"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Garis Di Pasir
Malam di Villa Samudera pada akhir Januari 2026 ini terasa lebih panjang dari biasanya. Hana Sato masih terduduk di lantai marmer kamar mandi yang dingin, jemarinya yang gemetar menyentuh sekrup ventilasi yang baru saja ia tutup kembali. Suara rintihan wanita yang ia dengar tadi bukan sekadar halusinasi; itu adalah bukti nyata kehidupan yang disiksa, merambat melalui pipa-pipa besi dari fasilitas tersembunyi di bawah fondasi megah vila ini.
Hana memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Di dalam kepalanya, ia mulai menyusun kepingan teka-teki yang selama ini sengaja dikaburkan oleh Kenzo. Vila ini bukan sekadar sangkar emas; ini adalah laboratorium hidup. Setiap kemewahan yang ia sentuh, setiap makanan organik yang ia telan, dan setiap aroma terapi yang dihirupnya adalah bagian dari eksperimen besar untuk menciptakan sesuatu yang melampaui manusia normal.
Ia bangkit perlahan, menatap bayangannya di cermin. Wajahnya yang pucat tampak lebih tajam di bawah cahaya lampu neon yang putih. "Aku tidak akan membiarkanmu menjadi bagian dari statistik mereka," bisiknya pada perutnya sendiri. Tekadnya kini telah mengeras, bukan lagi sekadar keinginan untuk lari, melainkan dorongan untuk menghancurkan sang predator dari dalam sarangnya.
❤️❤️❤️
Pagi harinya, suasana di ruang makan Sayap Timur terasa sangat tegang. Kenzo Matsuda duduk di ujung meja jati panjang, menyesap kopi hitamnya sambil membaca laporan keuangan di tablet digital. Hana masuk dengan langkah yang tidak lagi ragu. Ia menolak duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh Mari.
"Aku tahu tentang apa yang ada di bawah kaki kita, Kenzo-sama," Hana membuka percakapan dengan nada suara yang tenang namun sedingin es.
Kenzo tidak segera mendongak. Ia meletakkan tabletnya dengan perlahan, lalu menatap Hana dengan pandangan yang sulit diartikan. "Pulau ini memiliki banyak rahasia, Hana. Seharusnya kau cukup pintar untuk tidak menggali kuburanmu sendiri."
"Aku tidak menggali kuburanku," sahut Hana berani, melangkah mendekat hingga ia berdiri tepat di hadapan pria yang paling berkuasa di negeri ini. "Aku sedang menetapkan batasan. Kau ingin aku menjadi ibu dari pewaris 'sempurna'mu? Maka berhentilah memperlakukanku seperti hewan percobaan yang dikurung dalam kegelapan. Berikan aku akses ke ruang arsip, atau aku tidak akan menyentuh makanan medis apa pun yang kau berikan."
Ini adalah garis di pasir yang Hana buat. Sebuah konfrontasi langsung yang mempertaruhkan nyawanya. Kenzo berdiri, tubuhnya yang tinggi dan atletis membayangi Hana. Ketegangan di antara mereka begitu pekat hingga udara seolah membeku. Tiba-tiba, Kenzo tertawa rendah, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Hana berdiri. "Kau memang darah Sato yang asli. Keberanianmu... itu sangat membangkitkan selera. Baiklah, jika kau ingin melihat neraka di balik surga ini, aku akan menunjukkan sedikit bagian darinya."
❤️❤️❤️
Kenzo membawa Hana ke sebuah ruang arsip tersembunyi di Sayap Timur—bukan fasilitas bawah tanah yang sebenarnya, melainkan ruang kontrol digital. Di sana, ia membiarkan Hana melihat beberapa monitor. Namun, saat Kenzo menerima panggilan telepon darurat dari Miyu di Tokyo yang sedang melakukan audit investigatif pada yayasan-yayasan milik Matsuda Corp, Kenzo terpaksa meninggalkan Hana sendirian selama beberapa menit.
Hana segera beraksi. Ia mengakses komputer pusat yang masih terbuka. Jarinya menari di atas papan ketik. Ia menemukan sebuah folder terenkripsi berjudul "Hydra-Protocol: Gene-Legacy".
Matanya membelalak saat membaca barisan data di layar. Dokumen itu mendetailkan bagaimana janin di rahim Hana dimanipulasi secara genetik melalui serum yang disamarkan sebagai vitamin prenatal. Tujuannya adalah menciptakan subjek dengan tingkat kecerdasan logis maksimal namun dengan sirkuit emosi yang sepenuhnya dipadamkan. Kenzo ingin menciptakan seorang pemimpin yang tidak memiliki empati—seorang "Matsuda" yang murni, yang hanya digerakkan oleh logika dan kekuasaan.
Mual yang luar biasa menghantam Hana. Bukan karena kehamilannya, tapi karena kengerian sains gila yang sedang terjadi di dalam tubuhnya. Tepat saat ia hendak menyalin data tersebut ke flashdisk yang diberikan Mari, suara langkah kaki Kenzo yang berat menggema di lorong marmer. Hana segera menutup layar dan berdiri di pojok ruangan, berpura-pura sedang mempelajari buku sejarah keluarga Matsuda.
❤️❤️❤️
Kenzo masuk dengan kemarahan yang meluap-luap. Masalah dengan Miyu di Tokyo membuatnya merasa kekuasaannya sedang digoyang. Ia menatap Hana, dan rasa posesif yang menyimpang meledak di dalam dirinya. Ia membutuhkan pelampiasan untuk membuktikan bahwa ia masih memegang kendali penuh.
Ia mendekati Hana, mencengkeram bahunya dan mendorongnya pelan ke arah meja kerja yang besar. "Dunia di luar sana sedang mencoba mencuri apa yang menjadi milikku," desis Kenzo, napasnya yang berbau kopi dan wiski terasa panas di leher Hana.
Hana menyadari bahwa ini adalah bagian dari "harga" yang harus ia bayar untuk informasi yang ia dapatkan. Ia membiarkan topeng penurutnya kembali terpasang, namun kali ini dengan bumbu godaan yang mematikan. Ia melingkarkan lengannya di leher Kenzo, menarik pria itu lebih dekat.
"Kau adalah penguasa di sini, Kenzo-sama," bisik Hana lembut, suaranya serak dan manipulatif. "Jangan biarkan mereka mengganggumu. Di sini... hanya ada kau dan aku."
Kenzo menciumnya dengan kasar, sebuah ciuman yang tidak mengandung cinta, melainkan dominasi yang mutlak. Tangannya merayap dengan posesif di atas gaun sutra Hana, menelusuri lekuk tubuhnya dengan rasa lapar yang telah ia pendam selama puluhan tahun sejak kehilangan Rena. Di atas meja kerja yang dipenuhi dokumen rahasia itu, Kenzo memaksakan kehadirannya, mencoba menghapus setiap jejak perlawanan dari jiwa Hana.
Hana membiarkan semuanya terjadi, memejamkan mata dan membayangkan wajah pria itu hancur di bawah kakinya kelak. Setiap sentuhan Kenzo ia catat sebagai hutang yang harus dibayar dengan darah. Di tengah pergolakan yang intens dan panas itu, Hana tetap menjaga pikirannya tetap dingin. Ia menggunakan momen ini untuk merogoh saku jas Kenzo yang tersampir di kursi, jarinya yang lentik berhasil mengambil sebuah kunci akses fisik berbentuk kartu emas tanpa disadari oleh Kenzo yang sedang dikuasai gairah gelapnya. Detak jantung Kenzo yang tidak beraturan terdengar nyaring di telinga Hana, kontras dengan detak jantungnya sendiri yang dingin dan terencana.
❤️❤️❤️
Setelah semuanya berakhir dan Kenzo tertidur karena kelelahan emosional, Hana menyelinap kembali ke kamarnya. Ia menggenggam kartu emas itu erat-erat. Ini adalah kunci menuju fasilitas bawah tanah—tempat di mana suara rintihan itu berasal.
Hana menatap ke luar jendela. Badai besar mulai datang, petir menyambar di atas permukaan laut yang hitam. Suara angin menderu seperti jeritan wanita di bawah tanah, dan kilatan petir menyinari sudut-sudut kamar yang gelap, menciptakan bayangan yang mengerikan di dinding. Ia teringat pesan anonim yang ia temukan sebelumnya tentang celah ventilasi saat badai.
"Waktunya hampir tiba," gumam Hana. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya memegang kunci pelariannya, tapi juga bukti yang akan meruntuhkan seluruh imperium Matsuda. Skala kekuasaan Kenzo mungkin sangat besar, namun Hana kini memiliki sesuatu yang lebih kuat: rahasia yang paling ia takuti.
Dengan kartu akses di tangannya dan data yang sudah tersimpan di kepalanya, Hana bersiap untuk langkah terakhir. Ia tidak akan lari sendirian; ia akan membawa seluruh kebenaran bersamanya.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu. Bukan ketukan Kenzo yang berirama, melainkan ketukan yang terburu-buru dan lemah. Hana membuka pintu sedikit dan menemukan Mari, pelayan bisu itu, berdiri dengan mata yang basah oleh air mata.
Mari menyerahkan sebuah flashdisk kecil yang disembunyikan di balik kain serbetnya, lalu menunjuk ke arah helipad dengan wajah ketakutan sebelum segera pergi.
Hana menggenggam flashdisk itu erat-erat. Jantungnya berpacu. Inilah bukti yang ia butuhkan. Namun, di saat yang sama, suara alarm keamanan mulai meraung di seluruh penjuru pulau. Cahaya merah berputar-putar di dinding kamar.
Hana menggenggam flashdisk itu erat-erat. Jantungnya berpacu. Inilah bukti yang ia butuhkan. Namun, di saat yang sama, suara alarm keamanan mulai meraung di seluruh penjuru pulau. Cahaya merah berputar-putar di dinding kamar.
"Subjek terdeteksi melakukan pelanggaran protokol keamanan di Sayap Barat," suara mesin otomatis menggema dari pengeras suara di langit-langit.
Kenzo tahu.
Hana menatap pintu kamarnya yang mulai digedor dengan kasar. Ia hanya punya satu pilihan: bertindak sekarang atau mati sebagai wadah.
Bersambung...