Semua telah terjadi, imanku rasanya telah kubuang jauh. Berganti Nafsu syahwat yang selama ini selalu kupendam dalam-dalam.
Apakah ini benar-benar keinginanku atau akibat dari sesuatu yang diminumkan paksa kepadaku oleh pria-pria itu tadi.
Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu.
Satu yang pasti, aku semakin menikmati semua ini atas kesadaranku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telat Tiga Bulan
3 bulan berlalu setelah kejadian itu...
Aku sudah kembali ke kehidupan normalku. Eh tidak normal banget sih. Karena rupanya aku telat 3 bulan dan ternyata setelah aku coba melakukan test pack, hasilnya aku positif hamil.
Saat ini aku hanya bisa pasrah pada keadaan. Semua telah terjadi dan tidak ada yang perlu kusesali. Toh janin dalam perutku ini adalah darah dagingku sendiri walau ayahnya aku tidak tau yang mana.
Semua lelaki di sana sudah menanamkan benihnya ke rah1mku. Semua lelaki di sana sudah berlomba-lomba menghamiliku dan aku tidak tahu sperm4 siapa yang menjadi pemenangnya.
Aku merahasiakan ini semua dari keluargaku. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi padaku, baik teman-teman kajianku ataupun keluargaku.
Aku memang tidak ingin mereka tahu kejadian yang sebenarnya, aku tidak mau mereka khawatir terhadap diriku. Aku yakin aku bisa melaluinya seorang diri tanpa memberikan beban kepada teman-teman ataupun keluargaku.
Walau terkadang tersirat keinginan untuk mengakhiri hidup ini, rasanya aku tidak kuat menanggung aib yang kutanggung seorang diri.
Memang aku menikmati momen malam itu. Momen di mana sisi liarku bisa kulampiaskan seutuhnya. Momen di mana aku mengikhlaskan tubuhku disetubulvhi oleh pria-pria yang tidak kukenal itu.
Walau awalnya terpaksa, lama-lama aku pun menikmatinya. Menikmati perzin4han ramai-ramai kami malam itu.
Jika aku membayangkan kejadian itu, aku memang menyesalinya. Tapi tak bisa kupungkiri, aku selalu mastvrbasi jika memikirkan hal itu. Aku merindukan kehadiran mereka di kemalu4nku.
Rindu sekali.
Sampai suatu hari aku tanpa sengaja bertemu Arman, Ihwan yang menarik perhatianku dulu. Kita bertemu saat menghadiri sebuah kajian di sebuah gedung serbaguna di kotaku.
Seperti biasa Arman terlihat tampan sekali. Senyumnya memang begitu memanjakan mata. Aku sadari, banyak Akhwat yang diam-diam curi-curi mata kepada ikhwan tampan itu, banyak juga akhwat yang menjadikan Arman sebagai topik utama bahan ghibah mereka.
Aku yang saat itu hanya sekedar mendengar tidak ambil pusing dan tidak ikut nimbrung dengan pembicaraan tidak penting itu.
“Assalamu’alaikum Ukhti Ariefna...” kata Arman mengejutkanku dari belakang.
“Wa’alaikumsalam akhi.. Afwan ana tidak tahu akhi hadir juga di acara ini,” jawabku.
Kembali Arman tersenyum setelah bertemu denganku. Memang sepertinya kami sudah jarang betemu akhir-akhir ini. Mungkin karena kesibukan kami masing-masing, atau memang aku yang 1-2 bulan ini jarang mengikuti kajian besar karena kepikiran dengan jadwal haidku yang tak kunjung datang.
Terlihat sekali wajahnya begitu lega setelah bisa melihatku kembali. matanya sesekali mencuri pandang ke wajahku yang kututup dengan cadar berwarna merah muda hari ini.
Walau sebagian besar ia lebih banyak menunduk dan menghindari menatap wajahku terlalu lama.
“Bagaimana kabar anti?” tanya Akhi Arman sambil tersenyum ramah.
“Alhamdulillah baik akhi...” jawabku sambil tertunduk karena senyuman akhi Arman begitu menggoda.
“Ukhti Ariefna...” sapanya mengejutkanku karena Akhi Arman tidak meneruskan ucapannya.
“I.. iya Akhi....” Aku terbata karena entah mengapa jantungku jadi berdebar-debar menunggu apa yang akan disampaikannya.
Jika memang dia ingin mengajakku ta’aruf kali ini aku pasti akan menerimanya. Jika memang ia langsung mengajakku menikah, aku pun pasti akan langsung menerimanya dengan senang hati, karena aku pun sebenarnya ada rasa dengan ikhwan tampan ini.
Aku akan jujur kepadanya dan akan kuceritakan semua apa yang telah terjadi padaku. Aku akan bercerita saat ini aku sedang hamil akibat diperkos4 oleh para gang motor itu.
Entah dia bisa menerimaku atau tidak, aku pasrahkan semua kepadanya. Tetapi aku sangat yakin jika Akhi Arman benar-benar menginginkanku, ia akan menerima ku apa adanya. Ia akan menerima semua kekuranganku apa pun itu.
“Ukhti Ariefna.. Afwan.. ini ana bermaksud kasih anti undangan nikah. Ana akan menikahi Ukhti Maimun, besok sabtu akad nikahnya. Anti datang ya....” ujar Arman dengan senyum manisnya.
Bak tersambar petir di siang bolong, hatiku hancur sehancur-hancurnya.
Tiba-tiba air mataku tak mampu kubendung saat itu juga. Aku coba tahan air mataku agar tidak jatuh. Pasti akan sangat memalukan jika aku terlihat menangis di hadapan Akhi Arman.
Begini rupanya rasa hati yang tersakiti. Aku semakin menunduk menyembunyikan wajahku, menyembunyikan segala rasa hancur yang kurasakan saat ini.
Aku menyesal, dulunya aku terlalu jual mahal. Bahkan terhadap Arman yang menjadi pujaan hati para akhwat itu, aku pun begitu kaku.
Kutolak ajakan taarufnya saat itu. Kutolak semua keinginannya menikahiku saat itu. Sekarang aku mengerti, jadi seperti inilah rasanya patah hati, lelaki yang selalu kuinginkan sebenarnya, akhirnya menjadi milik akhwat lain karena sikapku yang begitu kaku.
“Eee.. Aa.. Akhi.. Se.. selamat ya akhi... Se.. semoga sakinah ma waddah warrahmah,“ jawabku terbata sambil terus menunduk menahan sesak di dada.
Air mataku tak kuasa kutahan dan akhirnya jatuh perlahan. Ingin sekali aku segera pergi meninggalkan Akhi Arman saat itu juga. Inikah
rasanya sakit hati?
Inikah rasanya rasa kecewa saat apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang kita dapatkan?
“Afwan ana permisi pulang dulu... Assalamu’alaikum...” kataku terburu-buru sambil terus menundukkan pandangan tak sanggup memandang senyum ikhwan yang begitu tampan itu.
“Ehhh.. Ukhti Ariefna.. Wa’alaikumsalam...” jawab Akhi Arman dan ia pun membiarkanku pergi tanpa mengejarku.
Air mataku tumpah sejadi-jadinya, aku terus berjalan menuju tempat parkiran dan tak peduli banyak orang melihatku sedang menangis selama berjalan pulang dari gedung serba guna ini.
Beberapa orang yang mengenalku pun menyapaku dan tak kugubris sedikitpun. Aku batalkan untuk datang mendengarkan kajian, aku hanya ingin segera pulang!
Jam sudah menunjukkan pukul 18.00, langit sudah mulai redup dan semakin gelap. Senja di cakrawala pun mulai sirna, berganti awan hitam yang mulai membumbung tinggi di langit.
Aku hanya berdiam diri dari siang tadi bersembunyi di balik selimut tempat tidurku. Bahkan aku sengaja meninggalkan ibadah 5 waktuku hari ini karena rasa kecewa akibat hati yang tersakiti.
...tit tit tit...
suara WA masuk ke handphoneku
“Hai Ariefna, ini Bima.. Ketemuan yuk”
"Bima? Anggota gang motor itu?" tanyaku dalam hati dan jantungku tiba-tiba berdegup kencang mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
“Tolong jangan ganggu saya lagi mas.. Saya sudah tidak mau berurusan dengan gang motor mas lagi,” jawabku sambil gemetaran.
“Tenang saja Ariefna, semua anggota gang motor sudah ditangkap jadi tidak akan ada yang ganggu kamu lagi,” ujar Bima lelaki berantakan yang tubuhnya atletis itu.
“Eh kok bisa? Kamu kok bisa bebas?” tanyaku terkejut.
“Hehehe om ku polisi.. Inget Pak Sarwono? Polisi gendut dan temannya yang gerebek markas. Dia om ku...”
“Pak Sarwono? Maksud kamu Pak Wo?” tanyaku bingung.
“Iya, dia namanya Sarwono dia om ku. Om yang juga ngajari hal-hal cabvl ke aku. Hehehe...”
Aku kemudian mencoba mencerna situasi. Jadi Bima dan Pak Wo bekerja sama meringkus gang motornya sendiri?
“Kemarin itu kalian cuma sandiwara?” selidikku.
“Iya, aku yang buka data mereka semua ke om ku. Karena Aku ingin miliki kamu tanpa diganggu mereka. Jadi aku buat mereka semua ditahan polisi, dan aku bisa milikin kamu seutuhnya,” kata Bima membuatku semakin bingung.
“Kamu jadi berkhianat ke gang motormu sendiri?" tanyaku.
“Sebenarnya aku sudah capek dengan kelakuan anggota gang yang makin parah... Selain itu, aku juga jatuh cinta sama kamu...” ujar Bima dengan nada serius.
“Jadi kamu memang mau buat mereka semua ketangkep dan nyelamatkan aku?”
“Iya gitu, apalagi Aku ga tega waktu lihat kamu dikenc1ngin mereka. Aku jadi ngerencanain ini semua, dan buat mereka membayar semuanya,” kata Bima.
“Ohhhhh..?” kataku masih mencoba mencerna situasi.
“Maaf ya... Tapi Dasar omku mesvm katanya dia bilang lagi pengen genjot jadi ga bisa bantu kalau ga ada bonus ceweknya. Aku pun cerita ke omku dan paksa om ku demi nyelametin kamu. Terus aku bilang ke om ku sebagai imbalannya, omku dan temannya bisa minta dilayanin kamu...” kata Bima.
“Hah? Kamu cinta aku tapi kamu rela kasih aku ke om mu dan Pak John? Gimana sih??” aku semakin tidak mengerti.
“Justru itu Ariefna... Aku akan sangat merasa bangga jika bisa memilikimu.. Aku berniat memamerkan keindahanmu ke om ku. Bukan hanya ke omku saja tapi ke seluruh dunia. Ariefna milikku yang terindah. Hihihi...”
“Gila kamu Bimaaaaa,” aku benar-benar tak habis pikir.
“Habisnya kamu begitu indah Ariefna, benar kata mereka kamu wanita spek bidadari surga,” ujar Bima serius.
“Gombal!” kataku.
“Terus gimana? Kamu mau nemenin aku nggak? Aku sudah di depan rumahmu nih.”
“Eh kamu sudah di depan rumah aku? Gilaaa ya kamu... Ya udah aku keluar sekarang,” kataku sambil buru-buru menggunakan gamis, kerudung, serta tak lupa cadar taliku.
Aku pun bergegas keluar rumah dan ternyata memang benar kulihat Bima sudah parkir di depan rumahku dengan motor Ninjanya.
Ada sedikit yang berbeda dari penampilannya. Ia pangkas habis rambutnya yang berantakan dan keriting, kini rambutnya terlihat cepak dan rapi seperti seorang polisi muda.
Tiba-tiba rah1mku terasa hangat saat memandangi pemuda itu yang ternyata kalau dilihat lama-lama tampan dan manis juga. Ia tersenyum melihat kearahku
“Ikut?” tanyanya sambil memberiku helm.
Tanpa ditanya dua kali, aku menganggukkan kepala dengan cepat dan menghampirnya. Ia lalu mencubit hidungku yang masih tertutup cadar.
“Jawab dong ikut ngga?” katanya sambil tersenyum.
“Iya, ikut.. Eh tapi kamu mau ajak aku kemana?” tanyaku.
“Kemanapun kamu mau sayang...” ujar Bima.
“Tapi...” kataku kemudian.
“Kenapa?” tanyanya heran.
“Aku hamil Bima, gara kamu dan temen-temenmu...” kataku dengan nada serius.
“Hehehe.. Kalau gitu malam ini kita main lagi aja. Aku kas4rin kamu lagi sampai kamu hamil dan kuanggap janin dalam perutmu itu anakku.. Gimana?” Ujar Bima.
“Mauu....” jawabku manja.
“Tapi ada syaratnya,” kata Bima tiba-tiba mengejutkanku.
“Syarat apa lagi sih?” ujarku kesal.
“Hehehe.. Lakukan sesuatu yang nakal dong. Sekarang,” kata Bima mesvm.
“Ih aneh aneh aja.. Nggak mau ah...” kataku
“Aku mau kamu cadaran tapi nakal Ariefna,” bujuk Bima.
“Tapi kamu janji mau jadi ayah dari anak dalam perutku?” tanyaku memastikan.
“Aku janji!” ujarnya serius.
“Baiklah...” kataku.
Kemudian dengan santainya kuangkat rok gamisku keatas dan kupelor*t celana dal4mku sendiri hingga terlepas dari kedua kakiku.
Lalu kulempar celana dalamku ke mobil tetanggaku yang parkir di bahu jalan. Bima sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuanku.
“Aku sudah cukup nakal?” tanyaku genit sambil menampakkan vagin4ku di hadapannya.
“Lumayan.. Kamu nakal. Aku suka...” ujar Bima.
“Ya udah yuk,” ajakku dan segera naik motor sportnya itu tanpa persetujuannya.
Sambil bergelayut dan memeluknya dari belakang, ia lajukan motornya meninggalkan rumahku dan membawaku kemanapun ia mau.
Mengulang kenikmatan persetubvhan kami seperti beberapa bulan yang lalu. Tanpa ada gangguan dan paksaan.
Penuh keikhlasan kuputuskan untuk menjadi miliknya, melayaninya, dan mencintainya.
Terima kasih Bima...
“I love you too Bima,” kataku lirih sambil membenamkan kepalaku di punggungnya yang bidang.