Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Salju Merah di Pelabuhan Perak
Bahtera Inti Racun milik Xiao Chen menepi di dermaga Pelabuhan Perak, gerbang utama menuju Benua Utara.
Berbeda dengan wilayah barat yang gersang atau wilayah pusat yang makmur, Benua Utara adalah hamparan putih abadi di bawah langit yang selalu mendung. Namun, pelabuhan ini tidak sesunyi kelihatannya.
Di sepanjang dermaga, ratusan pendekar berpakaian jubah putih dengan sulaman daun hijau—simbol Lembah Dewa Obat—telah berbaris rapi.
Di depan mereka berdiri seorang pria paruh baya dengan aura yang sangat tenang namun tajam, Tetua Wei, seorang ahli Ranah Raja Roh tingkat awal yang dikenal sebagai ahli penawar racun terbaik di utara.
Saat Xiao Chen melangkah turun dari kapal, udara dingin di pelabuhan seolah membeku. Setiap langkahnya membuat salju di bawah kakinya berubah menjadi kristal hitam.
Bai berjalan di sampingnya, memegangi lengan baju Xiao Chen seolah-olah dunia akan kiamat jika ia melepaskannya.
Matanya yang ungu menyapu kerumunan pendekar itu dengan pandangan lapar. Di sisi lain, Ling berjalan dengan wajah datar, namun tangannya yang kecil sudah mengeluarkan uap hijau tipis—tanda bahwa Qi di Ranah Pengumpulan Qi miliknya sudah siap meledak.
"Berhenti di sana, Legenda Pendekar Racun!" teriak Tetua Wei. Suaranya bergema, mengandung gelombang suara yang dirancang untuk membuyarkan konsentrasi energi racun.
"Lembah Dewa Obat tidak menerima tamu yang membawa bau busuk kematian. Jika kau ingin masuk ke benua ini, kau harus melewati Ujian Tiga Cawan Pemurnian!"
Tetua Wei melambaikan tangannya, dan tiga buah cawan emas terbang melayang di depan Xiao Chen. Masing-masing cawan berisi cairan bening yang memancarkan aroma bunga yang sangat harum.
"Di dalam cawan ini terdapat Embrio Cahaya Suci, penawar racun terkuat kami. Jika kau benar-benar seorang ahli, minum ketiganya. Jika racun di tubuhmu lebih kuat dari penawar kami, kau boleh lewat. Jika tidak, kau akan lumpuh dan kehilangan seluruh kultivasimu di sini." tantang Wei dengan senyum penuh percaya diri.
Xiao Chen menatap cawan-cawan itu sejenak, lalu melirik ke arah Bai yang sudah hampir melompat untuk mencabik wajah Tetua Wei. Xiao Chen menahan tangan Bai dengan lembut, membuatnya seketika tenang dan kembali bersandar di bahunya dengan ekspresi manja yang kontras.
"Penawar?" Xiao Chen mendengus tipis. "Wei, kau menyebut cairan pembersih lantai ini sebagai penawar?"
Tanpa menggunakan tangan, Xiao Chen menarik napas. Ketiga cairan di dalam cawan itu terbang masuk ke dalam mulutnya sekaligus.
Seluruh pendekar Lembah Dewa Obat menahan napas. Embrio Cahaya Suci dikenal mampu menetralisir racun dari ribuan jenis ular dan tumbuhan dalam hitungan detik. Mereka berekspektasi melihat Xiao Chen jatuh berlutut karena konflik energi.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kulit Xiao Chen tidak berubah warna. Sebaliknya, matanya berkilat ungu lebih terang. Ia menghembuskan napas, dan asap hitam keluar dari mulutnya, seketika membuat salju dalam radius lima puluh meter mencair dan berubah menjadi lumpur hitam yang beracun.
"Terlalu tawar," ucap Xiao Chen dingin. "Sekarang, giliranku memberikan ujian."
Xiao Chen menjentikkan jarinya ke udara. Sebuah tetesan kecil darahnya sendiri melayang menuju Tetua Wei.
Tetesan itu sangat kecil, namun memancarkan aura maut yang begitu pekat hingga beberapa pendekar rendahan di belakang Wei langsung muntah darah dan pingsan.
"Ini adalah Sari Maut Raja Roh. Jika kau bisa menawarkannya dalam waktu sepuluh hitungan, aku akan pergi dari benua ini sekarang juga." ucap Xiao Chen.
Tetua Wei panik. Ia segera mengeluarkan kuali alkimia kecilnya dan memasukkan tetesan darah itu, mencoba memurnikannya dengan api suci. Namun, saat darah Xiao Chen menyentuh api itu, api tersebut justru berubah menjadi warna ungu dan memakan kuali emas tersebut hingga meleleh.
"T-tidak mungkin! Api suci tidak bisa dipadamkan oleh racun!" teriak Wei.
"Itu karena ini bukan racun biasa, Wei. Ini adalah konsekuensi." balas Xiao Chen.
Dalam hitungan kelima, kuali itu hancur. Dalam hitungan ketujuh, tangan Tetua Wei mulai menghitam. Dan tepat pada hitungan kesepuluh, Wei jatuh terduduk, seluruh separuh tubuhnya telah lumpuh dan mati rasa.
"Guru!" Ling berbisik, matanya penuh kekaguman.
"Bai," panggil Xiao Chen pelan.
Bai tersenyum lebar, menunjukkan taring kecilnya yang indah. "Sesuai keinginanmu, Tuanku."
Bai menghilang dari sisi Xiao Chen. Kecepatannya di Ranah Raja Roh tingkat puncak membuat para pendekar putih itu bahkan tidak bisa melihat bayangannya. Yang terdengar hanyalah suara slash yang halus dan jeritan yang terhenti secara mendadak.
Dalam satu tarikan napas, Bai kembali ke sisi Xiao Chen, tangannya masih bersih tanpa setetes darah pun karena ia menggunakan energi peraknya untuk menghancurkan sel-sel musuhnya dari dalam.
Namun, di belakang mereka, ratusan pendekar Lembah Dewa Obat telah jatuh, tubuh mereka membeku menjadi patung perak yang retak.
Xiao Chen berjalan melewati Tetua Wei yang sekarat tanpa memandangnya. "Beritahu pemimpin lembahmu. Aku tidak datang untuk ujian. Aku datang untuk mengambil Tanaman Primordial Hidup dan Mati. Jika mereka tidak memberikannya dengan sukarela, aku akan mengubah lembah suci mereka menjadi kawah racun abadi."
Xiao Chen melangkah maju menuju pegunungan salju, diikuti oleh selir naga yang setia dan muridnya yang berbakat. Di langit Utara, awan hitam mulai berkumpul, menandakan bahwa badai yang dibawa oleh Sang Legenda baru saja dimulai.
"Tuanku," Bai berbisik sambil memeluk lengan Xiao Chen kembali, suaranya penuh getaran asmara. "Bau ketakutan mereka sangat manis malam ini. Haruskah aku menyanyikan lagu kematian untuk mereka saat kita sampai di gerbang lembah?"
"Simpan suaramu, Bai. Kita akan membutuhkannya untuk merayakan kematian pemimpin mereka." jawab Xiao Chen dengan tatapan yang menusuk hingga ke jantung Benua Utara.
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.