Hai, salam kenal! ini karyaku yang pertama semoga kalian suka. Terima kasih sudah berkenan membaca!
Bab 1. Pertemuan
Namaku Aiu N. Ya, Aiu N. Banyak orang tanya nama panjangku tapi hanya ku jawab seperti itu saja. Aku memang tidak tahu kepanjangan "N" itu sendiri. Mereka bilang aku aneh karena gak tahu kepanjangan namaku sendiri. Mau gimana lagi emang itu yang terjadi.
Aku tinggal di toko kue yang letaknya di sebelah panti asuhan. Aku dibesarkan di panti asuhan. Menurut cerita ibu kepala panti, aku dibawa ke sana saat umurku 5 tahun. Nenek yang membawaku meninggal setelah 1 hari tinggal di panti. Tidak banyak yang diceritakan kepadaku tentang siapa aku. Meski penasaran tapi ya sudahlah, mungkin suatu saat akan datang jawabannya.
Hari sudah pagi, adzan subuh sudah berkumandang. Bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu. Hari ini memang seperti biasa hanya saja aku harus bergerak cepat karena ini hari pertama datangnya bos baru. Gak mungkin kan terlambat di hari pertama bos baru datang. Apa kata si bos nanti?!!
Setelah salat subuh, aku turun ke bawah menuju toko kue. Melihat persiapan toko yang akan dibuka pukul 06.00 setiap harinya. Semenjak kerja semua kegiatan toko ku serahkan pada anak-anak di panti yang sudah lulus SMA. Aku hanya tinggal mengawasi saja. Setelah persiapan selesai, toko dibuka dan pembeli mulai berdatangan. Aku kembali ke kamarku untuk bersiap-siap berangkat kerja.
Dengan mengenakan blouse berwarna biru langit, celana panjang hitam, serta blazer hitam aku siap untuk pergi kerja. Rambut dikuncir kuda, make up tipis, dan tidak lupa sepatu kets serta ransel biru dongker kesayangan menyertaiku pagi itu. Setiap hari ke kantor dengan naik angkutan umum. Males aja naik kendaraan pribadi, bikin macet dan nambah polusi.
Hanya 5 menit perjalanan sampai dengan selamat di kantor. Seperti biasa satpam yang ramah menyapa.
"Pagi, mbak!" kata pak satpam.
"Pagi, pak!" jawabku.
Aku berlari menuju lift setelah melihat ada lift yang terbuka. Selamat. Orang-orang di lift menatap aneh ke arahku. Aku hanya diam. Ku tekan tombol 10. Seketika ku dengar bisik-bisik tetangga, "Oo...itu ya si orang aneh itu!" kata salah seorang wanita. Tak ku pedulikan dan tetap diam saja. Satu persatu orang-orang itu turun dari lift. Tinggal aku seorang diri. Ting. Bunyi lift dan pintu terbuka. Aku segera masuk ke dalam ruanganku.
Setelah duduk di kursiku, ku nyalakan komputer dan membaca setiap email yang masuk. Ku lihat ke ruangan bos, si bos belum datang. Akupun pergi ke aula untuk melihat persiapan pertemuan pagi ini. Pertemuan dimulai pukul 09.00, sekarang masih jam 07.15. Setelah mengecek semua persiapan, aku kembali ke ruangan. Ku lihat lagi ruangan si bos, belum datang. "Kembali ke ruangan dulu ah!"
Sambil mendengarkan lagu Ready steady go-nya Laruku, ku cek lagi jadwal si bos hari ini. Kalo ada yang kelupaan bisa amsyong.
- Author pake dua kata subjek aku dan gue ya... itu semata ngikutin kata hatinya author yang aneh. -
Jujur aja gue gak tau orang macam apa yang bakal gantiin Pak Hadi. Sebenarnya ada rasa takut di hati, apa bakal cocok atau gak sama bos baru. Apa bakal dipecat ya kalo dia liat kelakuan aneh gue? Apa semua keanehan gue yang ditolerir sama Pak Hadi bakal berakhir? Jangan-jangan gue disuruh ngembaliin ruangan sekretaris kayak dulu lagi. Yap. Ruangan gue ini dah dirombak sedemikian rupa biar gue nyaman. Ruangan sekretaris yang udah mirip kamar kos-kosan. Meja kerja gue ganti sama meja minum teh ala jepang. Lantainya full karpet bulu. Dindingnya gue tempelin wallpaper gambar bunga sakura dan pemandangan musim semi di jepang. Gak lupa di meja gue pasang bingkai fotonya Hyde, vokalisnya Laruku yang ganteng. Gue juga bawa kasur lipet semacam futon gitu yang gue umpetin di lemari. Jaga-jaga kalo lembur dan males pulang jadi tidur di kantor. Serasa tu kantor gue yang punya, hahaha... Ada rak sepatu di depan ruangan. Isinya ada sendal bunny kesayangan gue, sepatu kets, flat shoes juga sepatu kerja berhak 5cm, dan sendal jepit.
Lagi asik ngelamun, tiba-tiba pintu diketuk. Tok..tok...tok... Ku lihat Pak Hadi berdiri di pintu ruangan.
"Maaf pak saya ngelamun, gak tau bapak udah datang." kataku.
"Sudah gak apa-apa. Kamu kasih tau semua karyawan untuk berkumpul di aula 5 menit lagi". ucap Pak Hadi dengan senyum.
Tepat pukul 08.00 semua karyawan sudah berkumpul di aula. Kemudian Pak Hadi masuk bersama dengan dua orang pria yang mukanya aje gile, ganteng bener. Jujur aja gue sampe bengong liatnya. Gue cepet-cepet sadar, kalo gak fokus apa kata bos baru bisa-bisa habis pertemuan gue dipecat.
Gak pake basa-basi, Pak Hadi langsung memperkenalkan pria yang bersamanya.
"Assalamualaikum, Selamat Pagi! Ini anak saya yang mulai hari ini akan memimpin perusahaan." ucap Pak Hadi sambil merangkul anaknya dan tak lupa tentunya dengan senyuman.
"Assalamualaikum, Selamat pagi! Saya Andreas Putra Winata dan ini asisten saya Alex Wiryawan. Mohon kerja samanya selama saya memimpin. Terima kasih." ucap Andre singkat.
Setelah itu, semua karyawan kembali ke ruangan. Akupun meminta OB untuk membereskan aula. Sekilas ku dengar para karyawan membicarakan bos baru.
"Wuiiih...ganteng banget Pak Andre, udah punya pacar belum ya?? Pengen gue gebet dah si bos". kata salah satu karyawan wanita.
"Iya bener, ganteng banget, ada lesung pipinya, senyumnya itu loh, bikin hati lumer." kata karyawan wanita lainnya.
"Ganteng sih ganteng, tapi dia tu killer tau. Senyumannya cuma kamuflase aja. Belum pernah kan lo kena semprot sama dia" ucap seorang karyawan pria yang berlalu pergi.
"Apa sih ganggu aja?!!" kata para wanita itu.
Seketika jantung gue deg-degan setelah mendengar ucapan pria tadi. Apa jadinya sama gue nanti. Ya Allah tolong hambamu ini. batinku. Dengan perasaan gelisah kembali ke ruangan bos. Pasalnya Pak Hadi minta gue langsung ke ruangan setelah membereskan aula. "Haduuuhh...Ya Allah bagaimana ini? Tolong hamba Ya Allah." ucapku.
Tiba di depan ruangan bos, gue gak langsung masuk. Komat-kamit kayak dukun baca mantra kalo pas lagi praktek. Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya gue ketok juga pintu ruangan si bos.
"Masuk!" perintah Pak Hadi. "Aiu sini nak! akupun berjalan menghampiri Pak Hadi. Aku memperkenalkan diri, "Saya Aiu, mohon kerja sama dan bimbingannya, pak!" ucapku sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan, tapi kepalaku masih menunduk. Malu. itu yang ku rasakan.
"Oo...jadi namamu Aiu ya? Ditulis dengan huruf A, I, U. Sungguh unik. Seunik orangnya ya!" ucap Andre dengan senyum yang tak bisa diartikan.
Seketika aku menaikkan kepalaku hingga menatapnya. Ucapannya hanya ku balas dengan senyuman tipis. Apa sih ni orang, kenapa emang kalo gue unik. Tentunya cuma ngomong dalam hati ya. Kalo terang-terangan bisa-bisa disemprot gue, mending disemprot lah kalo dipecat, amsyong kan.
Melihat senyumanku yang seperti itu, Pak Hadi langsung bicara. "Kalian baik-baik ya! Ya udah papa pulang dulu ya, Dre! Papa mau liburn dulu sama mama." ucap Pak Hadi dengan gembira. "Kamu mau oleh-oleh apa iu?" tanya Pak Hadi.
"Terserah bapak aja. Apa yang bapak kasih aiu terima." jawabku.
"Kalo jodoh mau gak iu?" tanyanya.
"Kalo ada dan dia mau sama saya gak apa-apa pak." jawabku asal sambil tertawa lepas. Pak Hadi berlalu sambil tertawa. Entah mengapa tiba-tiba ruangan jadi berasa dingin. kenapa ya batinku. Akupun berinisiatif mengecek suhu AC. Suhunya normal pikirku. kok dingin ya? batinku.
"Kamu kenapa pegang-pegang remot AC? tanya Pak Andre ketus.
"Ga..gak..apa-apa pak." jawabku terbata.
"Saya permisi ke ruangan, pak." kataku pergi sambil berlari kecil menuju pintu dan menutupnya dengan hati-hati. Takut tersinggung lagi tu si bos baru.
Di dalam ruangan. "Lo kenapa Dre? kok ketus gitu? katanya mo kasih kesan baik? Kalo begini mah yang ada dia takut sama lo?" kata Alex. Kalo mereka cuma berdua, Andre minta Alex untuk bicara selayaknya teman. Andre hanya diam saja tidak membalas perkataan Alex. Jadi namanya Aiu. Hmmm.... Andre hanya tersenyum.
Segini dulu ya. mohon komen dan sarannya. Maaf kalo masih banyak typo. Terima kasih sudah membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Sanusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Mulai Pencarian
Setelah ijab qabul dan penandatanganan berkas selesai mereka berfoto bersama penghulu. Alyssa dan Leon juga mengabadikan gambar saat mereka pamer buku nikah. Kini mereka sudah sah menjadi suami istri.
Tak lupa Leon mengirimkan foto pernikahannya kepada papa angkatnya. Pria paruh baya yang mendapat foto itu tersenyum senang. Pria itu hanya mengucapkan selamat. Tadi malam setelah acara lamaran Aiu, Leon mendatangi ayah angkatnya. Dia bercerita tentang masalah Alyssa juga meminta ijin untuk menikahinya. Andi Kusuma memberikan restunya. Memang sengaja Pak Andi tidak datang agar tidak menimbulkan kecurigaan dari istri, Martha dan juga Jimmy.
Siang itu mereka kembali ke panti dengan status baru. Ibu Sarah langsung menuju kamarnya sedangkan sisanya duduk-duduk di ruang tamu.
"Enaknya yang udah punya status menikah! Gue yang lamaran, dia yang nikah!" ledek Andre pada Leon.
"Makanya cepetan dihalalin!" balas Leon.
"Tenang aja, sebentar lagi juga halal! Sekarang rencana kalian apa?" tanya Andre.
"Malam ini ada acara syukuran disini, mungkin besok baru pindah ke apartemen gue!" jawab Leon.
"Sementara ini, pernikahan ini akan disembunyikan dulu sampe kelihatan jelas maksud dan tujuan Jimmy!" ucap Leon.
"Kalo disembunyiin nanti Si Jimmy deketin Alyssa gimana?" tanya Andre.
"Tinggal bilang aja kalo udah nikah apa susahnya sih? Masalah nanti dia deketin aku lagi kan tinggal dibuktikan kalo apa yang diomongin dia dulu gak bener!" ucap Alyssa menyela omongan Andre dan Leon. Alyssa tidak mau kalau pernikahannya disembunyikan.
"Bukankah dengan mereka tahu kita menikah mereka akan berhenti?" tanya Alyssa.
"Lagipula aku punya surat keterangan dari dokter yang menyatakan masih perawan! Itu cukup membungkam si Jimmy!" lanjut Alyssa.
"Iya...lagian Ari juga sudah bersedia membantu!" jawab Aiu menambahkan.
"Ari? Siapa Ari?" tanya Andre.
"Ari itu sahabat aku sesama otaku. Dia seorang hacker. Untuk urusan begitu gampang buat dia!" jawab Aiu.
"Dia cowok?" tanya Andre lagi.
"Cewek! Namanya Arianti dipanggil Ari!" jawab Aiu lagi.
"Oooo...!" jawab Andre.
"Cemburu ya bos!?" ledek Alex.
"Untuk sekarang ini biarkan saja mereka tidak tahu, jik nanti ketahuan ya biarkan saja. Yang penting kita sudah punya bukti untuk melawan! Aku juga gak mau dipermainkan seperti kemarin!" ucap Alyssa.
"Iya sayang! Maafin aku ya! Aku cuma khawatir sama kamu diganggu mereka!" ucap Leon.
"Kan kamu bilang kita gak tinggal sama mereka ngapain juga takut diganggu! Kalo mereka macam-macam juga bakal ku lawan!" ucap Alyssa dengan pedenya.
"Aku minta maaf sebelumnya jika nanti aku bakal gak bisa memperlakukan ibu angkat kamu dengan baik! Jika dia baik sama aku, aku akan baik. Jika dia jahat jangan salahkan aku kalo melawan!" ucapnya lagi memberikan penekanan.
"Yang penting kamu itu percaya sama aku itu udah cukup!" lanjutnya lagi.
"Iya sayang!" ucap Leon sambil mencium kening Alyssa.
Sontak semua yang ada di situ langsung berdehem.
"Ehem...ehem...! Mentang-mentang udah halal, pamer!!!" ledek Andre.
"Haredang...haredang...panas...panas!!" ledek Alex.
Aiu hanya menutup wajahnya sambil sesekali mengintip dari sela-sela jarinya.
Tak lama adzan dzuhur berkumandang, mereka solat dzuhur di mushola panti. Setelah itu dilanjutkan makan siang. Chandra sudah menyiapkan katering makan siang untuk semua anak di panti. Tenda yang semalam diturunkan dipasang lagi untuk acara syukuran nanti malam.
Setelah makan siang, pengantin baru masuk ke kamar. Mereka ingin istirahat sebelum acara nanti malam. Leon memasuki kamar Alyssa. Sungguh kamar khas wanita. Aroma mawar menyeruak saat memasuki kamar. Baru kali ini Leon masuk kamar Alyssa.
Kamar berukuran sedang yang didominasi warna pastel memberikan kesan girly. Tempat tidur berukuran sedang dengan kelambu di keempat sisinya. Di sudut ruangan terdapat kursi baca disamping rak buku. Lemari baju dua pintu juga televisi yang terpasang di dinding tak luput dari pandangan Leon. Nyaman, ucapnya dalam hati.
"Mas mau mandi atau ganti baju aja?" tanya Alyssa.
"Ini ada baju mendiang ayah, kayaknya sih pas sama ukuran mas!" ucap Alyssa sambil memberikan baju padanya. Sebelum masuk kamar tadi, Alyssa pergi ke kamar ibunya untuk mengambil pakaian mendiang ayahnya.
"Mas ganti baju aja deh, mandinya nanti aja sekalian!" jawab Leon.
Alyssa masih belum mengerti perkataan Leon. Leon mendekati Alyssa setelah berganti baju. Alyssa masih di meja rias menghapus sisa riasan dan mengurai rambutnya.
"Cantik!" Leon berbisik di telinga Alyssa. Alyssa merasa geli, wajahnya memerah.
"Mas apaan sih?!" ucap Alyssa malu.
"Mas mau kamu sekarang, boleh?" tanya Leon.
"Kamu seriusan mas? Ini masih siang!" tanya Alyssa lagi.
"Seriusan! Tapi kalo kamu gak mau ya gak apa-apa?" jawab Leon dengan wajah tidak semangat. Melihat ekspresi Leon yang seperti itu membuat Alyssa tak bisa menolak lagi. Lagipula itu kewajibannya sebagai seorang istri.
"Tutup gorden dulu mas! Kunci pintunya juga!" ucap Alyssa. Leon yang mendengar itu jadi semangat lagi. Ia segera menutup gorden dan mengunci pintu. Kemudian menggendong Alyssa menuju kasur dengan bridal style. Leon membaringkan tubuh Alyssa secara perlahan di atas kasur.
Leon mencium bibir Alyssa dengan lembut. Itu adalah ciuman pertama mereka. Seperti ketagihan Leon terus menciumi bibir Alyssa sampai mereka kehabisan napas baru mereka berhenti. Mereka tertawa pelan menertawakan tingkah mereka sendiri.
"Alyss sayang, karena ini yang pertama pasti terasa sakit! Mas akan berusaha selembut mungkin. Usahakan pelankan suaramu ya!" pinta Leon sebelum memulai aksinya. Alyssa hanya mengangguk. Leon membaca doa sebelum penyatuan, meski tak memakai sehelai benang mereka tetap menutupi tubuh dengan selimut karena itu yang dianjurkan Rasulullah.
Leon berusaha selembut mungkin meski tak bisa dipungkiri rasa sakit tetap terasa. Siang itu terasa semakin panas dengan penyatuan mereka. Setelah selesai mereka membaca doa agar kelak benih mereka menjadi benih yang baik.
Alyssa langsung tertidur karena kelelahan. Leon mengecup puncak kepala istrinya sebelum tidur.
----
Di lain tempat, Aiu, Andre dan Alex sedang berada di taman. Mereka sedang membahas rencana pencarian orang tua kandung Aiu.
"Aiu, ada gak barang yang bisa dijadikan petunjuk untuk mencari ayah dan ibumu?" tanya Andre memulai pembicaraan.
"Ada mas! Ini!" jawab Aiu sambil menunjukkan kalung dengan liontin bertuliskan nama Aiu N. dan secarik kertas yang sudah usang bertuliskan:
Jika saya selamat saya akan kembali untuk menjemput anak ini. Sampai saat itu tolong jaga dia.
Andre memperhatikan bentuk kalung itu. Setiap huruf dalam liontin itu dihias dengan berlian. Sudah bisa dipastikan Aiu berasal dari kalangan berada. Andre juga membaca tulisan di kertas itu. Ada kemungkinan Aiu bukan hendak dibuang melainkan diselamatkan dari bahaya. Kemungkinan ada sesuatu yang membahayakan yang terjadi dulu. Pikiran Andre mulai mencerna kalimat di kertas itu.
"Lex, coba kamu cari tahu tentang kejadian apapun 18 tahun yang lalu terkait masalah ini!" Andre memberikan perintah pada Alex.
"Siap bos!" jawab Alex.
"Kalung ini mas foto ya! Nanti mas coba cari tahu siapa yang membuatnya!" ucap Andre pada Aiu.
"Iya mas silakan!" jawab Aiu.
Saat melihat kalung Aiu itu, Andre merasa pernah melihat desain yang serupa tapi tidak bisa mengingatnya.
"Lex, sekalian awasi juga pergerakan Martha dan Jimmy!" lanjutnya lagi.
"Ai, mulai sekarang kamu harus lebih hati-hati ya! Jangan mudah percaya siapapun dan apapun! Kita tidak tahu musuh akan melakukan apa? Mas minta kamu hati-hati ya. Mulai sekarang kamu berangkat dan pulang bareng mas aja biar aman!" ucap Andre tegas.
"Iya mas!" Aiu hanya menurut saja.
Drrrrttttt....drrrrttttt.... Terdengar dering hape Andre. Andre menerima panggilan tersebut.
"Waalaikumsalam!" jawab Andre.
"APAAA? HILANG?!!!!" ucap Andre dengan nada agak tinggi.
"Baiklah! Andre akan bantu cari! Waalaikumsalam!" ucap Andre mengakhiri panggilan.
"Siapa bro?" tanya Alex penasaran.
"Om Adrian! Bocah tengil hilang! Duh, nambah lagi masalah!" ucap Andre sambil memijit pelipisnya.
"Bocah tengil siapa?" tanya Aiu penasaran.
"Itu anaknya Om Adrian. Dia menghilang sejak semalam. Ada kemungkinan dia kesini makanya minta mas untuk bantu cari!" jawab Andre.
"Sabar mas nanti kita cari sama-sama! Mas ada fotonya?" tanya Aiu.
"Gak ada!" jawabnya sambil nyengir kuda.
"Lex, sekalian cari bocah tengil juga!" perintah Andre lagi.
Nasib jadi kacung begini amat ya! Masalah mulu yang datang. Alex.
Adzan Ashar sudah berkumandang, Andre, Alex, dan Aiu segera ke mushola untuk solat Ashar berjamaah.
Di kamar Alyssa, pengantin baru barusaja terbangun karena mendengar suara adzan. Alyssa terbangun dengan tubuh masih tertutup selimut. Dia menguap sebentar. Badannya masih terasa sakit terutama di area pribadinya. Dia hanya tersenyum mengingat kejadian tadi.
"Ngapain senyum-senyum sendiri? Ingat kejadian "iya-iya" tadi kan?" tanya Leon tiba-tiba.
"Ih mas ngagetin aja deh! Gak kok!" jawabnya sambil malu-malu. Alyssa segera mengambil kaus yang tergeletak di lantai dekat tempat tidur. Alyssa langsung menuju kamar mandi untuk mandi wajib. Saat Alyssa bangun dari tempat tidurnya terlihat bercak darah di sprei. Leon yang melihat itu tersenyum senang. Setelah bergantian mandi mereka solat berjamaah di kamar.
Oke guys segini dulu ya! ikutin terus ya. Terima kasih sudah membaca 😊
nyesak banget bc crita ini kk😭
ok banget👌👌👍
terimakasih