Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAMU EGOIS
Mungkinkah pasien Nathan itu adalah Renima?~ Gumam Raniya bertanya-tanya.
Sejak Raniya mengingat siapa Samudra, pikirannya hanya terfokus pada kematian Nathan. Berkali-kali Raniya mencoba menepis dan menyangkal, bahwa banyak orang yang lahir dan meninggal dalam waktu yang sama. Dan belum tentu pula pasien Nathan meninggal pada saat bersamaan dengan kecelakaan yang menimpa Nathan. Mungkin saja ada dokter lain yang berupaya menyelamatkannya.
Raniya membuka ponselnya. Dia mencari-cari photo perempuan yang pernah dikirimi Nathan sebelumnya di galeri ponselnya itu.
Oaaakk... Oaaakk...
Niat Raniya urung. Tangisan Langit membuat dia sejenak melupakan beban pikirannya.
"Cup... Cup... Cup... Anak ganteeng..." Raniya mengangkat Langit dan mengeluarkan bayi mungil itu dari baby horbornya. "Yaa ampuun, basah. Langit pup ya?" Tanya Raniya dengan suara ditekannya. Dia mencoba mengajak Langit berbicara dengannya dan berusaha mengerti apa yang diucapkan bayi mungil itu.
Langit berhenti menangis. Bahkan sampai tertidur setelah mendapatkan dekapan dari ibu sambungnya itu. Hah, entahlah. Mungkin ibu sambung merupakan status yang cocok untuk Raniya bagi anak-anak Renima.
CEKLEK
Pintu kamar yang ditempatinya saat itu terbuka.
"Ta-Taufiq...?" Raniya gugup. Dia terlihat canggung menatap Taufiq yang berjalan pelan ke arahnya.
"Kamu belum tidur, Raniya?" Tanya Taufiq sesantai mungkin.
"Umm... Be-belum... Langit barusan pup." Sahut Raniya masih gugup. Itu malam pertama bagi Raniya di sana. Malam untuk menginap, hingga seterusnya.
"Owh... Makasih, Raniya..." Ucap Taufiq.
"Tidak perlu berterima kasih lagi, Fiq. Sekarang, aku sudah menjadi ibu sambung mereka, bukan? Sudah menjadi tugasku untuk melakukannya." Ujar Raniya. Dia kembali meletakkan Langit yang telah tertidur lelap ke dalan Babby horbor.
"Ya sudah... Sekarang kamu istirahat. Kamu pasti sangat lelah. Aku akan tidur di sofa mulai sekarang." Ucap Taufiq saraya membalikkan tubuhnya.
"Oh... Fiq...!" Panggil Raniya lagi dengan cepat.
Taufiq menghentikan langkahnya dan segera menoleh kembali kepada Raniya. "Iya? Ada apa, Raniya?"
"Hmm... Ini... Aku... Aku mau tanya sesuatu." Raniya menggigit kuku ibu jarinya karena gugup.
"Kamu mau tanya apa, Raniya?" Taufiq mengerutkan dahinya penasaran. Dia tampak tidak sabaran mendengar pertanyaan yang akan diajukan Raniya kepadanya.
"Sejak pertama kali aku di sini, aku tidak pernah melihat foto ibunya anak-anak..." Ucap Raniya takut-takut.
"Sengaja tidak aku pajang. Aku ingin anak-anak tidak mengingat Renima sebagai ibu mereka, dan aku yakin Samudra perlahan akan melupakan Renima." Ujar Taufiq datar.
"Tapi kenapa, Fiq?" Tegas Raniya bertanya. Dia terlihat kecewa mendengar penuturan Taufiq.
"Aku sengaja menyembunyikan foto Renima agar anak-anak lebih fokus kepadamu, Raniya. Aku tidak ingin anak-anak bersedih hati jika mengenang ibunya." Tutur Taufiq.
Raniya terperangah mendengar pengakuan Taufiq. "Kamu egois, Fiq. Tidak seharusnya mereka melakukan itu. Mereka harus tahu siapa ibu kandung mereka."
Taufiq mendekati Raniya. Dia memegang kedua bahu Raniya hingga mata mereka saling bertemu untuk beberapa saat.
Raniya gugup. Jantungnya berdebar begitu cepat hingga menyakiti perasaannya. Tatapan Taufiq yang begitu dingin membuatnya bersedih hati saat itu. Dia menepis tangan kanan Taufiq dan bersurut cepat ke belakangnya.
"Itu sudah menjadi keputusanku, Raniya. Aku harap kamu bisa mengerti." Tegas Taufiq seperti tidak ingin mendengar bantahan Raniya lagi. Cara Taufiq menyembunyikan perasaannya di hadapan Raniya benar-benar terlihat sempurna.
Taufiq bergegas mengambil selimut dan bantal di atas tempat tidur untuk dipakainya di sofa kamar itu.
Bahkan hanya menyentuh bahumu saja, kamu terlihat marah, Raniya. Padahal, aku sudah sah menjadi suami mu. ~Bathin Taufiq kecewa. Tetapi sikapnya yang santai dan terlihat acuh tak acuh selalu saja membuat Raniya tidak pernah berpikir bahwa dia sebenarnya memiliki perasaan yang sama.
Raniya masih terguncang karena sentuhan dari Taufiq barusan. Dia beringsut duduk ke atas tempat tidur dan sesekali mencuri pandang ke arah Taufiq yang sudah tertidur di sofa.
.
.
.
.
.
.
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍