NovelToon NovelToon
A WINTER OF MY HEART

A WINTER OF MY HEART

Status: tamat
Genre:Karir / Angst / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Geografi hati yang dingin

Bekerja sebagai seorang editor naskah adalah pekerjaan paling sempurna untuk orang yang tidak ingin bicara. Di hadapanku, deretan kata-kata adalah makhluk yang penurut; mereka tidak bisa membantah, mereka tidak bisa berbohong, dan yang paling penting, mereka tidak bisa pergi begitu saja setelah aku mulai merasa nyaman.

"Aruna, ini draf untuk bulan depan. Tolong dicek, ya?" Siska, rekan kerjaku, meletakkan setumpuk kertas di mejaku. Ia tersenyum, tipe senyum ramah yang biasanya aku balas dengan anggukan singkat seadanya.

"Terima kasih," jawabku datar.

Siska ragu-ragu sejenak, masih berdiri di sana. "Na, kita mau makan siang bareng di depan. Ikut yuk? Katanya ada menu baru."

"Aku bawa bekal," bohongku. Aku tidak bawa apa-apa. Aku hanya ingin duduk di bilik kerjaku, memasang earphone tanpa memutar lagu, dan menikmati kesunyian di tengah kebisingan kantor.

"Oh, oke. Lain kali ya," Siska pergi dengan bahu yang sedikit merosot. Aku tahu aku baru saja menambah daftar orang yang menganggapku sombong. Tapi bagiku, setiap ajakan makan siang adalah risiko. Risiko untuk ditanya tentang kehidupan pribadi, risiko untuk dipaksa tertawa, dan risiko untuk membiarkan orang lain melihat bahwa di balik tatapan dingin ini, hanya ada kehampaan yang luas.

Duniaku sekarang adalah geografi yang kaku. Rumah, kantor, kafe tua di sudut jalan, kembali ke rumah. Tidak ada ruang untuk spontanitas. Spontanitas adalah celah bagi kekecewaan untuk masuk.

Sore harinya, saat langit mulai berubah warna menjadi abu-abu logam yang berat, aku kembali ke kafe itu. Tempat itu adalah wilayah netral. Namanya The Blue Anchor. Aku duduk di kursi yang sama, memesan kopi hitam yang sama, dan membuka laptop untuk melanjutkan pekerjaan yang belum usai.

Namun, kursi di depanku tidak lagi kosong.

"Kopi dingin lagi?"

Suara itu. Berat, tenang, dan entah bagaimana... terdengar seperti ombak yang menghantam karang secara perlahan. Aku mendongak. Biru duduk di sana, memegang sebuah buku saku dengan sampul biru laut yang sudah agak lusuh.

"Kamu lagi," kataku, mencoba memasang wajah yang paling tidak bersahabat yang kupunya.

Seseorang yang datang waktu itu tiba-tiba terengah-engah berlari kecil dari hujan dengan menyebut namanya tanpa permisi, dan mengganggu menurut ku. Karena seperti mengusik diriku yang tenang dan dingin.

Sejak saat itu, aku tak lagi seperti sendiri yang tenang, hampir setiap aku di tempat itu, pria itu datang dengan alasan yang sama, duduk di dekat ventilasi kaca.

Kala itu..

Di sebuah cafe pertama kali mereka bertemu, yang memang Biru datang seperti "pengganggu"

Sepeninggal Biru meninggalkan sosok Aruna sendirian setelah obrolan singkat, Aruna kembali menatap cangkir kopinya. Ia menyentuh pinggiran gelas itu, lalu beralih menyentuh dadanya sendiri.

"Seseorang tidak akan membangun benteng es kalau di dalamnya tidak ada sesuatu yang berharga untuk dilindungi."

Kata-kata itu berputar-putar seperti angin puyuh di kepalanya. Selama ini Aruna mengira ia telah berhasil membunuh semua perasaan itu. Ia mengira hatinya sudah menjadi balok es yang solid. Namun, hanya dengan satu biskuit dan percakapan singkat, ia merasakan sesuatu yang berbahaya: keinginan untuk didengar.

"Sial," gumamnya lirih.

Ia merasa takut. Mencair berarti menjadi basah. Mencair berarti kembali rentan. Namun, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kedinginan yang ia bangga-banggakan itu terasa... sedikit terlalu sunyi. Aruna melipat tisu itu dengan rapi, menyimpannya di saku jaket yang paling dekat dengan jantungnya, lalu melangkah keluar menembus sisa-sisa hujan.

off

"Kursi di sini banyak yang kosong, Biru."

"Tapi hanya di sini yang pemandangannya menarik," jawabnya santai sambil meletakkan bukunya. Ia tidak menatap laptopku, ia menatap mataku. "Maksudku, jendela di sampingmu ini. Pantulan hujan di kaca membuat semuanya kelihatan... tenang."

Aku kembali menatap layar laptop. "Aku sedang sibuk."

"Aku tahu. Aku juga sedang sibuk menunggu hujannya reda," ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras itu seolah-olah itu adalah sofa paling empuk di dunia. "Kenapa kamu selalu membiarkan kopimu mendingin sampai tak ada uapnya, Aruna?"

Jariku berhenti di atas keyboard. "Kenapa kamu peduli?"

"Karena kopi itu punya waktu terbaiknya. Sama seperti orang. Kalau kamu terlalu lama menunggu, yang tersisa cuma rasa pahit yang hambar."

Aku menutup laptopku dengan suara klik yang cukup keras. "Beberapa orang lebih memilih rasa pahit daripada rasa panas yang hanya akan membakar lidah, lalu hilang. Setidaknya rasa pahit itu nyata dan tetap di sana."

Biru tidak tersinggung. Ia malah tersenyum kecil—jenis senyum yang tidak memaksaku untuk membalasnya. "Kamu tahu? Es itu sebenarnya cuma air yang sedang menutup diri karena suhu di sekitarnya terlalu ekstrem. Dia nggak berubah jadi zat lain. Dia cuma sedang menunggu waktu yang tepat untuk kembali mengalir."

Aku berdiri, membereskan tasku dengan terburu-buru. "Aku bukan es yang sedang menunggu, Biru. Aku adalah musim dingin itu sendiri. Dan musim dingin tidak punya rencana untuk berakhir."

Aku melangkah pergi, namun saat aku melewati pintunya, aku sempat menoleh sedikit. Biru masih duduk di sana, tidak mengejarku, hanya menatap punggungku dengan tatapan yang sulit diartikan. Di atas meja, ia meninggalkan sesuatu. Sebuah lipatan kertas kecil di samping cangkir kopiku yang masih penuh dan dingin.

Aku meraihnya cepat-cepat sebelum keluar. Di dalamnya tertulis satu kalimat pendek dengan tulisan tangan yang rapi:

"Bahkan kutub pun punya musim di mana matahari tidak pernah terbenam. Jangan lupa untuk bernapas, Aruna."

Aku meremas kertas itu di dalam saku jaketku. Hatiku yang beku terasa sedikit bergetar, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasakan sesuatu yang sangat menakutkan: Aku merasa sedikit hangat.

Happy reading sayang

Jangan lupa baca cerita bebu yang lain..

Annyeong...

1
Wiwik Darwasih
bagus👍
deepey
bikin meleleh..
deepey
salam kenal kk.
Isti Mariella Ahmad: Salam kenal 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!