"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Malam yang Asing
Bab 3: Malam yang Asing
Dingin. Itulah hal pertama yang dirasakan Anindya saat ia mencoba merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang diletakkan begitu saja di lantai semen. Di desanya, meskipun rumahnya hanya beralaskan tanah, namun pelukan Ayah dan hangatnya selimut kain perca selalu berhasil membuatnya terlelap dengan tenang. Namun di sini, di balik dinding beton yang kokoh dan megah ini, udara terasa seperti es yang menusuk tulang-tulang kecilnya.
Anindya menatap langit-langit ruangan yang sempit itu. Hanya ada satu bohlam lampu kuning redup yang menggantung di sana, mengeluarkan suara mendengung halus yang membuat suasana semakin mencekam. Ia masih mengenakan kebaya merahnya—kebaya yang sekarang terasa lengket dan dingin di kulitnya karena tumpahan air jeruk dari Satria tadi.
"Ibu bilang... kalau baju kotor harus segera dicuci," bisik Anindya pada kesunyian. Suaranya terdengar kecil dan bergetar, memantul di dinding ruangan yang kosong.
Ia bangkit berdiri dengan perlahan. Lututnya terasa lemas. Dengan langkah berjinjit, ia mendekati pintu kayu yang tadi dikunci oleh Nyonya Lastri. Ia mencoba memutar kenop pintunya dengan harapan pintu itu sudah tidak terkunci. Klik, klik. Pintu itu tetap diam. Ia terkurung.
Rasa sesak kembali memenuhi dadanya. Anindya berjalan menuju satu-satunya jendela kecil yang ada di ruangan itu. Jendela itu terletak cukup tinggi dan memiliki jeruji besi yang rapat. Ia menyeret sebuah peti kayu tua di sudut ruangan, memanjatnya dengan hati-hati agar bisa melihat keluar.
Di luar sana, bulan tampak bersinar pucat. Anindya bisa melihat halaman belakang rumah Tuan Wijaya yang sangat luas, dengan taman bunga yang tertata rapi dan kolam ikan yang airnya berkilauan tertimpa cahaya bulan. Jauh di balik pagar tinggi itu, ia melihat deretan pepohonan kelapa yang melambai ditiup angin.
Ayah... apa Ayah sedang melihat bulan yang sama? batinnya.
Pikirannya melayang kembali ke gubuk mereka. Biasanya, jam segini Ayah akan duduk di bale-bale sambil melinting rokok klobot, sementara Anindya duduk di sampingnya sambil belajar mengeja kata-kata dari koran bekas yang ditemukan Ayah di pasar. Ayah akan mengelus rambutnya dan berkata, "Nin harus pintar, supaya nanti bisa bangun rumah yang atapnya tidak bocor lagi."
Anindya meraba saku kebayanya. Ia menemukan sebuah benda kecil yang keras di sana. Sebuah pensil kayu yang sudah pendek, hampir habis. Itu adalah pensil yang ia gunakan di sekolah tadi pagi. Mengingat sekolah, air matanya kembali luruh. Ia membayangkan teman-temannya, bangku kayunya yang goyang, dan gurunya yang galak namun baik hati.
"Besok ujian matematika..." gumamnya perih.
Ia turun dari peti kayu itu dan kembali duduk di atas kasur. Ia melihat noda kuning di bajunya. Dengan jari-jarinya yang mungil, ia mencoba menggosok noda itu, namun tentu saja tidak bisa hilang begitu saja. Rasa sedih, lapar, dan takut bercampur aduk menjadi satu. Perutnya mulai berbunyi, meminta diisi. Sejak sore tadi, tak ada satu pun makanan yang masuk ke mulutnya.
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki dari lorong di luar kamarnya. Langkah itu terdengar berat dan berirama. Sruk... sruk... seperti suara sandal yang diseret. Anindya membeku. Ia memeluk boneka kainnya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di balik lengan boneka itu..
Suara itu berhenti tepat di depan pintunya. Ada cahaya senter yang masuk melalui celah di bawah pintu. Anindya menahan napas, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia takut itu adalah Nyonya Lastri yang akan memarahinya lagi, atau Satria yang ingin menjailinya.
Namun, yang terdengar kemudian adalah suara gesekan benda logam. Kriet... Pintu sedikit terbuka, tapi hanya sedikit. Sebuah tangan yang tampak keriput masuk, meletakkan sebuah piring plastik berisi sekepal nasi dan sepotong tempe goreng di atas lantai, lalu sebuah gelas plastik berisi air putih.
"Makanlah, Nak. Jangan sampai sakit," suara itu adalah suara perempuan, namun bukan suara Nyonya Lastri. Suaranya terdengar tua dan lelah, namun ada sedikit kehangatan di sana.
Sebelum Anindya sempat bertanya siapa itu, tangan itu sudah ditarik kembali dan pintu ditutup rapat, meski kali ini ia tidak mendengar suara kunci yang diputar.
Anindya merangkak mendekati piring itu. Aroma tempe goreng yang gurih seketika membangkitkan rasa laparnya yang luar biasa. Tanpa menunggu lama, ia mulai menyuap nasi itu dengan tangannya. Meskipun nasi itu sudah dingin dan tempenya sedikit keras, bagi Anindya, ini adalah makanan paling nikmat yang pernah ia rasakan malam ini.
Sambil mengunyah, ia teringat pada Ayahnya lagi. Ayah sudah makan belum ya?
Setelah menghabiskan nasi hingga butir terakhir, Anindya meminum air putihnya. Rasa lapar di perutnya sedikit mereda, namun rasa lapar akan kasih sayang di hatinya justru semakin besar. Ia kembali ke kasurnya, mencoba untuk tidur.
Ia mencoba memejamkan mata, namun pikirannya terus berputar. Ia membayangkan hari esok. Apa yang akan dilakukan Nyonya Lastri padanya? Bagaimana ia harus melayani Satria? Dan yang paling penting, mampukah ia bertahan di rumah ini tanpa perlindungan Ayahnya?
Suasana di rumah mewah itu sangat sunyi, namun bagi Anindya, kesunyian itu justru terasa bising oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak ada jawabannya. Ia mulai menghitung domba di dalam kepalanya, cara yang sering diajarkan gurunya jika ia sulit tidur.
Satu... dua... tiga...
Setiap hitungan terasa seperti langkah yang membawanya semakin jauh dari masa kecilnya yang ceria. Di dalam kegelapan kamar sempit itu, Anindya kecil akhirnya mulai mengerti satu hal: hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia bukan lagi Anindya yang bebas berlari di pematang sawah. Ia kini adalah Anindya yang terikat oleh hutang, terbelenggu oleh tradisi yang tidak ia pahami, dan terjebak di dalam istana yang penuh dengan duri tak kasat mata.
Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia berbisik pada boneka kain di pelukannya, "Kita harus bangun pagi-pagi besok... supaya tidak dimarahi. Kita harus kuat... demi Ayah."
Perlahan, kelelahan fisik mengalahkan ketakutannya. Mata kecil itu akhirnya terpejam, meninggalkan jejak air mata yang mengering di pipinya yang kusam. Malam pertama Anindya di rumah Tuan Wijaya pun berlalu dengan penuh duka, sementara di luar sana, fajar mulai bersiap menyambut hari baru yang mungkin akan terasa lebih berat bagi sang mempelai kecil.