Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.
Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.
Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.
Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.
Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Makan Malam Para Pembohong
Restoran Le Jardin. Pukul 19:30. Ruang Privat VIP.
Restoran Prancis itu terkenal dengan privasinya yang ketat, tempat favorit para diplomat dan selebritas yang ingin menghindari paparazzi. Namun malam ini, ketegangan di meja nomor 1 bukan disebabkan oleh intrik politik negara, melainkan intrik keluarga.
Angeline duduk dengan punggung tegak, jemarinya meremas serbet kain di pangkuan. Ia mengenakan gaun malam sederhana namun elegan. Di sampingnya, Jay duduk tenang, meski matanya waspada memindai setiap pelayan yang masuk—kebiasaan lama sang Panglima.
"Dia terlambat," gumam Angeline, melirik jam tangannya untuk kelima kalinya. "Lima tahun menghilang, dan dia masih punya kebiasaan terlambat yang sama."
"Beri dia waktu, Angel," Jay menenangkan, menuangkan air ke gelas istrinya. "Dia mungkin gugup. Bertemu kembali dengan keluarga setelah sekian lama bukan hal mudah."
Pintu ruang privat terbuka.
Seorang wanita muda masuk. Dia tidak mengenakan gaun malam. Dia mengenakan jaket kulit hitam di atas kaos putih polos, celana jins robek, dan sepatu bot kotor. Rambutnya diikat ekor kuda yang berantakan.
Mia Severe.
Kontras antara dua bersaudara itu begitu mencolok. Angeline adalah representasi keteraturan dan keanggunan korporat, sementara Mia adalah definisi kekacauan dan pemberontakan.
Mia berdiri di ambang pintu, menatap kakaknya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Hai, Kak," sapa Mia datar.
Angeline berdiri. Matanya berkaca-kaca. Semua kekesalan tentang keterlambatan itu sirna.
"Mia..." suara Angeline pecah. Tanpa peduli etika meja makan, Angeline berlari kecil dan memeluk adiknya erat-erat.
Mia terdiam sejenak, tubuhnya kaku, sebelum akhirnya perlahan membalas pelukan itu dengan canggung.
"Kau bau tepung," bisik Angeline sambil tertawa di sela tangisnya.
"Dan kau bau parfum mahal yang memuakkan," balas Mia, tapi ada senyum tipis di bibirnya.
Mereka melepaskan pelukan dan duduk kembali. Mia mengambil tempat di hadapan Jay.
Mia menatap Jay dengan tatapan menyelidik, matanya menyipit tajam.
"Jadi..." Mia menunjuk Jay dengan garpu. "Ini suami 'legendaris' yang membuat Ayah hampir terkena stroke? Si sopir taksi?"
Jay tersenyum ramah, mengulurkan tangan. "Jay Ares. Senang akhirnya bertemu denganmu, Mia."
Mia tidak menjabat tangan itu. Ia justru tertawa kecil tawa yang membuat bulu kuduk Jay berdiri.
"Ares," ulang Mia penuh arti. "Nama belakang yang menarik. Aku baru saja bertemu dengan pria lain yang punya nama belakang sama. Pria yang sangat... kaya. Dan sangat menyebalkan."
Jantung Jay berdetak lebih cepat.
Angeline menoleh bingung. "Maksudmu Akbar? Kau bertemu Akbar?"
Mia mengangguk santai sambil memotong steak-nya. "Ya. Dia datang ke toko rotiku kemarin malam. Dia mencoba membeli gedung tempatku bekerja, lalu membatalkannya, dan akhirnya kami makan burger bersama. Dia bilang dia sepupumu, Jay."
Mia menatap Jay lurus-lurus. Tatapan yang berkata: Aku tahu rahasiamu.
Angeline menatap Jay dengan kening berkerut. "Tunggu sebentar. Akbar makan burger di toko roti pinggiran? Akbar yang itu? Si 'Auditor PBB' yang kaku itu?"
Situasi menjadi kritis. Jika Mia bicara terlalu banyak tentang betapa kayanya Akbar (yang mampu membeli gedung iseng-iseng), kecurigaan Angeline tentang "sepupu pengacara biasa" akan meledak.
Jay berdeham pelan, menatap Mia dengan tatapan peringatan yang intens di balik senyumnya.
"Mia benar," sela Jay cepat. "Akbar memang sepupuku yang agak... eksentrik. Selain jadi auditor, dia suka investasi properti. Dia sering bertindak impulsif kalau melihat gedung tua yang bagus."
Mia menangkap sinyal mata Jay. Dia adalah gadis cerdas. Dia melihat bagaimana Jay berusaha menutupi sesuatu dari Angeline.
Dan Mia... dia menikmatinya.
"Oh, begitu?" Mia menyeringai licik. "Ya, dia memang eksentrik. Dia bilang padaku bahwa sepupunya yaitu kau, Jay adalah penasihat cintanya."
Mia mencondongkan tubuh ke depan.
"Jadi, Kakak Ipar... apa lagi yang kau sembunyikan? Akbar bilang kau 'menyamar' jadi orang biasa. Apa maksudnya?"
Skakmat.
Wajah Angeline berubah serius. Ia menoleh ke Jay. "Menyamar? Apa maksudnya, Jay?"
Keringat dingin muncul di punggung Jay. Mia benar-benar sedang bermain api.
"Maksud Akbar..." Jay memutar otak dengan kecepatan militer. "...adalah gaya hidupku. Dulu, sebelum menikahimu, aku memang hidup sedikit lebih... bebas. Akbar menganggap keputusanku menjadi sopir taksi dan hidup sederhana sebagai 'penyamaran' karena dia tidak paham konsep kesederhanaan."
Jay menatap Mia, memberikan tatapan memohon: Tolong hentikan.
Mia tertawa renyah, lalu bersandar kembali di kursinya. Dia memutuskan untuk mengasihani kakak iparnya kali ini.
"Tenang saja, Angeline. Maksudku, suamimu ini aneh. Punya sepupu kaya raya tapi memilih hidup miskin bersamamu. Itu namanya cinta... atau kebodohan. Antara dua itu."
Angeline menghela napas lega, ketegangannya mencair. "Ya, Jay memang keras kepala. Dia tidak mau menerima bantuan uang dari siapa pun, termasuk dari keluarganya sendiri."
"Baguslah," komentar Mia. "Setidaknya dia bukan parasit seperti pria-pria pilihan Ayah."
Makan malam berlanjut dengan obrolan tentang masa lalu, tentang toko roti Mia, dan kenangan masa kecil mereka. Namun di bawah meja, kaki Jay terasa lemas. Memiliki adik ipar yang memegang kartu As rahasianya ternyata jauh lebih menegangkan daripada menjinakkan bom.
Jalanan Kota Langit Biru. Pukul 21:00.
Saat mereka keluar dari restoran, suasana kota terasa berbeda.
Biasanya, jalanan distrik ini ramai dan terang benderang. Tapi malam ini, lalu lintas sangat sepi. Terlalu sepi.
Beberapa truk militer berwarna hijau tua terlihat melintas perlahan di jalur cepat, mengangkut tentara bersenjata lengkap.
"Kenapa banyak tentara?" tanya Angeline heran saat mereka menunggu valet mengambil mobil.
"Mungkin latihan rutin," jawab Jay, tapi matanya menyipit tajam.
Formasi truk itu adalah formasi Pengepungan Kota. Mereka tidak menuju barak, mereka menuju titik-titik vital: Stasiun TV, Pembangkit Listrik, dan Gedung Parlemen.
Ponsel Jay bergetar. Satu pesan masuk dari Leon.
[CODE BLACK. Victor Han mengaktifkan Protokol Kudeta. Jenderal Militer yang loyal padanya sudah mengepung Istana Presiden. Status: Negara Darurat Militer.]
Jay memasukkan ponselnya ke saku dengan tenang. Ia tidak boleh membuat Angeline panik sekarang.
"Mobil sudah siap," kata Jay saat SUV mereka tiba. "Mia, kau pulang bersama kami saja. Jalanan sepertinya akan ada pengalihan arus."
"Tidak perlu," tolak Mia. Sebuah mobil sedan hitam mewah tiba-tiba berhenti di depan mereka. Kaca jendela belakang turun, memperlihatkan wajah Akbar Ares.
"Butuh tumpangan, Nona Roti?" tanya Akbar sambil tersenyum tipis.
Mia memutar bola matanya, tapi tidak menolak. "Kebetulan sekali kau lewat sini. Kau memasang GPS di sepatuku?"
"Kebetulan adalah nama tengahku," jawab Akbar. Ia kemudian menatap Jay. Tatapan mereka bertemu. Sorot mata Akbar serius, menyampaikan pesan tanpa kata: Aku akan menjaga Mia. Kau jaga Angeline.
"Hati-hati di jalan, Sepupu," kata Akbar.
"Kau juga," balas Jay.
Mobil Akbar melaju pergi membawa Mia.
Jay segera membukakan pintu untuk Angeline.
"Ayo masuk, Angel. Kita harus pulang sekarang."
"Kenapa buru-buru?" tanya Angeline.
"Firasatku tidak enak," jawab Jay.
Baru saja mereka masuk ke mobil, suara ledakan terdengar di kejauhan.
Di radio mobil, siaran musik terputus. Suara pria dengan nada militer yang keras mengambil alih gelombang.
"PERHATIAN SELURUH WARGA KOTA LANGIT BIRU. MULAI PUKUL 22:00, JAM MALAM DIBERLAKUKAN. SEGALA AKTIVITAS SIPIL DILARANG. PEMERINTAHAN SIPIL DIBEKUKAN SEMENTARA DEMI KEAMANAN NASIONAL. INI ADALAH PERINTAH DARI PANGLIMA BARU ANDA: JENDERAL VICTOR HAN."
Wajah Angeline memucat. "Victor Han? Bukannya dia..."
"Dia mengambil alih negara," potong Jay dingin. Ia menginjak pedal gas, membawa mobil melesat menembus jalanan yang mulai kacau.
Masa tenang sudah berakhir.
Jay mencengkeram kemudi erat-erat. Kali ini, musuhnya bukan lagi kriminal atau politisi korup. Musuhnya adalah angkatan bersenjata negara itu sendiri.
Dan Jay tahu, satu-satunya cara menghentikan seorang Jenderal gila adalah dengan menghadirkan Jenderal yang lebih gila.