Saat keadilan sudah tumpul, saat hukum tak lagi mampu bekerja, maka dia akan menciptakan keadilannya sendiri.
Dikhianati, diusir dari rumah sendiri, hidupnya yang berat bertambah berat ketika ujian menimpa anak semata wayangnya.
Viona mencari keadilan, tapi hukum tak mampu berbicara. Ia diam seribu bahasa, menutup mata dan telinga rapat-rapat.
Viona tak memerlukan mereka untuk menghukum orang-orang jahat. Dia menghukum dengan caranya sendiri.
Bagaimana kisah balas dendam Viona, seorang ibu tunggal yang memiliki identitas tersembunyi itu?
Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
"Vi!"
Viona yang sedang duduk di sebuah cafe, tersentak ketika mendengar suara seseorang memanggil namanya. Ia menoleh dan melihat Ghavin berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
"Ghavin?" Dahi Viona mengernyit, hanya beberapa saat saja. Ia segera berpaling dan hanyut dalam kesendirian lagi.
Tak heran jika Ghavin datang ke tempat itu karena di sana mereka selalu menghabiskan waktu bersama di saat senggang. Ghavin berjalan dan tanpa berpamitan duduk di meja yang sama dengan Viona.
"Tak kusangka kau ada di sini. Setelah sekian lama ... kau tahu? Hampir setiap malam aku datang ke sini hanya berharap kau akan muncul," ucap laki-laki itu seraya memanggil seorang waiters dan memesan minuman kesukaannya.
Viona melirik tanpa minat, sikapnya sudah berubah terhadap laki-laki itu sejak kecelakaan Merlia. Ia diam tak menanggapi, tetap menatap ke depan pada danau yang terbentang tenang.
Ghavin menatap wanita itu dengan saksama. Tak dipungkiri hatinya rindu masa-masa dulu saat Viona masih bekerjasama dengannya. Oleh karena hasutan rubah betina itu, semuanya hancur. Viona keluar dan tak pernah kembali lagi.
"Apa kau tidak berencana untuk kembali ke markas? Kapten sangat menanti kedatanganmu," tanya Ghavin mengusir sepi.
Viona memang berubah, dari dulu wanita itu tidak pernah suka senda gurau, tapi akan berbeda saat bersama Ghavin. Mereka akan tertawa, bercerita, dan berbincang apa saja untuk mengusir sepi.
"Untuk apa? Bukankah dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan? Aku tidak akan pernah masuk ke dalam sana lagi," sahut Viona seraya menyeruput kopi susu dengan pelan.
Ghavin menghela napas, menatap wajah Viona yang keras dan dingin.
"Masalah apa yang sedang kau hadapi, Vi? Tidak inginkan kau bercerita padaku seperti dulu?" ujar Ghavin pelan dan penuh kerinduan.
Brak!
Viona membanting cangkir cukup keras. Kepalanya berputar menatap Ghavin yang diam membeku. Tatapan matanya begitu tajam menghujam, menusuk hingga ke relung kalbu.
Lalu, dia tertawa sembari berpaling. Menertawakan Ghavin yang memiliki keponakan seorang bajingan. Ghavin mengernyit bingung.
"Tanyakan pada keponakanmu maka kau akan tahu," katanya kembali bungkam.
Kesunyian kembali hadir menyapa mereka, rasa canggung mulai menjadi teman, tak lagi nyaman seperti dulu. Viona benar-benar berubah.
"Dicky?" Dahi Ghavin berkerut, semakin dalam menelisik garis wajah Viona yang dingin.
"Siapapun namanya aku tidak peduli," ketus Viona tanpa menoleh pada sahabat lamanya itu.
Sejujurnya ia pun merindukan masa-masa bekerja bersama Ghavin. Dia adalah seseorang yang mampu membuatnya tertawa. Viona yang hidup sebatang kara serasa memiliki keluarga saat bersama dengannya.
Namun, sekarang semuanya berubah, perasaan itu ditepis Viona jauh-jauh. Bagaimanapun dia akan berhadapan dengan Ghavin suatu saat nanti. Tak akan mungkin laki-laki itu membiarkan keponakannya mati sekalipun dia adalah penjahat.
Viona mencium aroma seseorang yang datang ke tempat itu, ia hafal siapa pemilik aroma tersebut.
"Dia datang," katanya membuat Ghavin menoleh.
Semakin dalam kerutan di dahi laki-laki itu, bagaimana Viona bisa tahu kedatangan Dicky. Ah, betul! Indera penciumannya sangatlah tajam, dia bisa menghafal aroma seseorang dari sejak pertemuan pertama. Pertemuan pertama mereka adalah di rumah Ghavin sendiri.
Dicky berlari cepat dari parkiran ketika melihat pamannya. Sebelumnya dia mendatangi rumah Ghavin, tapi tidak menemukan laki-laki itu di sana.
"Paman!" Dicky berteriak seolah-olah itu adalah rumah mereka.
"Pelan kan suaramu! Kau pikir ini rumahmu!" bentak Ghavin dengan rahang yang mengeras.
Dia kesal setiap kali bertemu dengan keponakannya itu. Masalah yang dibuatnya kali ini sangatlah serius. Tidak mudah untuk Ghavin menyelesaikannya karena menyangkut keadilan seseorang.
"Paman!" Dicky memelankan suaranya, mendatangi tempat duduk Ghavin hendak melapor.
Namun, ia tertegun saat menyadari ada orang lain di sana. Viona dengan rambutnya yang diikat tinggi sama persis seperti saat mereka bertemu untuk pertama kalinya waktu itu. Dicky menelisik penampilan Viona dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Tak ada jaket kulit, tak ada jeans, juga sepatu bergerigi. Dia nampak biasa dengan sepatu sport dan celana training serta kaos oblong yang oversize berwarna abu-abu. Khas seorang Viona sangat berbeda dengan wanita yang baru saja ikut balapan motor.
"Ada apa? Kenapa kau seperti dikejar setan begitu?" tanya Ghavin ketus.
Dicky tidak menyahut, dia berlari ke luar memastikan sesuatu di area parkiran. Mencari motor Viona yang digunakan untuk balapan tadi. Nihil.
Kau pikir aku seceroboh itu? Viona bergumam di dalam hati, tersenyum samar sembari menyeruput kopi di cangkirnya.
"Dicky!" panggil Ghavin heran dengan tingkah aneh keponakannya itu.
Dicky berlari ke sisi pamannya, menuding Viona dengan tegas.
"Dia ... dia pembunuh, Paman! Dia sudah membunuh Diaz!" ucap Dicky cepat meski terdengar bergetar.
Viona tersenyum, menyimpan kembali cangkirnya di atas meja. Ia menoleh kepada Dicky, menatap tajam sambil tersenyum, tapi demikian cukup membuat hati Dicky bergetar. Ancaman Viona sebelum berlomba kembali mengiang di telinga.
"Paman! Aku tidak berbohong. Kau harus percaya padaku. Dia ... dia baru saja ada di arena balapan bersama Diaz, tapi kemudian Diaz jatuh ke jurang dan motornya terbakar. Hanya dia yang ada di lokasi itu, Paman. Kau harus percaya padaku!" cerocos Dicky dengan wajah ketakutan dan tubuh gemetaran.
Ghavin mengepalkan tangan kuat-kuat, dia tahu siapa dan bagaimana Diaz dengan Dicky. Mereka sangat dekat dan sering berkunjung ke rumahnya, tapi saat ini bukan itu masalahnya.
Plak!
Suara tamparan sangat keras menggema di tempat tersebut.
ok lah thor.. maaf lahir batin jg ya. 🙏🏼🥰