Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter¹⁷ — Resmi Menjadi Janda, Secara Agama dan Negara.
Ruang sidang itu tidak besar, dindingnya kusam, kursi kayu berderet rapi, dan udara terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena panas, melainkan karena keputusan yang akan diambil di dalamnya.
Lastri duduk tegak di kursinya. Tangannya terlipat rapi di pangkuan, wajahnya tenang. Ia datang bukan sebagai perempuan yang ditinggalkan, melainkan sebagai seseorang yang telah selesai dengan masa lalunya.
Di seberang, Surya duduk dengan postur yang jauh berbeda dari terakhir kali ia berdiri di balai desa. Jasnya masih rapi, tapi sorot matanya kehilangan sesuatu—kendali. Tidak ada lagi aura kuasa, yang tersisa hanya laki-laki yang terlambat menyadari bahwa segala yang ia bangun runtuh oleh perbuatannya sendiri.
Hakim membuka berkas, suaranya profesional. Agenda sidang hari ini sederhana, yaitu putusan.
Tidak ada lagi upaya mediasi, tak ada rujuk. Lastri sudah menyatakan sikapnya sejak mediasi sebulan lalu, dan tidak berubah.
“Apakah penggugat tetap pada keputusannya?” tanya hakim.
Lastri berdiri, suaranya jernih. “Tetap, Yang Mulia.”
Ia tidak menambahkan apapun, tidak menyebutkan lukanya dan pengkhianatan Surya. Baginya, semua itu sudah selesai.
Hakim mengangguk, lalu melanjutkan membaca amar putusan. Kata demi kata terdengar formal, dan kaku. Tapi justru itulah yang membuatnya sah, tak terbantahkan.
Perceraian dikabulkan.
Hak dan kewajiban ditetapkan.
Status pernikahan keduanya pun berakhir.
Ketika palu diketukkan, bunyinya tidak keras. Namun bagi Lastri, suara itu seperti pintu masa lalu yang akhirnya tertutup rapat di belakangnya.
Tok, tok, tok.
Selesai.
Lastri menghembuskan napas perlahan, kini ia resmi menjadi janda. Secara agama dan negara.
Di luar ruang sidang, Surya berdiri dengan tangan di borgol dan diapit polisi. Seolah ingin mengatakan sesuatu pada Lastri, seperti masih berharap ada celah kecil untuk meminta maaf.
Namun Lastri berjalan melewatinya, sedikitpun ia tak menoleh pada Surya. Ia bukan lari, tapi ia melangkah pergi dari masa lalunya. Dan sikap Lastri, jauh lebih menyakitkan bagi Surya daripada kemarahan wanita itu.
Berita putusan perceraian menyebar cepat ke desa.
Sore itu, beberapa orang datang ke rumah orang tua Lastri. Tidak ramai, hanya perwakilan RT, seorang tokoh agama, dan dua ibu-ibu yang dulu paling sering berbisik di belakang punggungnya.
Mereka berdiri canggung di teras.
“Kami… mau minta maaf,” ujar Pak RT akhirnya. “Pada Lastri, dan ke Bapak Dadang, juga Bu Sarmi.”
Seorang ibu maju setengah langkah. “Kami salah, karena terlalu cepat menilai. Terlalu percaya dan takut… pada jabatan Pak Kades. Kami sering ikut omongan orang, kami juga ikut menghakimi. Padahal, kami tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di rumahmu.”
Ayah Lastri memalingkan wajah, menahan nafas. Ibunya meremas tangannya sendiri, matanya berkaca-kaca.
Lastri menatap mereka satu per satu, teringat ingat bagaimana langkahnya terasa berat setiap kali melewati jalan desa. Ingat bagaimana bisikan terdengar lebih tajam dari teriakan, ingat bagaimana ia memilih diam agar orang tuanya tidak ikut diseret. Wajah-wajah yang dulu memalingkan pandangan padanya, kini menunduk. Ada penyesalan, tapi juga rasa malu yang belum sepenuhnya terurai.
“Apa yang sudah terjadi… tidak bisa dihapus,” ucap Lastri pelan, tapi tegas. “Saya juga tidak bisa berpura-pura tidak pernah sakit. Tapi, saya tidak ingin hidup dalam kemarahan dan juga dendam.”
Lastri berhenti sejenak, lalu melanjutkan. “Saya terima permintaan maaf ini, meski sulit melupakannya. Supaya kita semua... bisa melangkah tanpa beban.”
Sunyi menyelimuti halaman rumah itu.
Pak RT dan para ibu-ibu yang datang mengangguk dalam-dalam. “Terima kasih… Lastri.”
Mereka semua pun pergi.
Malamnya, Lastri duduk sendiri di kamarnya. Ia menatap langit-langit, lalu tersenyum kecil. Hidupnya tidak kembali seperti semula, tapi ia tidak ingin kembali ke masa-masa pernikahan dengan Surya.
Di ponselnya, ada satu pesan dari Malvin.
Malvin: [Sudah selesai?]
Lastri membalas singkat. [Alhamdulillah, sudah resmi secara negara.]
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
Malvin: [Selamat.]
Lastri menutup ponsel, senyum di bibirnya kali ini lebih hangat. Apapun yang akan datang setelah ini, ia akan menghadapinya sebagai dirinya sendiri.
Keputusan Lastri untuk melanjutkan kuliah tidak datang tiba-tiba.
Ia sudah lama memikirkannya, bahkan sejak masih menjadi istri Surya. Saat ia menyimpan buku-buku tentang ilmu pengetahuan di lemari dan membaca diam-diam dari Surya. Bedanya, dulu ia bermimpi dalam diam. Kini, ia melangkah dengan sadar.
Ia menyampaikan keputusannya pada Malvin lewat panggilan video, suatu malam ketika hujan turun pelan di desa.
“Saya sudah memutuskan, saya mau daftar kuliah,” ucap Lastri.
Di layar ponsel, Malvin tersenyum. "Aku tahu. Caramu berpikir terlalu luas untuk berhenti di sini, aku sangat senang.”
Lastri tersenyum tipis. “Pak Malvin banyak berjasa dalam hidup saya, terima kasih.”
Tiba-tiba wajah Malvin berubah serius. “Boleh aku jujur tentang sesuatu?”
“Ada apa, Pak? Apa ada masalah dengan proyek?”
Malvin menggeleng pelan. “Bukan soal proyek, ini jauh lebih serius.”
Lastri langsung menegang.
Namun Malvin justru tersenyum melihat reaksi wanita itu. “Saya punya masalah pribadi, dan saya ingin minta bantuan kamu.”
Lastri seketika menghela napas lega. “Saya siap bantu, Pak. Anda sudah banyak membantu saya, jadi kali ini... saya akan membantu sebisa saya.”
“Benarkah?” tanya Malvin, menahan senyum.
Lastri mengangguk mantap.
Malvin menatapnya lebih lama, lalu berkata pelan. “Sebenarnya… setiap kali saya dekat denganmu, setiap kali saya bicara denganmu… jantung saya selalu berdetak lebih kencang dari biasanya.”
Pria duda itu berhenti sejenak, seolah menahan sesuatu di dadanya. “Itu tidak normal, kan?”
Lastri mengerjap, tidak mengerti arah pembicaraan Malvin.
“Saya sempat takut sedang sakit parah,” lanjut Malvin, suaranya setengah bercanda. “Tapi dokter bilang… itu gejala orang jatuh cinta.”
“Pak—” Lastri refleks menutup mulutnya, seolah takut kata itu terdengar terlalu nyata.
Malvin menatapnya serius, lalu menarik nafas. “Lastri, aku mau jujur. Aku... punya perasaan sama kamu. Bolehkan aku diberi kesempatan? Tapi aku tidak akan memaksamu membalas perasaanku dengan cepat. Aku cuma ingin diberi kesempatan untuk mendekatimu dengan serius.”
Lastri menarik napas pelan.
Jadi… ternyata kami punya perasaan yang sama.
Namun keraguan tetap menekan dadanya.
Tapi apa aku pantas untuk dia?
“Pak…” Lastri menelan ludah. “Apa saya pantas untuk Anda? Saya cuma perempuan yang… pernah bercerai.”
Malvin langsung tersenyum lebar, seolah beban di dadanya runtuh. “Jadi maksudmu... kamu mau memberi saya kesempatan?”
Lastri mengangguk malu-malu. “Sebenarnya… saya juga menyukai Pak Malvin. Tapi saya takut, saya tidak pantas.”
“Kamu pantas, sangat pantas.” Potong Malvin cepat.
Ia menatap Lastri tanpa ragu. “Jadi… kamu mau menerima cinta saya?”
Lastri masih menahan napas, lalu berbisik berbisik pelan. “Apa Pak Malvin tidak akan menyesal? Saya hanya perempuan desa… sederhana.”
Malvin mengangguk mantap. “Kesederhanaanmu itu lah... yang justru membuatku jatuh cinta.”
Lastri menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi. “Baiklah, Pak. Saya mau mencoba menjalin hubungan dengan Pak Malvin.”
Mata Malvin langsung berbinar. Senyumnya lebar, nyaris tak bisa disembunyikan. “Jangan tarik kembali ucapanmu! Tunggu aku datang, kita resmikan hubungan kita.”
Lastri hanya bisa tersenyum malu-malu. Tak lama kemudian, panggilan video mereka berakhir. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu berguling di ranjang kecilnya—menahan tawa dan bahagia yang terasa seperti mimpi.