NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: DARAH DI PASIR PUTIH

​Keheningan malam di pulau pribadi itu pecah bukan oleh suara petir, melainkan oleh suara ledakan ranjau air di sisi timur dermaga. Cahaya oranye kemerahan membumbung tinggi, memantul di permukaan laut yang gelap. Alana tersentak bangun, tangannya secara insting meraba ke bawah bantal, menggenggam erat pistol Kimber kustomnya.

​Di sampingnya, Arkano sudah berdiri. Ia tidak tampak terkejut. Pria itu justru terlihat tenang, seolah-olah ia memang sudah menunggu momen ini untuk mencabik-cabik siapa pun yang berani mengusik ketenangannya. Ia mengenakan kaos hitam ketat yang menonjolkan otot lengannya, dengan sabuk perlengkapan taktis yang sudah melingkar di pinggang.

​"Mereka datang lebih cepat dari perkiraanku," ujar Arkano dengan suara bariton yang rendah dan berbahaya. Ia menoleh ke arah Alana, matanya berkilat penuh obsesi. "Tetap di belakangku, Alana. Biarkan pengawalku yang menyelesaikan ini."

​Alana bangkit, mengokang senjatanya dengan bunyi klik yang mantap. "Kau tahu aku tidak akan melakukan itu, Arkano. Kau sendiri yang bilang, aku adalah serigala betinamu. Serigala tidak bersembunyi di balik punggung pasangannya saat sarangnya diserang."

​Arkano menatap istrinya selama beberapa detik. Ada percikan kemarahan karena Alana membangkang, namun rasa kagum yang lebih besar menenggelamkan amarah itu. Ia menarik tengkuk Alana, mencium keningnya dengan kasar namun penuh perasaan. "Kalau begitu, jangan sampai kau tergores sedikit pun. Jika setetes darahmu jatuh ke pasir ini, aku akan memastikan Leo mati perlahan dalam waktu tiga hari."

​Mereka keluar dari villa melalui pintu rahasia yang terhubung langsung ke hutan kecil di tengah pulau. Di luar, suasana sudah berubah menjadi medan perang. Suara rentetan senjata otomatis memecah kesunyian malam. Kelompok tentara bayaran Leo, yang dipandu oleh data titik buta dari Hendrawan, berhasil mendarat di sisi belakang pulau yang berbatu.

​"Marco, lapor!" Arkano menekan earpiece-nya.

​"Tuan, mereka menggunakan granat asap termal! Kami kesulitan mendeteksi posisi mereka di antara pepohonan!" suara Marco terdengar di sela-sela desingan peluru.

​Alana menyipitkan mata. Ia melihat pola serangan musuh. Sebagai mantan agen elit, ia tahu ini bukan sekadar serangan mafia biasa. Ini adalah taktik pengepungan V-Shape yang biasa diajarkan di unit khusus kepolisian.

​"Arkano, mereka menggunakan formasi taktis unit Brimob! Hendrawan tidak hanya memberi data, dia mengirim instruktur taktisnya!" teriak Alana di tengah kebisingan. "Jangan lawan mereka dari depan! Kita harus memancing mereka ke area terbuka di sisi tebing, di mana angin laut akan membuyarkan asap termal mereka!"

​Arkano menatap Alana dengan pandangan tak percaya. "Bagaimana kau bisa tahu formasi itu hanya dengan melihat sekilas?"

​"Nanti saja interogasinya! Sekarang, ikuti instruksiku jika kau ingin orang-orangmu selamat!" sahut Alana tegas.

​Untuk pertama kalinya dalam sejarah klan Dirgantara, Arkano memberikan komando kepada orang lain. "Semua unit, dengarkan Nyonya! Mundur ke arah tebing utara! Sekarang!"

​Pertempuran berpindah ke area tebing yang curam. Seperti prediksi Alana, angin laut yang kencang menyapu bersih asap termal musuh. Kini, tentara bayaran Leo terlihat jelas. Arkano bergerak seperti mesin pembunuh, setiap tembakannya tidak pernah meleset. Namun, perhatiannya terus terbagi; ia terpesona melihat bagaimana Alana bergerak.

​Alana melakukan sliding di atas tanah berpasir, menembak dua orang penyerang tepat di lutut dan bahu mereka dengan akurasi yang mengerikan. Ia menggunakan pohon sebagai tumpuan untuk melakukan tendangan berputar, menjatuhkan musuh yang mencoba menyergapnya dari belakang. Gerakannya begitu efisien, begitu dingin, dan sangat... terlatih.

​Siapa kau sebenarnya, Alana? batin Arkano. Kecurigaannya membuncah, namun melihat Alana bertarung demi melindunginya membuat hatinya terasa seperti terbakar oleh gairah yang aneh.

​Tiba-tiba, seorang pria bertubuh raksasa muncul dari balik semak-semak—Leo. Ia memegang senapan mesin ringan dan mengarahkannya langsung ke arah Arkano yang sedang mengganti magasin.

​"Arkano, awas!" teriak Alana.

​Tanpa ragu, Alana melompat ke arah Arkano, menjatuhkan pria itu ke balik batu besar tepat saat peluru Leo menghujani tempat Arkano berdiri sebelumnya. Alana segera membalas tembakan, mengenai lengan Leo hingga senjatanya terlepas.

​Leo mengerang kesakitan, melihat timnya mulai terpukul mundur. Ia menatap Alana dengan dendam. "Kau... pelacur polisi! Hendrawan benar, kau adalah pengkhianat!"

​Mendengar nama Hendrawan disebut, mata Alana berkilat penuh amarah. Ia melangkah maju, namun Arkano lebih dulu bangkit. Arkano berjalan mendekati Leo yang terluka, mencengkeram leher pria itu dengan satu tangan dan mengangkatnya hingga kaki Leo menggantung di udara.

​"Kau berani menghina istriku?" suara Arkano terdengar seperti suara dari liang kubur. "Kau pikir kau bisa datang ke pulauku dan pergi dengan nyawa?"

​"Arkano, tunggu! Kita butuh dia untuk mencari tahu di mana Hendrawan bersembunyi!" Alana mencoba menenangkan Arkano.

​Arkano menoleh ke arah Alana. Wajahnya yang biasanya tampan kini tertutup noda tanah dan darah musuh, namun matanya menatap Alana dengan cinta yang sangat posesif. "Dia menyebutmu dengan kata-kata kotor, Sayang. Tidak ada yang boleh menghinamu dan tetap bernapas."

​KRAK!

​Dengan satu gerakan tangan yang kuat, Arkano mematahkan leher Leo. Ia membuang mayat itu seolah-olah hanya tumpukan daging tak berguna. Para tentara bayaran yang tersisa, melihat pemimpin mereka tewas dengan cara yang begitu brutal, segera membuang senjata dan menyerah kepada Marco.

​Setelah pertempuran usai, fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Pasir putih pulau itu kini ternoda oleh darah dan bekas ledakan. Arkano berjalan mendekati Alana yang sedang duduk di atas batu, mengatur napasnya yang memburu.

​Arkano berlutut di depan Alana. Ia tidak memarahi Alana karena membahayakan diri, ia justru mengambil tangan Alana yang gemetar dan mencium telapak tangannya dengan sangat dalam.

​"Taktik V-Shape kepolisian, kemampuan meretas radar, dan cara kau menetralisir musuh..." Arkano menatap mata Alana, jemarinya mengusap pipi Alana yang kotor. "Kau bukan sekadar lulusan terbaik, Alana. Kau dididik untuk menjadi mesin pembunuh oleh Hendrawan. Kenapa pria pengecut itu mengirim permata sepertimu ke tanganku?"

​Alana menatap suaminya dengan jujur. "Karena dia pikir aku adalah umpan yang akan hancur begitu kau menyentuhku. Dia meremehkanku, Arkano. Sama seperti dia meremehkanmu."

​Arkano menarik Alana ke dalam pelukan yang sangat erat, seolah-olah ia takut Alana akan menghilang ditiup angin laut. "Dia melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dia memberiku alasan terkuat untuk menghancurkannya. Karena sekarang, bukan hanya wilayahku yang diganggu, tapi dia mencoba mengambil nyawa dari jantungku."

​Arkano berdiri, mengangkat Alana kembali dalam gendongannya. "Ayo kita pulang. Pulau ini sudah ternoda. Aku akan membawamu ke tempat yang lebih aman, tempat di mana tidak ada satu pun polisi atau mafia rival yang bisa melihatmu. Kau akan menjadi rahasiaku yang paling indah, Alana."

​Alana menyandarkan kepalanya di dada Arkano. Ia tahu, kecurigaan Arkano tentang jati dirinya semakin dalam, namun cinta pria itu juga tumbuh menjadi sesuatu yang lebih gelap dan posesif. Ia tidak lagi peduli pada hukum yang pernah ia bela. Di atas pasir yang berdarah itu, ia menyadari bahwa dunianya sekarang adalah Arkano Dirgantara.

​"Hendrawan akan menyerang lagi," bisik Alana.

​"Biarkan dia mencoba," sahut Arkano sambil terus berjalan menuju villa. "Setiap langkah yang dia ambil untuk mendekatimu, adalah satu langkah lebih dekat menuju liang lahatnya sendiri. Tidak ada yang bisa mengambilmu dariku. Tidak hukum, tidak juga maut."

​Malam yang penuh darah itu berakhir dengan kemenangan mutlak bagi pasangan mafia tersebut. Namun, di balik kemenangan itu, sebuah bayangan besar masih mengintai. Di markas rahasianya, Hendrawan menatap layar monitor yang menunjukkan kegagalan Leo. Ia tersenyum tipis, menggulirkan sebuah foto Alana saat masih mengenakan seragam polisi.

​"Kau sudah memilih pihak yang salah, Alana. Sekarang, aku tidak punya pilihan selain menghancurkanmu bersama dengan mainan mafiamu itu."

1
Leebit
hehehe..
makasih ya udah mampir, semoga betah ya😁
Gheya Giyani
ikut deg deg kan kak
Siti Patimah
semoga badai cepat berlalu, dan kalian bisa hidup bahagia
Leebit
terima kasih😍
Diana
😍
Murni Dewita
👣👣
Murni Dewita: sama-sama thor
total 2 replies
Leebit
siap!!! mari kita hancurkan, hehe..
makasih ya udah dukung karya ku😊
Siti Patimah
hayo tetap bersatu hancurkan para musuh,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!