NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Misteri / Spiritual / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan
Popularitas:42
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 13: Dendam tidak bermoral [3]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

Lampu-lampu di lantai teratas Mutiara Center itu berkedip dengan ritme yang ganjil, seolah-olah mengikuti detak jantung gedung itu sendiri. Ruangan ini tidak seperti kantor pada umumnya. Langit-langitnya sangat tinggi, dengan ribuan helai benang merah yang menggantung dari atas, menciptakan labirin vertikal yang membatasi pandangan.

Di tengah-tengah labirin benang itu, duduk pria paruh baya yang tadi menyapa mereka. Namanya adalah Tuan Arkan, Direktur Operasional Yayasan Mutiara.

Saka menatap tumpukan pola baju yang berserakan di lantai. Semuanya adalah desain yang pernah ia gambar di buku sketsanya, namun di sini, desain-desain itu tampak jauh lebih gelap dan hidup.

"Kalian terlihat bingung," Arkan berdiri, jasnya yang berwarna abu-abu metalik tampak berkilau meskipun cahaya di ruangan itu minim.

"Saka, kau adalah mahasiswa bisnis fashion yang gemilang. Tidakkah kau tahu bahwa dalam industri ini, nilai sebuah pakaian ditentukan oleh kelangkaan bahannya? Begitu juga dengan yayasan kami. Kami mencari 'bahan' yang paling murni."

Maksudnya tuh, kulit hewan diganti kulit manusia.

Zack maju selangkah, menempatkan dirinya sedikit di depan Saka. Matanya yang tajam mengamati setiap inci ruangan, mencari titik lemah atau alasan apa pun yang bisa ia gunakan sebagai senjata. "Lo bicara seolah-olah nyawa Aris itu cuma gulungan kain sisa, hah? Gue dokter, dan gue tau persis organ yang 'lenyap' dari tubuh Aris ngga pindah ke pemilik secara ajaib. Perbuatan lo itu bener-bener biadab dan cuman demi mahakarya lo sendiri. "

Arkan tertawa pelan, sebuah suara yang kering dan tidak menyenangkan. "Anak-anak, selalu skeptis. Tapi kau benar sebagian. Aris tidak mati karena begitu saja. Dia mati karena dia hanya umpan sekaligus bahan percobaan untuk tubuh fisiknya dengan pola yang sedang kami 'jahit' untuk masa depan."

Rakes, yang sejak tadi menahan amarahnya, memutar pergelangan tangannya. Percikan listrik kecil mulai melompat-lompat di antara jemarinya, namun anehnya, listrik itu seolah terserap ke dalam benang-benang merah yang menggantung di sekitar mereka.

"Eh monyet, jadi beasiswa itu cuma umpan? Lo ngumpulin anak-anak pinter, dan punya potensi cuma buat lo jadiin tumbal eksperimen gila ini?"

"Bukan tumbal, Nak," potong Arkan dengan nada tersinggung yang dibuat-buat. "Kami menyebutnya Koleksi. Yayasan Mutiara menjaga kestabilan ekonomi dan sosial dengan cara 'mengganti' orang-orang yang tidak berguna dengan replika yang lebih sempurna. Aris sedang diproses menjadi prototipe pertama untuk 'Bahan alami di dunia Industri Fashion'. Sayangnya, kulit nya begitu buruk sekali untuk menanggung jahitan tersebut."

Hamu, yang masih memangku laptopnya, tiba-tiba berteriak. "Woi guys! Gue dapet akses ke server bawah tanah mereka! Ini bukan cuma yayasan beasiswa. Mutiara Center ini adalah pabrik bio-printing yang dikendalikan sama kacungnya. Mereka memetakan DNA mahasiswa karena mereka butuh 'estetika' untuk menciptakan produk berbahan serat manusia yang bisa diperjualbelikan masyarakat kelas atas!"

Saka merasakan mual yang luar biasa. "Jadi... kematian Aris itu... cuma buat ngambil DNA apa ada lagi.. Oh, matanya juga?"

"Tepat sekali, Saka," jawab Arkan sambil mendekati mesin jahit perak besar di tengah ruangan. "Dan sekarang, kau ada di sini. Kau jauh lebih berharga dari Aris. Kau punya jiwa sosial yang bagus, tampan, dan selera fashion-mu adalah puncak dari apa yang kami butuhkan. Jika kau menyerah secara sukarela, teman-temanmu di lantai 5 akan kami lepaskan."

Teman-teman?

Tiba-tiba, mesin jahit perak itu mulai beroperasi sendiri.

TAK! TAK! TAK! TAK!

Suaranya jauh lebih keras dari yang ada di gudang asrama. Benang-benang merah yang menggantung mulai bergerak seperti tentakel, mencoba melilit kaki dan tangan mereka berlima.

"Rakes, sekarang!" teriak Zack.

Rakes membawa bangku dan mencoba menghancurkan mereka semua. "Kaga mempan anjay! Benang ini terbuat dari serat karbon konduktif! cakep juga!" teriak Rakes girang.

Kale, yang sejak tadi hanya diam mengamati, tiba-tiba menarik sebilah belati kecil dari balik jaketnya—belati yang tampak sangat mengkilap dengan ukiran yang mirip dengan pola di gedung ini.

"Bukan energinya yang harus lo serang, Rak. Tapi sumber sinkronisasi utama kenapa mereka bisa gerak."

Kale menatap Saka. "Saka! Fokus ke polanya! Lo tau tentang gedung ini, lo tau di mana letak jahitan pengunci dari ruangan ini. Setiap ruangan punya satu titik di mana semua garis bertemu."

Saka memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan hatinya. Dia membayangkan ruangan ini sebagai sepotong pakaian raksasa. Dia melihat benang-benang itu, melihat cara mereka terhubung dari sudut ke sudut.

Di bawah tekanan maut, entah mengapa penglihatannya menjadi lebih jelas dan mampu melihat hal-hal tidak terduga.

"A-apa ini... " Saka tersentak kaget.

Rakes tersenyum dan tertawa melihat reaksi Saka. "Lo bisa lihat kan? sekarang coba dimana tempat yang harus gua ancurin abis-abisan. "

Saka terkejut lagi, tetapi sekarang ia bisa melihat apa yang mereka tidak lihat dan karena hal ini Saka menangkap sesuatu di ujung sana.

"Di sana!" Saka menunjuk ke arah lampu gantung raksasa yang berbentuk seperti jarum. "Itu bukan lampu! Itu adalah poros utama yang narik semua benang ke sini. Kalau kita ancurin itu, jahitannya bakal lepas!"

"Oh! jadi perlu dihancurin aja kan!? " teriak Rakes, padahal mereka tuh samping-sampingan.

"Iya! ancurin rak!" si Saka juga ikutan teriak lagi.

"Serahin sama gua, Rakes jagonya ngerusakin!"

Rakes berlari kearah lampu gantung yang ditunjuk oleh Saka.

Arkan wajahnya berubah murka. "Beraninya kau mencoba merusak mahakarya kami!"

Arkan menekan sebuah tombol di mejanya, dan tiba-tiba, manekin-manekin yang tadi ada di lobi muncul dari balik bayangan, bergerak dengan gerakan patah-patah namun sangat cepat. Mereka membawa gunting raksasa dan penggaris besi tajam, mengincar Saka.

Rakes langsung beraksi, Zack juga dengan cepat ia menggunakan teknik bela diri untuk menjatuhkan manekin pertama, gini-gini sabuk item bos.

"Gue tahan mereka! Rak, langsung maju aja! Saka, lo sama Kale cari cara buat naik ke atas sana!"

Pertempuran pecah di lantai teratas Mutiara Center. Rakes mulai menggunakan cara lembut, tapi menghantam manekin-manekin itu dengan kekuatan fisik murninya, menggunakan kabel-kabel yang ia cabut dari dinding untuk menciptakan hubungan arus pendek pada mesin-mesin di sekitar.

"HAHAHAHA!! MATI LO SEMUA BAJINGAN!!"

Saka sama Kale ngeliatin nya merinding, emang si Rakes kelakuannya udah gila. Sekelompok manekin pun hancur berkeping-keping dibuatnya, padahal bisa tuh patah doang.

Hamu dengan panik mengetik di laptopnya. "Gue lagi nyoba ngerusak enkripsi jantung gedungnya! Tapi gue butuh waktu! Ada firewall yang bentuknya kayak kode! Ah, anjir berasa ada 10 Rakes yang bikin puyeng!"

Rakes berlari, memanjat tumpukan kain gulungan raksasa untuk mencapai poros lampu gantung.

Manekin-manekin itu terus menarik kakinya, namun Hamu ada di belakangnya, menebas setiap benang yang mencoba menghalangi Saka dengan gerakan yang sangat presisi.

"Lakukan, Rak! Potong talinya!" teriak Saka.

Rakes berhasil mencapai puncak. Di depannya ada kabel utama yang ditenun dari benang emas dan perak. Rakes beradu tatap dengan tangan miliknya.

"Polarios itu selalu keren... " gumam Rakes, dan tanpa se penglihatan semua orang ia menyentuh seluruh benang dan percikan kecil mengenai kabel.

Seperti api, kabel benang tersebut terbakar habis tak tersisa dan memicu kebakaran lainnya, satu tangan Rakes lagi mengeluarkan korek.

"Nih, udah gua bakar pakai korek!" Rakes memamerkan korek yang baru saja ia keluarkan dari kantong.

BZZZZZT! CRASH!

Ledakan cahaya putih memenuhi ruangan. Seluruh gedung Mutiara Center bergetar hebat. Benang-benang merah yang tadi melilit mereka langsung layu dan hangus. Pria bernama Arkan itu berteriak saat tubuhnya sendiri mulai terlihat transparan, seolah-olah dia sendiri adalah bagian dari jahitan yang gagal.

"Kalian tidak mengerti... ini baru satu butik... Yayasan Mutiara memiliki ribuan toko di seluruh dunia..." suara Arkan memudar sebelum akhirnya dia mati karena menggigit sesuatu yang beracun.

Gedung itu mendadak sunyi. Lampu-lampu kembali normal. Manekin-manekin itu kini hanya tumpukan plastik dan kain yang tidak berguna.

Zack, Rakes, Kale, dan Hamu berkumpul di tengah ruangan, mengelilingi Saka yang masih memegang tidak percaya dengan napas tersengal.

"Lo keren, Sak," Rakes menepuk pundak Saka dengan bangga. "Lo udah keluar dari zona nyaman, gila se-berani itu."

Hamu menutup laptopnya dengan lemas. "Gue udah hapus semua data mahasiswa dari server mereka. Dan gue juga udah ngirim bukti-bukti eksperimen ilegal ini ke pihak berwenang secara anonim. Besok pagi, Mutiara Center bakal jadi berita utama di seluruh negeri."

Saka menatap foto Aris di ponselnya. Teror ini mungkin sudah berhenti di gedung ini, tapi kata-kata terakhir Arkan menghantui pikirannya. Ini bukan sekadar kasus pembunuhan tunggal ini adalah konspirasi besar yang menggunakan nyawa anak-anak yang tidak tau menahu sebagai bahan baku.

"Aris akhirnya bisa tenang," bisik Saka.

Zack melihat ke sekeliling, memastikan tidak ada lagi ancaman yang tersisa. "Ayo cabut dari sini sebelum polisi dateng. Kita harus lapor ke pengelola asrama juga kalau ada penyusup di yayasan beasiswa kita."

Namun, saat mereka berjalan menuju pintu keluar, Hamu menemukan sebuah amplop hitam kecil yang tertinggal di kursi tempat Arkan duduk tadi. Di dalamnya hanya ada satu kalimat:

"Satu jahitan dilepas, seribu jahitan lain akan mengencang. Sampai jumpa di kematian selanjutnya, keturunan darah Kay Arkozia."

Hamu bingung. Tidak ada yang namanya Kay Arkozia. Tapi karena itu sebuah surat di olah TKP jadinya Hamu kantongin itu amplop dan bakalan ngecek siapa itu Kay Arkozia.

"Ayo balik ke asrama," kata Saka dengan nada yang jauh lebih dewasa. "Tapi setelah dari Asrama, anterin gue ya Mas Kale ke rumah. "

"Oh, mau rehabilitasi mental lo?, " tanya Rakes yang ikut mendengarkan.

"Mau ketemu kakek. " jawab Saka.

Mereka berlima keluar dari gedung itu tepat saat matahari pertama mulai muncul di ufuk timur Jakarta, membawa serta rahasia yang terkubur di Mutiara Center, setidaknya untuk sementara.

Keputusan Saka untuk melibatkan keluarganya adalah langkah yang paling masuk akal secara hukum. Dengan kakeknya yang menjabat sebagai Hakim Agung, Saka tahu bahwa bukti-bukti digital yang dikumpulkan Kale dan foto-foto yang ia ambil tidak akan "menguap" begitu saja di tangan polisi biasa. Yayasan Mutiara terlalu besar untuk dilawan dengan emosi, mereka butuh kekuatan hukum yang tak tertembus.

Kale, yang merasa bertanggung jawab atas keamanan data dan keselamatan Saka, segera menyiapkan mobilnya. Perjalanan menuju kediaman keluarga Liorlikoza terasa sangat sunyi, hanya diiringi suara klakson dan Saka yang sibuk mengenkripsi folder berisi bukti-bukti Mutiara Center ke dalam cloud rahasia.

Rumah sang Hakim Agung tidaklah mencolok secara visual, namun setiap sudutnya memancarkan hal klasik yang berbau nuansa Jepang. Sebuah rumah bergaya Jepang yang terawat dan megah sekali. Begitu Saka dan Kale masuk, mereka disambut oleh aroma kayu jati dan buku-buku hukum yang memenuhi ruang tamu.

Saka segera menemui kakeknya, Tuan Besar Liorlikoza, yang meski sudah berusia senja, masih memiliki tatapan mata setajam elang. Di sana, Saka menceritakan semuanya dari kematian Aris yang tragis, teror manekin, hingga konspirasi "bio-printing" yang ditemukan Kale.

Saka mengeluarkan lencana emas dan menunjukkan foto-foto dari ponselnya. "Kek, Aris mati bukan karena kecelakaan. Dia dijadikan 'bahan' oleh yayasan yang selama ini mendanai beasiswa kami. Aku butuh Kakek untuk memastikan kasus ini tidak ditutup-tutupi."

Tuan Besar Liorlikoza mengambil kacamata bacanya, menatap foto mayat Aris dengan dahi berkerut. Sebagai seorang Hakim Agung, dia sudah melihat ribuan kasus, tapi kekejian yang sistematis dan bersifat "tekstual" seperti ini adalah hal baru baginya.

"Yayasan Mutiara..." Kakek Saka bergumam pelan. "Namanya bersih di permukaan, tapi aku pernah mendengar bisikan di kejaksaan tentang aset-aset mereka yang tidak bisa dilacak. Saka, kau sudah melakukan hal yang benar dengan tidak bertindak gegabah sendirian."

Kale menyerahkan sebuah flashdisk hitam yang sudah berisikan informasi yang di hack Hamu sebelum mereka kesini, dan diberikan kepada kakek Saka.

"Kakek, di dalam sini ada log aktivitas server Mutiara Center. Mereka menggunakan celah hukum di sektor riset bioteknologi untuk menyembunyikan pencurian DNA mahasiswa. Jika Kakek bisa mengeluarkan surat perintah penggeledahan khusus, kita bisa menyegel semua aset mereka sebelum mereka sempat 'menghapus' jejak."

Kakek Saka mengangguk, lalu menoleh ke arah Saka dengan tatapan bangga sekaligus khawatir. "Saka, selama proses ini berjalan, kau dan teman-teman asramamu dalam bahaya besar. Orang-orang di balik mereka tidak akan senang jika rahasia mereka bocor ke meja hijau."

Tiba-tiba, suara dering telepon rumah berbunyi di tengah malam. Sang kakek mengangkatnya, dan wajahnya mendadak mengeras.

"Siapa?" tanya Saka cemas.

"Jaksa wilayah," jawab Kakeknya pelan. "Mereka melaporkan bahwa gedung Mutiara Center yang baru saja kalian tinggalkan... baru saja mengalami kebakaran hebat. Seluruh lantai teratas hangus total."

Saka lemas. "Mereka membakar buktinya..."

"Tidak semua," potong Kale sambil menyeringai tipis, menunjukkan layar laptopnya. "Hamu udah sempat narik dump memory dari server pusat mereka sepuluh menit sebelum kebakaran itu dimulai. Mereka pikir mereka cepat, tapi Hamu lebih cepat."

Malam itu, Saka resmi berada di bawah perlindungan hukum kakeknya. Namun, teror ini belum berakhir. Kakek Saka memberitahu satu hal yang membuat bulu kuduk Saka berdiri.

"Saka, ada satu hal yang kau harus tahu. Kakek pernah menangani kasus serupa tiga puluh tahun lalu. Korban-korbannya selalu memiliki satu kesamaan, mereka adalah pemuda-pemuda berbakat yang memiliki hubungan dengan Lencana Emas itu. Lencana itu bukan sekadar perhiasan, itu adalah 'tagihan' yang belum dibayar."

Saka menatap lencana emas milik Aris yang dia bawa dengan perasaan ngeri. Ternyata, meskipun ia mencoba menjauh dari ketimpangan yang bermasalah, takdir keluarganya sendiri mungkin sudah terkait dengan kegelapan yang sama.

Saka menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang masih tak karuan setelah mendengar kabar kebakaran dari kakeknya. Ia segera merogoh ponsel, jemarinya dengan cepat mencari nomor Zack.

Begitu panggilan tersambung, suara Zack yang berat dan waspada langsung terdengar di seberang sana.

"Halo, Sak? Gimana kondisi di sana? Kakek lo bilang apa?" tanya Zack tanpa basa-basi.

"Bang jek, dengerin gue," suara Saka bergetar namun tegas. "Barusan Kakek dapet laporan kalau Mutiara Center dibakar habis. Mereka melakukan 'pembersihan'. Semua bukti fisik di lantai teratas kemungkinan besar lenyap."

Terdengar suara umpatan pelan dari Zack. "Sial! Mereka bergerak lebih cepat dari yang gue kira. Tapi Hamu sempet narik datanya, kan?"

"Iya, Bang Hamu aman. Tapi ini bukan cuma soal bukti, Bang," Saka melanjutkan sambil melirik kakeknya yang masih sibuk dengan telepon lainnya. "Kakek bilang kasus ini pernah terjadi tiga puluh tahun lalu. Ini sistematis. Mereka bakal mulai ngilangin jejak siapa pun yang terlibat. Dan... kita semua dalam bahaya sekarang."

Saka kemudian melakukan panggilan grup, memasukkan Rakes ke dalam pembicaraan. Begitu Rakes bergabung, Saka mengulangi peringatannya.

"Rakes, lo denger kan? Gedung Mutiara Center dibakar. Jangan balik ke tempat-tempat yang biasa lo datengin sendirian. Siapa pun yang ada di balik yayasan ini nggak bakal ragu buat 'memotong' kita dari skenario mereka."

Rakes mendengus di seberang sana. "Bakar gedung buat nutupin aib ya? Klasik banget. Tenang, Sak. Gue lagi di supermarket entar gua beliin cokelat, nanti abis pulang kita bakal perketat pengamanan di asrama. Zack, lo di mana?"

"Gue masih di sekitaran asrama, mantau situasi," jawab Zack. "Sak, lo tetep di rumah Kakek lo. Itu tempat paling aman buat lo sekarang. Jangan keluar sampai ada aba-aba dari gue atau Rakes."

"Siap Bang" sahut Saka. "Tapi kalian harus hati-hati. Kakek bilang lencana emas ini adalah 'tagihan'. Gue rasa mereka ngga cuma mau ngilangin bukti, tapi mereka mau ngambil balik apa yang mereka anggep milik mereka."

"Lencana itu ada di tangan yang aman buat sekarang," potong Zack. "Lo fokus jagain diri lo sendiri. Biar gue sama Rakes yang jadi mata-mata di lapangan. Kale, tetep standby di laptop lo, jangan sampai ada celah keamanan yang jebol."

Setelah menutup telepon, Saka menatap lencana emas di atas meja kayu jati milik kakeknya. Cahaya lampu ruang tamu memantul di permukaan lencana itu, membuatnya tampak seolah-olah sedang berdenyut. Saka tahu, meski Mutiara Center sudah menjadi abu, jahitan takdir yang mengikat mereka berlima justru semakin kencang menarik mereka ke pusat badai.

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!