Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Rasa aman yang terlanjur biasa
Rumah kembali sunyi setelah semuanya selesai.
Lampu kamar menyala redup. Lian tertidur setengah sadar, napasnya belum sepenuhnya stabil. Lututnya ditopang bantal, lengannya dibalut rapi. Sesekali ia meringis kecil, namun tidak terbangun.
Haikal duduk di tepi ranjang.
Punggungnya tegak. Tangannya bertumpu di paha. Pandangannya jatuh pada wajah Lian—pucat, lelah, namun tenang dengan cara yang aneh. Seperti seseorang yang akhirnya berhenti berlari.
Ponselnya bergetar.
Satu kali.
Pendek.
Haikal melirik layar tanpa mengambilnya.
Getaran kedua menyusul. Lalu ketiga.
Nama yang muncul membuat rahangnya mengeras.
MARKAS
Ia berdiri pelan, memastikan selimut menutup bahu Lian. Langkahnya ringan saat keluar kamar, pintu ditutup perlahan hingga hampir tak berbunyi.
Baru di ruang tamu, Haikal mengangkat telepon.
“Siap,” jawabnya singkat.
Suara di seberang tegas, cepat, tanpa basa-basi. Koordinat. Waktu. Perintah. Nama satuan. Situasi lapangan.
Operasi luar kota.
Zona aktif.
Berangkat malam ini.
“Siap,” ulang Haikal.
Telepon terputus.
Haikal berdiri diam.
Dulu—
kata itu keluar tanpa beban.
Dulu—
panggilan seperti ini hanya berarti satu hal: bergerak, bertugas, kembali atau tidak.
Namun malam ini, dadanya terasa berat.
Bukan karena takut.
Ia sudah berdamai dengan itu sejak lama.
Berat karena ada seseorang yang ia tinggalkan dalam keadaan terluka.
Haikal mengusap wajahnya sekali, lalu masuk kembali ke kamar. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap Lian lama.
Lian bergerak sedikit. Alisnya berkerut. Mata setengah terbuka.
“Mas…?” suaranya masih serak.
Haikal mendekat. Berlutut agar sejajar dengan wajahnya.
“Aku bangunin kamu,” katanya pelan. “Maaf.”
Lian mengedipkan mata, mencoba fokus. “Kenapa?”
Haikal menarik napas.
“Ada panggilan tugas,” ucapnya jujur. “Aku harus pergi.”
Hening.
Lian menatapnya. Tidak kaget. Tidak juga bertanya ke mana. Seolah sudah tahu—hidup Haikal memang selalu punya pintu yang bisa terbuka kapan saja.
“Oh…” gumamnya.
Tangannya bergerak, mencari. Menyentuh pergelangan Haikal. Menggenggam.
“Perginya lama?” tanyanya lirih.
“Beberapa hari,” jawab Haikal. Lalu menambahkan, lebih pelan, “Aku akan usahakan cepat.”
Lian mengangguk kecil. Senyum tipis muncul—terlalu dewasa untuk seseorang yang baru saja dijahit lukanya.
“Mas jangan khawatir,” katanya. “Aku bisa.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Haikal kira.
Ia menunduk. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Lian.
“Aku tahu kamu bisa,” katanya. “Justru itu.”
Lian menatapnya bingung.
Haikal berdiri, mengambil tas dinas yang sudah lama tersandar di sudut lemari. Gerakannya otomatis—memasukkan perlengkapan, mengecek sekali, menutup ritsleting.
Dulu, ini rutinitas.
Sekarang, setiap bunyi ritsleting terdengar terlalu keras.
Ia kembali ke sisi ranjang. Duduk. Mengambil tangan Lian dengan kedua tangannya.
“Dengar,” katanya rendah. “Obat diminum sesuai jadwal. Jangan banyak bergerak. Kalau sakit—telepon aku. Jam berapa pun.”
Lian mengangguk.
“Pintu jangan dibuka sembarang orang,” lanjut Haikal. “Bunda akan datang besok pagi. Aku sudah bilang.”
Lian kembali mengangguk.
“Mas,” panggilnya pelan.
“Iya.”
“Kamu… pulang ya.”
Haikal menatapnya lama.
“Iya,” jawabnya mantap. “Aku pulang.”
Lian tersenyum kecil. Tangannya menguat sebentar, lalu melepas.
Haikal berdiri. Namun sebelum berbalik, ia mencondongkan tubuhnya. Tangannya terangkat, ragu sepersekian detik—lalu mendarat di kepala Lian, mengusapnya pelan.
“Tidur,” katanya.
Untuk pertama kalinya, Haikal menunduk dan mencium kening Lian sebelum pergi.
Lian terdiam.
Matanya terasa panas, tapi ia tidak menangis.
“Iya, Mas,” bisiknya.
Haikal keluar kamar.
Langkahnya mantap menuju pintu—seperti selalu. Namun saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti.
Menoleh sekali lagi ke arah kamar.
Lampu masih menyala redup. Ada seseorang di sana yang menunggu—bukan kepulangan seorang tentara, tapi kehadiran seorang suami.
Haikal membuka pintu.
Dan untuk pertama kalinya sepanjang karier militernya, ia melangkah pergi dengan beban yang tidak pernah ia bawa ke medan perang mana pun.
Bukan senjata.
Bukan perintah.
Melainkan rasa takut sederhana:
Meninggalkan seseorang yang ia janjikan akan dijaga.
_____
Pintu tertutup pelan.
Bunyi klik itu kecil—hampir tak terdengar.
Namun bagi Lian, suara itu seperti gema panjang di rumah yang tiba-tiba terasa terlalu besar.
Ia terbaring di ranjang. Lampu tidur menyala redup. Selimut menutup hingga dada. Lututnya masih berdenyut nyeri, lengannya terasa berat. Tubuhnya lelah, tapi matanya enggan terpejam.
Haikal sudah pergi.
Kesadaran itu datang pelan, lalu menghantam.
Lian menoleh ke sisi ranjang yang kosong.
Rapi.
Dingin.
Tidak ada berat tubuh lain.
Biasanya ia bisa mendengar suara langkah, bunyi air di dapur, atau napas pelan dari sisi ranjang. Sekarang—tidak ada apa-apa.
Sunyi.
Ia menggeser tubuh sedikit, lalu meringis. Sakit menyambar, membuatnya menarik napas tajam.
“Aduh…” gumamnya pelan.
Ia teringat kata-kata Haikal: jangan banyak bergerak.
Lian berhenti.
Ia menatap langit-langit kamar.
Jam di dinding menunjukkan pukul 01.17.
Malam pertama tanpa Haikal.
Lian menelan ludah.
Ia tidak takut gelap.
Tidak takut rumah kosong.
Yang membuat dadanya sesak adalah rasa… ditinggal saat ia belum benar-benar utuh.
Tangannya bergerak, meraih ponsel di meja samping ranjang.
Tidak ada pesan baru.
Ia membuka chat Haikal. Pesan terakhirnya masih ada.
Tidur. Aku pulang.
Lian menghela napas pelan.
“Janji ya, Mas…” bisiknya pada layar.
Ia mencoba memejamkan mata.
Namun suara kecil mulai muncul.
Bunyi kayu berderit.
Angin yang menyentuh jendela.
Detak jam yang terlalu jelas.
Tubuhnya menegang.
Ia menggenggam selimut lebih erat.
Pikirannya melayang ke rumah sakit, ke suara benturan, ke aspal dingin. Dadanya mulai sesak. Napasnya memendek.
“Enggak… enggak…” gumamnya.
Tangannya bergerak tanpa sadar—mencari tangan Haikal yang biasanya ada.
Kosong.
Lian duduk setengah, meringis saat lututnya bergerak.
“Mas…” suaranya kecil. Hampir tidak ada.
Air mata menggenang tanpa ia sadari.
Ia bukan menangis karena Haikal pergi.
Ia menangis karena baru menyadari betapa selama ini ia tidak sendirian—dan betapa cepat rasa aman itu menjadi kebutuhan.
Lian meraih bantal di sisi ranjang. Memeluknya erat. Membenamkan wajahnya di sana.
Aromanya masih ada.
Hangat.
“Cuma beberapa hari…” katanya pada dirinya sendiri. “Cuma sebentar.”
Namun tubuhnya tidak sepenuhnya percaya.
Rasa sakit di lututnya berdenyut lebih kuat. Ia meraih obat di meja, meminumnya dengan air yang sudah disiapkan Haikal sebelum pergi.
Tegukan itu terasa pahit.
Ia berbaring kembali. Menarik selimut hingga ke dagu.
Tangannya bergerak pelan—menyentuh sisi ranjang kosong, lalu berhenti.
Ia menarik tangannya kembali ke dada.
Seperti menarik diri.
Beberapa menit berlalu.
Lian akhirnya memejamkan mata.
Napasnya tidak langsung teratur. Namun perlahan, lelah mengalahkan gelisah.
Sebelum benar-benar tertidur, satu pikiran melintas:
Mas pulang, ya…
Dan di rumah yang sunyi itu, Lian tertidur sambil memeluk bantal—
untuk pertama kalinya bukan karena lelah,
melainkan karena ia belajar menunggu.
Di sebuah ruangan sempit dengan cahaya lampu putih dingin, Haikal berdiri tegak.
Seragam tempurnya sudah lengkap. Rompi pelindung terpasang rapat. Senjata diperiksa satu per satu—magasin, pengaman, bidikan. Semua dilakukan tanpa tergesa, tanpa ragu.
Tangan itu tidak gemetar.
Tidak pernah.
Ia melepas tanda pengenal dari lehernya. Rantai kecil itu berbunyi lirih saat logam menyentuh meja. Nama. Pangkat. Identitas.
Haikal meletakkannya rapi.
Lalu ponselnya.
Layar gelap. Tidak ada pesan baru. Tidak ada suara. Tidak ada dunia lain di balik itu.
Ia menekan tombol.
Mati.
Ponsel itu disimpan ke dalam loker besi. Pintu ditutup. Kunci diputar.
Selesai.
Tarikan napas Haikal dalam—pendek—lalu dilepas pelan.
Sejak awal ia diajarkan satu hal:
seorang prajurit tidak membawa rumah ke medan tugas.
Tidak ada istri.
Tidak ada keluarga.
Tidak ada rasa takut kehilangan.
Yang ada hanya misi.
Ia melangkah keluar ruangan. Lorong panjang dipenuhi suara sepatu lars. Wajah-wajah yang sama—keras, fokus, tanpa ekspresi berlebihan. Mereka semua tahu aturan yang sama.
Di sini, tidak ada Mas.
Tidak ada suami.
Hanya satuan.
Komandan berdiri di depan. Peta terbentang. Titik merah menandai target. Suara instruksi mengalir cepat dan tegas.
“Target terindikasi bersenjata. Ada kemungkinan kontak langsung,” kata komandan. “Tidak ada toleransi kesalahan.”
“Siap,” jawab mereka serempak.
Haikal ikut menjawab.
Suaranya mantap.
Profesional.
Ia mengosongkan pikirannya.
Ia menyingkirkan bayangan rumah yang lampunya redup. Ranjang yang setengah kosong. Perempuan dengan perban di lutut dan lengan—yang menatapnya dan berkata, Mas pulang ya.
Tidak.
Ia menutup pintu itu rapat-rapat di kepalanya.
Karena di medan ini, satu detik lengah berarti nyawa.
Ia bergerak bersama tim. Masuk ke kendaraan taktis. Pintu ditutup. Mesin menderu.
Di dalam helmnya, hanya ada suara napas sendiri dan instruksi singkat.
Target.
Jalur.
Waktu.
Haikal memejamkan mata sesaat.
Bukan untuk mengingat.
Melainkan untuk memutus.
Saat matanya terbuka kembali, tatapannya kosong dari kehidupan pribadi. Tajam. Fokus. Siap.
Ia kembali menjadi apa yang selama ini ia kenal:
Seorang prajurit.
Dan seorang prajurit—
tidak boleh membiarkan masalah pribadinya membatasi gerakannya
saat melawan teroris.