Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
“Selamat, Bu Alisha. Hasilnya positif. Usia kandungannya sudah masuk minggu keenam.”
Kalimat dokter itu menghantam Alisha lebih keras daripada petir yang menyambar Jakarta malam itu. Ia menatap secarik kertas di tangannya dengan jemari gemetar. Ruangan klinik kecil di pinggiran kota ini terasa mendadak sempit. Aroma karbol yang tajam menusuk hidungnya. Ia merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang.
“Positif? Anda yakin tidak ada kesalahan teknis?” tanya Alisha dengan suara parau.
Dokter paruh baya itu tersenyum lembut. “Kami sudah melakukan dua kali tes. Gejala mual dan kelelahan yang Anda alami adalah konfirmasi alami. Anda harus mulai menjaga pola makan.”
Alisha keluar dari ruang periksa dengan langkah gontai. Ia duduk di bangku panjang apotek yang terbuat dari kayu keras. Pikirannya melayang kembali ke malam di hotel mewah itu. Wajah Damian Sagara melintas seperti bayangan hantu. Ia masih bisa merasakan kehangatan pelukan pria itu. Namun, kenyataan kini menamparnya tanpa ampun.
“Satu malam. Hanya satu malam,” bisiknya pada diri sendiri.
Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel. Selama berminggu-minggu, ia berusaha melupakan kejadian itu. Ia menganggapnya sebagai kecelakaan emosional yang sudah selesai. Namun, kehidupan di dalam rahimnya berkata lain. Kehidupan itu nyata dan menuntut tanggung jawab.
“Aku harus memberitahunya,” gumam Alisha.
Ia berdiri dengan tekad yang baru terkumpul. Ia tidak menginginkan uang pria itu. Ia hanya merasa Damian berhak tahu. Setidaknya, ia tidak ingin memikul rahasia ini sendirian seumur hidup. Ia menghentikan taksi dan menyebutkan alamat yang paling dihindari semua orang kecil di kota ini.
Gedung Sagara Tower.
Gedung itu menjulang angkuh menantang langit. Alisha berdiri di depan lobi yang luasnya hampir selapangan bola. Lantai marmernya begitu mengilap hingga ia bisa melihat bayangan wajahnya yang pucat. Satpam berbadan tegap langsung menghadangnya di depan pintu putar.
“Ada janji dengan siapa, Nona?” tanya satpam itu dengan nada menyelidik.
Alisha meremas tali tasnya. “Saya ingin bertemu dengan Damian Sagara. Ini urusan pribadi.”
Satpam itu tertawa kecil, suara yang terdengar meremehkan. “Nona, setiap hari ada puluhan wanita yang datang mengatakan hal yang sama. Jika tidak ada janji, silakan tinggalkan area ini.”
“Ini sangat penting. Tolong sampaikan saja nama Alisha padanya,” pinta Alisha dengan nada memohon.
“Maaf, tidak bisa. Pak Damian sedang sibuk dengan acara besarnya hari ini.” Satpam itu menunjuk ke arah layar televisi raksasa yang terpasang di dinding lobi.
Alisha menoleh ke arah layar. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Di sana, di bawah lampu kilat kamera yang menyilaukan, Damian Sagara sedang berdiri tegak. Ia mengenakan setelan jas formal yang sempurna. Disampingnya berdiri seorang wanita cantik jelita dengan gaun desainer kelas atas. Mereka berdua tampak seperti pasangan yang turun dari surga.
“Hari ini adalah hari pertunangan resmi pewaris Sagara Group,” ujar seorang wanita di samping Alisha yang ikut menonton televisi.
Presenter televisi itu berbicara dengan semangat yang meluap.
“Pernikahan abad ini antara Damian Sagara dan Clarissa Aditama akan segera dilaksanakan. Ini adalah penggabungan dua kekuatan ekonomi terbesar di negeri ini.”
Alisha mundur satu langkah. Ia melihat Damian tersenyum di depan kamera. Senyum itu berbeda dengan senyum tipis yang ia berikan pada Alisha di bar. Itu adalah senyum diplomatik yang dingin. Damian tampak begitu jauh. Pria itu milik dunia yang berbeda. Dunia di mana citra dan kekuasaan adalah segalanya.
“Apa yang aku pikirkan?” Alisha tertawa getir dalam hati.
Ia membayangkan dirinya masuk ke sana dan berteriak bahwa ia hamil. Damian pasti akan menganggapnya sebagai pemeras. Keluarganya akan menghancurkannya dalam sekejap. Wanita cantik di samping Damian itu tidak akan membiarkan posisinya terancam. Alisha menyadari bahwa ia hanyalah noda kecil yang bisa dihapus kapan saja oleh kekuasaan Sagara.
Ia berbalik dan berjalan keluar dari gedung itu. Langkahnya lebih cepat sekarang. Ia merasa malu sekaligus takut. Ia tidak ingin anaknya lahir di tengah kebencian atau dianggap sebagai kesalahan yang memalukan.
“Kau ingin aku membantu menghubungi bagian sekretariat?” tanya seorang resepsionis yang merasa kasihan melihat wajah pucatnya.
“Tidak perlu. Saya salah alamat,” jawab Alisha singkat.
Ia pulang ke apartemen sewaannya dengan perasaan hancur. Ia mulai mengepak barang-barangnya ke dalam satu koper besar. Ia tidak punya banyak harta. Ia hanya punya beberapa potong pakaian dan peralatan menjahitnya. Ia harus pergi sebelum Damian atau keluarganya menyadari keberadaannya.
Ponselnya berdering. Itu adalah panggilan dari mantan atasannya yang mencuri desainnya. Alisha mematikan ponsel itu. Ia mencabut kartu SIMnya dan mematahkannya menjadi dua bagian. Ia membuang benda plastik kecil itu ke dalam tempat sampah.
“Mulai hari ini, Alisha yang lama sudah mati,” ujarnya pada kegelapan kamar.
Ia memesan tiket bus menuju pesisir, sebuah kota pelabuhan kecil yang jauh dari hingar-bingar Jakarta. Di sana, orang-orang tidak peduli pada berita tentang keluarga Sagara. Di sana, ia bisa menjadi siapa saja tanpa harus takut dikenali.
Perjalanan bus itu memakan waktu dua belas jam. Alisha menatap keluar jendela sepanjang malam. Ia melihat lampu-lampu kota yang perlahan menghilang, digantikan oleh pepohonan gelap dan hamparan sawah. Perutnya terasa mulas, namun ia memaksakan diri untuk makan sepotong roti demi janinnya.
Sesampainya di pesisir, aroma garam dan amis laut menyambutnya. Ia menemukan sebuah rumah kecil di tepi pantai yang disewakan dengan harga murah. Rumah itu berdinding kayu dan memiliki teras kecil yang menghadap ke laut. Suara ombak menjadi musik latar baru dalam hidupnya.
“Selamat datang di rumah baru kita,” bisik Alisha saat pertama kali menginjakkan kaki di sana.
Ia mulai bekerja sebagai penjahit di pasar lokal. Ia dikenal sebagai wanita pendiam yang ahli dalam menyatukan kain. Penduduk setempat tidak banyak bertanya tentang suaminya. Mereka menganggap Alisha adalah seorang janda atau wanita yang ditinggalkan. Alisha membiarkan mereka percaya pada spekulasi itu.
Bulan-bulan berlalu dengan cepat. Perutnya mulai membuncit secara nyata. Alisha menghabiskan waktu sorenya dengan duduk di teras sambil melihat matahari terbenam. Ia sering berbicara pada perutnya, menceritakan dongeng tentang laut dan petualangan.
Suatu malam, ia bermimpi tentang Damian. Dalam mimpi itu, Damian datang menjemputnya dengan deretan mobil hitam yang mewah. Namun, begitu ia mendekat, Damian berubah menjadi monster yang ingin mengambil bayinya. Alisha terbangun dengan keringat dingin. Ia memeluk perutnya erat-erat.
“Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu,” janji Alisha.
Ia tahu bahwa suatu saat nanti, anak ini akan bertanya tentang ayahnya. Ia sudah menyiapkan jawaban. Ia akan mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang bintang yang jauh di langit. Ia tidak akan pernah menyebut nama Sagara. Nama itu terlalu berat untuk dipikul oleh seorang anak kecil.
Alisha mengambil selembar kain sisa dan mulai menjahit baju bayi kecil. Ia menggunakan benang biru muda yang lembut. Setiap tusukan jarum adalah bentuk cintanya yang tulus. Ia tidak lagi merasa sedih karena pengkhianatan atasannya atau kedinginan Damian. Fokusnya kini hanya satu. Menjadi ibu yang hebat.
Ia berdiri dan berjalan menuju cermin kecil di sudut ruangan. Ia mengamati perubahan fisiknya. Wajahnya tampak lebih bercahaya meskipun ada lingkaran hitam di bawah matanya karena kurang tidur. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas perut yang kini mulai menegang.
Keheningan malam di pesisir itu terasa menenangkan. Tidak ada klakson mobil. Tidak ada teriakan orang-orang kota yang ambisius. Hanya ada dia dan denyut jantung kecil di dalam sana. Alisha menarik napas panjang, menghirup udara laut yang segar.
Ia merasa tenang dalam persembunyiannya. Rahasia ini akan ia jaga sampai liang lahat jika perlu. Baginya, Damian Sagara hanyalah bagian dari masa lalu yang terkunci rapat dalam satu malam penuh badai di Jakarta.
“Kita hanya berdua sekarang, Nak,” bisik Alisha sambil mengusap lembut perutnya yang masih terasa hangat.
Air mata menetes di pipinya, namun ia tersenyum. Ia siap menghadapi dunia, meski harus melakukannya sendirian. Di tempat terpencil ini, ia akan membangun benteng untuk pewaris yang tak pernah diinginkan oleh ayahnya sendiri.