Alvin Moor seorang menantu laki - laki yang tidak berguna.
Alvin yang harusnya menjadi tulang punggung, dia malah menjadi tulang rusuk.
Istrinya Jeni Su merupakan seorang Wanita karir.
Mereka berdua menikah karena saling mencintai, tapi karena Alvin tidak bekerja layaknya seorang suami pada umumnya, dia dihina terus menerus oleh mertuanya.
Cacian dan Makian sudah menjadi makanan sehari - hari Alvin.
dia tetap bertahan karena dia sangat mencintai Jeni Su.
Tapi ada kalanya Jeni juga merasa jengah dengan Alvin akibat omongan keluarganya yang selalu membanding - bandingkan Alvin dengan menantu yanga lainnya.
Karena pendidikan Alvin sangat rendah, dia tidak bisa mencari pekerjaan yang memiliki gaji tinggi.
Akibatnya Jeni hampir saja menceraikan Alvin karena tergiur dengan ucapan orang tuanya yang mengenalkan dia dengan seorang taipan.
Tapi pada saat Alvin berada di titik terendah, tiba - tiba anugrah System Cek in masuk dalam tubuhnya.
Akankah Jeni menceraikan Alvin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alveandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vilan Rox
Alvin mengajak Jeni duduk di dekat Meja teman - temannya. Jeni pun menurut dengan perintah suaminya.
Jeni lebih memilih duduk dengan Alvin daripada dengan teman - temannya. Karena dia sekarang sadar jika teman - temannya berteman dengannya karena keberadaan Dias.
Dias meraung melihat Alvin yang begitu santainya tanpa ada rasa takut ataupun menyesal " Bajingan !, aku akan menghajarmu ! "
Dias menoleh kearah Leo, kekasih Lusi " Hajar dia !, aku akan memberi kalian 100 ribu dolar per orang !"
Leo dan ke empat pria lainnya langsung bersemangat, mereka pikir itu tugas yang mudah. Leo dan teman - temannya menghampiri Alvin.
Leo menatap Jeni sambil tersenyum " Maafkan aku Jeni, tapi kurasa Bos Dias cukup memberi tawaran yang mahal untuk kita "
Jeni yang sudah tahu jika Alvin memiliki penjaga bayangan, dia tidak tertekan sama sekali. Malahan Ia sangat kasihan dengan Leo dan teman - temannya.
Jeni melirik Lusi dan mendengus " Aku tidak menyangka jika pertemanan kita akan seperti ini Lusi !, aku harap kalian semua tidak menyesal karena telah melawan suamiku !"
Lusi tidak berani bicara, karena dia teman dekat Jeni, tapi salah satu teman Jeni lainnya mencibir " Menyesal melawan suami kamu Jeni ?, hahaha.... Apa kamu bercanda ?, memangnya apa yang bisa di lakukan suami kamu ?"
" Hahaha... Benar, apa yang perlu ditakutkan dengan pecundang sepertinya !" Dias tertawa senang karena semuanya membela dia.
Alvin menegurnya " Kalian ini brisik sekali !, hajar mereka !"
" Wuzzz
" Bak
" Buk
" Bak
" Buk
" Braaaakkkk
" Braaakkkk
Leo dan teman - temannya terlempar dan jatuh di atas Meja hanya dalam sekejap mata saja.
Dias dan para Wanita terkejut, karena Leo dan yang lainnya tiba - tiba saja tumbang.
" Sayang
" Sayang
" Sayang
Para Wanita langsung memapah kekasih mereka masing - masing yang muntah darah akibat di hajar penjaga bayangan Alvin.
Alvin menyilangkan kakinya dan mencibir " Cih !, hanya gerombolan idiot saja kalian sok jagoan dihadapanku !"
Dias dan yang lainnya baru menyadari jika ada dua orang berpakaian Ninja di hadapan Alvin yang sedang berlutut satu kaki setelah menghajar Leo dan teman - temannya.
Wajah Dias memucat, Sakit di pergelangan tangannya yang dia tahan, sekarang mulai terasa sangat sakit. Kakinya melemas dan ambruk di lantai.
Leo dan yang lainnya menatap Alvin dengan tidak percaya, pasalnya mereka mengira jika Alvin orang yang lemah. Mereka tidak pernah berpikir Jika Alvin memiliki pelindung di beakangnya.
Para Wanita juga mulai ketakutan, mereka semua menatap Alvin dan Jeni yang masih duduk tenang di tempatnya dengan tidak percaya. Terutama Lusi yang tidak mengindahkan perkataan Jeni.
" Tuan Moor !, apakah kami perlu menyeret mereka ke penjara ?" tanya salah satu penjaga bayangan.
" Tidak perlu, aku ingin melihat pertunjukkan selanjutnya, mari kita lihat sehebat apa pemilik Rox grup itu !" ucap Alvin dengan santainya sambil tersenyum ke arah Jeni.
Tak berselang lama, Keysa dan Vilan Rox Ayah Dias, mereka dengan tergesa - gesa masuk ke kafe.
Keysa yang melihat Alvin, dia langsung menghampirinya bersama dengan Vilan.
" Tuan Moor, maaf saya terlambat !" Keysa membungkuk hormat bersama dengan Vilan, pasalnya Vilan sudah diberitahu jika Pemilik Matrix Capital ingin bertemu dengannya.
Jelas saja Dias dan yang lainnya terkejut ketika melihat hal tersebut, orang yang mereka banggakan malah menunduk pada pria yang mereka anggap sebagai pecundang.
Vilan melirik Dias dengan tajam disela ketika dia membungkuk pada Alvin. Ia yakin jika anaknya telah berbuat onar.
Alvin mengangkat tangannya, dia menyuruh Keysa dan penjaga bayangannya untuk berdiri tegap. Penjaga bayangan langsung berdiri di belakang Alvin. Sementara Keysa dan Vilan berdiri disamping Alvin.
Alvin berdiri sambil membenarkan Jasnya, karismanya seolah keluar, seperti bercahaya yang sangat menyilaukan buat Dias.
Alvin menatap Dias " Apakah dia Ayahmu ?!" Alvin menunjuk Vilan tanpa menoleh.
' glek ' Dias menatap Ayahnya sambil menelan ludah, Karena ekspresi wajah Vilan terlihat sangat geram.
Dias tidak berani menjawab, Alvin menghela napas dan bertanya pada Vilan " Apakah dia anakmu ?"
Vilan menjawab dengan tegas " Benar Tuan Moor !, dia memang sedikit bodoh !, maaf atas ketidak becusan saya mendidiknya !"
Vilan langsung berinisiatif meminta maaf, karena dia yakin jika anaknya sudah berbuat salah.
" Baguslah kalau kamu tahu, tapi apa kamu tahu apa yang ingin dia lakukan padaku ?" tanya Alvin pada Vilan.
Vilan menggertakkan giginya, dia tahu jika Alvin sedang berbasa - basi saja.
Vilan menghampiri anaknya, dia mengangkat kursi dan ..
" Braaaskkkk !"
" Pletaaakk !
" Argghhhhh !!!, Ayah !!" satu Kaki Dias yang sedang selonjoran di lantai, langsung di hantam Kursi kafe yang terbuat dari besi, otomatis kaki Dias langsung patah, karena Vilan memukulnya dengan sekuat tenaga.
Vilan membungkuk Hormat " Tuan Moor, saya dengan tulus meminta maaf dengan anda, saya akan memberikannya didikan yang keras agar kejadian ini tidak terulang langi !"
Alvin terkejut, sampai dia tidak bisa bicara, tapi yang ditangkap Vilan lain, dia merasa jika itu tidak cukup untuk memberi pelajaran pada anaknya.
Vilan menggertakkan gigi lagi, dia mengangkat kursi lagi dan...
" Braaakk
" Pletaaakk !
" Argggghhhhhhhhh !!! ." Seketika Dias langsung pingsan.
Vilan berpikir daripada kehilangan Rox grup, lebih baik kehilangan anaknya. Toh anak masih bisa di buat lagi.
" Bruuukkk ! "
Vilan berlutut di lantai " Tuan Moor !, tolong ampuni saya, saya dengan tulus meminta maaf "
Seketika Leon dan yang lainnya terkesiap, keringat dingin langsung membasahi punggung dan dahi mereka.
Orang yang mereka hina ternyata sangat menakutkan, sampai - sampai orang tua Dias saja rela berlutut didepannya.
Lusi menatap Jeni, dia melihat Jeni yang begitu tenang. Lusi sekarang tahu kenapa Jeni begitu percaya dengan suaminya.
Alvin tersadar, dia yang awalnya ingin menghancurkan keluarga Rox sekarang berubah pikiran, karena tindakkan Vilan meyakinkannya jika dia bisa menjadi Pion yang berharga.
Alvin menghela napas " Urus kerusakan yang di akibatkan anakmu ini !, dan urus mereka juga !"
Setelah mengatakan hal itu Alvin langsung mengajak Jeni pergi dari tempat tersebut " Urusan kita sudah selesai disini sayang, ayo kita pergi !"
Jeni tersenyum, dia menganggukkan kepalanya dan merangkul lengan Alvin.
Lusi mau menghampiri Jeni tapi penjaga bayangan langsung menahannya, Lusi hanya bisa menatap iba kepergian Jeni.
kesya katanya org system, kok ketakutan?