"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.
"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.
Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.
***
Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 - Gitar
Giselle terus berjalan sembari melihat-lihat barang yang ada di mall. Libra dengan setia membuntutinya dari belakang. Gadis itu sangat suka berkeliling mall meski tidak membeli apa pun. Dia hanya perlu menyegarkan pikiran dengan pemandangan di sekitarnya.
Setelah berkeliling selama beberapa menit, akhirnya mereka berhenti pada toko alat musik. Mata Giselle berbinar seketika. Ia sangat ingin memiliki gitar, tetapi sayangnya tidak bisa. Selama ini, ia hanya bisa meminjam gitar milik sekolah atau milik Libra. Seperti itu saja ia sudah bahagia.
Libra berhenti di depan salah satu gitar akustik yang menarik perhatiannya. Melihatnya sebentar sebelum memastikan akan membelinya nanti.
"Tumben mau beli gitar? Kan udah punya," tanya Giselle baru sadar.
"Sultan mah bebas," jawab Libra dengan santai.
"SOMBONG!" teriak Giselle tanpa sadar. Libra meringis malu ketika beberapa pengunjung melirik ke arah mereka.
"Jangan teriak, Pen. Malu!" tegur Libra dengan pelan. Giselle hanya mengerucutkan bibirnya kesal. Biarkan saja mereka menjadi pusat perhatian. Ia tidak peduli.
"Lagian sombong banget. Gue juga bisa kali beli itu gitar. Kalau perlu, gue borong sekalian tokonya," gerutu Giselle kesal. Dalam hati ia meringis. Meskipun sebenarnya orang tuanya mampu membeli sebuah gitar, ia tidak akan pernah bisa.
"Iyain, biar cepet."
Libra mengambil gitar yang sudah ia tandai sebagai miliknya. Kemudian berjalan ke arah kasir untuk melakukan proses pembayaran. Giselle mengekor di belakangnya seperti anak ayam yang mengikuti kemana pun induknya pergi.
Setelah selesai, mereka memutuskan untuk langsung pulang karena Giselle merengek kakinya pegal. Memang dasarnya manja ya begitu.
...***...
Motor yang Libra kendarai, berhenti tepat di depan rumahnya. Giselle segera turun kemudian melepas helmnya. Seharusnya gadis itu masuk ke rumahnya sendiri. Namun, sekarang ia justru melangkah memasuki rumah Libra dengan santai tanpa menunggu sang tuan rumah.
"Assalamu'alaikum, Tante Fara." Giselle berjalan memasuki ruang tengah. Terlihat seorang wanita paruh baya yang seumuran dengan ibunya tengah duduk di sofa sembari menonton tayangan berita di televisi.
"Wa'alaikumussalam, Gigi. Kamu belum ganti baju, ya?" tanya Fara meskipun tanpa dijawab pun ia sudah melihat bahwa Giselle masih mengenakan seragam sekolahnya. Sedikit heran, padahal rumah gadis itu berada tepat di sebelahnya. Fara hanya takut, Atika marah mengetahui anaknya tidak langsung pulang ke rumah.
"Bandel dia, Ma. Pulang sekolah malah keluyuran ke rumah orang." Bukan Giselle yang menjawab, melainkan Libra yang baru saja memasuki rumah.
"Ish, apasih. Diem Liba!" Giselle kesal. Ia duduk tepat di samping Fara dengan muka memelas. "Tante, Liba jahat," adunya.
Fara terkekeh pelan melihat perdebatan keduanya. Sudah menjadi makanan sehari-harinya, karena itu, ia tidak terkejut.
"Udah-udah. Kalian ini berantem mulu. Baru juga pulang. Nanti kalau yang satunya ngambek, yang satunya galau," goda Fara sembari menatap Libra.
Libra mendengus, ia tidak menyangka mamanya akan ingat. Dulu pernah Giselle marah padanya karena meninggalkan gadis itu di mall sendirian. Alhasil, Giselle marah padanya sampai berhari-hari. Terhitung lima hari mereka saling diam. Gara-gara itu juga Libra menjadi murung. Ia tidak suka Giselle mendiaminya.
"Libra ke atas dulu," pamit Libra menyudahi percakapan agar tidak melebar kemana-mana.
Fara mengernyit bingung ketika menyadari putranya menggendong sebuah gitar di punggungnya.
"Kalian habis dari mana?" tanyanya pada Giselle.
"Mall, Tante. Liba beli gitar. Giselle kan jadi pengen," ujarnya sedih. Fara yang mengerti pun hanya bisa mengusap kepala gadis itu sayang.
"Gak papa, kan masih bisa pinjem punya Libra. Kamu bisa kapan aja pake punya dia, oke?" tutur Fara dengan lembut, khas seorang ibu.
Giselle tersenyum lebar, "Sayang Tante Fara pake banget."
...***...
"Kan kukejar mimpi, dan kuterbang tinggi. Tak ada kata tidak ku pasti bisa...."
Libra tersenyum tipis ketika mendengar suara Giselle mengalun indah di dalam kamarnya. Gitar yang baru saja ia beli, berada di pangkuan gadis itu. Sudah hampir dua jam, ia hanya menatap Giselle yang sibuk bernyanyi dengan bermain gitar. Menikmati konser dadakan yang Giselle lakukan.
Sebenarnya, Libra membeli gitar itu memang untuk Giselle. Ia tahu gadis itu bisa membelinya dengan uang orang tuanya sendiri. Namun, sayangnya tidak bisa. Orang tuanya tidak akan pernah mengizinkan Giselle membeli gitar. Itu sebabnya, Libra membelikannya untuk gadis itu. Meskipun tetap, gitar itu akan ia simpan di rumahnya sendiri. Namun, Giselle bebas kapan pun menggunakannya.
"Kan kucoba lagi, ditemani pagi. Tak ada yang tak mungkin, ku pasti bisa...."
Lagu yang berjudul Kejar Mimpi milik Maudy Ayunda itu menjadi penutupnya. Sepertinya Giselle sudah mulai lelah karena terus bernyanyi tanpa jeda. Meskipun begitu, ia tersenyum bahagia.
"Pen."
"Hm?"
Giselle menjawab panggilan Libra dengan gumaman. Gadis itu masih sibuk menatap gitar di pangkuannya. Entah apa yang ia pikirkan.
"Gitarnya buat lo."
Sontak, Giselle menatap Libra dengan terkejut. Mengerjapkan matanya beberapa kali, rasanya ia salah dengar.
"Apa?" tanya Giselle ingin memastikan.
"Oh gak mau? Yaudah sih," ujar Libra dengan santai.
"MAUU IHH!" Giselle meletakkan gitar pada sofa yang ia duduki sebelumnya. Kemudian berlari ke arah Libra yang duduk di pinggiran kasur. Gadis itu segera menubruk tubuh Libra dan memeluknya dengan erat. Libra terkekeh sembari membalas pelukan Giselle.
Beberapa menit penuh keheningan, mendadak Libra mengernyit karena merasa kaosnya basah.
"Pen, lo nangis?" tanyanya pelan.
"Kenapa lo baik banget sih, Ba?" Giselle bertanya di sela isakannya. Ia benar-benar merasa terharu dengan perlakuan Libra. Pemuda itu pasti tahu bahwa Giselle menginginkan gitar sejak lama.
Libra kembali terkekeh, merasa gemas pada Giselle. Ia mengeratkan pelukannya sembari mengecup puncak kepala gadis itu.
"Karena gue sayang sama lo."
...***...
17 Januari 2026