NovelToon NovelToon
PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Berbaikan / Tamat
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.

Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.

Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.

"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: DUA PULUH DELAPAN MINGGU DAN SERATUS ALASAN UNTUK TAKUT

Pertumbuhan perut Maya seperti pengingat waktu yang tak terelakkan. Setiap sentimeter tambahan, setiap gerakan kecil Aisyah di dalam, adalah hitungan mundur menuju sesuatu yang menggembirakan sekaligus menakutkan: kelahiran.

Di usia kehamilan 28 minggu, Maya sudah masuk trimester ketiga. Badannya lebih berat, langkahnya lebih pelan, tapi matanya lebih berbinar. Ada semacam cahaya yang bersinar dari dalam cahaya seorang perempuan yang sedang menumbuhkan kehidupan.

Tapi cahaya itu kadang tertutup awan kekhawatiran.

"Mimpi buruk lagi semalam," aku duduk di tepi tempat tidur, melihat Maya yang terbangun dengan keringat dingin.

"Dia tidak bernapas," bisiknya, tangannya menempel di perutnya seperti ingin memastikan Aisyah masih bergerak. "Di mimpiku... dia lahir, tapi tidak menangis. Tidak bernapas."

"Hey," pelukku erat. "Itu cuma mimpi. Lihat." Aku letakkan tangannya di sisi perutnya, tepat di mana tendangan kecil baru saja terasa. "Dia aktif. Sehat."

"Tapi bagaimana kalau dia lahir prematur? Dokter bilang masih ada risiko sampai 37 minggu."

"Kita sudah lewati masa kritis, Maya. Sekarang dia lebih kuat."

Tapi ketakutan itu nyata. Dan tidak hanya untuk Maya. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, aku selalu memastikan tas bersalin sudah siap di mobil. Setiap telepon dari rumah saat aku bekerja membuat jantung berdebar kencang. Setiap kali Maya mengeluh sakit sedikit berbeda, kami langsung mengukur waktu kontraksi.

Ketakutan adalah tamu tak diundang yang sudah tinggal terlalu lama di rumah kami.

---

Suatu Sabtu siang, kami sedang merapikan kamar untuk Aisyah. Kamar yang dulu adalah kamar tamu kecil, sekarang dicat ulang warna pastel lembut. Bima dan Kinan membantu Bima merakit tempat tidur bayi dengan konsentrasi penuh, Kinan melipat baju-baju kecil dengan serius.

"Bayi kecil banget ya, Ma," komentar Kinan, memegang baju newborn yang tidak lebih besar dari boneka Barbienya.

"Nanti dia akan tumbuh besar seperti kamu," jawab Maya sambil duduk di kursi (dokter melarangnya berdiri terlalu lama).

"Apakah dia akan merepotkan?" tanya Bima tiba-tiba, tanpa melihat dari pekerjaannya.

"Bagaimana maksudmu?"

"Seperti... apakah dia akan menangis terus? Apakah Mama akan terlalu sibuk dengannya sampai lupa pada kami?"

Maya dan aku saling memandang. Ini ketakutan lain yang selama ini tidak terungkap.

"Bima," Maya membuka lengannya. "Kemarilah."

Bima mendekat, duduk di lantai di samping kursi ibunya.

"Ketika kamu lahir," mulai Maya dengan suara lembut, "Mama juga takut. Takut tidak bisa mencintaimu cukup. Takut tidak bisa merawatmu dengan baik. Tapi kemudian kamu lahir, dan cinta itu datang begitu saja. Begitu besar sampai Mama tidak percaya bisa mencintai seseorang sebanyak itu."

Dia mengelus kepala Bima. "Lalu Kinan lahir. Dan Mama takut lagi takut tidak bisa mencintai Kinan sama besarnya dengan cinta pada kamu. Tapi ternyata, hati Mama membesar. Cinta tidak terbagi, Bima. Tapi berkembang."

"Tapi sekarang ada Om Raka," bantah Bima. "Dan nanti ada Aisyah."

"Dan cinta Mama berkembang lagi. Lebih besar. Karena keluarga bertambah." Maya menatapku, tersenyum. "Dan kamu tahu? Ketika Aisyah lahir, justru kamu dan Kinan yang akan lebih banyak dapat perhatian."

"Kenapa?"

"Karena kamu berdua yang akan jadi kakak. Yang akan membantu. Yang akan mengajari Aisyah banyak hal. Mama butuh bantuan kalian."

Bima berpikir, lalu tersenyum kecil. "Aku bisa ajari dia main bola."

"Dan aku ajari dia boneka!" seru Kinan.

"Lihat?" Maya memeluk mereka berdua. "Kalian sudah mulai mencintainya sebelum dia lahir."

Tapi malam itu, ketika anak-anak sudah tidur, Maya menangis lagi.

"Aku takut gagal, Raka. Takut tidak bisa jadi ibu yang cukup baik untuk tiga anak. Takut kelelahan. Takut... takut seperti ibuku dulu."

Ibunya Bibi Sartika adalah ibu tunggal yang bekerja keras setelah ayah Maya meninggal. Maya tumbuh dengan banyak kenangan ibunya yang terlalu lelah untuk bermain, terlalu stres untuk tersenyum.

"Kamu bukan ibumu, Maya. Dan aku di sini. Kita bersama."

"Tapi kau juga lelah. Kerja dari pagi, urus rumah, urus aku..."

"Dan aku bahagia melakukannya. Karena ini pilihanku. Karena kalian adalah hidupku sekarang."

Dia memandangku, matanya berbinar oleh air mata. "Kadang aku merasa tidak pantas mendapatkan cintamu."

"Dan kadang aku merasa tidak pantas mendapatkan cintamu. Tapi mungkin itulah arti cinta sejati merasa tidak cukup pantas, tapi tetap memilih untuk bersama."

---

Ketakutan-ketakutan itu tidak hanya milik kami. Keluarga besar, yang perlahan mulai menerima, juga punya ketakutan mereka sendiri.

Di sebuah kumpulan keluarga besar di rumah Bibi Sartika, paman dari pihak ayah (yang paling vokal menentang) mendekatiku.

"Raka, boleh kita bicara?"

Kami duduk di teras, jauh dari keramaian.

"Tentang apa, Paman?"

"Dengar-dengar kamu sudah siapkan segala sesuatu untuk kelahiran."

"Iya. Dokter bilang bisa kapan saja setelah 37 minggu."

"Dana? Kamu sudah siap?"

"Sudah. Ada tabungan."

Dia mengangguk, lalu mengeluarkan amplop dari saku. "Ini dari kami dari pihak ayahmu. Untuk berjaga-jaga."

Aku membuka amplop itu. Isinya uang tunai cukup banyak. "Paman, ini"

"Kami mungkin tidak setuju dengan caramu. Tapi anak itu tetap cucu keluarga kami. Dan kami tidak mau dia atau Maya kekurangan apa pun saat persalinan."

"Terima kasih, tapi"

"Ambil saja. Anggap sebagai... permintaan maaf kami. Karena kerasnya kata-kata dulu."

Aku terkejut. "Paman"

"Kami tua, Raka. Pola pikir kami berbeda. Tapi melihat kamu selama beberapa bulan ini... merawat Maya, bekerja keras, mengurus anak-anak yang bukan darahmu sendiri... kami mulai mengerti. Mungkin cinta memang punya banyak bentuk."

Air mata menggenang di mataku. Pengakuan ini dari orang yang paling menentang terasa seperti kemenangan kecil.

"Tidak mudah bagi kami menerima," lanjutnya. "Tapi melihat Maya bahagia... melihat anak-anak itu tersenyum... itu yang penting."

"Terima kasih, Paman."

"Jangan menangis. Laki-laki harus kuat." Tapi matanya juga berkaca-kaca.

---

Minggu-minggu berikutnya adalah persiapan final. Kami mengikuti kelas persalinan bersama aku, Maya, bahkan Bima ikut sesi untuk "kakak-kakak baru". Kami belajar teknik pernapasan, tanda-tanda persalinan, cara merawat bayi baru lahir.

Bima menjadi murid paling serius. Dia punya buku catatan kecil, menulis semua yang diajarkan instruktur.

"Jadi kalau Mama kontraksi, kita harus hitung jaraknya," dia menjelaskan pada Kinan suatu malam. "Dan tas sudah harus siap di mobil."

"Kamu sudah jadi ahli ya," pujiku.

"Aku harus siap. Aku kan kakak tertua."

Di usia 35 minggu, dokter memutuskan Maya harus berhenti kerja sepenuhnya. Bengkel tempatku bekerja memberikan cuti khusus Pak Hasan bilang, "Keluarga lebih penting. Kembali setelah semuanya siap."

Jadi sekarang, 24 jam sehari, kami bersama. Pagi menyiapkan sarapan, siang berjalan pelan di sekitar rumah (sesuai anjuran dokter), sore menyelesaikan persiapan kamar bayi, malam menonton film atau membaca untuk Aisyah.

"Kamu tahu," kata Maya suatu malam, tangannya di atas perut yang kini besar, "Aku mulai merasa... damai. Tidak lagi takut."

"Benarkah?"

"Iya. Karena apapun yang terjadi, kita bersama. Dan itu cukup."

Tapi ketakutan itu kembali dengan brutal di usia 36 minggu.

---

Kami sedang makan malam ketika Maya tiba-tiba menjatuhkan sendok. Wajahnya pucat.

"Raka..."

"Apa?" Aku langsung berdiri.

"Cairan... keluar."

Air ketuban. Pecah sebelum waktunya.

Semua latihan, semua persiapan, tiba-tiba hilang dari kepalaku. Yang tersisa hanya satu perintah: RUMAH SAKIT. SEKARANG.

"BIMA! BAWA TAS BERSALIN! KINAN! PAKAI SENDAL!"

Dalam dua menit, kami sudah di mobil. Bima duduk di depan dengan tas bersalin di pangkuannya, wajah pucat tapi tegas. Kinan di belakang, memegang tangan Maya yang mulai menggenggam erat.

"Hitungan kontraksi, Bima," perintahku sambil menyetir dengan hati-hati tapi cepat.

"Tiga menit sekali, Om. Durasi 45 detik."

Itu cepat. Terlalu cepat untuk kehamilan pertama.

Rumah sakit hanya sepuluh menit, tapi terasa seperti sepuluh jam. Setiap detik, aku mendengar Maya menghela napas pendek, menahan sakit. Setiap detik, aku takut.

Tiba di IGD kebidanan, perawat langsung membawa Maya ke kursi roda. "Sudah bukaan berapa?"

"Tidak tahu," jawabku. "Baru mulai kontraksi teratur."

Mereka membawanya ke ruang pemeriksaan. Aku ingin ikut, tapi dihentikan.

"Tunggu di sini dulu, Bapak."

Aku berdiri di koridor, dengan Bima dan Kinan. Tiga orang yang tak berdaya, menunggu.

"Apakah Mama baik-baik saja?" tanya Kinan, mulai menangis.

"Ya, Sayang. Mama kuat." Tapi suaraku gemetar.

Bima memegang tangan Kinan. "Tenang, Kinan. Kita doakan saja."

Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit.

Lalu seorang perawat keluar. "Bapak Raka? Ibu Maya sudah bukaan 6. Langsung masuk kamar bersalin. Bapak boleh ikut."

"Anak-anak"

"Bibi Sartika sudah di telepon. Dia sedang menuju sini untuk jaga mereka."

Aku menoleh ke Bima. "Kamu jaga Kinan ya. Bibi datang sebentar lagi."

Bima mengangguk, erat-erat. "Om, katakan pada Mama... kami sayang dia. Dan sayang Aisyah."

Aku memeluk mereka cepat, lalu masuk ke kamar bersalin.

---

Dunia di dalam kamar bersalin adalah dunia lain. Cahaya terang. Suara mesin. Dan Maya di atas tempat tidur, berkeringat, wajahnya meringis kesakitan.

"Raka," dia meraih tanganku begitu aku mendekat.

"Aku di sini. Selalu."

Prosesnya cepat. Terlalu cepat menurut perawat. "Bayi mau keluar. Ibu, dorong!"

Maya mendorong. Wajahnya memerah, tangannya menggenggam tanganku sampai sakit. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya fokus padanya, membisikkan kata-kata penyemangat, mengingatkannya untuk bernapas.

"Kepalanya sudah keluar! Sekali lagi, Ibu!"

Dorongan terakhir. Dan kemudian suara tangis. Kecil, tapi kuat.

Bayi perempuan. Aisyah.

Dia diangkat, dibersihkan, lalu diletakkan di dada Maya. Kecil. Merah. Sempurna.

"Mari bertemu dengan putri kita," bisik Maya, air mata mengalir deras.

Aku melihatnya anak kami. Dengan rambut hitam tipis, mata yang masih tertutup, tangan mungil yang menggenggam jari Maya.

"Dia... sempurna," bisikku, tidak bisa menahan tangis.

Dokter dan perawat masih sibuk dengan Maya (masih ada plasenta yang harus keluar, dan sedikit jahitan), tapi di antara semua itu, ada momen tenang. Tiga kami aku, Maya, dan Aisyah dalam gelembung waktu kami sendiri.

"Terima kasih," bisik Maya, memandangiku. "Untuk segalanya."

"Tidak, terima kasih padamu. Untuk memberiku keluarga."

Kemudian, setelah semua selesai, setelah Maya dibersihkan dan dipindah ke kamar perawatan, aku keluar untuk memberi kabar pada Bima dan Kinan dan pada keluarga yang sudah berkumpul di ruang tunggu.

Bibi Sartika, beberapa bibi, paman, bahkan ayahku (yang datang tanpa diminta) semuanya ada.

"Bagaimana?" tanya Bima, langsung berdiri.

"Mama baik-baik saja. Dan kalian punya adik perempuan."

Kinan melompat gembira. "BISA KAMI LIAT?"

"Sebentar. Mama masih istirahat."

Ayahku mendekat. "Semuanya baik-baik saja?"

"Ya, Ayah. Semuanya baik-baik saja."

Dia mengangguk, lalu untuk pertama kalinya sejak aku kembali meletakkan tangan di bahuku. "Bagus."

Itu saja. Tapi cukup. Lebih dari cukup.

---

Malam itu, setelah semua keluarga pulang, setelah Bima dan Kinan diajak Bibi Sartika tidur di rumahnya, aku duduk di samping tempat tidur Maya. Aisyah tidur di boks bayi di sampingnya.

"Kamu lihat dia?" bisik Maya, masih lemah tapi bahagia. "Dia punya hidungmu."

"Dan matamu."

"Kita berhasil, Raka. Melalui semua ketakutan. Semua keraguan."

"Kita berhasil," ulangku, memegang tangannya.

Di luar jendela, malam sudah larut. Kota tidur. Tapi di kamar rumah sakit ini, kehidupan baru saja dimulai. Bukan hanya untuk Aisyah, tapi untuk kami semua.

Keluarga yang dibangun dari puing-puing. Cinta yang tumbuh di antara keraguan. Kepercayaan yang dibangun kembali setelah hancur.

Aku memandang Maya yang mulai tertidur, lalu Aisyah yang bergerak-gerak kecil dalam tidurnya. Dan aku tahu:

Semua ketakutan itu ketakutan akan penolakan, ketakutan akan kegagalan, ketakutan akan kehilangan tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya berubah bentuk. Menjadi ketakutan yang lebih manusiawi: ketakutan tidak menjadi orang tua yang cukup baik, ketakutan tidak bisa melindungi mereka, ketakutan dunia akan menyakiti mereka.

Tapi ada satu hal yang kupelajari dari dua puluh delapan minggu kehamilan ini, dari seratus hari ketakutan ini:

Cinta bukanlah obat untuk ketakutan.

Cinta adalah keberanian untuk tetap maju meski takut.

Dan malam ini, dengan istri (calon) yang selamat dari persalinan, dengan putri yang sehat, dengan keluarga yang mulai bersatu kembali... aku punya cukup keberanian untuk menghadapi apa pun yang datang.

Karena aku tidak sendirian lagi.

Karena sekarang, aku punya alasan untuk takut dan alasan yang lebih besar untuk tidak menyerah pada ketakutan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!