NovelToon NovelToon
Luka Dalam Hidupku

Luka Dalam Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Lari Saat Hamil / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dua puluh tiga

"Kamu yang siapa?" Bentak narida berusaha meraih luka yang berada dalam dekapan langit, pria itu menepis tangan narida dengan sorot mata tajamnya, terlihat ia semakin memeluk luka erat.

"Kamu penculik yah?" Tanya langit dengan tajamnya, mata elangnya mengamati narida dari atas kebawah, tatapan sengit dari narida tidak membuat langit gentar.

Ia tetap menatap wanita di hadapannya itu penuh antisipasi, reaksi tubuhnya yang begitu melindungi luka, membuat narida bertanya-tanya siapakah pria kasar di hadapannya ini.

"Bunda...." teriakan luka yang lepas dari pelukan langit, mengagetkan mereka berdua.

serentak mata mereka mengikuti ke arah luka berlari, terlihat alia menatap keheranan ke arah narida dan langit yang bersitegang, sementara tangannya memeluk putranya.

"Bude ama oom itu bertengkar, bunda" lapor luka dengan wajah imutnya.

Berjalan di sisi alia seraya mengenggam jari telunjuk alia, alia menoleh tersenyum ke arah putranya, tanpa menjawab. Ia menghampiri narida dan langit, yang masih terlihat saling menatap penuh perlawanan.

"Langit..., apa yang kamu lakukan disini?" Tanya alia memicingkan mata dengan dinginnya, mengamati pria di hadapannya yang masih terlihat penuh was-was.

"Langit?.." tanya narida dengan sorot mata penuh permusuhan.

"Pria ini, langit?"

Mata narida meminta jawaban, alia mengangguk pelan.

"Siapa wanita ini?, alia!"

Tatapan langit juga menuntut jawaban, alia tidak menggubris pertanyaan langit, ia malah balik bertanya.

"Apa yang kamu lakukan disini?"

Suara datar alia yang bertanya, serta tatapan dinginnya membuat langit tercekat, sungguh wanita di hadapannya ini sangat membencinya. Sesaat hati langit merasa sakit, namun ia berusaha terlihat tenang.

"Aku melihat putramu bersamanya, aku pikir wanita ini menculiknya" jelas langit tanpa diminta, alia melengos membuang mukanya, tatapan mata langit membuatnya jengah.

"Apa?,menculik? enak saja" omel narida bertolak pinggang, namun sorot matanya tak setajam tadi, narida mengamati pria dihadapannya itu, Sorot permusuhan tak lagi ia tunjukkan.

"Dia sahabatku, bukan penculik" tukas alia singkat, tetap tidak memandang langit.

Narida menatap sahabatnya itu, jawaban alia sangat singkat dan terdengar jutek. Narida memahami sikap alia, walau tadi ia sempat melihat langit, pria itu terlihat sangat cemas dan ketakutan.

Entah mengapa hati narida menghangat, ia merasa pria di depannya ini seperti sangat ketakutan sesuatu akan menimpa luka.

"Kita duduk dulu.." saran narida menarik tangan alia yang terlihat protes melalui tatapan matanya.

"Kita luruskan dulu kesalah pahaman ini"

Langit mengangguk setuju, ia mengikuti langkah narida yang berlalu menuju ke sebuah meja outlet makanan ringan.

Langit duduk bersisian dengan luka yang bersikeras ingin duduk di sampingnya, alia hanya bisa menghela nafasnya berat, mata putranya itu tak henti memandangi langit dengan tatapan bersemangatnya.

Narida yang berada di samping alia, menatap takjub kedua pria berbeda usia itu yang saling menatap, kemiripan mereka mendekati 90%.

"Saya langit mahesa.." ucap langit memperkenalkan diri, mengulurkan tangan ke arah narida yang menyambut.

"Maafkan kesalah pahaman saya" suara beratnya terdengar tulus, narida menganggukkan kepalanya.

 "Tidak apa-apa" sahut narida lembut. Matanya menelisik mata pria yang duduk di depannya ini, wajahnya memang luar biasa tampan, kulit sawo matangnya malah menunjukkan keseksiannya, pantas saja luka begitu mempesona.

Narida tidak menemukan kesombongan pada wajah itu, kebrengsekkan yang alia ceritakan juga tidak terlihat, mata elang pria ini malah terlihat sangat khawatir tadi, membuat hati narida menghangat.

Ia tidak tahu apakah pria dihadapannya ini menyadari siapa luka, namun yang ia tahu dan yakini, pria di hadapannya ini memiliki perasaan untuk alia.

"Kamu sudah menyelesaikan kesalahpahamanmu kan?, silahkan pergi" usir alia datar, nari terkejut.

Ia menoleh menatap sahabatnya itu, yang terlihat sangat tidak nyaman. Narida menoleh ke arah langit yang terlihat berubah, raut wajahnya terlihat sedih.

Narida merasa tak enak hati, tangannya sudah ingin menjawil lengan alia, namun luka tiba-tiba memeluk lengan langit erat.

"Oom, duduk di sini dulu yah, main ama luka" pinta bocah 5 tahun itu, mengerjapkan mata indahnya menatap langit penuh harap.

Langit terpesona dengan mulut yang terperangah, hatinya menghangat. Tanpa langit sadari, raut wajahnya berubah lebih lembut.

 Perubahan wajah itu, tak luput dari pengamatan narida, sementara alia merasa sedikit terganggu oleh permintaan luka.

"Om langit banyak pekerjaan luka, jangan ganggu nak" tegur alia menarik tangan luka yang menolak, tangan bocah 5 tahun itu masih memeluk erat lengan langit.

"Biarkan saja dek..." suara narida terdengar berbisik.

"Aku ingin bicara" jawil narida, mengajak alia sedikit menjauh. Alia sedikit keberatan, namun tak urung ia mengikuti langkah narida yang menjauh.

"Apakah langit tahu, kalau luka itu putranya?" Bisik narida lirih,  alia mendongakkan kepalanya, matanya terlihat tak suka mendengar ucapan narida.

"Luka itu putraku.." jawab alia datar, matanya masih terlihat tak terima ucapan narida.

"Luka tidak punya ayah!" Wajah alia terlihat murung, nari menatap sahabatnya sendu, hatinya teriris mendengar ucapan alia.

Sebenci itukah dia kepada langit, pria yang menorehkan luka begitu dalam di hidupnya, menjadi sebuah trauma yang begitu mendalam.

"dek..." suara lembut narida menenangkan hati alia yang sedang merasa tak nyaman.

"Langit tadi begitu khawatir dan ketakutan, dan aku lihat ketakutannya itu benar-benar dari hati"

Alia menghembuskan nafasnya berat, wajahnya masih terlihat tidak suka.

"Tuh..kamu lihat, mereka terlihat begitu dekat" tunjuk narida ke arah langit yang sedang bercengkerama dengan luka.

Mata alia menoleh ke arah jari narida menunjuk, terlihat langit begitu antusias mendengar ocehan luka yang terlihat begitu semangat, binar mata langit terlihat begitu tulus. Namun alia merasa jengah, ia melengos membuang pandangannya ke arah lain.

"Ikatan dan darah tidak bisa di pungkiri, dek. Kamu harus beritahu pria itu tentang luka, ka—"

"Tidak, aku tak mau" potong alia cepat menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak sudi.."

"dek..." panggil nari menyentuh lembut lengan alia.

"Kamu tidak harus hidup bersama langit, tapi dia berhak tahu bahwa luka adalah putranya"

Alia melengos malas, hatinya tidak terima. Ia ingin menolaknya namun ucapan narida benar, logikanya juga mengakui ucapan sahabatnya itu semua benar.

"Bundaaa..."

Teriakan luka yang tiba-tiba berlari memeluk tubuh alia, cukup mengagetkan nari dan alia.

"Oom itu, mau ajak luka beli mainan yang banyak, boleh yah bunda, boleh yah" pinta luka mendongakkan kepalanya menatap bundanya dengan binar penuh harap.

Alia menoleh menatap langit yang juga sedang menatapnya, mata mereka saling berbicara.

Benar kata Narida, mata pria itu terlihat tulus. Namun hati alia ingin menyangkalnya, kepalanya ingin menggeleng, bisikan narida terdengar lirih.

"Biarkan saja, dek.., lihat mata langit, ia sangat berharap"

"Hehhhhh..." Alia menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Tatapan protes dari matanya, hanya dibalas anggukan lembut narida.

Alia tidak pernah mampu menolak permintaan narida, baginya nari adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini.

"Bundaaa, boleh yah, boleh yah..." rengekan luka terdengar memaksa, kedua tangan mungilnya menarik lengan alia.

Sekali lagi ia menoleh ke arah narida, sahabatnya itu menganggukkan kepala dan senyum manisnya menenangkan alia.

"Pergilah..." suruhnya lembut.

Alia melangkahkan kakinya berat, seretan putranya terasa memberati hatinya.

"Ayooo.. om, bunda juga ikut" celoteh riang luka begitu berada di hadapan langit yang langsung berdiri canggung.

Tangan bocah tampan itu meraih jari telunjuk langit, pria itu terkejut, namun terlihat bahagia, luka terlihat senang, bocah itu melompat-lompat kegirangan.

Senyum manis nan hangat terbit dari wajah langit, sebelum ia melangkah mengikuti alia dan luka matanya menoleh ke arah nari yang tersenyum ramah dan melambaikan tangan, langit tersenyum dan hanya mengangguk sopan.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!