Devan Artyom, sang pewaris sah Artyom Group, disingkirkan dalam konspirasi pembunuhan oleh kakaknya sendiri karena ambisi kekuasaan. Meski ia selamat, namun tidak dengan Ayahnya. Devan kemudian diasingkan dalam kondisi fisik dan mental yang hancur, termasuk ditinggalkan oleh tunangannya sendiri yang lebih memilih sang kakak yang telah berkuasa.
Di titik terendah dalam hidupnya itu, takdir mempertemukannya dengan seorang perempuan berambut keemasan yang menyelamatkan jiwanya dari kematian dan memberinya cahaya untuk hidup kembali, namun perempuan itu menghilang tanpa jejak.
Dialah Anna Isadora B, yang dibesarkan dalam kurungan seorang ibu yang kejam. Suatu hari ia kembali menerima janji kebebasan di atas kapal pesiar, namun nyatanya ia pun kembali diperjualbelikan.
Namun, takdir kembali mempertemukan Devan dan Anna tepat di saat Anna mencoba mengakhiri hidupnya dengan melompat ke tengah samudera. Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya?
💌DARK PSYCHOLOGICAl ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evrensya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Dari Masa Lalu (1)
Anna menanggapi sindiran itu tanpa gentar. “Tidak sama sekali. Justru karena saya sangat meyakini standar penilaian Anda yang sempurna. Itulah inti dari semua yang saya lakukan pada ruangan ini dan juga saya katakan barusan."
Devan menyipitkan mata. “Lalu, apa kau berdiri di hadapanku sebagai seorang pengamat seni atau peramal? Bukankah wewenangmu di sini hanya sebatas cleaning service?”
"Saya tahu dan sekaligus menyayangkan Anda yang seolah dengan sengaja mengabaikan jati diri Anda, padahal ruangan ini seharusnya mencerminkan kekuatan dan pesona Anda. Sebelumnya ruangan ini menurut saya hampa, tak memancarkan apa pun selain kemewahan saja, tapi saya yakin sekarang berbeda.” Timpal Anna sembari menoleh ke arah ruangan yang sudah berubah total dari sebelumnya.
Ucapan itu bagai cambuk keras di telinga Devan. Benar adanya, standar kesempurnaan seorang pemimpin tak hanya tercermin dalam kerja dan keputusannya, melainkan harus pula berakar dari ruang yang menjadi pondasi dirinya. “Aku jadi penasaran, dari pernyataanmu itu seolah kau sudah mengenalku begitu dekat, apa kau tidak merasa begitu?”
“Tidak ada hal yang seperti itu. Jelas saya adalah seorang pegawai rendahan dan Anda adalah seorang Boss besar. Bagaimana mungkin kedekatan semustahil itu tercipta," sanggah Anna.
mendengar itu Devan terkekeh pelan, seolah perbedaan status ini menekan harga diri Anna. "Lalu dari mana datangnya ramalan yang kau ungkapkan tadi? Seolah-olah kau tahu betul segalanya tentangku. Apa kau hantu penunggu kantor ini yang baru siuman?"
Anna terkejut sejenak mendengar pertanyaan Devan. Ada kata-kata yang tidak asing dalam pernyataan itu. "Boss, itu bukan ramalan, saya bersedia melakukan pekerjaan ini setelah menggali cukup banyak informasi tentang Anda. Tidak ada korelasinya sama sekali dengan pertanyaan yang Anda ajukan. Ramalan atau hantu, saya yakin Anda hanya bergurau."
"Lalu sejauh mana kau menggali informasi tentangku? Sampai-sampai kau merasa berhak menginterupsiku di ruanganku sendiri. Kau mengkritik kekurangan yang kau kira bukan pilihanku, tapi kau bahkan tidak menyadari bahwa keberanianmu mengubahnya adalah bentuk interupsi yang paling nyata." Devan sengaja menjebak Anna lebih jauh dalam perdebatan ini.
"Orang-orang di luar sana tak henti-hentinya menekankan betapa tingginya standar Anda. Mereka berkata, satu kesalahan kecil saja bisa menjadi alasan pemecatan seorang pegawai. Saya tidak mengerti, apakah Anda berpikir sedang mempekerjakan robot bukan manusia yang tak luput dari salah? Dari sanalah saya merasa tertantang oleh satu kata yang selalu melekat pada Anda, ‘sempurna’. Dan saya tidak berniat menginterupsi, saya hanya mencoba memahami apakah kesempurnaan yang Anda tuntut memang realistis, atau hanya mitos yang Anda pelihara.” Anna tidak terpancing oleh pembalikan logika Devan.
Devan diam dan hanya mendengarkan Anna berbicara.
“Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di ruangan ini, saya langsung mengerti maksud mereka. Memang benar, selera Anda tinggi. Koleksi barang antik, benda mewah, serta teknologi canggih memenuhi tiap sudut. Tapi, bagi saya, sekali lagi itu hanya meninggalkan kesan kemewahan semata. Dan itu, belum cukup untuk disebut sempurna.” Suaranya sarat akan keyakinan.
Anna menambahkan, “Karena itulah saya memutuskan untuk mengubahnya. Bukan berdasarkan selera saya pribadi semata, melainkan atas dasar pengetahuan dan pemahaman yang saya pelajari tentang Anda. Dan ya, saya tahu betul risikonya. Tapi saya tetap memilih melakukannya.”
“Baiklah, aku akui keberanianmu."
“Terima kasih,” balas Anna cepat.
Devan mengulum senyum samar, lalu menjatuhkan tubuh di atas kursi kebesarannya. Ia ingin lebih santai menikmati percakapan yang menggairahkan ini. Sudah lama sekali ia tak berhadapan dengan seseorang yang mampu menyalakan bara diskusi seintens ini.
“Kau, kemarilah,” panggilnya sembari mengangkat tangan, melambaikannya pelan. “Berdiri lebih dekat dariku.” Telunjuknya terarah tegas, menentukan tempat Anna harus berdiri.
Tanpa ragu, Anna bergerak pelan ke sisi meja, lalu berhenti tepat di samping Boss-nya. Kini jarak mereka lebih dekat dari sebelumnya.
“Ruangan ini sebenarnya ditata oleh tunanganku. Dia Kepala Desainer di perusahaan ini. Lulusan universitas seni ternama di Paris. Dan kau masih berani yakin hasil kerjamu lebih baik daripada hasil kerja tunanganku?” Devan sengaja menekankan kata 'tunanganku'.
"Tunangan? Hubungan mereka ternyata benar-benar langgeng." Tapi Anna tidak peduli soal itu. “Saya tidak sedang menilai kemampuan tunangan Anda. Bahkan saya tidak peduli meskipun dia seorang Kepala Desainer atau ahli interior tersohor. Karyanya mungkin saja sudah sempurna menurut standarnya, tetapi setelah melihat hasilnya, saya mendapati sesuatu yang kurang. Karakter Anda yang kharismatik, perfeksionis, bahkan nyaris absolut, sama sekali tidak tercermin dalam ruangan ini. Hasilnya, ruangan ini tampak mati bagi Anda.”
"Apa kau ingin mengatakan bahwa aku membiarkan tunanganku menginterupsiku? Kau pikir aku menggadaikan prinsip dan standarku hanya demi seorang tunangan?" kali ini pertanyaan Devan cukup menjebak.
"Benar. Lalu pertanyaan saya selanjutnya, sudah berapa tahun lamanya Anda membiarkan ini terjadi?" rupanya Anna bisa lolos begitu saja.
Damn! Holy shit! Kata itu tertelan oleh tarikan napas Devan yang tertahan. Sebab Logikanya diputar balik dengan sempurna. "Bagaimana kau bisa begitu yakin bahwa standar orang lain lebih rendah darimu, sehingga kau merasa perlu merubahnya hanya karena tidak sesuai dengan standarmu? Apa kau merasa dirimu seorang profesional?"
“Saya tidak mengubahnya demi standar pribadi saya, Boss. Saya menyesuaikannya dengan fungsi ruangan itu sendiri yang mencerminkan posisi dan citra Anda,” jawab Anna.
"Apa yang akan kau lakukan jika tunanganku tidak menyukai perubahan ini?” lanjutnya, seakan topik sebelumnya tak pernah menampar egonya.
“Jika tunangan Anda tidak menerimanya dan Anda mendukungnya secara pribadi, maka tentu saya siap bertanggung jawab. Saya bahkan bisa mengembalikan tatanan ruangan ini seperti semula. Beri saya sepuluh menit. Hanya itu yang saya butuhkan,” jawabnya mantap.
Devan menatap Anna lebih lama, lalu melemparkan ujian terakhir. “Kalau dia memintaku memecat mu, bagaimana?”
Anna mengangkat bahu ringan. “Itu konsekuensi yang sudah saya sadari sejak awal. Saya tidak akan menyesal. Jika itu harus terjadi, saya siap dipecat dan pergi dari sini.”
Devan tersenyum tipis. “Jadi kau sama sekali tidak takut ancaman? Tidak takut kehilangan pekerjaan hanya karena tindakan lancangmu?Apakah wajar menjadi terlalu sombong hanya karena kau merasa benar? Bagaimana kalau bukan hanya dipecat, tapi juga dituntut secara hukum? Ganti rugi materi?”
“Apakah tuntutan seperti itu masuk akal? Saya bekerja sesuai keahlian saya, dengan hasil yang bisa Anda lihat sendiri. Tidak ada kerusakan, tidak ada kelalaian. Yang ada hanyalah perhitungan mendalam, ketelitian, dan inspirasi yang merepresentasikan diri Anda." Anna berhenti sejenak seraya menatap Devan. “Apakah itu pantas disebut merusak? Tidak. Saya ini bekerja, Boss. Bukan main-main.”
“Aku akui pekerjaanmu tidak dilakukan asal-asalan. Tapi tetap saja, tindakanmu lancang. Kau mengakui itu, bukan?” lanjut Devan tak mau mengalah.
Anna tidak mengelak. “Benar. Saya lancang. Tapi jika di sini saya dianggap lancang karena menunjukkan hasil kerja saya, maka biarlah saya lancang dengan logika dan bakat. Saya tidak merasa rendah diri karena itu."
Tanpa disadari, gadis ini telah berhasil mencuri seluruh perhatian sang Boss besar, dalam waktu yang begitu singkat. Gadis ini memang luar biasa. Lupakan penampilannya yang tampak cupu dan buruk rupa. Tapi kecerdasannya, gaya bicaranya, ketajaman logikanya, semuanya begitu memikat.
“Kau terlalu percaya diri hingga lupa di mana posisimu. Sikap semacam ini tak sepantasnya kau tujukan kepada atasanmu,” ujar Devan, nadanya naik satu tingkat lebih berbahaya. Ia menunggu efeknya. Namun rupanya tidak datang.
“Sekali lagi, saya hanya berterus terang, Boss. Dan saya paham benar dengan apa yang saya kerjakan, itulah sumber kepercayaan diri saya." Anna tak mencari pengampunan.
Devan kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan. "Pembelaan dirimu cukup baik, tapi tetap saja... Itu menjengkelkan.”
Anna akhirnya mengambil sebuah keputusan setelah cukup jenuh dengan perdebatan ini. “Baiklah. Saya akan menerima apa pun penilaian Anda tentang saya. Singkat saja, sebelum saya dipecat, tolong katakan dengan jujur. Apakah tatanan ruang yang saya kerjakan ini sesuai dengan selera Anda, atau tidak? Dengan begitu, saya bisa berintrospeksi diri dan menawarkan tanggung jawab penuh.”
Pertanyaan Anna membuat Pak Ali yang sejak tadi menunduk dalam, tersentak. Ia mendongak menatap Anna dengan sorot tak percaya, seolah baru menyadari bahwa batas yang selama ini tak pernah dilampaui siapapun, kini telah dilangkahi oleh gadis rendahan ini. “Kau terlalu berani!” sergahnya. “Kendalikan ucapanmu! Tunjukkan hormatmu pada Boss besar!”
Devan segera menatap tajam ke arah Pak Ali. "Pak Ali, diam.”
Seketika, Pak Ali terbungkam, kembali pada sikap semula.
“Dan kau—!” telunjuk Devan kembali terarah ke wajah Anna. “Bukan itu pokok masalahnya. Ini bukan sekedar soal aku suka atau tidak suka. Dalam lembar tugas yang kau terima, jelas tertulis perintah untuk membersihkan ruangan. Bukan mengubah tata letak sesukamu.”
Devan masih sengaja memperpanjang perdebatan. “Bahkan jika misalnya aku menyukai hasil kerjamu, tetap saja kau telah melampaui batas. Kau tidak memahami etika. Lalu, menurutmu, bagaimana seharusnya aku menyikapimu? Kau tidak meminta maaf, bahkan tidak menunjukkan penyesalan.”
Anna berusaha menetralkan gejolak emosinya akibat ranjau-ranjau kata yang ditebar sang Boss. “Boss, menurut saya pernyataan sejak tadi Anda berputar-putar di tempat. Memang benar, tugas saya di sini sebatas membersihkan, tapi dalam lembar job desk tersebut tidak tertulis secara eksplisit bahwa menggeser benda-benda di ruangan Anda merupakan pelanggaran berat. Bukankah itu justru menunjukkan kelalaian pihak perusahaan yang tidak merumuskan aturan dan larangan secara rinci?”
Pria di hadapannya kini sungguh berbeda dengan Devan yang dikenalnya sepuluh tahun silam, yang polos, lembut dan hangat. Perkembangan Devan demikian pesat, hingga sosok yang kini berdiri di hadapannya terasa seakan orang lain. Rumor yang beredar memang benar adanya, Boss besar itu berhati dingin, angkuh dan perfeksionis.
“Mengapa kau hanya melamar sebagai cleaning service? Dengan lidah tajam mu itu, kau bahkan bisa menjadi penasihat Presiden.” Devan semakin menjadi-jadi.
“Karena saya membutuhkan kebebasan, tak peduli dari jalan mana pun itu datang.” Jawab Anna apa adanya, jujur sesuai dengan kondisinya.
Devan selalu berusaha menekan emosi Anna lebih dalam. “Jadi menurutmu, kebebasan itu berarti kau bebas mengubah apa pun yang kau anggap kurang? Sampai membuatmu merasa mampu menabrak keteraturan di kantor ini hingga melampaui batas, dan mengutak-atik tatanan yang dibuat orang lain hanya karena kau yakin bisa melakukannya? Atau kebebasanmu memang sejauh itu?"
❤️❤️❤️
semangat buat kakak author