NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Gus Azkar

Istri Pilihan Gus Azkar

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.

Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.

Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Gus Azkar menarik Rina ke dalam pelukannya, mendekapnya sangat erat sampai Rina bisa merasakan detak jantung suaminya yang masih berdegup kencang karena emosi.

"Mas tidak marah padamu, Rina. Mas marah pada mereka yang menganggapmu rendah hanya karena masa lalumu," bisik Gus Azkar di puncak kepala Rina.

"Mas kesel karena ternyata ada dua puluh ribu laki-laki yang berani mengirim pesan padamu. Rasanya Mas ingin mendatangi mereka satu per satu dan memberitahu bahwa kamu sudah ada yang punya."

Rina tertegun, lalu ia malah terkekeh pelan di dada Gus Azkar. "Jadi... Gus Azkar yang terhormat ini lagi cemburu sama penghuni ghosting di WA aku?"

"Ini bukan lucu, Rina," gerutu Gus Azkar sambil mencubit pelan pinggang Rina yang "fakta" itu, membuat istrinya memekik kecil. "Mas serius. Besok pagi, Mas sendiri yang akan mengganti nomor ponselmu. Mas tidak mau ada gangguan lagi. Kamu hanya boleh berhubungan dengan Mas, keluarga, dan orang-orang yang Mas izinkan."

Rina mendongak, menatap wajah posesif suaminya dengan binar bahagia. Ia merasa sangat terlindungi. "Iya, Mas... ganti aja semuanya. Aku juga udah nggak mau ingat masa-masa itu. Sekarang kan aku cuma mau goyang buat Mas aja di rumah baru nanti."

Gus Azkar menundukkan wajahnya, menatap bibir Rina yang baru saja mengucapkan kalimat "berbahaya" itu. "Janji? Hanya untuk Mas?"

"Janji, Mas Azkar sayang," jawab Rina manja.

"Kalau begitu, karena Mas masih kesel gara-gara telepon tadi... Mas minta ganti rugi sekarang. Goyangan di video itu sepertinya lebih bagus kalau dilihat secara langsung," bisik Gus Azkar nakal, yang langsung disambut pukulan bantal dari Rina yang wajahnya kembali merah padam.

Gus Azkar menangkap bantal yang dilemparkan Rina dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap melingkar posesif di pinggang istrinya. Tawa kecilnya terdengar rendah, sebuah nada yang hanya keluar jika ia sedang benar-benar merasa gemas.

"Ih, Mas Azkar malu ih! Lagian ngapain goyang, aku gak bisa goyang... jelek tahu!" rengek Rina sambil berusaha menyembunyikan wajahnya di balik bantal yang lain.

Gus Azkar menarik bantal itu perlahan, memaksa mata Rina untuk menatapnya. "Jelek? Kamu bilang seribu video di galeri itu jelek? Sayang, kalau seribu video itu jelek, tidak mungkin ada dua puluh ribu laki-laki yang sampai mengantre di WhatsApp-mu hanya untuk menyapa."

Gus Azkar mencondongkan wajahnya, hidung mereka hampir bersentuhan. "Mas sudah lihat semuanya. Cara kamu menggerakkan pinggul, caramu tersenyum ke kamera... Mas bahkan sampai harus beristigfar berkali-kali supaya tidak langsung 'menerkam' kamu yang sedang tidur tadi."

Rina semakin salah tingkah. "Itu kan... itu kan dulu, Mas. Aku cuma iseng karena stres di sekolah. Sekarang aku udah taubat, Mas. Aku udah jadi santriwati yang (berusaha) salihah."

"Taubat bukan berarti bakatnya hilang, kan?" goda Gus Azkar sambil menaikkan satu alisnya. "Mas tidak melarang kamu goyang, asalkan penontonnya cuma satu orang. Yaitu suami kamu yang sedang cemburu berat ini."

Gus Azkar membelai bibir Rina dengan ibu jarinya, teringat foto manja Rina yang sedang menggigit bibir. "Dan satu lagi... jangan pernah berpose menggigit bibir seperti di foto itu di depan orang lain. Cukup lakukan itu saat kamu sedang berdua dengan Mas saja. Mengerti?"

Rina mengangguk pelan, nyaris seperti hipnotis oleh tatapan tajam nan memuja dari suaminya. "I-iya, Mas... janji."

"Pintar," bisik Gus Azkar. Ia kemudian merebahkan tubuhnya kembali, membawa Rina ke dalam pelukannya yang hangat dan nyaman. "Sekarang tidur lagi. Besok pagi-pagi sekali kita berangkat ke rumah pojok sawah. Mas sudah tidak sabar ingin melihat kamu 'pecicilan' dan dengerin lagu DJ tanpa perlu pakai cadar."

Rina tersenyum kecil, ia merasa sangat beruntung. Di balik sikap tegas dan galaknya sebagai ustadz, Gus Azkar ternyata adalah sosok yang sangat menerima segala kegilaan dan masa lalunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!