NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: tamat
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang Mereka Pilih

Pagi datang tanpa suara keras.

Tidak ada telepon yang berdering dengan kabar buruk, tidak ada langkah tergesa di lorong, tidak ada ketegangan yang membuat napas tertahan. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui jendela dapur, jatuh di lantai kayu yang masih dingin. Carmela berdiri di sana, menyiapkan teh, menikmati hal yang dulu terasa mewah: waktu.

Ia masih sering terbangun dengan refleks lama—jantung berdebar tanpa sebab, tubuh siaga seolah bahaya akan datang. Tapi pagi ini, detak itu pelan. Terkendali.

Ia melangkah ke teras belakang. Udara segar menyentuh wajahnya, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Rumah itu tidak besar. Tidak mencolok. Tapi setiap sudutnya dipilih, bukan diwariskan oleh ketakutan atau kekuasaan.

Carmela duduk, memeluk cangkir teh hangat dengan kedua tangan.

Ia teringat dirinya yang dulu—perempuan yang hidupnya selalu ditentukan orang lain. Putri yang dijodohkan demi keselamatan keluarga. Istri yang masuk ke dunia asing tanpa tahu apakah ia akan selamat sebagai dirinya sendiri.

Langkah kaki terdengar dari belakang.

Matteo keluar membawa sekop kecil dan dua pot tanaman. Ia berhenti sejenak, menatap halaman seolah sedang mengukur sesuatu yang tak terlihat—mungkin jarak antara hidupnya yang lama dan yang sekarang.

“Kau sudah bangun lebih dulu,” katanya.

“Aku tidak bisa tidur lama,” jawab Carmela. “Kepalaku terlalu tenang. Rasanya aneh.”

Matteo tersenyum tipis. “Aku juga merasakannya.”

Ia berlutut di tanah, mulai menggali dengan gerakan yang belum terlalu lihai. Carmela mengamatinya diam-diam. Pria itu dulu selalu dikelilingi orang, keputusan, dan kekuasaan. Sekarang, ia terlihat… biasa. Dan entah kenapa, itu membuatnya terasa lebih dekat.

“Tanaman apa itu?” tanya Carmela.

“Entahlah,” Matteo mengangkat bahu. “Penjualnya bilang kuat hidup.”

Carmela terkekeh pelan. “Cocok.”

Matteo menoleh. “Untuk kita?”

“Untuk hidup,” jawab Carmela. “Yang tidak selalu sempurna, tapi tetap tumbuh.”

Matteo mengangguk. Ia menanam pot itu dengan hati-hati, lalu duduk di samping Carmela. Tangannya kotor tanah, tapi ia tidak terburu-buru membersihkannya.

“Aku sering berpikir,” katanya pelan, “jika kita tidak dipaksa menikah… apakah kita akan saling memilih?”

Pertanyaan itu menggantung di udara. Tidak menuntut jawaban cepat.

Carmela memikirkannya sungguh-sungguh. “Mungkin tidak,” katanya jujur. “Aku terlalu takut. Kau terlalu tertutup.”

Matteo tersenyum pahit. “Ya.”

“Tapi aku juga tahu,” lanjut Carmela, “tanpa semua yang terjadi, aku tidak akan menjadi perempuan seperti sekarang.”

Ia menatap Matteo. “Dan kau juga.”

Matteo menghela napas panjang. “Aku dulu percaya cinta adalah kelemahan.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku tahu… cinta justru yang membuatku berhenti menghancurkan.”

Mereka terdiam.

Di ruang tengah rumah itu, masih ada beberapa kardus yang belum dibuka. Bukan karena malas, tapi karena mereka tidak lagi merasa dikejar waktu. Setiap hal boleh dilakukan perlahan.

Carmela masuk ke dalam. Ia membuka salah satu kardus, mengeluarkan bingkai foto lama. Foto pernikahan mereka—kaku, formal, nyaris tanpa senyum.

Ia mengernyit. “Apa kita perlu menyimpan ini?”

Matteo mendekat. Ia menatap foto itu lama, lalu mengangguk. “Ya. Bukan untuk dirayakan… tapi untuk diingat.”

“Diingat apa?”

“Bahwa kita pernah memulai dari tempat yang salah, tapi tidak berhenti di sana.”

Carmela meletakkan foto itu di rak—bukan di tempat utama, tapi juga tidak disembunyikan.

Di rak lain, ada foto-foto baru. Perjalanan singkat. Senyum kecil. Tatapan yang tidak lagi penuh kewaspadaan.

Matteo berdiri di belakang Carmela. Tangannya melingkar ringan di pinggang istrinya—tidak mengikat, tidak menahan. Sekadar ada.

“Carmela,” katanya lirih. “Jika suatu hari kau merasa hidup bersamaku terlalu berat… kau boleh pergi.”

Kalimat itu tidak lahir dari ketakutan kehilangan, melainkan dari rasa hormat.

Carmela menoleh. Matanya lembut, tapi tegas. “Aku tidak tinggal karena aku tidak punya pilihan,” katanya. “Aku tinggal karena aku memilih.”

Matteo menutup mata sejenak. Ada bagian dalam dirinya yang akhirnya benar-benar tenang.

Menjelang siang, mereka duduk di ruang makan kecil. Tidak ada pembicaraan besar. Hanya rencana sederhana—menanam lebih banyak bunga, mungkin bepergian tanpa tujuan, mungkin suatu hari mengisi rumah ini dengan suara lain.

Masa depan tidak lagi terasa menakutkan.

Tidak karena dunia menjadi baik, tapi karena mereka tidak lagi menghadapinya sendirian.

Saat matahari condong ke barat, Carmela berdiri di ambang pintu, menatap halaman yang kini memiliki dua tanaman baru. Matteo berdiri di sampingnya.

“Kau tahu,” kata Carmela pelan, “aku dulu berpikir kebahagiaan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan mati-matian.”

Matteo menoleh. “Dan sekarang?”

“Sekarang aku tahu… kebahagiaan adalah sesuatu yang dirawat.”

Matteo tersenyum. Ia menggenggam tangan Carmela.

Mereka bukan kisah tanpa luka.

Bukan cinta yang lahir dari mimpi indah.

Tapi dari keberanian untuk berubah.

Dari pilihan untuk tetap tinggal.

Dari rumah yang tidak dibangun di atas ketakutan.

Melainkan di atas kesadaran.

Dan di situlah, kisah mereka benar-benar berakhir—

bukan dengan ledakan,

melainkan dengan napas panjang yang akhirnya lega.

1
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
adinda berlian zahhara: makasih banyak❤️❤️
kalo ada kritik dan saran boleh banget Kaka 🫰
total 1 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!