Lanjutan dari karya Perjodohan membawa bahagia. Disarankan mampir ke karya sebelumnya agar tidak menimbulkan kebingungan.
Karena sebuah wasiat dari orang tua kandung kakak angkatnya, ia dan sang kakak angkat dinikahkan. Pernikahan karena perjodohan itu menimbulkan banyak masalah, terutama masalah hati. Karena sesungguhnya, sang kakak angkat sudah memiliki wanita lain yang ia cintai dengan sepenuh hati dan hanya menganggap dia sebagai adik.
"Aku mencintai kamu sebagai kekasih, kakak." Yolanda Aditama.
"Maaf Yolan. Aku tidak bisa menerima cinta itu. Karena selamanya, kamu akan tetap berada dalam hatiku sebagai adik. Aku tidak bisa menggubah perasaan itu." Dewa Sujianda.
Akankah perasaan Dewa bisa berubah? Atau bahkan, akan tetap selamanya bertahan seperti itu? Mungkinkah pernikahan mereka akan bertahan? Atau bahkan, akan hancur karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Episode 25
Bimo menjalankan tugas. Malas sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi? Dia tidak punya hak untuk banyak bicara apalagi membantah.
"Maaf tuan muda, tidak ada apa-apa di kamar mandi ini? Semuanya wajar-wajar saja. Tidak ada orang atau .... "
Mata Bimo tiba-tiba terfokus pada pakaian dan tas Hanas yang tersangkut di penggantungan. Ada sesuatu yang sedang menarik perhatiannya sekarang di sana. Tapi, baru saja ia ingin beranjak, suara Hanas mencegah langkah kakinya.
"Ya sudah kalo gitu. Kak Dewa dan Bimo bisa keluar sekarang. Aku ingin mengganti pakaianku kembali."
Mendengar kata-kata itu, Dewa segera mengajak Bimo untuk keluar. Bimo mengikuti apa yang Dewa katakan. Meskipun ia merasa ada yang janggal di sini, tapi tidak bisa membuktikan karena itu mungkin tidak akan di dengarkan oleh Dewa.
Sebelum beranjak, Bimo sempat melihat wajah lega sekilas yang Hanas perlihatkan. Tapi, ia terpaksa mengabaikan lagi dan lagi apa yang ia lihat dan rasakan. Karena dia tahu, Dewa tidak akan percaya dan tidak akan mendengarkan apa yang dia katakan. Alasannya sungguh jelas, karena Dewa cinta pada gadis itu.
"Tuan muda, apa sebaiknya kita pulang sekarang aja? Bagaimana kalau nona Yola menunggu kita di rumah. Kasihan dia," kata Bimo menyarankan pada Dewa. Soalnya, dia sudah tidak tahan lagi di sini lama-lama.
"Apa maksud kamu dengan kita pulang saja sekarang itu, Bimo? Apa kamu lupa apa yang baru saja Hanas alami? Bagaimana jika ada apa-apa dengan dia? Siapa yang akan menolongnya? Bagaimana jika dia kenapa-napa? Siapa yang akan tanggung jawab?"
"Dia pasti akan baik-baik saja, tuan muda. Percayalah. Kalau dia tidak kenapa-napa. Dia hanya .... "
"Hanya apa?" tanya Hanas dengan suara nyaring mencegah niat Bimo untuk mengatakan apa yang ia rasakan.
"Hanya apa, Bimo? Katakan! Kamu ingin bilang aku bohong? Iya?"
"Bimo. Apa yang kamu ingin katakan barusan?"
"Kak Dewa, dia pasti ingin bilang kalau aku ini bohong dan berusaha mencari kesempatan untuk mendekati kak Dewa lagi. Dia tidak percaya kalau apa yang terjadi barusan itu ... itu ... hiks-hiks ... aku tidak bohong, kak Dewa."
"Bimo. Apakah kamu ingin bilang kalau Hanas bohong?"
"Maaf tuan muda. Anggap saja aku salah sangka."
"Ya Tuhan ... Bimo."
"Hanas. Sudah, lupakan saja soal itu. Aku tahu, kamu pasti masih syok dengan apa yang baru saja menimpa kamu. Perasaan kamu masih diselubungi rasa takut. Itu wajar saja sebenarnya. Maafkan Bimo. Dia kurang mengerti perasaan kamu."
"Kak Dewa. Bimo tidak salah. Yang salah itu aku. Karena aku adalah manusia yang tidak tahu diri. Wajar kalau diperlakukan seperti ini oleh orang lain."
"Apa yang kamu bicarakan, Hanas? Sudah ya. Jangan nangis lagi. Malam ini, aku akan temani kamu nginap di sini."
"Tapi tuan muda .... "
"Bimo."
"Tidak perlu kak Dewa. Aku akan baik-baik saja sendiri. Karena aku ... aku bukan nona Yola yang di sayangi oleh semua orang."
"Sudah-sudah. Jangan ngomong yang tidak-tidak. Kamu dan Yola itu berbeda. Kamu-kamu, Yola ... ya Yola."
"Malam ini, aku akan tinggal di sini untuk menemani kamu. Besok pagi aku akan pulang pagi-pagi. Aku akan jelaskan pada Yola apa yang terjadi. Aku yakin, Yola akan memaklumi hal ini."
Hanas tersenyum bahagia. Ia benar-benar bahagia malam ini.
'Heh! Yola-Yola. Kamu memang menikahi kak Dewa secara sah. Tapi sayangnya, kamu tidak mendapatkan hati kak Dewa. Di sini, akulah pemenangnya. Meskipun tidak menikah dengan kak Dewa, tapi aku bisa memiliki jiwa dan raganya,' kata Hanas dalam hati penuh kemenangan.
______
Yola membuka mata ketika suara adzan sayup-sayup ia dengar masuk ke kupingnya. Rasa lelah membuat ia malas untuk membuka mata sebenarnya. Tapi, bau menyengat khas rumah sakit membuat ia tidak bisa untuk tetap memejamkan matanya. Meskipun tadi malam, ia telah melewati malam panjang yang melelahkan.
Yola memaksakan tubuhnya untuk bangun. Meskipun rasa sakit tidak ia rasakan lagi di tubuhnya. Tapi, rasa panas masih terasa dengan jelas di sekujur tubuh.
Matanya menyapu seluruh ruangan yang bercat serba putih itu dengan lihai. Di sampingnya, bu Erni sedang terlelap dengan berbantalkan lengan. Sementara di atas sofa, seseorang yang sepertinya ia kenali juga sedang terlelap dengan posisi duduk tertunduk.
Yola berusaha mengenali wajah yang sedang tertunduk itu dengan seksama. Ia kini ingat siapa laki-laki itu. Ya, dia Zaka. Pemuda yang ia tolong siang kemarin.
Sedikit rasa kecewa dalam hati Yola ketika menyadari kalau Dewa tidak ada di sana. Tapi, ia masih berusaha dengan menguatkan hati dan berpikir positif tentang Dewa.
'Mungkin kak Dewa sedang keluar sebentar. Tidak mungkinkan, kalau dia tidak ada di sini sejak tadi malam. Yang benar saja.' Yola berkata dalam hati untuk menguatkan hatinya sendiri.
Bu Erni bangun saat terasa gerakan dari Yola.
"Nona kecil. Nona kecil sudah bangun? Bagaimana? Apa yang nona kecil rasakan sekarang? Apa masih sakit?"
Yola tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saat si pengasuh menghujani dia dengan banyak pertanyaan yang bernada cemas tersebut. "Tidak, Bu. Aku sudah tidak merasakan sakit sekarang. Aku sudah baik-baik saja."
"Benarkah, nona kecil sudah baik-baik saja sekarang?"
"Iya, bu Erni. Aku sudah baik-baik saja. Hanya sedikit merasa panas, itupun tidak terlalu kuat."
"Oh ya, itu .... " Yola bicara sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Zaka.
"Dia?"
"Iya. Dia."
"Zaka. Pemuda yang nona tolong kemarin. Dia bersikeras ingin ikut menjaga nona di sini. Tidak peduli dengan apa yang ibu katakan. Pemuda yang sangat gigih dan terlalu teguh ternyata dia itu."
"Benarkah? Jadi, dia ikut menemani bu Erni menjaga aku dari tadi malam?"
"Mm ... iya."
"Lalu ... di mana kak Dewa sekarang?"
Bu Erni tiba-tiba murung. Ia merasa tidak enak hati dan tidak tahu harus menjawab apa. Entah harus bicara jujur atau malah sebaliknya. Yang jelas, ia sedang di serang virus bingung saat ini.
"Bu ... kenapa diam? Aku kan tanya kak Dewa. Di mana dia?"
"Dia .... "
*saat novel mu yang konfliknya suami melakukan kesalahan pasti kau buat istri tidak mudah memaafkan, pasti kau buat suami dapat balasan, mengemis maaf dan berjuang keras, dan pasti kau hadirkan lelaki lain yang membuat istri membalas perlakuan suami
banding dengan novel yang konfliknya istri melakukan kesalahan semudah itu dimaafkan, karakter suami kau buat bodoh dan semudah itu memaafkan malah balik minta maaf kayak pengemis, dan kalian tidak berani hadirkan wanita lain (kayak kalian hadirkan lelaki lain)
karena ini lah pola pikir egois wanita ketika suaminya salah tidak semudah itu dimaafkan tapi ketika dia salah mau dimaafkan begitu saja dan sikap egois ini mereka bawa kedalam novel
adalah lagi pola pikir egois yang terkesan munafik wanita dalam berkarya yaitu mereka melaknat pelakor tapi memuja pebinor
miris