Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - My Dangerous Kenzo
...----------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
Sebenarnya, Kenzo memang sudah lama mengincar adiknya Reno ini. Bukan tiba-tiba, bukan juga cuma karena iseng. Dari pertama kali sering main ke rumah Reno, Kenzo sudah sadar—Naya itu beda.
Anak baik-baik, tumbuh di keluarga yang rapi dan terjaga. Cantiknya bukan yang berisik, tapi tenang. Cara bicaranya sopan, pikirannya lurus, prestasinya mentereng. Tipe cewek yang kalau dibawa ke mana pun nggak bikin malu—justru bikin bangga.
Buat Kenzo, Naya bukan cuma cocok dijadiin pacar.
Kalau boleh jujur… istri pun layak.
Masalahnya cuma satu.
Mommy-nya.
Terlalu strict. Terlalu mengontrol. Terlalu protektif sampai kadang terasa mengekang. Kenzo tahu, mendekati Naya berarti siap berhadapan dengan tembok tinggi bernama aturan rumah.
Makanya selama ini dia main aman. Bercanda, goda tipis-tipis, jaga jarak tapi tetap dekat. Nunggu celah. Nunggu waktu. Nunggu Naya cukup berani buat ngerasa dan milih sendiri.
Dan sekarang…
Kenzo mulai sadar satu hal.
Celah itu pelan-pelan kebuka.
Dan Naya—tanpa sadar—sudah masuk ke wilayah yang sama berbahayanya dengan perasaannya sendiri.
'Gue cowok nakal, iya.
Tapi gue gak pernah sejauh ini sama cewek mana pun.
Paling cuma nemenin, nganter, bercanda.
Dan entah kenapa, semua garis yang gue bikin sendiri itu ilang waktu gue sama Naya.' Kenzo
'Otak gue bener-bener nggak fokus gara-gara si Kenzo kampret,' batin Naya kesal.
'Dasar cowok hyper… bikin orang nggak tenang.'
'Ini kali ya maksud Mommy kenapa gue nggak boleh pacaran,' batin Naya.
'Belum pacaran aja, isi otak gue udah Kenzo semua… anjir.'
'Tapi gue juga penasaran pengen pacaran,' batin Naya.
'Delapan belas tahun hidup, gue belum pernah pacaran sama sekali… anjir.'
'Sekalinya kenal cowok baru, langsung grapa-grepe, langsung bikin otak gue rusak.
Sentuhannya udah bikin gue lupa aturan
…dan parahnya, gue suka.'
“Langsung pulang atau ke mana dulu?” tanya Kenzo sambil melirik Naya sekilas.
“Ke rumah gue aja dulu, bentar,” lanjutnya santai.
Naya mengangguk pelan. Entah kenapa, sekarang jawab iya ke Kenzo terasa terlalu mudah.
Mobil melaju membelah sore yang mulai meredup. Suasana di dalam mobil hening, tapi bukan canggung. Justru terasa penuh—dengan pikiran yang sama-sama sibuk.
Kenzo sesekali melirik spion, memastikan Naya nyaman di kursinya.
Naya menatap keluar jendela, tapi bayangan Kenzo terus saja muncul di kepalanya.
“Capek?” tanya Kenzo akhirnya.
“Sedikit,” jawab Naya jujur.
“Nanti di rumah gue istirahat bentar,” ucap Kenzo ringan, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Naya menoleh.
“Gue nggak lama kok,” katanya cepat, seperti menegaskan ke dirinya sendiri.
Kenzo tersenyum kecil.
Mobil terus melaju, mendekati gerbang rumah Kenzo—dan entah kenapa, jantung Naya ikut berdetak lebih cepat dari biasanya.
Kenzo turun lebih dulu dari mobil, lalu mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Naya.
“Ayo masuk dulu,” ujar Kenzo sambil mengulurkan tangan.
“Ada nyokap lo?” Naya ragu, tangannya belum juga menyambut.
“Nggak apa-apa,” jawab Kenzo santai.
“Tapi gue malu,” Naya bergumam pelan.
Kenzo tersenyum tipis.
“Ayo, ada gue.”
Ia menuntun lengan Naya masuk ke dalam rumah. Begitu pintu terbuka—
“Mah?” panggil Kenzo.
Seorang wanita paruh baya muncul dari arah ruang tengah dengan senyum hangat.
“Haii… sama siapa, Ken?”
“Ini Naya,” jawab Kenzo singkat.
Naya langsung menunduk sopan.
“Halo tante.”
“Oh… halo,” mama Kenzo tersenyum ramah. “Duduk dulu, ya.”
“Gue ganti baju ke atas bentar,” kata Kenzo.
Refleks Naya meraih ujung kaos Kenzo.
“Gue nggak mau sendiri,” ucapnya jujur tanpa sadar.
Kenzo menoleh, lalu terkekeh kecil.
“Ada mama gue,” katanya lembut sebelum berjalan ke arah tangga.
Kenzo menghilang ke lantai atas, meninggalkan Naya di ruang tengah bersama mamanya. Suasana mendadak terasa canggung.
Naya duduk tegak di sofa, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Matanya sesekali melirik sekitar—rumah itu besar, rapi, dan terasa… sepi.
Punggungnya sedikit tegang. Mama Kenzo ikut duduk berhadapan.
“Naya mau minum apa?” tanya mama Kenzo.
“Nggak usah repot-repot, tante,” jawab Naya cepat.
“Santai aja, Naya,” ucapnya lembut.
“Nggak apa-apa,” mama Kenzo tersenyum.
“Jangan sungkan di rumah ini.”
Ia menatap Naya lebih lama, lalu berkata pelan,
“Ini pertama kalinya lohh Kenzo bawa perempuan ke rumah.”
“Eh—” Naya terkejut, pipinya langsung memanas.
Dalam hati Naya bergumam,
Padahal di sekolah ceweknya ganti-ganti… tapi setidaknya, cuma gue yang sampe kenal nyokapnya.
Naya menahan senyum kecilnya sendiri.
“Kamu temannya Reno, ya?”
“Adiknya tante” jawab Naya sopan.
Mama Kenzo mengangguk pelan.
“Pantesan. Kenzo cerita soal Reno… tapi soal kamu, sering.”
Naya mengernyit sedikit.
“Sering?”
“Iya,” mama Kenzo terkekeh kecil.
“Biasanya kalo Kenzo cerita sedikit tapi nadanya beda, itu berarti penting.”
Jantung Naya berdegup tak wajar.
Penting?
Belum sempat Naya menjawab, suara langkah terdengar dari tangga. Kenzo turun dengan kaos hitam dan celana rumah, rambutnya masih sedikit basah.
“Nunggu lama?” tanyanya.
Naya menggeleng cepat.
“Nggak.”
Kenzo duduk di sebelah Naya tanpa jarak. Terlalu dekat. Terlalu sadar.
Mama Kenzo melirik mereka berdua, tersenyum samar.
“Kenzo, jaga sikap ya,” katanya santai tapi penuh arti.
Kenzo terkekeh.
“Iya mah.”
Naya menelan ludah.
Entah kenapa… sejak masuk rumah ini, semuanya terasa semakin nyata.
Mobil Kenzo berhenti tepat di depan rumah Naya. Kenzo mematikan mesin, lalu turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Naya.
“Sampai,” katanya santai.
Naya turun, menatap rumahnya sebentar.
“Makasih ya.”
“Masuk bareng,” ujar Kenzo. “Reno pasti udah di dalem.”
Naya mengangguk. Keduanya berjalan masuk ke rumah. Suasana rumah cukup sepi. Dari arah ruang tengah, Reno muncul sambil melempar tas ke sofa.
Kenzo langsung nyeletuk begitu lihat wajah Reno yang terlalu santai.
“Kemana aja lo sama si Citra?”
Reno melirik malas.
“Gak ke mana-mana.”
Kenzo menyipitkan mata, jelas nggak percaya.
“Serius lo?”
“Iya,” jawab Reno singkat.
Kenzo terkekeh kecil, menyandarkan bahunya ke dinding.
“Gak percaya gue,” katanya jujur.
“Secara lo sama brengseknya kayak gue.”
Reno mendengus.
“Mulut lo tuh ya.”
Naya yang berdiri di samping cuma diam, pura-pura sibuk ngelepas sepatu. Tapi telinganya jelas nangkep semua.
Ini dua cowok emang satu frekuensi… nyebelin.
Kenzo melirik Naya sekilas, senyum tipis muncul di sudut bibirnya—senyum yang bikin Naya refleks menghindar.
Dan entah kenapa, jantungnya tetap nggak bisa tenang.
Kenzo terkekeh, jelas nggak niat berhenti.
“Serius lo nggak grepe-grepe?” katanya sambil ketawa kecil.
“Kok gue nggak yakin yaa.”
Reno langsung melotot.
“Sialan lo.”
“Gue bercanda,” Kenzo mengangkat tangan setengah.
“Dikit.”
“Mulut lo tuh nggak ada filternya,” gerutu Reno.
Kenzo malah makin santai.
"tuh, liat!" mata tertuju ke Naya.
"Biarin, gak bakalan paham dia"
“Justru karena gue tau diri, makanya gue nanya. Kalo bukan lo, gue udah curiga.”
Naya mendengus pelan dari samping.
“Dua-duanya sama aja nyebelin.”
Kenzo menoleh ke arah Naya, senyumnya makin lebar.
“Liat? Bahkan adek lo udah capek ngadepin kita.”
Reno menggeleng pelan.
“Pulang sono lo, sebelum gue beneran emosi.”
Kenzo tertawa lagi, santai banget—sementara Naya cuma bisa ngelus dada, berharap jantungnya berhenti balapan.
...----------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...----------------...