leher Asher, secara alami mencari sumber panas alami dari tubuh pria itu untuk melawan hawa malam yang kian menggigit.

​"Haa...." Asher menghela napas panjang dengan perasaan pasrah. Sebagai ksatria yang hanya tunduk pada perintah Kaisar, ia tidak terbiasa didekati sedekat ini oleh seorang gadis. Menggunakan ketangkasan ksatria elitnya, ia melepas jubah hitamnya dengan satu tangan tanpa menghentikan laju kuda, lalu menarik kain tebal itu ke atas untuk menciptakan bantalan empuk di atas punggung zirahnya.

​Begitu Aruna kembali bersandar di atas tumpukan jubah, Asher terdiam sejenak. Ia mengatur napasnya yang sempat tertahan, membiarkan jantungnya kembali ke detak normal sebelum kembali fokus memacu kudanya menembus kegelapan fajar yang mulai menyapa.

​Beberapa jam kemudian, mereka sampai di sebuah sungai jernih yang membelah tengah hutan. Cahaya biru remang fajar mulai menyusup di antara celah pepohonan, menciptakan kilauan perak di atas air yang mengalir tenang. Asher segera menghentikan kuda dan turun dengan gerakan yang sedikit kaku, seolah sendi-sendinya membeku karena posisi duduk yang tegang sepanjang perjalanan.

​Aruna turun dari kuda dengan langkah yang goyah. Begitu kakinya menyentuh tanah yang lembap, ia seketika memeluk dirinya sendiri, menggigil kecil. Hawa subuh di Hutan Hitam memang tidak main-main.

​"Meong!"

​Sebuah kepala oranye berbulu tiba-tiba muncul dari balik tas samping kuda. Si Oyen melompat turun dengan anggun, meregangkan tubuhnya yang gembul sebelum mulai menjilati kakinya yang kram karena terlalu lama meringkuk di dalam tas. Aruna tersenyum kecil melihat kucing itu, lalu ia berjalan sempoyongan menuju tepian sungai untuk mencuci muka.

​"Hiiiy! Rasanya seperti ditempeli oleh lempengan es!" teriaknya kecil saat air dingin menyentuh kulitnya. Kesadarannya kini pulih seratus persen berkat air sungai yang membekukan itu.

​Asher tidak bergeming. Ia berdiri tegak dengan rambut emas yang tertiup angin subuh, menatap tajam ke arah kegelapan hutan yang mulai memudar. Ia menyiapkan api unggun kecil dan mulai membakar daging babi hutan yang ia buru dengan cepat tadi. Namun, saat daging itu disodorkan, Aruna hanya bisa menatapnya dengan horor karena terlihat sekeras karet sandal dan sama sekali tanpa bumbu.

​'Gigiku bisa rontok kalau makan ini,' batin Aruna miris. Di balik pohon besar, ia memastikan Asher tidak melihat. "Sistem! Aku butuh mi instan cup rasa soto! Lengkap dengan kuah panasnya!"

​Ding!

[Memproses permintaan host.

Mengaktifkan skill utama Memory Materialization.

Mengaktifkan sub skill magi catering.

Item dimunculkan: Mi Instan Cup (Panas & Siap Makan)]

​Bau gurih khas mi instan seketika meledak di udara subuh. Asher yang sedang membersihkan pedangnya tiba-tiba berhenti. Hidungnya kembang kempis, mencoba mengenali aroma rempah asing yang begitu menggoda indra penciumannya. Tergoda aroma tersebut, Asher akhirnya mendekat.

​"Ini... enak sekali," gumam Asher terpesona setelah suapan kedua. Tanpa sadar, ksatria yang biasanya hanya peduli pada tugas itu terus menyuap hingga cup tersebut hampir kosong. Ada kilat penyesalan di wajahnya saat ia menyadari bahwa ia baru saja menghabiskan jatah makanan sang putri.

​Ding!

[Kedekatan dengan Asher de Volland bertambah +5%! Total Kedekatan: 15%

(Bonus/catatan): Target mulai tergetar oleh kekuatan micin...]

​"Puft... Ahem... Ahem..." 'Waduh, ternyata es batu pun kalah sama makanan enak'

Rrr​tt... Rrrtt... ​

"Asher..." suara Aruna bergetar. Ia menunjuk ke arah kabut tebal di seberang sungai dengan jari yang gemetar hebat.

​Puluhan mata merah muncul satu per satu. Namun, bukan hanya pemandangan itu yang membuatnya membeku. Sebuah sensasi dingin yang menyakitkan mendadak menghantam dada Aruna.

​Jab!

​Kepala Aruna berdenyut hebat. Potongan-potongan memori yang bukan miliknya berkelebat cepat—suara teriakan, bau d4rah, dan rasa sakit yang menghujam. Tubuh Auristela mengenali ancaman ini lebih baik daripada otaknya sendiri.

​Ding!

[Peringatan! Terdeteksi sinkronisasi memori secara paksa!

Host mengalami reaksi trauma fisik!]

​Wajah Aruna perlahan kehilangan warna, berubah pucat, seputih kertas. Keringat dingin mengucur di dahinya, dan napasnya menjadi pendek-pendek seolah paru-parunya terjepit. Ini bukan sekadar rasa takut, melainkan ingatan yang berteriak.

​Asher menyadari tubuh gadis di dekapannya mendadak kaku dan dingin. Ia mempererat pegangan pada kendali kuda, matanya berkilat tajam menembus kabut.

​"Cengkeram jubahku kuat-kuat dan tutup matamu, Putri," perintah Asher, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Jangan dilepas, apa pun yang terjadi."

1
studibivalvia
asher ini tipe tsundere kah? haha lucu banget
Miyu: sedikit... 🤭
total 1 replies
studibivalvia
siap banget dah 😭
studibivalvia
lucu banget jirr 🤣 kucingnya lapar pengen minta makan tapi sombong mukanya 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!